My Secret With CEO

My Secret With CEO
183


Lila segera meletakkan tas nya di ranjang. Dia pun memilih duduk di sofa yang ada di kamar milik nya bersama suami nya itu.


Lila memenjamkan mata nya dengan bersandar di sandaran sofa itu. Pikiran nya melayang jauh entah kemana memikirkan keamanan kedua buah hati nya. Percaya lah masalah si kembar yang hingga saat ini belum menemukan jalan keluar nya menjadi beban pikiran nya.


Lila sendiri merasa pusing hal itu. Kepala nya terasa nyeri. Lila memang orang yang ambis. Dia ketika punya masalah pasti akan dia pikirkan hingga mengabaikan hal lain termasuk kesehatan nya sendiri.


Lila memijat kepala nya dan segera berdiri di saat rasa pusing yang dia alami itu semakin terasa berat. Mencari obat nya yang berada di laci. Tapi belum juga dia sampai tubuh nya seketika limbung. Tapi untung lah Melvin datang di waktu yang tepat.


“Dear!” teriak Melvin segera berlari cepat dan menahan tubuh Lila yang hampir menyentuh lantai.


“Sayang!” panggil Melvin saat melihat Lila yang pucat.


“Mami … papi … tolong hubungi dokter.” Teriak Melvin dan dia segera berusaha bangun memindahkan Lila ke ranjang.


Dia khawatir tapi perkataan dokter James untuk tidak panic terngiang di otak nya hingga dia mencoba tenang. Walaupun hati nya bergemuruh melihat istri nya yang pucat dan tangan nya mendadak dingin. Ketakutan itu seketika terbayang di hadapan nya melihat Lila yang kini sudah tidak sadarkan diri. Tapi Melvin menggelengkan kepala nya mencoba untuk tetap fokus dan memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang.


Di bawah sana mami Elea dan papi Emran yang mendengar teriakan sang putra segera berlari menuju lantai dua.


“Ada apa nak? Kenapa--”


“Ada apa dengan Lila, Vin?” teriak mami Elea panic melihat menantu nya itu kini terbaring di ranjang dengan mata tertutup.


“Mih, hubungi dokter. Dia tiba-tiba pingsan. Untung saja aku datang hingga dia tidak terjatuh ke lantai.” Ucap Melvin dengan suara bergetar karena saking panic nya.


“Dokter akan segera datang, boy. Tidak perlu khawatir. Tenangkan dirimu. Mami juga tenang. Lila akan baik-baik saja. Jika racun saja bisa dia kalahkan apalagi hal ini.” ucap papi Emran mencoba menenangkan semua nya termasuk diri nya untuk tidak ikut panic walaupun sebenar nya panic juga.


“Aku tidak bisa menunggu dokter sampai datang, pih. Aku tidak mau terjadi apapun pada nya. Aku harus melakukan sesuatu.” ucap Melvin memandangi Lila yang terlihat mengerang seolah sedang melawan rasa sakit nya.


“Dokter James? Yah, aku harus menghubungi nya.” lanjut nya mencari ponsel nya sendiri.


Nomor ponsel dokter James menjadi tujuan nya. Tidak lama panggilan itu terhubung.


“Dokter James!” sapa Melvin.


“Dokter, Lila pingsan dokter. Dia tidak sadarkan diri. Tubuh nya mengerang dan tangan nya dingin juga bibir nya pucat. Saya harus apa dokter.” Lanjut Melvin dengan suara bergetar. Melvin bahkan tidak membiarkan dokter James untuk bicara. Dia langsung saja mengatakan keadaan Lila.


“Tuan anda harus tenang. Nona Lila pasti baik-baik saja. Dia mungkin hanya kelelahan atau mungkin banyak pikiran hingga dia pingsan seperti itu. Yang bisa anda lakukan sekarang yaitu memastikan apa dia sudah minum obat nya atau belum. Saya merasa bahwa hal ini di sebabkan kelalaian nya belum minum obat.” Ucap dokter James.


Melvin yang mendengar ucapan dokter James segera melihat laci dan mami Elea yang juga ikut mendengarkan penjelasan dokter James bertindak cepat mengeluarkan semua obat yang ada di laci samping ranjang putra nya itu.


Melvin segera memeriksa nya dan ternyata benar seperti nya dugaan dokter James itu benar. Obat yang di berikan dokter James belum berkurang sedikit pun. Seperti nya dia telah lalai tidak memperhatikan hal itu, “Seperti nya dugaan anda benar dokter. Obat nya belum berkurang sedikit pun. Apa yang harus saya lakukan dokter?” tanya Melvin khawatir dan merasa bersalah.


“Mih!” ucap Melvin menatap mami nya seolah meminta tolong di ambilkan air tapi sekali lagi ternyata kedua orang tua nya itu bergerak cepat. Papi Emran sudah dengan air di tangan nya dan memberikan nya kepada Melvin.


“Terima kasih pih.” Ucap Melvin yang hanya di balas anggukan oleh papi Emran.


“Mih, tolong bantu aku.” Ucap Melvin.


Mami Elea pun mengangguk dan segera membantu putra nya itu meminumkan obat kepada Lila.


“Saya sudah meminumkan nya dokter. Sekarang apa yang harus saya lakukan?” tanya Melvin.


“Sekarang pastikan tubuh nya tidak kedinginan, tuan. Lalu tunggu lah dokter yang akan memeriksa nya.” ucap dokter James.


“Baik. Terima kasih dokter. Maaf sudah merepotkan anda.” Ucap Melvin.


“Tidak masalah tuan. Anda hanya perlu memastikan bahwa obat nya di minum tepat waktu karena proses penyembuhan nya itu masih berjalan. Jangan sampai apa yang saya katakan pada anda akan semakin parah dan membuat kemungkinan itu semakin kecil. Saya tahu mungkin anda tidak lagi menginginkan keturunan lagi tapi pemikiran wanita itu berbeda. Mereka keras jika sudah menginginkan sesuatu.” jelas dokter James yang di mengerti Melvin.


Setelah nya sambungan itu pun berakhir. Melvin segera menatap Lila dan kedua orang tua nya yang menatap nya tajam akan apa yang mereka dengar barusan dari penjelasan dokter James.


“Aku akan menjelaskan hal itu kepada kalian nanti. Dia sendiri pun tak mengetahui ini. Hanya aku yang tahu. Ini adalah rahasia karena aku takut hal ini akan membuat nya bersedih.” Ucap Melvin singkat memberi penjelasan karena tidak ingin di tatap dengan tatapan penuh curiga.


Bertepatan dengan akhir kalimat Melvin, dokter tiba dengan si kembar.


“Daddy, kenapa ada dokter da--” ucapan Alexa terhenti melihat apa yang dia lihat.


“Daddy, mommy kenapa?” tanya Alexa segera mendekati ranjang di mana mommy nya terbaring.


“Dokter, silahkan. Kami baru saja memberikan nya obat dari Negara S atas saran dokter James.” Ucap Melvin menjelaskan kepada dokter dan mengabaikan pertanyaan putri nya.


Dokter itu pun mengangguk dan segera melakukan pemeriksaan.


Sementara Alexa menggenggam tangan mami Elea erat, “Mommy kalian akan baik-baik saja, girl. Tidak perlu khawatir. Dokter sedang memeriksa kondisi mommy kalian.” ucap mami Elea menatap kedua cucu nya itu. Terlebih cucu laki-laki nya yang diam saja sejak tadi tapi tatapan nya tidak luput dari Lila.


“Dokter, bagaimana keadaan mommy?” itu suara Alex setelah dokter menyelesaikan pemeriksaan nya.


Dokter yang mendengar pertanyaan Alex pun tersenyum, “Tenang lah. Mommy kalian baik-baik saja. Dia hanya kelelahan saja.” ucap dokter Andi menatap kedua buah hati Lila yang nampak khawatir itu.


Setelah nya dokter Andi menatap Melvin seolah mengisyaratkan untuk bicara sesuatu yang penting.