
“Kok uncle ragu ya.” Ucap Delon.
“Ck, uncle kami gak bohong tahu. Kami ini masih kecil jadi kami itu tidak tau bohong.” Ucap Alexa mendesis.
Delon pun tersenyum lalu mengusap rambut putri Lila itu, “Heheh, uncle bercanda girl. Uncle akan membawa kalian nanti ke sana. Tapi bolehlah Uncle tahu alasan kalian ingin menemui sahabat mommy kalian itu.” ucap Delon.
“Kami ingin mencari daddy uncle. Kami ingin tahu apa sahabat mommy itu kenal daddy kami.” ucap Alexa jujur.
Deg
Delon terdiam mendengar pengakuan jujur dari Alexa itu, “Apa kalian tahu siapa daddy kalian?” tanya Delon ahti-hati sambil berdap dalam hatinya bahwa kedua buah hati Lila itu akan menjawab tidak.
Tapia pa yang dia lihat membuatnya terdiam karena Alex dan Alexa itu mengangguk, “Kami tahu uncle. Tapi mommy melarang kami untuk bertemu dengan daddy.” Jawab Alex.
“Apa kalian tahu juga di mana daddy kalian berada?” tanya Delon lagi. Dia penasaran sampai di mana kedua anak Lila itu mengenal daddy mereka.
“Kami tahu uncle. Daddy kami ada di sekitar sini. Ini adalah Negara asal mommy yang pastinya juga daddy berasal dari sini. Lagi pula mommy sudah mengatakan kepada kami bahwa daddy itu berada di Negara N dan ini Negara N kan. Jadi berarti daddy ada di sekitar sini. Tapi kami belum menemukannya. Jadi, uncle bisakah membawa kami menemui daddy diam-diam. Setidaknya kami ingin melihatnya dari dekat saja. Uncle pasti tahu kan di mana kami bisa menemukan daddy kami.” ucap Alexa.
“Iya uncle. Bisakah membawa kami ke kantor daddy?” tambah Alex menatap Delon yang hanya terdiam mendengar permintaan kedua buah hati Lila itu.
“Emm, uncle bukan gak mau membawa kalian bertemu dengan daddy kalian. Tapi seperti yang kalian katakan tadi bahwa mommy kalian tidak mengizinkannya. Apa kalian ingin membuat mommy kalian sedih dengan kalian menemui daddy kalian secara diam-diam. Uncle sarankan jika kalian ingin bertemu daddy kalian maka izin lah kepada mommy kalian agar dia tidak akan sedih nanti.” Ucap Delon lembut memberi pengertian kepada kedua buah hati Lila itu. Karena sebenarnya dia juga tidak ingin membuat mereka bersedih dan dia juga belum siap untuk bertemu dengan pria yang membuat Lila menghilang hampir enam tahun tanpa kabar sama sekali.
Alex dan Alexa yang mendengar penolakan Delon itu pun menunduk, “Hum, kenapa kalian menunduk begitu boy, girl? Apa ada yang membuat kalian sedih?” tanya Lila.
Alex dan Alexa pun mengangkat kepala mereka lalu tersenyum kemudian menggeleng, “Gak ko mom. Kami baik-baik aja. Kami gak sedih.” Jawab Alex di angguki oleh Alexa.
Lila pun mengangguk saja tanpa bertanya lebih lanjut walaupun dia tahu bahwa kedua buah hatinya itu sedang menutupi sesuatu darinya.
Akhirnya ke empat orang itu pun menikmati makan mereka dengan baik.
“Hum, kami kembali dulu Delon. Terima kasih sudah menemani anak-anak bermain hari ini.” ujar Lila saat mereka sudah berada di parkiran.
Delon pun mengangguk, “Aku senang bisa bermain dengan mereka nona. Ohiya boy, girl nanti kapan-kapan lagi kita main bersama lagi ya.” Ucap Delon kepada kedua buah hati Lila itu yang di angguki oleh keduanya bersamaan.
Setelah itu pun mereka saling pamit dan pergi meninggalkan gedung mall itu.
***
Di sisi Melvin, kini dia sedang ada di perusahaan nya baru saja kembali ke ruangan nya setelah menghadiri rapat bulanan.
“Kapan kau akan mempertemukan aku dengan anak-anakku. Kapan aku bisa melihatmu. Aku ingin memelukmu istriku.” Ucap Melvin tersenyum menyebut Lila itu istrinya. Bukankah memang itu kenyataannya bahwa mereka adalah sepasang suami istri di mata Negara walaupun mereka belum menikah di mata agama.
“Deo!” panggil Melvin kepada asistennya itu yang sibuk di meja di sebelahnya sedang memilah dokumen.
“Apa aku bisa melanggar janji. Aku ingin segera bertemu dengan mereka.” ucap Melvin.
Deo pun menatap tuannya itu lalu tersenyum, “Tuan sendiri yang memutuskan untuk mempercayainya jadi tunggu lah sedikit lagi seperti kepercayaan tuan itu dari pada nanti tuan tidak akan bisa bertemu dengan mereka.” ujar Deo.
Melvin menghela nafasnya mendengar itu lalu dia mengangguk, “Baiklah, aku akan menunggu. Semoga saja kepercayaanku tidak mengkhianatiku.” Ucap Melvin.
***
Malam harinya kini di hotel, Lila selepas menikmati makan malam dengan kedua buahnya.
“Boy, girl, mommy mau bicara.” Ucap Lila menatap kedua buah hatinya.
Alex dan Alexa pun menatap Lila, “Kita bicara di balkon. Mommy ingin melihat pemandangan kota saat malam di sana. Ayo!” ajak Lila lalu dia segera menuju ke balkon.
Alex dan Alexa pun mengangguk dan segera mengikuti Lila ke balkon, “Besok, adalah ulang tahun kalian. Mommy ingin mengucapkan sekarang. Selamat ulang tahun boy, girl. Kalian harus bahagia.” Ucap Lila lalu mengecup kening putra dan putrinya itu bergantian.
“Mom, ada apa denganmu? Kenapa kau mengucapkan selamat ulang tahun lebih dulu kepada kami? Memang selama ini kau selalu jadi orang pertama yang mengucapkan itu kepada kami tapi selalu setelah hari tanggal berganti menjadi ulang tahun kami. Tapi ini tanggal ulang tahun kami belum berganti masih ada beberapa jam lagi.” Ucap Alex menatap mommy nya itu lekat.
Lila tersenyum mendengar ucapan putranya itu, “Gak ada apa-apa boy. Mommy mengatakan itu karena mommy gak yakin bahwa besok mommy masih sempat mengucapkannya atau tidak. Jadi mommy mengucapkannya lebih dulu. Gak apa-apa kan?” tanya Lila masih tersenyum.
“Memang gak apa-apa mom tapi perkataan mommy membuat kami takut. Kami takut mommy pergi. Perkataan mommy itu seperti orang yang mau pergi jauh saja.” ucap Alexa.
“Hey, mommy tidak akan pergi jauh meninggalkan kalian nak. Mommy sangat menyayangi kalian. Bagaimana mungkin mommy melakukan itu.” ucap Lila memeluk kedua buah hatinya itu erat.
“Iya, pokoknya mommy gak boleh mengatakan hal seperti itu lagi. Kami tidak akan bisa hidup tanpa mommy. Kami menyayangi mommy.” Ucap Alex di angguki oleh Alexa.
“Kami lebih memilih tidak memiliki daddy dari pada harus hidup tanpa mommy. Jadi jangan pergi ke mana-mana mom.” Ucap Alexa.
Lila mengangguk, “Tentu nak. Mommy gak akan kemana-kemana. Mommy akan tetap bersama kalian. Jangan khawatir. Mommy menyayangi kalian.” ucap Lila masih tetap dalam memeluk kedua buah hatinya itu.
“Aku gak tahu kenapa aku mengatakan ini kepada kalian nak. Entah kenapa hatiku tidak tenang.” Batin Lila lalu mengecup puncak kepala kedua buah hatinya itu.