My Secret With CEO

My Secret With CEO
28


5 tahun kemudian


Di sebuah sekolah taman kanak-kanak terkenal di kota Y, kini ada sepasang anak kembar yang berlarian keluar dari sekolah mereka dengan membawa piala dan piagam penghargaan di tangan mereka masing-masing.


“Mommy!” ucap keduanya mendekati mommynya yang datang menjemput mereka.


“Hey, kenapa lari-lari begitu sayang. Nanti kalian jatuh.” Ucap Lila bangga pada kedua buah hatinya itu.


Kedua anak kembar itu pun hanya tersenyum cengesan saja, “Kami senang mom. Tidak sabar menunjukkan ini kepada mommy.” Ucap Alex.


Lila pun tersenyum menatap putranya itu, “Mommy bangga dengan apa yang kalian lakukan dan dapatkan ini nak. Kalian anak kebanggaan mommy. Ayo kita pulang dan mari kita rayakan kemenangan kita ini.” ucap Lila lalu langsung mengajak kedua buah hatinya itu masuk ke mobil.


Yah, dalam lima tahun Lila tinggal di Negara ini dia sudah membuat pencapaian sendiri. Dia mengembangkan usaha toko milik kakek Parker dan nenek Saraswati menjadi toko terbesar. Lalu dia juga membangun usaha busana anak-anak atas nama kedua anaknya dengan di modali oleh kakek Parker dan nenek Saraswati tentunya.


Selain itu, pencapaian lain yang dia perolah yaitu kedua buah hatinya itu di anugerahi otak genius karena di usia mereka tiga tahun keduanya mengikuti kompetisi robot tingkat anak-anak dan keluar sebagai juaranya. Setelah itu kedua anaknya itu mengikuti berbagai lomba robot yang di adakan oleh berbagai sekolah yang selalu saja keluar sebagai juaranya.


Lila mendukung minat dan bakat yang di miliki oleh kedua buah hatinya itu. Dia selalu memastikan bahwa kedua buah hatinya itu mendapatkan yang terbaik. Selain itu juga Lila selalu mengajarkan bahwa kedua anaknya itu harus bisa menerima kekalahan jika kalah nanti. Kalah menang dalam lomba itu hal biasa. Lila selalu mengajarkan hal baik untuk kedua anaknya itu sehingga mereka menjadi anak-anak yang cerdas dan penurut.


Lila selalu memastikan kebagiaan anaknya karena dia tidak ingin anak-anaknya itu bertanya di mana daddy mereka. Hal yang tentu saja tidak dia inginkan dan pertanyaan yang pastinya akan sulit untuk dia jawab. Tapi syukurlah walaupun kedua anaknya itu memiliki kecerdasan di atas rata-rata di bandingkan anak-anak biasanya yang seumuran mereka. Kedua buah hatinya itu tidak pernah menanyakan di mana daddy mereka.


Kini Lila dan kedua buah hatinya itu sudah tiba di restoran yang menjual ayah crispy favorit si kembar, “Hey, jangan lari-lari nak.” ucap Lila yang melihat kedua buah hatinya itu yang sudah masuk ke dalam restoran dan di sambut oleh karyawan di sana dengan ramah karena memang Alex dan Alexa adalah pelanggan tetap mereka. Selain itu juga Alex dan Alexa adalah anak-anak yang menggemaskan sehingga membuat siapapun menyukai mereka dengan mudah.


“Apa menang lagi boy, girl?” tanya salah satu pelayan yang langsung menyadari kedatangan dua bocil langganan restoran mereka itu.


“Hum, begitu lah aunty. Kami ini sangat hebat.” Jawab Alex.


“Dasar narsis kau kak. Aunty aku mau pesan ayam crispy favoritku. Ingat jangan letakkan keju di sana.” Ucap Alexa lalu segera mencari tempat untuk duduk. Yah, Alex dan Alexa itu adalah si kembar yang sama-sama memiliki kecerdasan di atas rata-rata tapi memiliki kepribadian yang berbeda.


Jika Alex adalah sosok yang ramah maka berbeda dengan Alexa yang cenderung dingin dan cuek. Jika Alex kadang-kadang bertingkah konyol maka Alexa adalah sosok yang dewasa walaupun dia yang terakhir di angkat dari kandungan mommynya itu.


“Maaf yaa atas perilaku putriku.” Ucap Lila.


“Gak apa-apa nyonya. Kami sudah hafal dengan sifatnya itu dan kami tidak tersinggung sama sekali. Dia lucu.” Ucap pelayan itu.


“Boy, ayo duduk.” Ucap Lila.


Alex pun mengangguk dan segera mengambil tempat dekat dengan adiknya itu. Tidak lupa dia juga memesan ayah crispy favoritnya.


Sekitar satu jam mereka di sana baru lah setelah itu pulang.


“Nenek, Kakek!” panggil Alex begitu turun dari mobil langsung berlari memanggil nenek Saraswati dan kakek Parker.


“Ahh, cucuku. Bagaimana apa menang lagi?” tanya kakek Parker segera menggenggam tangan Alex itu.


“Tentu saja kek. Kami ini genius. Tidak ada yang bisa mengalahkan kami.” ucap Alex bangga dan ciri khasnya itu.


“Ya yah, nenek tahu kalian jenius nak.” ucap nenek Saraswati.


“Nek, jangan terlalu memujinya. Itu menambah kadar narsisnya semakin mencapai puncak.” Ucap Alexa sinis menatap kakaknya itu.


Kakek Parker dan nenek Saraswati yang mendengar ucapan Alexa itu pun tersenyum karena seperti biasa Alex dan Alexa itu memang sering bertolak belakang, “Gak apa-apa narsis nak. Kan benar juga kalian hebat.” Ucap kakek Parker.


“Tapi tetap saja kek. Kakak berlebihan sekali.” Ucap Alexa.


“Sudah, jangan bertengkar. Ayo sana kalian ganti baju dulu. Bawa itu tas, piala sama piagam kalian sekalian masuk ke dalam.” Ucap Lila melerai kedua anaknya itu.


Alex dan Alexa pun mengangguk dan segera menuruti perkataan mommy mereka. Keduanya segera masuk ke dalam mes yang sudah di renovasi jadi kediaman dua lantai yang mewah.


“Mereka sangat hebat nak.” ucap nenek Saraswati.


Lila pun mengangguk, “Iya nek. Aku bersyukur kehidupan mereka berjalan lancar tanpa kendala sedikit pun. Mereka sangat bahagia.” Ucap Lila.


“Nak, duduklah dulu. Kakek dan nenek mau bicara padamu.” Ucap nenek Saraswati serius menatap Lila.


Lila pun menurut, “Nak, apa kau yakin tidak akan kembali ke negaramu lagi? Sudah hampir 6 tahun kau meninggalkan negaramu dan hidup di sini bersembunyi dari keluargamu. Apa kau selamanya tidak akan mengenalkan daddy mereka kepada kedua anakmu itu?” tanya nenek Saraswati hati-hati.


Lila terdiam. Jujur saja dia sudah memikirkan ini sejak setahun lalu. Dia memikirkan apa dia harus kembali atau tidak. Memang perusahaan daddynya aman karena di awasi oleh Melvin dengan baik. Namun apakah selamanya dia akan hidup bersembunyi begini. Mungkin sampai saat ini kedua buah hatinya itu tidak menanyakan di mana daddy mereka. Tapi apakah ada yang bisa menjamin hal itu tidak terjadi di masa depan nanti.


“Kami bukan ingin mengusirmu dari sini nak. Kami senang kau tinggal di sini karena dengan adanya idemu toko kami ini berkembang pesat menjadi toko besar seperti sekarang. Kami senang kau ada di sini. Tapi kami juga tahu bahwa kau punya kehidupanmu sendiri. Kau bertanggung jawab untuk warisan yang di berikan daddymu. Dia pasti berharap putrinya kembali dan mengelola perusahaan peninggalannya. Kami ingin melarangmu untuk pergi dari sini tapi kami tidak punya hak sama sekali untuk itu. Negaramu adalah Negara N. Di sana keluargamu berada. Di sana makam kedua orang tuamu berada. Di sana juga ayah dari anak-anakmu berada. Setidaknya pertemukan mereka dengan ayah mereka nak. Sekali saja. Tapi semua keputusan ada padamu.” Sambung kakek Parker.


“Nek … Kek … Lila sudah memikirkan ini sejak setahun lalu tapi tetap saja Lila tidak menemukan jalan keluar yang tepat untuk ini. Lila ingin kembali tapi takut jika mereka bertemu dengan daddy mereka. Lila ingin mengenalkan dan mempertemukan mereka dengan daddy mereka tapi bagaimana jika mereka akan di ambil dariku. Aku tidak akan sanggup kehilangan mereka nek, kek. Mereka adalah anak-anakku apapun yang terjadi. Selain itu, bagaimana jika daddy mereka sudah menikah dan memiliki anak sendiri dengan istri barunya. Aku tidak ingin anak-anakku di anggap saingan. Lagian juga anak-anakku lahir dari kesalahan kami. Aku tidak butuh tanggung jawab darinya. Aku bisa menghidupi mereka dengan baik. Aku tidak ingin mengusik kehidupannya lagi.” Ucap Lila menyuarakan keresahan hatinya.


“Bukankah kamu selalu memantau keadaan di negaramu nak. Apa kamu mendengar dia sudah menikah?” tanya nenek Saraswati.


Lila menggeleng, “Aku tidak mendapatkan informasi apapun tentangnya nek. Aku hanya mengawasi perusahaannya saja. Aku tidak mengawasi kehidupan pribadinya.” Ucap Lila.


Yah, Lila hanya mengawasi perusahaannya saja selama lima tahun ini. Dia tidak pernah mencari tahu kehidupan Melvin karena menurutnya hal itu tidak penting. Dia juga selama lima tahun ini tidak lagi mengirimkan pesan atau pun foto kepada Melvin lagi karena tidak ingin di lacak. Sekuat apapun perlindungan yang dia buat tetap saja akan mudah di tembus jika dia salah melakukan sesuatu. Jadi untuk meminimalkan kesalahan itu dia memutuskan untuk tidak lagi mengirimkan apapun kepada Melvin. Terakhir dia mengirim pesan ya pesan saat dia memberi tahu nama kedua anaknya. Itu saja. Itu terakhir kalinya lalu dia memutus kontak itu selain pengawasan perusahaannya saja.


“Ya sudah jika memang begitu nak. Kami tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan. Kami yakin kau pasti bisa melakukan yang terbaik untuk ini. Kami yakin kau pasti bisa menemukan sesuatu yang membuatmu mengambil keputusan yang terbaik untuk keadaanmu. Satu hal yang harus kau ingat apapun keputusanmu nanti kami selalu mendukungmu. Kami ada keluargamu.” Ujar nenek Saraswati di angguki oleh kakek Parker. Lila pun hanya tersenyum sementara di sudut ada seseorang yang mendengar percakapan itu.


***


“Nak, kalian mau makan apa sekarang? Katakan saja mommy akan buatkan untuk kalian.” ucap Lila kepada kedua buah hatinya yang sedang membaca buku robot itu. Yah, mereka di usia dua tahun sudah lancar bicara dan di usia 3 tahun sudah lancar membaca.


“Terserah mommy saja mau memasak makanan apa untuk kami. Masakan mommy itu adalah favorit kami.” ujar Alex.


“Lalu bagaimana denganmu girl?” tanya Lila menatap putrinya yang dari tadi diam saja dan hanya menatapnya dalam.


Lila pun mengangguk tersenyum, “Baiklah. Mommy akan memasakkan makanan special untuk kita malam ini. Anggap saja sebagai bentuk perayaan atas kemenangan kalian kali ini.” ucap Lila lalu mengecup kening kedua buah hatinya itu sebelum dia berkutat dengan alat masak di dapur. Lila segera keluar dari kamar dan menuju dapur.


Sepeninggal Lila, Alexa mendekati kakaknya itu, “Kak, apa kau tidak ingin tahu di mana daddy kita berada?” ucap Lila bertanya.


Alex yang mendengar pertanyaan adiknya itu pun seketika menatap Alexa dan meletakkan buku yang dia baca, “Ada apa denganmu dek? Jangan katakan kamu menatap mommy dalam tadi itu karena ini. Apa kau mendengar sesuatu tadi saat keluar?” tanya Alex serius. Alex itu walau bertingkah konyol dia juga bisa serius di saat-saat yang di butuhkan atau saat-saat mereka bekerja sama untuk mendapatkan sesuatu.


Alexa mengangguk perlahan, “Daddy kita berasal dari Negara N. Kita lahir dari kesalahan kak. Mungkin memang benar kita anak haram seperti yang Bia katakan.” Ucap Alexa.


Alex terdiam, “Jangan bicara sembarangan dek. Bia itu hanya mengada-ngada saja dan jika pun itu memang benar. Kita lahir dari kesalahan. Kita anak haram. Tetap saja kita tidak boleh menyakiti mommy. Dia sangat menyayangi kita walaupun dia menyembunyikan keberaadan daddy dari kita. Kita tidak boleh mengatakan ini kepada mommy. Dia pasti akan sedih nanti. Cukup ini di antara kita saja.” ucap Alex menatap adiknya itu.


Alexa mengangguk, “Aku juga tidak mungkin mengatakan itu kepada mommy kak. Aku sangat menyayangi mommy. Tapi aku juga ingin tahu di mana daddy kita berada dan seperti apa orangnya. Aku ingin tahu apa dia mirip dengan kita atau tidak. Kita itu tidak mirip mommy kak. Jadi pasti kita mirip daddy.” Ucap Alexa.


“Terus apa yang kamu inginkan dek? Kita kan sudah pernah mencari tahu di mana daddy tapi kita gagal. Tidak menemukan apapun.” Ucap Alex.


“Tentu saja kita tidak bisa menemukan daddy kak. Mommy menutup akses untuk kita mencari tahu di mana daddy berada. Lalu kita juga hanya mencari sembarang saja kak. Tapi kini kita tahu di Negara mana daddy berasal.” Ujar Alexa.


Alex menatap adiknya itu dengan dalam lalu kemudian dia mengangguk. Mereka tidak bicara lagi tapi otak mereka bersinergi sudah bisa tahu apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.


***


Kini Lila, nenek Saraswati, kakek Parker dan si kembar sedang berada di meja makan sedang menikmati makan malam mereka bersama.


“Ayo kalian harus makan banyak agar bisa tambah genius.” Ucap kakek Parker mengambilkan makanan untuk Alex dan Alexa.


“Kek, kami akan jadi gendut ini jika makan sebanyak ini.” ujar Alexa tersenyum bahagia.


Lila, kakek Parker dan nenek Saraswati yang melihat itu pun tersenyum karena Alexa itu sangat jarang bisa di ajak bercanda, “Gak apa-apa nak. Makan saja nanti kita diet bareng-bareng.” Ujar nenek Saraswati.


Alex dan Alexa pun mengangguk dan mereka menikmati makanan itu dengan suasana hati yang bahagia.


“Ehh, ulang tahun kalian seminggu lagi kan. Kalian mau hadiah apa dari kakek dan nenek?” tanya nenek Saraswati.


“Hadiah? Terserah kakek dan nenek saja mau memberikan apa. Kami ini sudah kaya nek, kek. Jadi biar tidak di kasih hadiah tidak pun masalah. Tapi di berikan hadiah pun pastinya kami senang.” Ucap Alex.


Nenek Saraswati dan kakek Parker pun tertawa mendengar ucapan Alex itu, “Kau ini sangat manis nak.” ucap nenek Saraswati.


“Emm, bagaimana dengan Alexa. Kamu mau hadiah apa girl?” tanya Lila pada putrinya itu.


“Hadiah? Aku akan meminta hadiahku nanti saat ulang tahunku tiba mom. Aku harap mom akan mengabulkan permintaanku itu.” ucap Alexa.


Lila pun tersenyum lalu mengangguk, “Mom janji akan memberikan hadiah apapun yang kalian inginkan.” Ucap Lila.


“Beneran ya mom?” ucap Alex dan Alexa berbinar.


Lila mengangguk, “Tentu saja. Sejak kapan mommy ingkar janji.” ujar Lila menatap kedua buah hatinya itu dengan bahagia.


***


Tiga hari berlalu dan seperti biasa Lila pasti menjemput kedua buah hatinya itu di sekolah mereka. Namun kali ini berbeda. Lila yang biasanya hanya menunggu di pintu gerbang masuk sekolah karena kedua buah hatinya itu pasti akan berlari ke arahnya jika sudah melihatnya tiba. Tapi kali ini berbeda.


Lila sudah lama menunggu tapi kedua buah hatinya itu tidak kunjung tiba akhirnya dia pun masuk dan menuju ruang kelas kedua buah hatinya dan di sana dia melihat putrinya yang berkelahi dengan temannya.


“Alexa!” ucap Lila segera mendekati putrinya.


“Mom!” ucap Alexa langsung berlari memeluk Lila.


“Ada apa girl? Katakan ada apa?” tanya Lila tapi Alexa tidak kunjung menjawab.


Lila pun menatap putranya yang diam saja dari tadi. Putranya itu menunduk saja, “Boy, ada apa?” tanya Lila. Alex pun diam saja tidak menjawab.


“Aunty apa ibu dari mereka?” tanya seorang gadis yang bertengkar dengan putrinya itu.


“Di mana suami aunty? Apa si kembar ini tidak punya daddy?” tanya anak kecil itu.


Damn


Seketika hati Lila bagai teriris pisau tajam lalu lukanya di taburi garam dan perasan jeruk nipis. Pedih. Dia menatap kedua buah hatinya itu yang menunduk saja dan tidak berani mengangkat wajah mereka. Kini pertanyaannya sejak kapan kedua anaknya itu di bully seperti itu. Kenapa dia tidak mengetahuinya.


“Nak, kenapa kau mengatakan itu kepada sesama temanmu.” Ucap Lila lembut.


“Teman? Aku tidak pernah memilih teman yang tidak memiliki daddy. Kata mommyku tidak pantas berteman dengan orang yang tidak punya daddy.” Ucap gadis kecil itu.


“Kau!” ucap Alex geram. Dia dari tadi diam saja karena adiknya yang melarang ikut campur dan karena ajaran mommynya yang mengatakan tidak boleh memukul seorang gadis.


“Boy, jangan begitu. Gak apa-apa. Kita pulang saja. Mommy tidak perlu menjelaskan apapun di sini. Ayo nak kita pulang.” Ucap Lila mengajak kedua buah hatinya itu.


Alex dan Alexa pun mengangguk dan mengikuti Lila pergi, “Dasar tidak punya daddy.” Ucap gadis kecil itu lagi.


Lila yang mendengar itu meneteskan air matanya. Sungguh dia sangat kesal mendengar ucapan itu. Hatinya terluka. Harga dirinya jatuh. Tapi dia sadar tidak ada gunanya bertengkar dengan anak kecil yang tidak mengerti apa yang dia katakan.


Selain itu, saat ini prioritasnya adalah mental kedua anaknya. Dia tidak ingin kedua anaknya itu jatuh mental mereka. Kesehatan mental anaknya adalah yang paling penting. Tapi hal ini membuatnya gagal menjadi orang tua. Dia pikir apa yang dia lakukan selama ini sudah cukup untuk membuat kedua anaknya itu bahagia. Mereka tidak perlu di bebani apapun. Tapi ternyata anaknya itu di bully. Entah sejak kapan dia pun tak tahu.


Lila dan si kembar pun masuk ke mobil dan tidak lama mobil itu pun melaju meninggalkan sekolah. Di perjalanan Alex dan Alexa yang saling berpelukan satu sama lain di bangku belakang kini menatap Lila.


“Mom, di mana daddy?”