My Secret With CEO

My Secret With CEO
24


Pengacara Jay yang memang dari tadi ingin tahu apa yang di ucapkan oleh Melvin itu benar atau tidak pun segera mengambil alih membaca berkas nikah itu dan memastikan semuanya dan ternyata semuanya asli.


“Ini asli.” Ucap pengacara Jay.


“Tidak mungkin. Bagaimana mungkin Lila bisa menikah tanpa kita ketahui. Ini pasti hanya akal-akalan saja. Aku tidak percaya ini.” ucap Linda tetap bersikeras tidak menerima kenyataan yang ada. Bagaimana mungkin dia menerima anak tirinya itu menikah dengan pengusaha terkaya di Negara ini.


“Bawa mereka pergi. Aku tidak sudi melihat mereka ada di sini. Bawa mereka ke kediaman milik istriku itu hanya untuk berkemas saja. Awasi mereka untuk tidak membawa barang mewah satu pun yang ada di sana. Kalian harus memastikan hal itu. Jika mereka menolak untuk berkemas maka usir saja mereka.” ucap Melvin yang langsung di angguki oleh dua bodyguard kepercayaannya itu.


Mereka segera membawa Linda dan Aruna keluar dari ruangan pengacara Jay walaupun Linda dan Aruna menolak meminta di lepaskan tapi tentu semua itu sia-sia saja. Siapa yang bisa menolak perintah dari seorang Melvin. Tidak ada ahh ada satu yaitu Lila. Dia bisa memporandakan Melvin dengan kepergiannya yang hingga detik ini tidak bisa Melvin temukan sama sekali.


“Katakan saja yang ingin tuan Jay katakan. Jangan menahannya. Saya akan menjawab dengan baik.” ucap Melvin menatap pengacara yang dari tadi menatapnya itu penuh tanya.


“Bagaimana mungkin Lila bisa menjadi istri anda? Saya adalah walinya setelah Tuan Calvin meninggal. Sedangkan dari yang saya tahu bahwa Lila dan anda tidak dekat sama sekali.” Ucap pengacara Jay.


Melvin tersenyum mendengar hal itu lalu dia mengangguk, “Anda benar. Saya memang tidak dekat dengannya sebelumnya tapi sebulan lalu kami menjadi terikat satu sama lain. Saya harus mengakui hal ini kepada anda karena anda sebagai walinya yang di berikan kepercayaan oleh tuan Calvin menjaganya dan menjaga seluruh warisan yang dia dapat sampai dia menerimanya.” Ucap Melvin.


Pengacara Jay menjadi penasaran dengan ucapan Melvin itu, “Saya dan Lila sebulan yang lalu bertemu di club saat ayahnya meninggal. Lalu kejadian itu membawa kami menghabiskan satu malam yang penuh gelora di bawah pengaruh alkohol. Maaf untuk itu.” ucap Melvin.


Pengacara Jay yang mendengar pengakuan Melvin itu pun berdiri dan kesal, “Apa maksudnya ini tuan Melvin? Anda melakukan tindakan bejat padanya? Jangan katakan karena ini juga dia pergi.” ucap pengacara Jay marah dan sedih karena tidak bisa menjaga Lila dengan baik.


“Saya akui saya salah. Saya juga datang ke sini tidak ingin membela diri saya atau pun membenarkan apa yang saya lakukan. Tapi setidaknya dengarkan penjelasan saya sebelum nanti anda mengambil keputusan untuk memberikan hukuman kepada saya.” ucap Melvin.


Pengacara Jay pun mencoba menenangkan dirinya dan kembali duduk, “Jelaskan dengan sejelas-jelasnya. Aku ingin tahu apa yang terjadi.” Ucap pengacara Jay.


Melvin pun mengangguk dan segera menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir tidak ada satu pun yang terlewati. Dia menjelaskan se detail mungkin, “Jadi dia sedang hamil sekarang? Terus kemana dia pergi?” tanya pengacara Jay meneteskan air matanya karena tidak menyangka bahwa Lila menyembunyikan masalah yang dia alami dengan baik. Dia bahkan yang beberapa kali datang menemui Lila tidak mengetahui hal ini.


“Yah, dia sedang mengandung. Dia pergi dan sampai saat ini saya tidak bisa menemukannya sama sekali. Tidak ada catatan satu pun tentangnya di semua alat transportasi yang mungkin dia gunakan.” Ucap Melvin.


“Jadi karena ini anda melarang siapapun masuk ke apartemennya?” tanya pengacara Jay.


Melvin mengangguk, “Saya ingin mencari sesuatu yang mungkin dia tinggalkan di sana. Tapi sayang saya tidak menemukan apapun di sana terkait kepergiannya dan negara yang dia tuju.” Ucap Melvin.


“Lalu apa yang harus anda lakukan sekarang? Bagaimana dengan berkas nikah itu? Apa anda memang sudah mendaftarkan pernikahan dengannya.” tanya pengacara Jay.


Melvin kembali mengangguk, “Seperti yang anda ketahui. Itu berkas nikah asli. Saya dan Lila adalah sepasang suami istri sekarang. Kami sudah tercatat sebagai suami istri satu sama lain dan dia sudah saya anggap sebagai istri saya walaupun hingga kini saya tidak dapat menemukannya. Tapi saya pastikan suatu saat nanti saya akan menemukannya. Saya tidak akan menyerah untuk menemukannya.” Ucap Melvin.


Pengacara Jay pun menarik nafas panjang, “Baiklah jika memang itu keputusan anda. Saya percaya kepada anda bahwa anda bisa menjaga Lila dengan baik. Saya yakin anda bisa segera menemukannya. Hanya saja saya tidak bisa menahan warisannya lagi. Saya hanya seorang pengacara yang tidak begitu mengerti dengan bisnis. Apalagi saya yakin Linda dan Aruna itu tidak akan menyerah begitu saja untuk mengambil alih warisan milik Lila. Apalagi di saat Lila menghilang seperti ini.” ujar pengacara Jay.


“Saya mengerti maksud anda. Begini saja jika anda percaya maka saya akan mengausisi perusahaan milik Lila itu sampai dia kembali. Perusahaan itu tetap akan jadi miliknya. Tidak ada yang berubah. Saya hanay mencegah saja.” ucap Melvin.


“Sepertinya itu adalah jalan yang terbaik. Saya percaya kepada anda. Saya akan berikan semua berkas-berkasnya kepada anda.” Ucap pengacara Jay memberikan semua berkas pengalihan warisan itu kepada Melvin.


“Terima kasih atas kepercayaan anda ini. Kita akan segera melakukan pertemuan untuk kelanjutannya. Saya janji akan segera menemukan Lila.” Ucap Melvin lalu berjabatan tangan dengan pengacara Jay itu.


Setelah mendapat kesepakatan atas semuanya kini Melvin dan Deo pun segera pamit. Pengacara Jay mengantarkan Melvin dan Deo hingga ke parkiran.


“Aku harap kau segera kembali Lila. Tuan Melvin mencarimu. Saya bisa melihat cinta untukmu di matanya. Dia pantas untukmu. Untuk itulah saya percaya kepadanya. Dia pasti akan melakukan yang terbaik untuk menemukanmu. Walaupun saya yakin saat kau memutuskan pergi maka akan sulit untuk menemukannya jika kau sendiri tidak mengizinkannya untuk menemukanmu. Paman hanya bisa berdoa kau baik-baik saja di mana pun kau berada sekarang.” Batin pengacara Jay lalu dia segera masuk.


“Tuan, apa anda yakin akan mengausisi perusahan itu? Bagaimana pun perusahaan tuan Calvin itu adalah perusahaan nomor dua setelah perusahaan anda.” Ucap Deo.


“Aku tahu itu Deo. Aku tidak akan mengausisinya. Aku hanya akan memantau perusahaan itu dari jauh. Biarkan perusahaan itu tetap jadi nomor dua. Bukankah itu akan menarik. Aku sebagai suaminya pemilik perusahaan nomor satu dan istriku adalah pemilik perusahaan nomor dua. Kami sejajar.” Ucap Melvin.


“Tuan, apa anda senang dengan status sebagai suaminya itu?” tanya Deo.


Melvin mengangguk, “Jujur saja aku senang dengan status ini Deo. Aku nyaman. Papi sungguh hebat melakukannya. Dia melakukan hal yang memang harus di cegah sebelumnya. Dia tidak ingin calon anakku lahir di luar nikah.” Ucap Melvin memegang berkas nikahnya itu.


“Saya ikut senang untuk anda tuan.” Ucap Deo tersenyum. Dia tentu saja bahagia melihat tuannya itu bahagia.


“Yah, kau harus ikut senang. Tapi kita tetap harus segera menemukannya. Aku harus membawa istriku ke sisiku. Mana ada sepasang suami istri yang tinggal terpisah.” Ucap Melvin.


“Kita akan melakukan yang terbaik untuk semuanya tuan.” Ucap Deo.


“Ohiya bagaimana dengan ibu tiri dan saudari tiri nona tuan? Apa yang akan kita lakukan pada mereka.” tanya Deo kemudian.


“Jangan lakukan apapun kepada mereka. Biarkan saja mereka berkeliaran yang terpenting mereka tidak mengganggu. Jika mereka sudah menganggu maka pasti di basmi. Pastikan saja mereka keluar dari kediaman milik mertuaku itu. Mereka akan tetap mendapatkan apa yang sudah di berikan tuan Calvin seperti di warisannya.” Ucap Melvin. Deo pun mengangguk mengerti.


***


Dua bulan berlalu dengan sangat cepat, Kini kandungan Lila itu sudah masuk trimester dua. Selama ini Lila menjalani kehamilannya dengan nyaman karena semua orang di sana tidak ada yang menghakiminya sama sekali.


“Nak, kamu makanlah.” Ucap nenek Saraswati membuatkan makanan untuk Lila.


Lila pun segera memakannya, “Hum, enak banget nek. Terima kasih.” Ucap Lila.


“Jika memang begitu enak maka habiskan. Kamu juga bisa mengambilnya lagi. Masih banyak kok.” timpal nenek Saraswati.


“Nek, bisa-bisa berat badanku naik drastis lagi. Berat badanku saja sudah naik 5 kilo karena nenek yang selalu saja memasak enak untukku.” Ujar Lila.


“Kamu memang harus makan nak. Kamu itu sedang hamil. Tidak masalah berat badan naik. Nanti diet jika sudah melahirkan nanti. Untuk saat ini makan saja apa yang kau inginkan. Jangan menahannya.” Ucap kakek Parker.


Lila pun mengangguk, “Baiklah kek. Aku akan melakukan yang terbaik untuk itu. Aku akan menghabiskan persediaan kakek dan nenek nanti.” Ucap Lila.


“Tidak masalah nak. Kau sudah membuat toko ini ramai dan keuntungan yang kita dapat lumayan banyak hingga untuk makan pun kita tidak perlu khawatir.” Ucap kakek Parker lagi.


“Syukurlah jika begitu kek. Aku ikut senang. Terima kasih sudah menerimaku dan anakku tinggal di sini. Aku tidak akan melupakan kebaikan yang nenek dan kakek berikan padaku.” Ucap Lila.


“Kau ini bicara apa nak. Kami ikhlas menolongmu.” ucap Nenek Saraswati memeluk Lila.


“Lagian juga kau adalah putrinya Dhara dan Calvin.” Ucap nenek Saraswati.


“Mereka lah yang memberi kami modal untuk toko ini nak saat mereka berbulan madu seolah takdir mengatakan bahwa suatu saat nanti anak mereka akan datang ke sini.” Ucap nenek Saraswati. Lila pun tersenyum lalu mengangguk.


Yah, Dhara dan Calvin selaku orang tua Lila ternyata adalah orang yang memberikan modal dan ide untuk kakek Parker dan nenek Saraswati itu saat mereka berbulan madu ke sini. Kini Lila datang ke sini dan meminta bantuan kepada mereka. Sungguh kebetulan yang sangat luar biasa.


***


Kembali lagi ke Negara N, dalam dua bulan terakhir ini Melvin tetap saja terus mencari Lila dengan semua akses yang dia miliki tapi tetap saja nihil. Lila menghilang bagai di telan bumi.


Melvin selama dua bulan ini juga tetap sering mual dan muntah dan hanya akan sembuh dengan datang ke apartemen milik Lila atau menghirup bantal Lila. Yah, Melvin mengambil salah satu bantal Lila dia bahwa ke rumahnya.


“Deo, belikan aku mangga muda sepertinya aku mengalami ngidam.” Ucap Melvin setelah mereka selesai melakukan rapat.


Deo pun mengangguk dan segera meminta seseorang untuk mencarikannya. Deo sudah tahu tuannya itu memang sering ngidam makanan khas wanita hamil.


“Deo, perusahaan istriku baik-baik saja kan?” tanya Melvin.


“Iya tuan. Ini laporannya. Semuanya bekerja dengan baik. Hanya saja tiga hari yang lalu nona Aruna datang kesana memohon ke pihak HRD untuk menerimanya bekerja di sana.” Ucap Deo menjelaskan.


“Jangan biarkan mereka mendekat ke perusahaan. Berikan saja mereka modal untuk membangun usaha sendiri karena bagaimana pun mereka adalah keluarga istriku. Semua kesalahan mereka hanya istriku yang pantas membalas dan menghukumnya.” Ucap Melvin. Deo pun mengangguk mengerti.


Sedangkan di kediaman utama, mami Elea masuk ke kamar putranya itu untuk memastikan kecurigaannya.


Dia mencari di seluruh laci milik putranya itu dan mendapatkan sesuatu yang memang ingin dia cari, “Ternyata benar dia mengonsumsi obat pereda mual. Entah siapa yang sudah di hamili putraku itu. Aku harus mencari tahu. Aku tidak akan biarkan cucuku lahir tanpa ayahnya.” Ucap mami Elea lalu mengembalikan botol obat itu ke tempatnya semula dan dia pun segera keluar dari kamar putranya itu. Yah, Melvin memang sudah kembali ke rumah itu karena tidak ingin membuat maminya curiga.


“Mih, kenapa kau keluar dari kamar putra kita?” tanya papi Emran melihat istrinya itu.


Mami Elea menatap suaminya itu dengan sinis karena dia yakin pasti suaminya itu sudah mengetahui sesuatu hal yang ingin dia ketahui, “Aku hanya memeriksa dan memastikan kecurigaanku saja suamiku.” ucap mami Elea lalu melewati suaminya begitu saja.


“Ada apa mih? Kenapa kau menatapku dengan sinis begitu? Apa aku melakukan kesalahan?” tanya papi Emran mendekati istrinya itu.


“Pikir saja sendiri.” Ujar mami Elea.


Papi Emran pun tersenyum, “Tanyakan saja yang ingin kau tanyakan dan ingin kau ketahui. Aku akan menjawabnya untukmu.” Ujar papi Emran.


Mami Elea pun segera menatap suaminya itu dengan tajam, “Siapa gadis itu?” tanya mami Elea.


“Greyila El Bara putri mendiang Calvin El Bara dan Dhara Caroline. Mereka bertemu tidak sengaja di club lalu mabuk dan melakukan hubungan terlarang itu tiga bulan lalu. Kini Lila menghilang dan aku serta putramu melakukan semua cara untuk menemukannya tapi tetap saja kami tidak menemukannya. Harus aku akui menantu kita itu sangat hebat bersembunyi.” Ucap papi Emran.


“Apa dia hamil?” tanya mami Elea.


Papi Emran mengangguk, “Ya begitulah. Dokter yang memeriksa kandungannya mengatakan dia hamil dan dia berjanji tidak akan menggugurkan kandungannya itu. Sepertinya dia memang tidak menggugurkan kandungannya terbukti putra kita mengalami sindrom couvade seperti yang aku alami saat kau mengandungnya.” Ucap papi Emran.


“Jika memang begitu kita harus menemukannya. Aku tidak akan mau cucuku lahir tanpa ayahnya.” Ucap mami Elea.


“Tidak perlu khawatirkan itu. Aku sudah mengatasinya. Mereka sudah menikah secara hukum. Mereka sepasang suami istri di mata hukum. Cucu kita tidak akan terlahir di luar nikah.” Ujar papi Emran. Mami Elea pun mengangguk mengerti.