My Secret With CEO

My Secret With CEO
137


"Aku ingin mengambil hakku, By!"


Lila tidak menghentikan apa yang dia lakukan. Dia memang sudah bertekad menjadi istri penggoda hari ini setidak nya sampai suami nya itu menyerah.


"Aku ingin mengambil ha--" ucapan Lila terpotong karena Melvin segera memagut bibir Lila dengan ciuman panas yang menggelora.


"Kau mengambil kata-kataku, dear! Seharus nya aku yang mengatakan apa yang kau katakan itu. Kenapa jadi kau yang ingin mengambil hakmu padahal selama ini aku yang mencoba menahan nya?" ucap Melvin melepas pagutan nya sebentar sebelum kembali melanjutkan nya.


Lila yang mendengar ucapan suami nya itu pun tersenyum di tengah adegan yang berlangsung antara diri nya dan sang suami. Lila juga tidak mau kalah dan membalas apa yang di lakukan suami nya tidak kalah panas. Bukan kah sudah bertekad jadi istri penggoda untuk siang ini. Yah siang tapi Lila tidak peduli lagi mau itu siang pertama atau pun malam pertama. Lagi pula ini bukan untuk pertama kali nya untuk mereka walaupun yah untuk apa yang terjadi sebelum nya di luar rencana. Tapi bukan kah sama saja.


Siang pertama dan malam pertama juga seperti nya bukan hal penting untuk mereka yang saat ini sedang berada di titik bertahan atau menyerah pada janji dan kesepakatan yang ada.


Melvin melepas pagutan nya dan menatap Lila lekat, "Aku tidak bisa menghentikan nya, dear. Kau sudah membangkitkan sisi liarku. Aku harus bagaimana sekarang?" tanya Melvin di sela-sela nafsu dan hasrat mengungkung nya. Percaya lah itu pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban karena jawaban nya sudah jelas.


Walaupun sejujur nya dia sudah bertekad untuk hari ini dia tidak akan berhenti dan menyerah pada janji nya karena memang sudah tidak bisa di hentikan. Semua nya sudah terlanjur. Tapi sekali lagi setidak nya akan lebih menyenangkan jika melakukan nya dalam keadaan saling menerima agar dia tidak akan di anggap memaksa seorang wanita untuk kedua kali nya. Bukan kah akan sangat memalukan jika seorang suami di anggap melecehkan atau memaksa istri nya padahal ikatan mereka sudah terlabel sah.


Lila tersenyum dengan masih mengalungkan tangan nya di leher suami nya itu. Dia membalas tatapan suami nya yang berkabut gairah.


"Apa pertanyaan itu butuh jawaban suamiku?" tanya Lila.


Melvin menggeleng, "Seperti nya tidak karena aku hanya menginginkan anggukan saja bukan penolakan." balas Melvin.


"Jika memang begitu lakukan apa yang ingin kau lakukan. Bukan kah jawaban nya juga jelas." ucap Lila.


"Ambil hakmu by dan berikan hakku juga. Miliki aku seutuh nya walaupun kita sudah punya si kembar. Setidak nya miliki aku dalam keadaan kita sadar. Ayo kita berikan adik untuk si kembar." sambung Lila mengatakan itu dengan nada sensual. Seperti nya dia memang masih memerankan peran nya sebagai istri penggoda.


"Dear, kau yakin?" tanya Melvin lagi padahal dia sudah mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan istri nya itu. Dia juga sudah memahami nya dengan jelas. Lalu pertanyaan itu juga sebenar nya tidak membutuhkan jawaban sama sekali. Hanya saja entah kenapa pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir nya seolah alam bawah sadar nya mengingatkan nya akan janji mereka.


Lila yang mendengar pertanyaan suami nya itu pun mendesis


"Apa tuan bos sudah kehilangan kecerdasan nya hingga untuk memahami apa yang aku ucapkan saja tidak bisa. Apa begitu su--" ucapan Lila terpotong karena Melvin segera meraup bibir yang menggoda iman nya itu selama ini. Percaya lah Melvin secara diam-diam mencuri kecupan di bibir itu di kala Lila sedang terlelap.


Melvin segera membalikkan posisi kedua nya hingga kini Lila yang berada di bawah dan dia di atas menindih tubuh istri nya itu. Tubuh Lila yang mungil sudah berada dalam pelukan nya. Melvin kembali melakukan apa yang sudah ada di dalam otak nya meminta untuk segera di realisasikan pada visual wanita di bawah nya.


"Jangan sampai kau menyesal, dear!" ujar Melvin lirih.


Lila tidak membalas tapi tangan nya melepas kancing kemeja suami nya. Melvin kembali meraup bibir istri nya dan perlahan turun ke leher. Kedua nya saling membantu melepas pakaian satu sama lain. Gelora kedua nya menuntun merealilasikan apa yang ada dalam pikiran mereka. Baik Lila dan Melvin tidak ada yang mau mengalah. Kedua nya sama-sama mencari kepuasan masing-masing di tubuh pasangan mereka.


Melvin dan Lila pun saling mencurahkan gelora kedua nya yang sudah lama di tahan dan di tunda. Kedua nya sama-sama panas satu sama lain. Mereka bagai orang yang kehausan di tengah padang pasir lalu tiba-tiba jatuh hujan. Mereka memuaskan dahaga masing-masing.


"Aku akan melakukan nya istriku. Ini mungkin akan sakit sedikit karena sudah la--"


"Lakukan saja. Jangan banyak bicara dan bertanya." potong Lila.


Melvin yang mendengar ucapan istri nya itu pun tidak menunda lagi. Dia segera melakukan apa yang seharus nya mereka lakukan di malam pernikahan mereka dua bulan lalu atau mungkin dia lakukan enam tahun lalu saat menemukan wanita ini.


Melvin mengikuti naluri nya karena dia juga tidak berpengalaman dalam hal ini hanya pernah melakukan nya sekali dan dalam keadaan tidak sadar. Melvin mengerang begitu dia menyatu dengan istri nya. Lila sendiri juga mendesah saat kedua nya menyatu. Ini adalah penyatuan kedua nya untuk pertama kali dalam keadaan sadar satu sama lain. Dalam keadaan sama-sama saling menginginkan satu sama lain.


Lila tersenyum setelah itu karena akhirnya dia bisa memberikan hak suami nya setelah banyak nya drama yang mereka lewati dengan diri nya sebagai sutradara nya. Melvin dan Lila sama-sama mengerang dan mendesah begitu gejolak hasrat itu tidak bisa di tahan lagi.


Melvin segera menggerakkan tubuh nya perlahan karena tidak ingin menyakiti sang istri. Tapi ternyata itu hanya bertahan sebentar saja karena pada akhirnya dia tidak bisa menahan hasrat yang mengungkung jiwa nya. Dia tidak bisa mengendalikan rasa haus yang melanda dan meminta di puaskan. Hingga gerakkan nya yang semula lambat kini berubah menjadi cepat karena ada sesuatu yang meminta di puaskan.


Lila sendiri dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan Melvin. Gerakan suami nya di atas nya itu dari lambat hingga kini berubah cepat itu tidak membuat nya sakit sama sekali. Dia justru merasa nikmat dan ingin lebih dan lebih. Seperti nya gairah nya yang selama ini dia tahan keluar begitu saja. Lila begitu menikmati apa yang kini sedang terjadi itu. Dia tidak akan menyesal karena ini yang juga dia inginkan.


Pada akhir nya sepasang suami istri itu melakukan siang pertama yang menggelora. Tidak ada malam pertama menggelora karena mereka adalah pendaki yang tidak bisa membedakan siang dan malam.