
Kini Lila sedang mendengarkan penjelasan para dokter terkait formula yang mereka buat untuk nya. Lila menanyakan semua nya terkait darah yang di ambil setiap hari nya dari kakak nya. Bahaya yang akan di alami oleh kakak nya itu. Dokter pun menjelaskan semua tanpa ada yang terlewat.
“Apa sungguh hanya itu saja bahaya yang akan terjadi?” tanya Lila memastikan kembali setelah mendengar penjelasan dokter.
Luke pun segera menggenggam tangan adik nya itu dengan erat seolah menyalurkan kekuatan agar Lila tidak takut dan khawatir lagi serta adik nya itu tetap akan melanjutkan pengobatan nya.
“Selama tuan Luke menjalankan apa yang kami perintahkan dengan baik maka semua nya akan baik-baik saja. Lagi pula kami hanya mengambil DNA nya saja untuk di jadikan formula. Jadi tidak sebanyak mengambil transfusi yang kami ambil darah nya.” jelas dokter.
Lila pun memandangi kakak nya itu, “Tidak apa-apa dek. Kakak senang kau bisa sembuh. Kita bisa terus sama-sama. Kakak akan menuruti semua ucapan dokter hingga kemungkinan buruk yang akan terjadi itu bisa kita atasi dan hindari.” Ucap Luke.
Lila pun mengangguk dan kembali memeluk Luke, “Kamu harus melanjutkan pengobatanmu yah? Kakak mohon.” Ucap Luke.
“Iya. Tapi kakak harus sehat. Aku juga akan melihat kakak saat di ambil darah nya. Lalu kakak juga harus ada di sampingku bersama suamiku saat aku melakukan pengobatan.” Ucap Lila masih dengan memeluk kakak nya itu.
Luke pun mengangguk dan tersenyum, “Baiklah kakak janji akan melakukan itu.” ucap Luke.
“Kak .. terima kasih. Aku menyayangimu.” Ucap Lila melepas pelukan nya dan menatap kakak nya itu lekat.
“Tidak perlu berterima kasih. Ini sudak kewajiban kakak untuk melindungimu.” Ucap Luke mengusap air mata di pipi adik nya itu lalu dia juga merapikan rambut Lila.
“Dokter .. pengobatan nya tetap berjalan.” Ucap Luke kepada dokter.
Para dokter itu pun mengangguk lalu setelah itu mereka segera pamit kembali ke ruangan mereka untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Melvin dan Lila pun hanya saling memandang satu sama lain dan saling diam.
“Sayang .. Ma--”
“Hubby, aku mau makan ice cream.” Potong Lila cepat. Dia masih belum ingin membahas masalah ini. Nanti saja dulu. Lagi pula sudah dia anggap clear semua nya. Dia juga tidak ingin suami nya itu mengucapkan kata maaf walaupun dia juga belum bisa memaafkan suami nya itu atas rasa kecewa nya. Tapi setidak nya kakak nya akan tetap baik-baik saja.
“Ice cream? Ah baik lah.” Ucap Melvin cepat lalu segera meminta seseorang untuk membelikan nya.
“By, kau tidak menanyakan aku suka ice cream rasa apa?” tanya Lila.
“Kamu suka coklat bukan?” tanya Melvin balik.
Lila pun mengangguk, “Selain rasa coklat aku suka rasa apa lagi?” tanya Lila.
“Kamu memiliki selera yang sama dengan putri kita. Dia sangat menyukai matca.” Ucap Melvin.
Lila yang mendengar itu pun tersenyum karena ternyata Melvin mengetahui hal itu padahal sebelum nya dia merasa tidak perna mengatakan hal itu, “Siapa yang mengatakan nya?” tanya Lila.
“Siapa lagi jika bukan kedua buah hati kita itu.” jawab Melvin tersenyum.
“Wah .. mereka mengkhiantiku ternyata. Aku harus membuat perhitungan dengan mereka.”