My Secret With CEO

My Secret With CEO
103


Tiga hari berlalu, kini Lila sedang berbincang dengan Luke di ruang santai yang berada di lantai dua kediaman milik orang tua Melvin itu.


Lila dan Luke memang sudah pembicarakan hal terkait Linda dan Aruna. Kematian mereka dan semua dendam itu.


“Kak, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.” Ujar Lila.


Luke pun menatap adik nya itu, “Apa lagi yang ingin kau katakan? Apa tentang dua wanita itu lagi?” tebak Luke.


Lila yang mendengar ucapan kakak nya yang terkesan emosi itu pun tersenyum, “Aku tidak ingin membicarakan mereka lagi kak. Untuk apa coba. Tidak penting juga. Ini terkait masalah lain. Jangan emosi begitu.” Ucap Lila.


“Aku masih ingat kak. Dulu saat aku merencanakan untuk pembalasan dendam itu, kau lah orang pertama yang memberikanku saran untuk tidak harus melakukan pembunuhan. Tapi lihat lah sekarang kau lah yang menggantikan aku menjadi penyebab kematian mereka. Yah, walaupun hanya dengan racun.” Sambung Lila.


Luke pun terdengar menarik nafas panjang, “Jangan ingatkan aku tentang itu dek. Jika saja aku tahu bahwa saat itu mereka yang sudah menjadi penyebab penderitaan dalam hidupku. Aku yakin aku akan jadi orang pertama yang akan membunuh mereka.” ucap Luke.


Lila pun tersenyum mendengar ucapan sang kakak, “Aku juga tidak menyalahkanmu untuk itu kak. Aku sendiri yang memutuskan saat itu untuk tidak memberitahumu hubungan di antara kita karena mungkin aku masih menikmati peranku sebagai atasan yang bisa menyuruhmu kapan saja. Kapan juga aku bisa melakukan nya. Menyuruh kakak melakukan ini itu dan bahkan memarahi kakak.” Ucap Lila tersenyum.


Luke yang mendengar itu pun tersenyum, “Aku juga menikmati peranku sebagai bawahan saat itu dek.” ucap Luke.


“Yah, aku tahu itu maka nya aku tidak membocorkan hubungan kita dan memilih akan memberitahukan nya nanti setelah masalah itu selesai. Tapi tidak tahu nya rencana kita berantakan hingga harus membuatmu hampir tiada dan kakiku pun lumpuh.” Ujar Lila.


Luke pun tersenyum, “Ahh sudah cukup. Tidak perlu bicarakan itu lagi. Sekarang katakan saja apa yang ingin kau bicarakan. Jangan bahas lagi tentang hal yang membuat sedih.” Ucap Luke.


“Aku ingin kau jadi pene--”


Luke menggeleng, “Tidak, aku tidak bisa menerima nya dek.” potong Luke cepat saat sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan yang akan di ucapkan oleh adik nya itu.


“Kaak! Jangan memotong ucapanku. Kenapa juga kau tidak bisa menerima nya? Itu ada hakmu sejak awal. Aku hanya lah orang yang di titipkan untuk sementara waktu.” ucap Lila.


Luke tetap menggeleng, “Tidak. Aku tidak bisa menerima nya dek.” ucap Luke.


“Apa alasan kakak tidak bisa menerima nya? Apa masih ragu bahwa kau bukan anak mommy dan daddy? Bukan saudara kembarku?” tanya Lila.


Luke kembali menggeleng, “Bukan itu semua. Aku tidak lagi meragukan statusku sebagai putra mommy dan daddy maupun sebagai saudaramu. Tapi kau tahu sendiri dek, aku tidak memiliki kemampuan apapun terkait pengelolaan perusahaan. Pendidikan saja aku hanya--” ucap Luke tidak sanggup meneruskan ucapan nya.


Lila menggenggam tangan Luke, “Aku yakin kakak pasti mampu. Kita itu kembar yang pasti memiliki kemampuan yang sama. Aku juga tahu kakak itu mudah mempelajari sesuatu dan itu belum terlambat. Aku mohon kak jangan menolak ini.” ucap Lila.


Luke pun menatap mata Lila, “Bagaimana jika kakak justru membuat perusahaan hancur dek? Kakak tidak ingin membuat mommy dan daddy kecewa.” Ucap Luke mengungkapkan kekhawatiran nya.


“Itu tidak akan terjadi.”