My Secret With CEO

My Secret With CEO
86


Singkat cerita, kini Luke sudah menjemput adik nya itu ke kamar nya karena sebentar lagi pernikahan Lila dan Melvin akan di mulai.


Lila memang menginginkan kakak nya itu jadi pendamping nya saat pernikahan nya yang tentu saja di sanggupi oleh Luke. Dia sudah tidak memiliki keraguan apapun lagi terkait hubungan mereka. Dia juga sudah ke kediaman utama milik orang tua mereka dan melihat semua yang ada di sana. Melihat bukti-bukti bahwa mommy nya memang melahirkan anak kembar saat lahir tapi bayi laki-laki nya di tukar.


Lila yang duduk di kursi roda nya itu pun menyunggingkan senyum cantik nya dengan Luke yang mendorong kursi roda nya, “Kamu harus percaya diri dek. Jangan merasa sedih. Kau itu sangat hebat. Tidak masalah jika tidak bisa berdiri sempurna menuju altar. Yang penting suamimu menerimamu apa ada nya. Itu yang terpenting dari sebuah pernikahan.” Ucap Luke.


“Kakak sudah seperti pernah menikah saja.” balas Lila. Luke yang mendengar itu pun tersenyum.


Kini mereka sudah tiba di tempat ibadah milik keluarga Melvin yang berada di halaman belakang kediaman utama milik keluarga Melvin itu. Rumah ibadah yang kini sudah di sulap dengan cantik nya di penuhi aneka bunga berwarna putih. Lila terharu melihat hal itu. Dia memang memiliki impian masa kecil ketika menikah nanti semua nya akan bernuansa putih. Tidak tahu nya kini itu bukan hanya sebuah impian saja tapi sudah jadi kenyataan. Tempat ibadah itu sudah di sulap menjadi sangat cantik.


Tamu undangan yang datang sekitaran 100 orang karena memang Lila menginginkan pernikahan yang sederhana. Lila menginginkan suasana yang khidmat yang di wujudkan oleh Melvin padahal pria itu menginginkan pernikahan yang mewah. Tapi demi kenyamanan Lila dia mengubah konsep nya H-1 hari setelah bicara dengan Lila.


Lila melihat ke depan altar di sana sudah ada seorang pria yang tampan dengan jas putih nya dan ada bunga babygreat di saku jas nya sama dengan bunga yang di pegang Lila.


Melvin di altar sana menatap Lila dengan tatapan terpesona nya. Lila yang duduk di kursi roda tidak menutup kecantikan wanita itu. Melvin tetap bisa melihat wajah cantik Lila.


Lila yang melihat Melvin juga tersenyum. Setelah itu Lila melihat ke arah tamu undangan yang rata-rata hanya tamu jama’ah di tempat ibadah itu. Lalu dia beralih melihat mami Elea dan papi Emran yang duduk dengan kedua buah hati nya.


“Kak, bawa aku ke sana menemui calon suamiku. Kasihan dia sudah menunggu.” Ucap Lila meminta Luke untuk berjalan ke arah altar. Lagu beautiful in white di putar karena itu memang lagu favorit Lila.


“Mau di gendong saja atau begini?” tawar Luke.


“Hum, aku di kursi roda saja kak.” Ucap Lila.


Luke pun mengangguk dan segera mendorong kursi roda adik nya itu. Lila terharu melihat kedua anak nya yang kini ada di depan nya sambil menghamburkan bunga.


Para tamu undangan juga terharu melihat itu. Mereka banyak yang mengagumi kecantikan mempelai wanita yang walaupun sedang duduk di kursi roda.


“Dia sangat cantik. Memang sangat sepadan berdampingan dengan tuan Melvin yang juga tampan.”


“Aku dengar juga gadis itu adalah pewaris perusahaan tuan Calvin. Dia itu putri tunggal nya tuan Calvin.”


Dan banyak bisikan lain nya yang baik positif maupun negative. Bukan kah hidup itu memang harus seimbang. Ada yang buruk ada juga yang tidak.


Di depan altar sini, Luke dan Lila sudah ada di hadapan Melvin yang tidak mengalihkan tatapan nya dari Lila. Dia benar-benar telah jatuh dalam pesona Lila. Jatuh sangat dalam sehingga untuk kembali pun sulit.


Luke mengambil tangan Lila dan memberikan nya kepada Melvin, “Tuan Melvin, tidak banyak yang ingin saya katakan. Tolong jaga baik-baik adik saya, bahagiakan dia dan jangan pernah menyakiti hati nya. Selain itu saya percaya pada anda akan mengusahakan yang terbaik untuk adik saya.” ucap Luke tulus dan penuh harapan.


Lila yang mendengar ucapan kakak nya itu pun hanya bisa terharu, “Mom … dad … aku tahu kalian ada di sini bukan? Menyaksikan aku menikah. Kalian lihat lah aku sudah menemukan kakak dan dia yang mengantarkanku untuk pernikahanku. Aku harap kalian bahagia melihatku yang akan menikah. Sejujur nya aku juga bahagia saat ini. Walaupun tidak aku pungkiri ketakutan itu selalu membayangiku. Tapi aku ingin berbahagia untuk hari ini. Ini adalah momen di hidupku yang mungkin tidak akan bisa di ulang lagi.” Batin Lila lalu dia memandang Melvin yang juga menatap nya.


Setelah itu Melvin mengalihkan tatapan nya ke arah Luke, “Tenang saja. Tanpa kau minta pun aku akan melakukan yang terbaik untuk nya. Terima kasih atas kepercayaan yang kau berikan kakak ipar.” Balas Melvin tersenyum. Luke yang mendengar panggilan Melvin untuk nya itu pun hanya bisa tersenyum lalu dia segera turun dari altar itu dan mengajak kedua keponakan nya sekaligus.


Di sana Lila dan Melvin sudah ada di hadapan pendeta yang akan memberkati pernikahan mereka itu. Pendeta kepercayaan keluarga Al Berto.


Lila dan Melvin pun saling berhadapan satu sama lain dengan Melvin menggenggam erat tangan calon istri nya itu yang terasa sangat dingin. Seperti nya gugup sama juga dengan diri nya sebenar nya. Tapi dia mencoba untuk mengontrol nya karena tidak ingin membuat kesalahan dalam momen penting dalam hidup nya itu. Pengucapan janji suci pernikahan yang hanya akan sekali dia lakukan dalam hidup nya. Dan jika pun ada kesempatan kedua maka dia hanya akan mengambil nya atas nama wanita yang sama.


“Tuan Melvin dan Nona Lila, apa kalian sudah siap untuk pengambilan janji pernikahan?” tanya pendeta yang di jawab anggukan oleh kedua mempelai itu.


Lila menatap Melvin yang memang menatap nya penuh cinta. Lila bisa melihat itu dan dia pun tersenyum.


“Tuan Melvin, aku ingin mengucap janji pernikahan dalam keadaan sempurna. Aku ingin berdiri.” Pinta Lila lirih.


Melvin yang mendengar ucapan Lila itu pun menatap Lila lekat, “Kau yakin bisa?” tanya Melvin khawatir. Lila hanya mengangguk saja.


Melvin yang melihat itu pun mengangguk dan membantu Lila untuk berdiri, “Katakan jika sulit. Aku akan menahan bebanmu.” Ucap Melvin lembut.


Lila pun mencoba memposisikan diri nya untuk berdiri dengan baik. Melvin memegangi tangan Lila erat takut Lila jatuh.


“Aku bisa.” Ucap Lila lembut menatap Melvin dengan tersenyum.


Melvin pun mengangguk dan tersenyum menatap Lila balik. Di sana juga tamu undangan yang melihat itu terharu akan usaha yang Lila lakukan. Lalu dengan wajah penuh kekhawatiran yang di tunjukkan oleh Melvin kepada Lila. Semua itu sudah menjelaskan bahwa kedua nya memiliki perasaan yang sama besar untuk satu sama lain.