
Kini Lila terbangun setelah hampir empat jam tertidur pengaruh obat nya. Lila sempat kejang-kejang tadi tapi tidak lama dan semua nya hanya pengaruh obat saja. Dia terbangun langsung memanggil Luke hingga membuat Melvin yang berada di ruangan itu merasakan sedih. Tapi dia bisa apa jika dia memang tidak ada dalam ingatan Lila. Seperti nya hanya Luke saja yang berada dalam ingatan Lila.
“Luke … Luke …”
“Mom … uncle Luke baik-baik saja.” ucap Alexa yang memang si kembar itu tidak meninggalkan ruangan perawatan Lila. Mereka selalu ada di sisi Lila. Bahkan kedua nya sampai makan siang di sana saking tidak ingin kehilangan momen saat Lila tersadar. Mereka juga takut jika mommy mereka itu tidak akan kembali.
Melvin mengabaikan rasa sedih nya itu dan segera mendekati Lila yang memanggil-manggil Luke. Melvin memegang bahu Lila dan membuat Lila menatap nya, “Luke … baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Apa kau ingin bertemu dengan nya?” tanya Melvin.
Lila yang mendengar ucapan Melvin pun mengangguk, “Iya.” Jawab nya singkat.
“Aku di sini nona. Apa kau sudah membaik?” tanya Luke yang tiba-tiba saja masuk ke ruangan perawatan Lila itu. Jujur saja perasaan nya yang membawa nya ke sini. Melihat Lila. Hati nya mengatakan bahwa Lila sudah tersadar dan benar saja dugaan nya itu. Lila sudah tersadar dan bangun kini.
Lila menatap Luke dengan tatapan penuh air mata di pipi nya, “Luke mendekat lah.” Pinta Lila.
Luke pun dengan langka perlahan mendekati Lila. Tapi sebelum nya dia menatap Melvin. Jujur saja dia sungkan saat ini. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan perasaan nya yang seolah menyuruh mendekat ke arah Lila. Entah kenapa dia merasakan hal itu.
Lila begitu Luke sudah ada di dekat nya langsung memeluk Luke erat. Dia tidak mempedulikan di sana ada Melvin, kedua buah hati nya serta mami Elea dan papi Emran yang baru saja masuk karena makan siang tadi melihat ke arah nya. Lila sudah tidak sanggup lagi menanggung beban nya itu sendiri.
“Nona … anda kenapa? Saya baik-baik saja. Nona sekarang istirahat.” Ucap Luke jujur saja saat ini dia sangat takut. Dia merasa jadi tersangka sekarang untuk suatu kejahatan yang jujur saja tak dia ketahui.
“Jangan memanggilku nona, kak.” Ucap Lila lirih.
Luke yang mendengar itu pun melepas pelukan Lila dan menatap Lila lekat, “Apa maksud nya itu?” tanya Luke.
Lila menatap Luke dengan air mata di pelupuk mata nya dan kembali memeluk Luke. Dia mengabaikan pertanyaan yang di ajukan oleh Luke itu, “Kak!” ucap Lila.
Kali ini bukan hanya Luke yang mendengar nya tapi semua orang yang ada di sana, “Nona!” panggil Luke.
“Jangan memanggilku begitu kak. Kau bukan bawahanku tapi kakakku.” Ucap Lila melepas pelukan nya dari Luke dan menatap Luke lekat.
“Apa maksud nya ini nona? Kenapa bisa begitu?” tanya Luke masih tidak percaya.
“Tidak kah kau sadar bahwa banyak kemiripan di antara kita. Alexa bahkan memiliki bulu mata yang mirip denganmu kak. Lihat lah aku memang memiliki bulu mata lentik tapi tidak selentik milikmu. Kau adalah kakakku.” Ucap Lila.
Luke menggeleng karena bagaimana bisa hal itu terjadi. Dia terlahir sudah berada di panti asuhan. Saat dia sudah bisa mengerti dunia luar. Panti asuhan adalah tempat yang dia kenali sebagai rumah nya. Lalu kini bagaimana bisa dia menjadi saudara dari Lila. Itu tidak mungkin.
Lila menangkup wajah Luke dengan kedua tangan nya, “Lihat lah aku kak. Tatap mataku. Tidak kah kau melihat bahwa kita mirip. Kenapa kau meragukan itu. Kau adalah putra mommy dan daddy yang di tukar saat kita lahir.” ucap Lila.
Lila yang melihat itu menggenggam lengan Luke dan dengan gerakan cepat dia mengambil belati yang dia sembunyikan di bawah bantal nya itu. Dia segera menggunting pakaian Luke di bagian tangan nya.
“Ini adalah tanda lahir milikmu kak. Aku juga punya.” Ucap Lila melepas pakaian itu dan dia hanya memakai tank top saja.
“Aku di punggung.” Ucap Lila memperlihat kan tanda lahir nya.
“Apa kau masih belum percaya bahwa kita memiliki ikatan saudara kak? Apa masih kurang bukti nya. Golongan darah kita sama. Itu bukan suatu kebetulan tapi semua nya memang sudah seperti itu.” ucap Lila.
“Tapi bagaimana bisa hal itu terjadi. Bagaimana kita bisa terpisah.” Ucap Luke mulai mencoba apa yang sudah dia dengar hari ini. Jujur saja kenyataan itu masih saja abu-abu untuk nya.
Lila bisa melihat keraguan di mata Luke. Dia pun mengambil kembali belati nya dan mengarahkan nya ke lengan nya.
“Lila!”
Teriak Luke dan Melvin bersamaan dan segera memegang lengan Lila yang sudah berdarah, “Apa kau merasakan sakit nya kak?” tanya Lila melihat Luke yang meringis.
Luke mengangguk, “Kita kembar kak sama seperti Alex dan Alexa. Sakit kita saling terhubung. Saat kecil aku mengira rasa sakit itu hanya kebetulan saja dan suatu yang lumrah. Tapi setelah membaca buku harian peninggalan mommy aku mengerti bahwa itu bukan lah kebetulan. Jadi jika kau masih saja ragu, kau bisa melihat dan membaca buku harian itu. Di kediaman orang tua kita yang saat ini sudah di segel. Di brankas mommy dan daddy.” Ucap Lila yang mengabaikan luka nya yang saat ini sedang di balut oleh perawat. Dia sama sekali tidak meringis karena memang racun dalam tubuh nya itu membuat nya tidak merasakan sakit lagi ketika terluka. Tubuh nya menjadi kebal.
“Jangan lakukan itu lagi.” Ucap Luke menatap luka Lila yang sudah di balut.
“Kau mengkhawatirkanmu kak?” tanya Lila tersenyum.
“Jika memang kita adalah saudara kembar. Aku ingin membuktikan sendiri. Alex mengatakan kita mirip tapi aku butuh test DNA untuk memastikan nya.” Ucap Luke.
Lila pun tersenyum, “Aku tidak keberatan sama sekali untuk itu. Kau butuh sampel apa? Apa darahku? Itu seperti nya lebih meyakinkan untuk hasil nya nanti.” Ucap Lila hendak mengambil belatih nya lagi tapi Melvin dengan gerakan cepat nya mengambil belati itu.
“Jangan melukai diri kalian lagi. Jika memang kalian ingin melakukan test DNA maka lakukan dengan sampel yang lain.” Ucap Melvin tidak terima jika tubuh Lila terluka.
“Kau mengkhawatirkanku tuan Melvin? Kenapa? Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku tidak merasa sakit sama sekali ketika terluka. Racun itu sudah mengambil rasa sakit nya.” Ucap Lila dengan tersenyum.
“Aku bisa pergi dan mati kapan saja. Tapi setidak nya sebelum aku mati aku sudah memberi tahu kebenaran nya kepada kakakku.” Sambung Lila
“Aku tidak mengizinkanmu pergi.”