
Kini Lila sambil menunggu di mulai nya pengobatan nya mencoba menghubungi nomor ponsel kakak nya tapi tidak aktif. Akhirnya Lila pun segera menghubungi nomor asisten kakak nya dan di jawab bahwa kakak nya itu baru saja tiba dan melaksanakan rapat di ruang rapat sehingga tidak bisa di ganggu.
“Aku mungkin salah lihat.” Gumam Lila.
Tapi kemudian dia menggeleng, “Tidak, aku tidak mungkin salah. Itu benar punggung kakak. Aku tidak mungkin salah mengenali kakak. Tapi itu asisten nya mengatakan dia ada di ruang rapat. Ahh aku jadi pusing memikirkan nya. Kenapa aku jadi merasa bahwa kakak ada di sini? Di dekatku? Tapi untuk apa dia datang ke sini? Kenapa aku tidak mempercayai ucapan suamiku?” gumam Lila.
“Sayang, apa kamu sudah siap?” tanya Melvin yang tiba-tiba masuk.
Lila pun menoleh dan menatap suami nya lalu dia pun mengangguk, “Hum, aku siap.” Jawab Lila lalu segera berdiri mendekati suami nya itu.
Melvin pun mengangguk dan segera menggandeng istri nya itu keluar, “Apa yang kau pikirkan dear? Apa kau masih memikirkan apa yang kau lihat semalam? Semoga saja orang-orang di sana bisa di ajak bekerja sama agar rahasia ini bisa bertahan sedikit lebih lama. Setidak nya sampai kau sudah menerima beberapa kali pengobatan.” Batin Melvin.
***
Kini Lila sudah berada di ruangan yang dia tempati kemarin saat kaki nya di periksa. Lila segera berbaring di ranjang pasien yang sudah ada di sana.
Beberapa orang dokter juga ada di sana termasuk dokter yang kemarin datang memeriksa nya. Lila bisa melihat bahwa dokter-dokter yang ada di sana itu bukan lah orang sembarangan. Mereka pasti sudah ahli dalam bidang nya.
Lila mulai di lakukan pemeriksaan dasar. Melvin terus menggenggam tangan istri nya itu. Tidak dia lepaskan sama sekali. Bukan hanya Lila saja yang merasa takut untuk proses yang akan mereka jalani ini tapi dia juga. Dia bahkan lebih takut jika hal ini gagal. Dia tidak ingin kehilangan orang yang dia cintai. Baru beberapa hari saja dia bisa merasakan bahagia itu. Dia tidak ingin kehilangan lagi. Semoga semua nya berjalan lancar tanpa kendala sama sekali.
Lila tersenyum menatap suami nya yang dia tahu merasakan khawatir lebih dari apa yang dia khawatirkan. Lila juga takut tapi dia tahu rasa takut nya itu tidak seberapa dengan rasa takut yang mungkin saat ini di rasakan suami nya.
“Kita akan melakukan prosedur selanjut nya.” ucap dokter.
Melvin pun mengangguk menyetujui ucapan dokter itu dengan terus menggenggam Lila.
Lila sudah tahu apa yang akan di lakukan para dokter ahli itu pada nya. Penawar racun itu hanya akan bereaksi ketika tubuh tidak ada gerakan sama sekali. Jadi Lila akan di bius total untuk tiga jam ke depan.
“Hubby!” panggil Lila mengisyaratkan agar Melvin mendekati tubuh nya.
Melvin pun mendekatkan wajah nya, “Tunggu aku. Jangan lepaskan. Aku pasti akan kembali dengan keadaan yang lebih baik. Aku mencintaimu suamiku.” bisik Lila.
Melvin yang mendengar ungkapan cinta itu bukan nya sedang justru sedih. Dia berkaca-kaca. Kata itu yang sangat ingin dia dengar dari mulut Lila tapi kenapa harus di katakan saat hendak akan di bius total. Kini hati dan pikiran nya sedang berperang satu sama lain seolah saling berlawanan satu dan lain nya.
Lila tersenyum setelah mengatakan apa yang harus dia katakan itu. Seharus nya itu sudah dia katakan sejak lama tapi dia baru memiliki keberanian untuk mengatakan nya hari ini. Dia tidak ingin memiliki penyesalan dengan tidak mengatakan itu kepada suami nya. Jangan sampai hari ini adalah kesempatan nya untuk hidup maka setidak nya dia tidak akan pernah menyesal karena membawa cinta nya itu tanpa di ungkapkan kepada suami nya. Setidak nya dia tidak akan pernah menyesal atas hal itu nanti.
Tidak lama setelah bius itu di masukkan, Lila pun memenjamkan mata nya dengan tersenyum dan genggaman tangan nya pun segera melemah. Seperti apa yang di minta Lila, Melvin terus menggenggam tangan istri nya itu.
Selanjut nya segera di masukkan penawar racun itu ke dalam tubuh Lila. Para dokter mengamati reaksi tubuh Lila yang sampai obat itu habis tidak bereaksi apapun. Itu tanda nya tubuh Lila menerima penawar itu denga baik.
“Dokter, apa dia akan baik-baik saja?” tanya Melvin.
“Dia menerima obat itu dengan baik. Kita tunggu reaksi tubuh nya dalam lima belas menit lagi.” Balas dokter.
Lima belas menit berlalu, tubuh Lila mulai menunjukkan reaksi. Dokter pun mengamati terlebih dahulu hingga beberapa saat kemudian tubuh Lila kejang-kejang baru lah dokter segera menangani.
Melvin segera mundur dan mengamati dokter yang menangani istri nya. Sungguh, dia tidak tega melihat Lila dalam keadaan seperti itu tapi apa yang bisa dia lakukan selain berdoa kesembuhan istri nya.
Melvin segera mengatupkan kedua tangan nya dan mulai doa nya dengan memenjamkan mata nya. Dia memulai permohonan untuk kesembuhan istri nya. Dia adalah orang yang tidak taat kepada Tuhan karena memang kurang meyakini bahwa Tuhan itu ada. Dia hanya percaya bahwa apa yang kita dapatkan itu semua karena buah dari hasil kerja kita selama ini. Tapi kini dia meminta pertolongan kepada Tuhan untuk pertama kali nya agar Lila bisa di selamatkan.
Sepuluh menit kemudian, kejang di tubuh Lila pun sudah selesai di atasi. Melvin yang melihat itu sampai mengucapkan terima kasih berulang kali kepada dokter dan pertolongan Tuhan. Dia kembali ke sisi Lila dan menggenggam tangan Lila kembali.
“Dokter, apa kondisi nya baik-baik saja?” tanya Melvin.
“Tenang lah. Kejang di tubuh nya hanya reaksi untuk penawar racun itu. Kita akan menunggu dia sadar untuk memastikan semua nya. Anda yang terlalu khawatir, Tuan. Semua akan baik-baik saja.” ucap dokter itu menenangkan Melvin.
Melvin pun mengangguk dan dia memilih duduk di sana menunggu istri nya itu sadar padahal masih ada waktu dua jam lagi sampai Lila bangun kembali.
Setengah jam kemudian, Luke datang ke ruangan itu dengan infus di tangan nya, “Bagaimana keadaan nya?” tanya Luke.
Melvin pun menoleh, “Dia baik-baik saja. Menunggu dia sadar kembali.” Jawab Melvin lalu kembali menatap Lila.
“Dia pasti akan segera bangun. Dia itu wanita kuat.” ucap Luke menggenggam tangan adik nya itu yang tidak di genggam Melvin.
“Kenapa kau datang ke sini. Kau juga butuh pemulihan. Kau sudah berkorban banyak.” Ucap Melvin.
“Tidak masalah jika semua demi adikku.” Balas Luke penuh senyum.