My Secret With CEO

My Secret With CEO
11


Sebulan berlalu dengan sangat cepat, Melvin masih saja belum bisa menemukan titik terang dari gadis yang sudah di tidurinya sebulan lalu. Penyelidikian mereka menemui jalan buntut lagi dan lagi tapi Deo tidak menyerah sama sekali. Dia tetap mengulanginya lagi dan lagi.


Melvin dia sudah mulai pasrah jika dia harus menerima hukuman lagi dari papinya karena tidak bisa menepati janjinya dan tidak bisa mempertanggung jawabkan dirinya. Melvin frustasi selama sebulan ini.


Sementara di sisi Lila, kini dia berada di toko bunga miliknya bersama Emira dan Dira. Mereka baru saja melayani pelanggan yang memesan bunga untuk lamaran. Jadi kini mereka sedang istirahat tidak lagi melayani pelanggan.


Lila yang berdiri memeriksa stok bunga tiba-tiba dia merasa pusing dan jatuh pingsan hingga membuat Emira dan Dira pun mendekatinya dan segera membawa Lila menuju rumah sakit terdekat. Begitu tiba id rumah sakit Lila segera di periksa tapi dia lama sadarnya sehingga Emira dan Dira pun memutuskan untuk kembali ke toko bunga meninggalkan Lila sendiri di sana di ruang perawatannya.


Setelah hampir satu jam Lila tertidur dan baru tersadar dari pingsannya. Lila membuka matanya perlahan-lahan dan mengamati sekeliling yang berwarna putih dan bau obat-obatan yang menyengat. Dia sudah menduga sekarang dia ada di mana.


Lila mengingat sebelumnya dia berada di toko bunga miliknya lalu tiba-tiba dia pusing dan pandangannya menjadi gelap dan kesadarannya pun menghilang lalu kini dia terbangun di sini. Lila mengangkat tangannya yang sudah terpasang infus dan tidak lama perawat juga datang memeriksa kondisinya.


“Syukurlah anda sudah sadar.” Ucap perawat itu dan segera memeriksa tanda vitalnya.


“Suster saya kenapa? Kenapa saya bisa pingsan? Apa saya punya penyakit parah?” tanya Lila.


“Emm, saya gak tahu nona. Dokter belum mengatakan apapun terkait kondisi anda. Saya belum bisa menjelaskan apapun.” Jawab perawat itu.


Lila pun mengangguk mengerti dan tidak lama setelah perawat keluar seorang dokter wanita dengan seragam ciri khas mereka masuk ke ruangannya, “Apa kamu ingin tahu keadaanmu?” tanya dokter wanita itu yang menatapnya dengan tatapan kasihan.


Lila mencoba bangun dan segera di bantu oleh dokter itu, “Ada apa dokter? Apa saya punya penyakit parah? Katakan saja dokter. Saya akan menerima semuanya.” Ucap Lila mencoba meyakinkan dokter bahwa dia baik-baik saja.


Dokter wanita itu diam lalu memeluk Lila, “Saya tahu kamu gadis kuat. Kau pasti bisa menerima takdir ini untukmu. Saya yakin kau adalah korban.” Ucap dokter itu.


Lila semakin penasaran dengan keadaannya itu begitu mendengar ucapan dokter, “Dokter sebenarnya saya sakit apa?” tanya Lila menatap dokter itu dalam.


Dokter wanita itu pun menarik nafas panjang, “Kamu gak sakit atau pun memiliki penyakit yang mematikan. Tapi saat ini kau sedang mengandung. Di rahimmu sedang tumbuh janin. Kau pingsan karena kelelahan dan banyak pikiran.” Jelas dokter itu menatap Lila yang diam saja terkejut dengan apa yang dia dengar.


Dokter wanita itu membawa Lila kembali ke pelukannya dan Lila menangis dalam pelukan dokter itu. Air mata yang berusaha untuk dia tahan itu entah kenapa merembes tanpa bisa dia tahan sama sekali.


Lila melepas pelukannnya dari dokter itu dan menatap dokter wanita itu lekat. Setelah itu dia mengusap perut ratanya, “Sudah berapa minggu dokter?” tanya Lila berat.


“Lima minggu. Ini hasil USG-nya.” Jawab dokter itu memberikan hasil USG-nya.


“Apa dia baik-baik saja?” tanya Lila kembali.


“Yah, dia baik-baik saja. Bayimu baik-baik saja. Mereka berkembang dengan sangat baik tapi kau harus tetap memperhatikan istirahat dan pola makanmu jika ingin mereka tetap baik-baik saja dan berkembang dengan baik.” ucap dokter itu.


“Menurut dokter apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya menggugurkannya?” tanya Lila menatap dokter wanita itu yang terdiam.


“Saya hanya bisa menyarankan. Semua keputusan tetap ada di tanganmu. Dia adalah anakmu. Darah dagingmu. Walaupun dia ada karena kesalahan tapi bayi itu tidak bersalah bukan. Banyak di luaran sana yang ingin punya bayi tapi mereka belum juga di berikan walaupun sudah melakukan berbagai macam cara unyuk mendapatkannya. Saya tahu kau pasti mengerti apa yang saya katakan. Saya juga yakin bahwa kau gadis baik yang hanya korban dari seorang lelaki tidak bertanggung jawab. Saya yakin kau akan mengambil keputusan terbaik.” Ucap dokter itu bijak.


“Apakah saya harus mempertahankannya? Bagaimana saya hidup nanti jika mempertahannya?” tanya Lila.


“Dokter tahu apa yang kau khawatirkan. Stigma buruk yang beredar di lingkungan masyarakat kita memang menjadi satu yang menjadi kekhawatiran gadis seperti kamu. Tapi apakah kau tega membunuhnya?” tanya dokter itu.


“Aku mana tega dokter. Dia tidak bersalah. Aku sudah mencoba membunuhnya sekali dengan minum pil pencegah kehamilan tapi dia tetap ada. Apa itu artinya aku harus mempertahankannya. Baiklah jika memang takdir ingin aku mempertahankannya maka aku akan mempertahankannya. Dia tidak bersalah dan dia juga darah dagingku. Tapi bisakah dokter merahasiakan ini untukku. Aku yakin pasti akan ada yang mencari informasi tentangku untuk ke depannya. Jadi bisakah dokter merahasiakan ini untukku. Sebagai balasannya aku akan menjaga anakku. Aku akan melahirkannya tapi tidak di Negara ini. Aku akan membawanya. Apa dokter mau berjanji untukku?” tanya Lila menatap penuh harap dokter di hadapannya itu.


“Dokter berjanji nak. Dokter akan merahasiakan hal ini untukmu. Kamu gadis baik. Dokter yakin pilihanmu ini akan membawamu pada suatu kebahagiaan nanti. Dokter akan mendoakan yang terbaik untukmu.” Ucap dokter wanita itu kembali memeluk Lila karena baru kali ini dia mendapati seorang gadis yang hamil yang tidak menyalahkan takdirnya dan mau menerima kehamilannya walaupun tetap saja dia menangis awalnya. Tapi gadis di hadapannya ini tidak larut dalam kesedihannya.


“Terima kasih dokter. Kalau begitu saya akan segera pulang. Saya harus mempersiapkan semuanya dengan baik. Terima kasih sekali lagi dokter. Kita akan bertemu lagi nanti jika takdir masih memberikan izinnya.” Ucap Lila tersenyum.


“Kamu bisa pergi tapi habiskan infus itu dulu dan ini resep obat untukmu. Saya sudah meresepkan obat sekaligus penguat kandungan untukmu. Saya akan mendoakan keselamatanmu di mana pun kau berada. Kau gadis baik.” ucap dokter itu.


“Dokter juga orang baik. Tidak menghakimiku walau tahu aku hamil di luar nikah. Ohiya dokter ayah anakku bukan orang yang tidak bertanggung jawab. Dia adalah idolaku. Aku sendiri yang membuatnya tidak bisa menemukanku. Karena aku tahu dia tidak bersalah. Kami hanya berada di situasi dan keadaan yang salah.” Ucap Lila tersenyum setelah dokter melepas infusnya karena memang sudah habis.