
Kini Melvin belum pergi ke kantor nya justru menuju ruangan papi Emran setelah tadi di meja makan saling memberi kode bahwa ada yang akan mereka bicarakan berdua.
“Melvin!”
“Pih!”
Melvin dan papi Emran bicara sama-sama, “Papi duluan saja.” ucap Melvin kemudian.
“Apa putramu itu tahu sesuatu?” tanya papi Emran.
Melvin pun menggeleng, “Aku juga gak tahu pih. Tapi entah kenapa aku merasa bahwa apa yang di lakukan oleh kedua buah hatiku itu bisa menjadi petunjuk untuk bisa menemukan Lila.” Ucap Melvin.
Papi Emran pun mengangguk membenarkan ucapan putra nya itu. Dia juga berpendapat demikian, “Papi juga merasa begitu nak. Ucapan putrimu itu bisa meyakinkan semua nya. Tidak mungkin juga bukan Alex memandangi CCTV lalu tersenyum jika bukan karena sesuatu.” ucap Papi Emran mulai menghubungkan semua petunjuk untuk menemukan keberadaan Lila.
Melvin pun mengangguk mendengar ucapan papi nya itu, “Papi benar. Lalu selain itu juga pih semalam putriku itu mengatakan sesuatu.” ucap Melvin.
“Tentang apa?” tanya papi Emran.
“Semalam sebelum tidur Alex dan Alexa ke balkon kamarku dulu lalu di sana mereka melihat siluet seseorang di kediaman samping rumah kita ini. Lalu Alexa mengatakan dengan sangat lirih bahwa itu adalah Lila. Dia mengatakan itu mommy nya. Jadi apa papi tahu siapa pemilik kediaman di samping rumah kita ini. Bisa saja itu Lila pih. Tidak mungkin bukan Alexa salah mengenali mommy mereka.” ucap Melvin.
Papi Emran pun mengangguk, “Apa dia mengatakan itu? Kau tidak salah dengar?” tanya papi Emran.
Melvin mengangguk, “Jika memang begitu. Tenang saja papi akan meminta Nugraha untuk menyelidiki pemilik kediaman itu.” ucap papi Emran.
“Segera temukan pih. Aku ingin segera menemukan nya. Semoga saja semua ada jalan nya dan kita bisa segera menemukan Lila.” Ucap Melvin.
Papi Emran kembali mengangguk, “Kau benar. Semoga saja begitu.” Ucap papi Emran kini bersemangat dan optimis bahwa kali ini dia tidak akan kalah lagi.
“Ohiya pih, bagaimana dengan alat yang di minta oleh putriku?” tanya Melvin.
“Tenang saja. Nugraha sudah dalam perjalanan dengan membawa alat itu.” jawab papi Emran.
“Syukur lah jika memang begitu.” Ucap Melvin.
Setelah membicarakan hal itu pun mereka pun segera keluar dari ruang kerja papi Emran itu. Begitu mereka keluar ternyata sudah ada Nugraha di sana.
“Nugraha, Kau sudah tiba. Ayo duduk lah.” Ucap papi Emran segera mempersilahkan asisten kepercayaan nya itu untuk duduk.
Nugraha pun segera menurut dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu, “Ini alat yang anda minta tuan.” Ucap Nugraha segera mengeluarkan alat yang di maksud.
“Terima kasih Nugraha. Ohiya aku butuh bantuanmu lagi. Bisa tidak kau menyelidiki siapa pemilik kediaman di samping kediaman kami ini?” tanya papi Emran.
“Emang ada apa tuan? Kenapa anda sampai ingin tahu pemilik kediaman itu.” tanya Nugraha penasaran.
“Kami mencurigai nya itu adalah kediaman Lila.” Jawab papi Emran.
“Kakek … daddy … kalian belum pergi bekerja?” tanya Alexa yang tiba-tiba berlari masuk ke ruang tamu itu.
Melvin pun tersenyum lalu segera menggendong putri nya itu, “Belum girl. Sebentar lagi. Ini masih ada urusan sedikit.” Jawab Melvin lembut.
“Kenapa kau memandangi cucuku seperti itu Nugraha?” tanya papi Emran lirih.
Nugraha pun tersenyum lalu menggeleng, “Dia sangat mirip putra anda tuan.” Jawab Nugraha.
“Lebih cucu laki-lakiku yang sangat mirip dengan nya.” Timpal papi Emran.
“Apa kedua cucu anda itu ada di sini tuan?” tanya Nugraha.
Papi Emran mengangguk, “Terus di mana dia tuan?” tanya Nugraha lagi.
“Aku di sini paman kakek.” jawab Alex yang tiba-tiba datang dengan senyuman yang tersungging di bibir nya itu.
Nugraha yang melihat Alex yang memang sangat mirip Melvin itu pun hanya bisa memandangi Melvin dan Alex bergantian, “Paman kakek siapa namamu?” tanya Alex mendekati Nugraha itu.
“Kenapa memanggil saya dengan begitu tuan muda?” tanya Nugraha sungkan.
“Aku bingung mau memanggil paman atau kakek. Jadi di gabung saja. Ohiya paman kakek aku bukan majikanmu. Jangan memanggilku tuan muda.” Ucap Alex.
“Alex, panggil kakek saja. Kau juga Nugraha kenalkan ini kedua cucuku mereka adalah Alex dan Alexa.” Ucap papi Emran memperkenalkan cucu nya itu kepada asisten nya.
Nugraha pun mengangguk, “Kakek kedua kami akan memanggilmu begitu. Aku Alexa, kata nenek dan kakek aku itu mirip daddy dan sedikit mirip mommy yaitu bulu mata lentikku saja yang mengikuti mommy.” Ucap Alexa segera turun dari gendongan Melvin dan mendekati Nugraha.
Nugraha pun tersenyum melihat kedua cucu dari tuan nya itu yang sangat tampan dan cantik dan tentu saja memiliki aura yang kuat sebagai pemimpin walaupun mereka masih kecil.
“Kalian memang sangat mirip daddy kalian itu.” ucap Nugraha.
“Hum, tentu saja. Kami adalah anak nya kakek kedua.” Timpal Alex tersenyum.
“Hum, kakek kedua apa ini alat yang ku minta?” tanya Alexa menunjuk alat yang dia minta itu.
Nugraha pun mengangguk, “Benar nak.” jawab Nugraha bingung mau memanggil dengan sebutan apa cucu tuan nya itu.
“Panggil saja dengan nama kami kakek kedua. Jangan sungkan. Kami bukan majikanmu.” Ucap Alexa mengulangi ucapan kakak nya itu.
Nugraha pun mengangguk, “Ini untukmu nak Alexa.” Ucap Nugraha memberikan alat yang di minta oleh cucu perempuan tuan nya itu. Sementara Alex lebih memilih duduk di sofa saja di dekat kakek nya. Dia memang menepati janji nya dengan adik nya itu.
“Hum, daddy aku pinjam laptopmu.” Pinta Alexa kepada Melvin.
Melvin pun segera meminta pelayan untuk mengambil laptop nya di ruang kerja nya. Tidak lama pembantu itu pun kembali dengan laptop di tangan nya. Melvin pun segera memberikan laptop itu kepada putri nya. Alexa pun menerima nya dan dia segera duduk di lantai lalu laptop itu dia letakkan di meja di ruang tamu itu.
Alexa mulai melakukan apa yang dia inginkan. Dia mulai menyambungkan satu persatu alat itu. Ketiga orang dewasa di sana hanya melihat saja apa yang di lakukan oleh Alexa. Mereka kagum dengan apa yang di lakukan oleh Alexa itu. Terlebih Melvin yang sangat mengagumi apa yang di lakukan putri nya.
Alexa setelah memastikan semua peralatan itu sudah tersambung dengan baik dia pun segera fokus dengan laptop di hadapan nya itu. Sementara Alex hanya ikut tersenyum saja melihat apa yang di lakukan oleh adik nya itu sambil berdoa dalam hati nya.
“Semoga saja mommy tidak memblokir punya milikmu dek.”