My Secret With CEO

My Secret With CEO
12


Kini Lila segera pergi menggunakan taxi menuju apartemennya. Dokter wanita yang mengantar Lila sampai ke parkiran itu tersenyum melihat taxi yang di naiki oleh Lila, “Tuhan akan menjagamu nak. Kau gadis baik dan berpikiran terbuka.” Ucap dokter itu lirih. Lalu dia segera melangkah masuk kembali ke ruangan kerjanya.


Di mobil Lila mengusap perutnya lembut dan air matanya menetes di pipinya tapi segera dia hapus karena tidak ingin membuat sopir mobil itu menduga-duga apa yang terjadi padanya.


Tidak lama dia segera tiba di apartemennya. Lila segera berlari ke kamarnya mengambil foto daddy dan mommynya. Lila memeluknya erat, “Mom, dad. Aku hamil. Aku hamil cucu kalian. Apa kalian membenciku karena hamil di luar nikah? Apa kalian akan menghakimiku dan tidak akan menganggap anakku ini cucu kalian? Apa kalian akan memintaku menggugurkannya seperti novel dan film yang ku baca? Apa kalian akan mengusirku karena sudah mencoreng nama baik kalian?” ucap Lila menangis memeluk bingkai foto itu.


“Dad, mom kenapa kalian diam saja tidak menjawab pertanyaanku sama sekali. Apa segitu bencikah kalian padaku sehingga tidak mau bicara padaku?” tanya Lila masih menangis.


“Aku ingin menggugurkannya dad, mom tapi aku tidak bisa. Aku sudah menyayanginya? Apa kalian juga setuju denganku? Apa kalian ingin aku mempertahankannya?” tanya Lila terus bisa dengan foto kedua orang tuanya itu.


“Dad, mom apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku pergi menemui tuan Emran dan nyonya Elea meminta pertanggung jawaban putra mereka padaku? Aku mohon tolong beri aku jalan apa yang harus aku lakukan? Aku bingung.” Ucap Lila.


Lila setelah puas bicara dan mengeluarkan unek-unek yang ada di hatinya dia pun meletakkan bingkai foto kedua orang tuanya itu dan menuju walk in closet mengeluarkan kopernya dari sana dan mulai mengemas beberapa pakaiannya yang sekiranya bisa dia bawa. Dia juga membawa dompet dan kartu atmnya. Lalu Lila segera mengganti pakaiannya.


“Mom, dad aku pergi. Aku akan kembali tapi aku ingin menghindar sejenak dari dunia ini. Aku harus tenang menjalani kehamilanku. Aku akan melahirkan cucu kalian dengan selamat. Aku pastikan hal itu. Walaupun kalian mungkin tidak setuju dengan apa yang aku lakukan aku tidak peduli. Pikiranku saat ini hanya di penuhi oleh rasa cinta untuk janinku. Kalian sudah pergi meninggalkanku tapi tuhan begitu baik padaku sehingga mengirimkannya di rahimku agar aku tidak kesepian. Aku akan menjaga dan melahirkannya. Dia adalah darah dagingku dengan idolaku. Aku akan menjaganya dengan baik. Aku harap mommy dan daddy tidak membenciku karena hal ini. Aku harap kalian akan memiliki rasa kasihan untukku. Aku titip apartemen ini kepada kalian.” ucap Lila lalu mengecup bingkai foto orang tuanya itu.


Lila segera keluar dari apartemennya dan kini dia sedang mengendarai mobilnya, “Aku akan kembali lagi nanti untuk membalaskan semuanya.” Batin Lila.


***


“Apa? Ulangi lagi yang kau ucapkan Nugraha? Dia hamil?” tanya papi Emran kaget menerima informasi yang di berikan oleh asistennya itu. Papi Emran tetap saja terkejut walaupun dia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi tapi tetap saja dia terkejut dengan semuanya.


“Itu yang di katakan oleh pengawal yang mengikutinya tuan. Dia pingsan di tokonya dan di bawah ke rumah sakit dan dia hamil. Kini dia sedang ada di apartemennya.” Jelas Nugraha.


“Kita harus kesana. Apa pengawal tetap mengikutinya? Aku tidak ingin kehilangan jejaknya lagi. Dia mengandung cucuku. Aku tidak akan membiarkan dia menggugurkan garis keturunanku.” Ucap papi Emran.


“Tenang saja tuan. Pengawal mengikutinya dan tidak ada pergerakkan sama sekali dari apartemennya. Dia belum keluar setelah kembali.” Jawab Nugraha.


Papi Emran pun mengangguk, “Baguslah kalau begitu. Minta mereka mengawasi apartemennya. Jika ada pergerakan minta segera laporkan kepada kita.” Ucap papi Emran berdiri dari kursinya.


“Menurutmu kita akan kemana? Kita akan menjemput menantuku dan calon cucuku. Sudah cukup membiarkan putraku itu mencarinya tapi tidak kunjung menemukannya. Aku akan menikahkan mereka. Aku tidak akan membiarkan cucuku lahir tanpa seorang ayah. itu tidak boleh terjadi. Keturunanku tidak boleh menderita dan di hina oleh orang lain sebagai anak yang tidak memiliki ayah. Aku tidak akan membiarkannya.” Ucap Papi Emran segera masuk ke mobil yang ada di hadapannya itu. Asistennya pun mengikutinya.


“Tuan, apa anda yakin akan melakukan ini?” tanya Nugraha saat mereka dalam perjalanan menuju apartemen.


“Tentu saja aku yakin. Kenapa kau bertanya terus menerus seolah meragukan keputusanku. Dasar menyebalkan kau.” Ucap papi Emran.


“Bukan begitu tuan. Hanya saja bagaimana jika gadis itu menolak? Dia saja sudah menutup akses bagi kita agar tidak bisa menjangkau dirinya. Saya yakin dia akan menolak untuk ikut kita.” Ucap Nugraha.


“Kau mungkin benar tapi aku adalah seorang pemaksa. Aku akan memaksanya. Aku tidak akan membiarkan dia menolaknya.” Ucap papi Emran.


“Lupakan saja hal itu. Anggap itu sudah selesai. Anggap saja putraku sudah menikah dan aku dan istriku akan memiliki cucu sebentar lagi. Sekarang aku ingin tahu apa yang di lakukan putraku itu? Kenapa dia sangat lamban dan keras kepala begitu? Kenapa dia tidak ingin merendahkan dirinya dan meminta bantuan kita. Memang sangat keras kepala. Entah apa yang ingin dia buktikan dengan hal ini.” ujar papi Emran.


“Dia adalah putra anda tuan. Apa yang dia lakukan itu sama dengan anda. Dia ingin membuktikan dirinya sebagai laki-laki yang bertanggung jawab. Dia tidak ingin di anggap pengecut dan pecundang jika harus merendahkan kepalanya di hadapan anda dan meminta bantuan kita. Dia sama keras kepalanya dengan anda tuan.” Ucap Nugraha.


“Nugraha kau ini sedang memujiku atau sedang menghinaku.” Ujar papi Emran tajam.


“Maaf tuan, saya hanya mengatakan kebenarannya saja.” ucap Nugraha.


“Ya sudahlah. Aku ingin kita cepat tiba di apartemen gadis itu. Aku tidak ingin dia lari.” Ucap papi Emran.


Tidak lama mereka pun tiba di apartemen di mana Lila tinggal. Mereka tidak langsung turun tapi memilih menelpon pengawal yang mengikuti Lila. Nugraha segera menelpon pengawal yang mengikuti Lila tapi sayang tidak di jawab. Sudah berulang kali di telpon gak di jawab, “Ada apa?” tanya papi Emran mulai merasa ada yang tidak beres di sini.


“Tidak di jawab tuan.” Ujar Nugraha.


Papi Emran pun segera turun dari mobilnya dan melihat sekeliling dan dia mendapati ada seseorang yang tergeletak di sudut. Papi Emran segera mendekati orang berpakaian hitam itu dan membalikkan tubuhnya, “Pengawal kita.” Ujar Nugraha


“Periksa apartemen. Jangan sampai kita di tipu gadis kecil itu lagi.” Ujar papi Emran tegas. Dia sudah mulai merasakan sesuatu yang tidak di inginkan terjadi.