
Melvin pun yang mendengar ucapan istri nya itu pun sedikit gelagapan. Dia tidak menyangka istri nya sampai sekritis itu mengamati sesuatu. Bagaimana mungkin dia bisa mengetahui setiap detail yang memang sengaja di buat oleh Melvin agar sang istri nyaman menjalani perawatan nya. Dia memang sengaja membuat bangunan ini mirip dengan kediaman utama.
“Itu mungkin hanya perasaanmu saja sayang. Dari segi warna cat nya sudah beda. Hanya furniture nya saja sama karena mungkin itu adalah barang yang nyaman. Jadi semua orang membeli nya. Apalagi yang tinggal di sini adalah para peneliti yang menghabiskan waktu berjam-jam mereka di labolatorium yang sudah seharus nya mendapatkan fasilitas terbaik saat akan istirahat.” Ucap Melvin dengan lancar.
Entah dari mana dia mendapatkan kosa kata yang baik seperti itu. Tapi satu hal yang pasti sejak hidup dengan istri nya itu dia jadi belajar seperti apa cara kerja otak Lila. Dia sudah mencoba menyesuaikan dengan cara kerja otak istri nya.
Lila pun mengangguk, “Kau benar by. Memang warna kediaman ini lebih dominan putih terang tapi kediaman utama pun dia putih tulang sama cream warna nya. Jadi aku masih merasa seperti kediaman ini memang di buat untukku. Mungkin itu hanya perasaanku dan apa yang hubby katakan terkait furniture dan fasilitas yang ada di sini yang super nyaman itu bisa aku terima. Walaupun otakku saat ini sedang menganalisa nya.” ucap Lila tersenyum.
“Tidak perlu menganalisa lagi. Itu benar dan kau harus percaya dengan apa yang di ucapkan oleh suami nya. Jangan paksa otakmu itu bekerja keras. Dia harus istirahat.” Ucap Melvin segera menggendong istri nya itu ke ranjang.
Lila pun terkekeh mendengar ucapan suami nya itu. Dia mengalungkan tangan nya di leher suami nya hingga saat Melvin hendak bangkit setelah meletakkan Lila di ranjang tidak bisa di lepas.
“Dear!” ujar Melvin.
“Kenapa?” tanya Lila cuek walaupun tahu kenapa suami nya itu memanggil nya dengan nada berat seperti itu.
Melvin pun terkekeh, “Biarkan seperti ini. Aku nyaman seperti ini.” ucap Lila menyambung ucapan nya.
“Jika tidak nyaman maka di buat nyaman saja by.” Ucap Lila cuek dan tersenyum.
Melvin yang mendengar ucapan istri nya itu pun tersenyum. Jujur saja saat ini jantung nya berdetak lebih cepat karena memang posisi kedua nya yang sangat dekat dan berbahaya. Dia bisa menatap istri nya itu lekat. Setiap detail wajah istri nya itu bisa dia lihat dengan jelas. Wajah cantik yang membuat nya tergoda dengan mudah.
Percaya lah saat ini pikiran nya itu sedang berada di ingatan terkait kejadian malam itu. Sungguh Melvin saat ini sedang mencoba mengendalikan pikiran nya itu. Gairah dan hasrat nya itu naik hanya dengan menatap istri nya yang terlihat menggoda padahal tubuh istri nya masih tertutup dengan pakaian lengkap nya.
Melvin pun menggelengkan kepala nya itu untuk menghalau semua pemikiran yang berkembang dalam otak nya. Lila melihat itu. Dia tersenyum. Dia juga paham apa yang di rasakan suami nya itu. Dia bukan lagi wanita yang tidak mengerti apa yang di rasakan oleh pria dewasa ketika bersama seorang wanita.
Cup
Mata Melvin membelalak saat merasakan ada sesuatu yang kenyal menempel di bibir nya itu singkat.
“Aku akan membantumu suamiku.”