
Di atas sana, Melvin segera menggendong Lila dan dia pun segera meninggalkan altar itu setelah semua proses pernikahan di nyatakan selesai, “Dia memang putramu pih.” Ucap mami Elea tertawa melihat apa yang di lakukan putra nya itu. Membawa istri nya segera ke kembali ke kediaman mereka.
“Begitu ya? Jika hal yang membuat bangga maka mami mengakui dia putra mami. Jika sebalik nya maka dia adalah putra papi.” Ucap papi Emran menatap istri nya itu lekat.
“Emang benar kok. Mami gak salah. Papi itu sangat posesif sama seperti putra kita itu. Mami yakin dia segera membawa Lila ke kediaman karena tidak ingin wajah cantik istri nya itu di lihat oleh orang lain.” Ucap mami Elea datar lalu dia segera menyusul putra dan menantu nya itu masuk ke kediaman utama dengan kedua cucu nya yang sudah dia gandeng.
Papi Emran yang melihat itu pun hanya bisa menghela nafas nya dan segera meminta anak buah nya untuk mengatur kembali tempat ibadah itu. Tidak lupa juga dia meminta untuk menyiapkan untuk acara malam nanti. Sebuah pesta makan malam yang di buat untuk merayakan pesta pernikahan putra tunggal nya. Hanya makan malam dengan beberapa kerabat saja.
***
Kini Melvin menurunkan Lila begitu tiba di kamar nya yang sudah di hias dengan sangat cantik. Melvin meletakkan Lila di ranjang yang di hias dengan kelopak mawah putih itu. Jika biasa nya gambar pengantin di dekor dengan warna merah maka berbeda untuk Lila dan Melvin.
Lila pun memandangi kamar milik Melvin itu lekat lalu pandangan nya beralih ke balkon dan tersenyum melihat balkon kamar nya di kediaman nya, “Ini sangat cantik.” puji Lila.
“Tuan eehhh hubby.” Ucap Lila gugup mau memanggil Melvin dengan sebutan apa.
Dalam tiga hari ini dia sudah memikirkan panggilan apa yang cocok untuk dia gunakan memanggil suami nya itu. Lalu akhirnya dia memutuskan untuk memanggil Melvin seperti itu. Jujur saja lidah nya terasa kaku tapi dia akan mencoba untuk membiasakan nya.
Sementara Melvin jangan tanya saat ini bagaimana perasaan nya saat mendengar panggilan Lila itu. Rasa nya dia ingin lompat-lompat saking senang nya. Ingin rasa nya dia mengumumkan rasa senang nya itu sebagai bentuk euphoria nya. Ini lebih menyenangkan dan membahagiakan dari banyak nya kemenangan yang dia dapatkan dari tender bernilai miliaran dollar yang bisa dia dapat.
Memang benar kata pepatah bahwa sesuatu yang sulit kita dapatkan itu akan sangat membahagiakan saat kita mendapatkan nya. Itu lah yang di rasakan oleh Melvin dan dia berjanji akan selalu membahagiakan Lila.
“Kamu mau ke balkon?” tanya Melvin saat melihat arah pandangan Lila yang menuju balkon kamar nya.
Lila yang fokus nya memandangi balkon itu pun beralih menatap Melvin dan mengangguk, “Mau saya bantu ke sana?” tawar Melvin. Dia tidak ingin membuat Lila tidak nyaman di hari pertama pernikahan mereka itu.
Melvin pun mengangguk dan segera mengambil kursi roda yang memang sudah di antarkan oleh bawahan nya beberapa detik yang lalu.
Melvin pun segera mendekatkan kursi roda di dekat ranjang dan tanpa bertanya dia segera memindahkan Lila ke kursi roda dan mendorong nya ke balkon kamar nya itu.
Lila menghirup udara di segar di balkon itu. Dia tersenyum melihat balkon kamar nya yang hanya berjarak sekitar kurang lebih 50 meter saja dari pandangan mereka itu, “Aku melihatmu dari sana.” Ucap Lila.
Melvin yang mendengar itu pun tersenyum, “Aku juga pernah melihat siluet dirimu yang dengan cepat masuk ke kamar itu.” balas Melvin.
Lila yang mendengar itu pun melihat ke arah Melvin lalu kemudian dia tersenyum, “Lila ah bukan aku akan memanggilmu dengan sebutan dear. Itu seperti nya lebih menarik dari panggilan lain nya. Aku harap kau tidak akan keberatan. Emm … terima kasih juga untuk panggilan yang kau buat untukku. Aku menyukai nya. Hubby? Sangat menarik.” Ucap Melvin.
“Ohiya, maafkan aku yang lama tidak menemukanmu. Lalu banyak kehilangan jejakmu hingga jika bukan karena bantuan anak kita. Mungkin aku tidak akan pernah menemukanmu. Terima kasih sudah mempertahankan mereka dan melahirkan dua makhluk yang sangat jenius untukku. Mereka mengikuti gen cerdas darimu. Terima kasih untuk semua nya dan aku mohon maafkan semua kesalahanku.” Sambung Melvin.
Lila yang mendengar itu pun menghela nafas nya lalu dia tersenyum, “Aku sudah memaafkanmu. Masa lalu adalah bagian dari perjalanan. Aku sudah mencoba untuk berdamai dengan semua nya. Semua dendamku ingin ku lupakan karena seperti nya semua dendam itu sudah aku balas. Aku ingin berdamai dengan semua nya karena aku tidak tahu aku memiliki kesempatan sampai kapan untuk menerima ini.” ujar Lila memandangi pemandangan di depan nya itu.
“Ohiya, terkait anak-anak aku senang putraku mengenaliku dan tahu bagaimana cara kerjaku mengambil keputusan dan rencana. Tapi satu hal yang aku sesali. Putraku yang aku percayai dan tidak ku blokir akses nya ternyata pada akhirnya tetap mendukung daddy nya. Kau hebat sudah bisa membuat dia mengkhianati kesetiaan nya itu. Hum, aku melahirkan mereka dengan penuh perjuangan tapi aku tidak menyesal telah melahirkan mereka. Mungkin memang benar kecerdasan mereka gen dariku tapi aku tetap iri karena tidak ada satu pun dari mereka yang mirip denganku. Fisik mereka 99% mengikuti gen darimu. Aku iri hal itu.” sambung Lila tersenyum lalu melihat Melvin sekilas.
Melvin yang mendengarkan pengakuan panjang Lila itu pun tersenyum. Jujur saja ini adalah perkataan terpanjang Lila setelah mereka berdamai dan sebagai pasangan suami istri.
“Mereka bukan anakku atau anakmu. Tapi anak kita. Bukan kah mereka perpaduan kita. Aku bangga memiliki mereka dan memilikimu. Ohiya, aku tidak mengajari putra kita untuk berkhianat tapi putri kita memiliki kelicikkan untuk membuat kakak nya menuruti permintaan nya.” ucap Melvin.
Lila yang mendengar itu pun terkekeh dan mengangguk-ngangguk, “Yah, aku sangat mengenal putriku itu eeh putri kita. Dia memang seperti itu sangat keras kepala dan suka di turuti apa yang dia mau. Apalagi jika itu terkait kakak nya. Dia akan menggunakan segala cara agar kakak nya itu menuruti apa yang dia inginkan. Untung saja Alex sangat menyayangi nya dan menuruti apapun keinginan adik nya itu. Alex akan melakukan apapun yang di inginkan oleh adik nya. Dia bahkan rela mencari tahu identitasmu hanya demi permintaan adik nya itu. Aku bangga kepada putraku.” Ucap Lila.
“Putra kita.” Ralat Melvin.