
Kini Lila baru saja keluar dari kamar kedua buah hati nya itu setelah cukup berbincang dengan anak-anak nya dan membiarkan mereka untuk istirahat. Lila dengan menggunakan kursi roda dan di dorong oleh salah satu pelayan di sana. Lila menuju kamar Melvin. Begitu dia tiba di sana Lila pun mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang sudah membantu nya itu.
Lila pun memandangi kamar Melvin itu yang selera nya hampir sama dengan selera Lila. Lila mengambil ponsel yang ada di meja dengan mendorong kursi roda nya itu sendiri mendekati meja. Lila memeriksa pergerakkan saham perusahaan peninggalan daddy nya yang memang berkembang pesat.
“Seperti nya tuan Melvin memang melakukan yang terbaik untuk perusahaan daddy.” Ucap Lila tersenyum lalu perlahan dia memenjamkan mata nya karena efek lelah berpikir.
Melvin yang baru saja bicara dengan Luke terkait pengobatan Lila dan juga terkait Linda dan Aruna pun segera masuk ke kamar nya itu begitu tahu bahwa sang istri ada di sana. Begitu Melvin masuk dia pun terkejut melihat Lila yang tertidur di kursi roda nya.
Melvin pun merasa bersalah karena melupakan istri nya itu setelah bicara dengan Luke terkait apa yang harus di lakukan ke depan nya.
“Maaf! Aku melupakanmu bahwa kau butuh bantuanku. Kau pasti lelah bicara dengan anak-anak.” ucap Melvin lalu segera mengangkat Lila ke ranjang. Lila juga tidak terbangun dan tetap saja terlelap dalam tidur nya.
Melvin menyelimuti Lila dan mengatur suhu ruangan kamar nya itu agar tidak terlalu dingin juga tidak terlalu panas.
“Lihat lah kau bahkan sangat cantik sedang tertidur. Padahal tanpa polesan make up apapun. Pantas saja putriku sangat cantik. Walaupun dia mengikuti gen wajahku tapi tidak di pungkiri bulu mata lentik nya itu menambah pesona nya. Aku yakin jika dia dewasa nanti mungkin akan membuat banyak hati patah hati karena penolakan nya. Tidak masalah kita akan mendidik mereka dengan baik dan tanggung sepertimu.” Ucap Melvin.
“Mereka tidak boleh mengikuti aku yang tidak hebat dan pengecut karena tidak bisa menemukanmu. Mereka harus jadi orang yang bertanggung jawab.” Ujar Melvin lagi lalu dia memberikan kecupan lembut di kening istri nya itu.
Setelah itu Melvin pun menuju kamar mandi bermaksud membersihkan diri nya sebelum ikut mengistirahatkan tubuh nya.
Setelah dari kamar mandi, Melvin pun segera ikut bergabung tidur di samping Lila. Dia sudah berjanji pada diri nya sendiri tidak akan menyentuh Lila sampai gadis itu mengizinkan nya. Status pernikahan mereka tidak akan membuat nya memaksa Lila memberikan hak nya. Dia hanya ingin Lila jadi istri nya saja dan menyembuhkan istri nya itu bagaimana pun cara nya. Untuk hal lain nya tidak ada dalam list nya. Selain itu pula, dia juga sudah membuat janji dengan seseorang selain berjanji pada diri nya sendiri untuk tidak memaksa Lila memberikan hak nya.
Luke, kakak istri nya itu sudah mewanti-wanti diri nya. Seperti nya memang ingin melindungi adik nya dan tidak ingin mempengaruhi kondisi kesehatan adik nya. Sudah tentu dia menuruti nya karena di atas nafsu dan hasrat nya yang hanya sekali pernah mendapatkan pelepasan dia sangat menyayangi dan mencintai Lila. Kenyamanan dan kebahagiaan Lila adalah hal utama saat ini.
Melvin pun ikut memejamkan mata nya dan meletakkan tangan nya di perut Lila lalu dia pun segera ikut terlelap.
***
Lila baru saja terbangun setelah sekitaran dua jam tertidur. Dia kaget saat melihat ada tangan di perut nya. Lila pun menoleh ke samping dan mendapati bunyi nafas teratur dari sang suami.
Lila pun tersenyum dan baru ingat bahwa dia tadi tertidur di kursi roda. Seperti nya suami nya ini yang memindahkan nya ke sini.
Lila pun dengan pelan mengangkat tangan suami nya itu dari perut nya dan meletakkan nya dengan pelan di ranjang. Lila bangun dengan perlahan dan mencoba turun dari ranjang karena dia kebelet pipis. Lila melakukan nya dengan pelan karena tidak ingin membangunkan Melvin yang dia tahu pasti sangat lelah mengurus ini itu dalam beberapa hari ini.
Begitu Lila hendak meraih kursi roda nya ada suara terdengar, “Mau kemana?” tanya Melvin dengan nada suara khas bangun tidur.
Melvin pun segera bangun dari tidur nya dan segera menggendong Lila, “Mau kemana?” ulang Melvin.
“I-itu mau--” Ucap Lila tergagap dan melirik kamar mandi.
Melvin pun segera sadar istri nya itu mau apa. Melvin pun segera membawa Lila ke kamar mandi dan menurunkan nya pelan di sana. Setelah itu dia pun keluar.
“Terima kasih!” ucap Lila begitu dia kembali ke ranjang dengan di gendong oleh suami nya itu setelah buang air.
Melvin pun tersenyum lalu mengucap rambut sang istri dengan lembut, “Tidak perlu berterima kasih. Aku suamimu.” Ucap Melvin.
Lila pun mengangguk saja dan tersenyum.
***
Kini Lila dan Melvin sudah berada di meja makan yang besar di mana di sana ada perjamuan besar yang di hadiri oleh keluarga besar Melvin. Keluarga Lila juga ada yaitu Luke. Lalu pengacara Jay dan keluarga nya yang menjadi wali Lila selama ini. Terus ada juga Delon dan Yola di sana.
Perjamuan perayaan pernikahan Lila dan Melvin itu pun berjalan lancar karena semua nya tidak ada yang membahas masalah yang terjadi sebelum nya. Mereka fokus dengan pernikahan Melvin dan Lila tanpa membahas apa yang sudah terjadi hingga Lila pun merasa nyaman dan menikmati makan malam itu dengan baik. Seperti nya kenyamanan Lila memang nomor satu di atur dan di pastikan oleh mami Elea dan papi Emran.
“Selamat atas pernikahan kalian sekali lagi.” Ucap Delon yang di temani oleh Yola di samping nya.
Lila dan Melvin pun mengangguk, “Terima kasih.” Ucap kedua nya.
“Kau cari lah seseorang yang kau cintai. Jangan terpaku dengan masalalu.” Ucap Lila kepada Delon.
Delon yang mendengar itu pun tersenyum, “Hum, tentu aku pasti akan menemukan nya.” balas Delon.
Singkat cerita, kini acara perjamuan makan malam itu sudah selesai. Semua yang datang pun sudah pada pulang. Melvin dan Lila pun memutuskan untuk kembali ke kamar dan bertukar pakaian di sana. Lila menggunakan dress yang sudah di sediakan Melvin di walk in closet milik nya itu.
“Kau cantik dengan dress itu.” ucap Melvin.
Lila pun tersenyum saja, “Sebenar nya tidak nyaman tidur dengan dress seperti ini. Tapi di sana tidak ada piyama untuk tidur.” Ucap Lila jujur.
Melvin yang mendengar itu pun terdiam, “Ahh maaf, aku tidak sempat menyiapkan hal itu. Tunggu aku hubungi Deo dulu un--”
Lila menahan tangan Melvin saat hendak meraih ponsel nya, “Tidak perlu. Itu sudah malam. Kasihan dia juga butuh istirahat. Dia pasti lelah mengurus semua ini. Walaupun tidak nyaman tapi dress ini menggunakan bahan yang lembut pasti nyaman di pakai untuk tidur.” Ucap Lila.
“Yakin? Kita minta pelayan di bawah saja.” ucap Melvin.
Lila mengangguk, “Tidak perlu. Hanya semalam bukan. Pasti bisa di atasi. Besok baru bisa beli atau mungkin mengambil yang ada di kediaman sebelah, apartemen atau mungkin kediaman utama.” Ucap Lila.
“Kita ambil dari kediaman sebelah saja.” ucap Melvin.
“Aku yang akan mengambil nya. Tidak perlu khawatir. Kau tunggu di sini. Aku tidak ingin kau tidak nyaman.” Ucap Melvin dengan cepat berbalik.
“Tunggu sebentar. Aku akan mengambil nya.”
“Hum, apa tidak butuh kunci kediaman nya?” tanya Lila.
Melvin yang mendengar itu pun segera berbalik dan tersenyum lalu segera menerima kunci dari istri nya itu. Setelah itu dia pun segera pergi meninggalkan kamar. Lila yang melihat nya pun hanya tersenyum.
“Aku harap kau tidak akan bosan nanti.” Gumam Lila.
Tidak lama sekitar 15 menit saja dia sudah tiba dengan dua pasang piyama tidur di tangan nya itu. Dia segera memberikan nya kepada Lila dan Lila pun segera bertukar piyama.
Kini mereka saling melihat satu sama lain canggung seperti nya. Ini memang suasana yang canggung juga untuk mereka.
“Tidur lah.” Ucap Melvin.
Lila pun mengangguk dan segera berbaring di ranjang nya itu. Sementara Melvin memilih untuk meraih tablet nya dan membuka sesuatu di sana. Lila yang tadi nya terlentang sambil menatap langit-langi kamar suami nya itu pun segera memiringkan tubuh nya menghadap Melvin yang duduk di sofa, “Terima kasih sudah mengawasi perusahaan daddy dan mommyku. Terima kasih sudah menjaga kestabilan saham nya.” ucap Lila tulus.
Melvin yang mendengar ucapan sang istri pun segera menatap lekat Lila, “Apa kamu baru saja memeriksa saham nya?” tanya Melvin.
Lila pun tersenyum dan mengangguk, “Perusahaan itu adalah milik mommy tapi daddy yang mengembangkan hingga bisa jadi perusahaan nomor dua di bawah perusahaan milik kalian. Itu adalah warisan yang di tuliskan untukku. Tapi kini itu adalah milik kakak. Aku sudah menemukan saudaraku. Dia lebih berhak menerima nya. Aku harap kau tidak keberatan.” Ucap Lila pelan di akhir kalimat nya itu.
Melvin yang mendengar itu pun tersenyum lalu dia menggeleng, “Untuk apa aku keberatan. Itu adalah milikmu bukan. Aku hanya mengawasi nya saja dengan alasan untuk memancingmu keluar selama ini tapi tidak pernah berhasil.” Ucap Melvin.
Lila pun terkekeh mendengar ucapan Melvin itu, “Untuk apa aku terpancing jika aku sudah menempatkan Delon mengawasi nya.” ucap Lila.
“Kau seperti nya sangat percaya pada Delon? Kau tahu bukan dia--”
Lila mengangguk lalu dia mencoba bangun dan bersandar di sandaran ranjang itu, “Aku tahu dia memiliki perasaan padaku. Tapi aku hanya bisa menganggap nya sahabat saja. Aku tidak bisa membalas perasaan nya itu.” potong Lila.
“Ahh sudah lah tidak perlu membahas Delon. Dia hanya mengawasi perusahaan itu tapi dia juga tidak tahu di mana aku berada selama ini. Dia memang membantu menghapus CCTV tapi setelah itu dia tidak tahu apapun lagi.” Sambung Lila.
Melvin yang mendengar itu pun mengangguk, “Hum, kau benar. Tidak perlu membahas Delon. Dia hanya lah perantara saja untuk hubungan kita. Ohiya, aku mau membicarakan sesuatu. Ini sudah ku bahas dengan kakakmu.” Ucap Luke.
“Apa terkait pengobatanku?” tebak Lila.
Melvin pun mengangguk, “Jika kakak sudah menyetujui nya maka aku ikut apapun yang sudah dia setujui. Aku akan menjalani apapun pengobatan nya.” ujar Lila.
“Hum, baiklah. Tapi ada juga hal lain. Ini terkait--”
“Apa terkait Linda dan Aruna?” tanya Lila lagi.
Melvin pun kembali mengangguk karena Lila yang lagi-lagi benar-benar menebak nya. Seperti nya istri nya itu memiliki indra ke enam karena bisa menebak apa yang dia pikirkan.
“Untuk hal itu, aku sudah mengatakan sudah melepas semua dendamku. Aku sudah puas dengan dendamku itu. Aku tidak ingin melihat dan bertemu mereka lagi. Terserah kalian mau apakan mereka. Aku tidak peduli lagi.” Ucap Lila.
Melvin yang mendengar jawaban yang di berikan sang istri pun mengangguk paham.
***
Seminggu berlalu dengan sangat cepat, selama seminggu ini Lila dan Melvin masih tetap tinggal di kediaman utama karena mami Elea dan papi Emran yang tidak mengizinkan mereka pindah setidak nya sampai kaki Lila sembuh.
Kini setelah seminggu melakukan terapi, kaki Lila sudah menunjukkan hasil yang baik. Kaki kiri nya itu pun sudah bisa merasakan rangsangan lagi. Dia juga sudah bisa berdiri maksimal setengah jam lama nya sebagai bentuk pengobatan nya.
Lila kini menyuapi kedua buah hati nya itu yang sedang sarapan dan hendak bersekolah di salah satu sekolah mahal tentu nya. Sekolah yang di pilihkan langsung oleh papi Emran dan mami Elea yang di hari pertama mereka masuk sekolah pun di antar oleh kakek dan nenek mereka itu.
“Ayo biar kakek yang antar.” Ucap papi Emran kepada kedua cucu nya itu yang sudah bersekolah sejak dua hari lalu.
Papi Emran dan mami Elea segera mendaftarkan cucu nya itu begitu identitas kedua nya keluar resmi menyandang nama belakang Al Berto.
Alex dan Alexa pun segera pamitan kepada Lila dan Melvin lalu mereka segera menyusul papi Emran dan berangkat menuju sekolah.
Kini di meja makan itu pun tinggallah Melvin dan Lila. Mami Elea dia setelah sarapan segera ke kamar nya untuk bersiap mengikuti arisan. Sementara Luke memang memutuskan untuk tinggal di tempat nya sendiri.
Lila sudah meminta kakak nya itu untuk tinggal di kediaman samping, kediaman utama dan juga apartemen nya. Tapi Luke menolak dan memilih tinggal di tempat nya.
“Apa kakak belum juga pindah?” tanya Lila kepada Melvin. Karena memang dalam seminggu ini dia sangat jarang bertemu dengan kakak nya itu. Luke hanya datang bicara dengan Melvin.
“Dia akan segera pindah ke apartemen di samping apartemenmu.” Jawab Melvin.
Lila pun mengangguk mengerti, “Ohiya, kita akan berangkat ke Negara S satu minggu lagi.” Ucap Melvin kemudian.
Lila pun hanya mengangguk saja, “Kau tidak bertanya untuk apa kita ke sana?” tanya Melvin.
Lila menggeleng, “Untuk apa aku bertanya. Bukan kah untuk pengobatanku. Bukan kah dunia bahwa Negara S sangat paham tentang racun.” Ucap Lila.
Melvin pun tersenyum karena istri nya itu selalu saja tahu apa yang dia lakukan.