
Kini Melvin sampai tertidur menunggu Lila sadar dari anestesi nya. Dia bahkan sudah sempat bertanya pada dokter saat Lila tak kunjung sadar juga padahal sudah lewat dari waktu prediksi dokter yang mengatakan bahwa Lila akan sadar dalam waktu satu jam. Tapi kemudian dokter menjelaskan bahwa tidak terjadi masalah apapun pada Lila selain kaki nya itu. Kondisi nya stabil dan kemungkinan dia tak kunjung sadar sampai saat ini di pengaruhi oleh alam bawah sadar nya yang kemungkinan belum ingin terbangun.
Melvin terbangun begitu mendengar ada suara pintu yang di buka. Melvin pun membuka mata nya perlahan dan melihat siapa yang datang, “Mih!” panggil Melvin pelan karena tidak ingin mengganggu kedua anak nya yang tertidur juga menunggu mommy mereka sadar.
Mami Elea pun mengangguk saja, “Bagaimana operasi Luke mom? Apa sudah selesai?” tanya Melvin masih dengan suara lirih nya.
Mami Elea pun mengangguk, “Baru saja selesai. Tapi kondisi nya masih perlu pantauan lebih karena operasi yang dia lakukan. Dia masih di bawah ke ruang ICU untuk kondisi nya itu.” jelas mami Elea dengan suara kecil pada putra nya itu.
“Aku ingin melihat nya mih. Aku harus berterima kasih pada nya karena dia mengorbankan diri nya untuk menolong Lila.” Melvin mengucapkan itu dengan tulus dan menatap Lila sekilas.
Mami Elea pun mengangguk dan mengizinkan putra nya itu untuk melihat kondisi Luke, “Pergi lah. Biar mami yang menjaga di sini.” Ucap mami Elea.
Melvin pun segera keluar dari ruang perawatan Lila itu. Tanpa mereka sadar Lila menggerakkan tangan nya dan ada bulir air mata yang menetes di pipi nya.
***
Melvin segera menuju ruang ICU di mana di sana ada papi Emran yang sedang bicara dengan dokter, “Bagaimana keadaan nya dokter?” tanya Melvin mendekati papi nya dan dokter itu.
“Operasi nya berjalan lancar tapi luka yang dia alami cukup parah hampir saja mengenai jantung nya. Namun peluru nya sudah di angkat. Kita akan bisa memastikan kondisi nya jika tubuh nya akan stabil dalam beberapa waktu ke depan. Saat ini dia masih kritis. Kita berdoa saja.” jelas dokter itu.
Papi Emran dan Melvin pun mengerti, “Lakukan yang terbaik untuk menyelematkan nya dokter.” Ucap Melvin lalu mengintip ke dalam ruang ICU itu dari luar untuk melihat Luke. Bisa Melvin lihat bahwa di tubuh Luke banyak terpasang alat penunjang hidup di tubuh pria muda itu.
Jujur saja sampai saat ini ucapan Lila masih terngiang di telinga nya. Dia juga masih mengingat bagaimana ekspresi Lila yang memohon pada nya untuk menyelamatkan nyawa Luke. Dia penasaran dengan semua yang terjadi antara Luke dan Lila. Dan untuk mengetahui hal itu dia harus tahu memastikan kondisi Lila dan Luke.
Tiba-tiba ponsel papi Emran bergetar dan di sana tertulis bahwa mami Elea yang memanggil. Papi Emran pun segera menjawab.
“Apa? Baiklah kami akan segera ke sana dengan membawa dokter.” Ucap papi Emran begitu mendengar ucapan sang istri.
“Ada apa pih?” tanya Melvin.
“Lila sudah sadar.” Jawab papi Emran.
Dokter itu pun mengangguk dan mereka pun segera menuju ruang Lila. Jangan tanya Melvin di mana dia sudah lebih dulu berlari menuju ruangan Lila begitu papi Emran mengatakan bahwa Lila telah terbangun dari sadar nya.
“Kenapa tidak masuk boy?” tanya papi Emran pada sang putra begitu melihat Melvin yang tadi nya dengan semangat berlari ke sini justru sedang berdiri di luar.
“Aku tidak berani masuk pih.” Jawab Melvin.
Papi Emran pun hanya menghela nafas nya dan justru meminta dokter masuk lebih dulu karena kepastian kondisi Lila adalah prioritas saat ini.
Setelah dokter masuk papi Emran menatap putra nya itu, “Sampai kapan kau akan jadi pengecut. Hadapi kenyataan dan buktikan bahwa kau ada untuk nya. Buat dia ragu dengan keputusan nya yang menolakmu. Ingat dia adalah menantu papi dan mami. Istrimu walaupun hanya di mata Negara saja. Mommy dari anak-anakmu. Kau harus bisa meluluhkan nya. Tidak masalah jika memang harus meminta maaf. Itu tidak akan membuat harga dirimu terluka hanya karena meminta maaf kepada wanita yang sudah kau lukai tanpa sengaja. Papi mendukung apapun keputusanmu.” Ucap papi Emran lalu menepuk bahu putra nya itu dan dia pun segera masuk.
Melvin pun menarik nafas nya panjang lalu dia segera memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Menemui wanita yang sudah melahirkan kedua anak tampan dan cantik serta jenius itu untuk nya. Entah kenapa keberanian nya mendadak hilang padahal tadi nya dia sangat bersemangat untuk bisa melihat Lila bangun dari sadar nya. Entah di mana juga keberanian nya itu yang tadi pagi menerobos masuk ke tempat Lila dan melanggar janji nya kepada sang putra.
Melvin masuk dan melihat dokter yang melepaskan oksigen yang di pasang pada tubuh Lila yang kini sedang bersandar di bed nya dengan wajah pucat nya, “Dokter, bagaimana kondisi Luke?” tanya Lila setelah dokter itu melepaskan oksigen di tubuh nya.
Jujur saja itu adalah perkataan pertama yang dia ucapkan pertama kali. Dia bangun dan hanya menurut saja saat mami Elea bicara dan menelpon dokter. Dia tidak mengeluarkan suara apapun.
“Asisten anda itu saat ini sudah selesai operasi nona. Operasi nya berjalan lancar tapi masih perlu pemantauan lebih lanjut sehingga dia saat ini masih ada di ruangan ICU.” Jawab dokter.
“Saya ingin melihat nya dokter. Memastikan sendiri keadaan nya. Saya mohon!” ucap Lila lagi-lagi dengan ekspresi memohon yang sama seperti yang dia perlihatkan kepada Melvin.
“Maaf nona. Anda pun terluka saat ini dan baru saja terbangun. Kami tidak bisa mengizinkan anda untuk mengunjungi pasien. Jika melihat dari luar tentu boleh. Tapi tetap saja jika kondisi anda memungkinkan. Untuk saat ini pikirkan saja dulu kesembuhan anda. Kami akan memastikan kesembuhan asisten anda itu dan melaporkan perkembangan nya kepada anda.” Jelas dokter memberikan pengertian.
Lila pun terdiam dan seolah berpikir, “Baiklah dokter. Lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nya. Jika dia butuh donor darah maka ambil saja darah saya. Saya sudah pernah mendonorkan darah untuk nya. Yang terpenting dia selamat dan sembuh.” Ucap Lila.
Dokter itu pun tersenyum mendengar ucapan Lila, “Terima kasih atas penawaran anda itu nona. Tapi tidak perlu khawatir stok darah yang sama dengan golongan darah pasien, rumah sakit ini menyediakan banyak.” Jawab dokter itu.
Lila pun akhirnya diam saja sampai dokter itu pamit pergi. Pikiran Lila tidak fokus di tempat nya saat ini. Dia memikirkan kondisi Luke dari pada kondisi nya sendiri. Tidak terasa air mata nya menetes.
“Mom!”