My Secret With CEO

My Secret With CEO
129


“Ayo kita menikah?”


Delon mengatakan hal itu dengan wajah datar nya. Sementara Yola dia segera mengambil air minum nya dan menyeruput nya cepat. Hampir saja dia tersedak mendengar ucapan yang keluar dari mulut Delon itu.


“Coba ulangi lagi apa yang kau katakan itu Delon? Apa aku salah dengar atau kau yang salah ucap?” ucap Yola.


“Aku tidak salah ucap dan kau juga tidak salah dengar. Ayo kita menikah?” ucap Delon dengan ekspresi yang sama.


Bugh!


“Aws … sakit La!” ucap Delon saat Yola memukul lengan nya dengan keras.


“Syukur lah!” ucap Yola mengelus dada nya.


“Ck … sakit. Kenapa kau justru bersyukur?” ucap Delon kesal.


“Karena aku takut kau sedang kesurupan atau sedang tidak sadar hingga mengucapkan kata seperti itu. Dasar!” ucap Yola lalu kembali menyuapkan satu sendok makanan ke mulut nya.


“Jika memang kesadaranmu penuh kenapa kau mengatakan hal seperti itu. Jangan kau pikir aku yang dekat denganmu dan bersahabat denganmu hingga bisa memaklumi apa saja yang kau ucapkan. Jangan kau lakukan hal seperti itu pada gadis lain. Jika mereka terbawa suasana bagaimana. Kau sendiri yang akan repot nanti. Untung saja aku tahu bahwa kau itu kadang-kadang rada--”


“Ck … apa kau ingin mengatakan aku memiliki gangguan jiwa. Yola aku serius dengan apa yang aku ucapkan itu. Ayo kita menikah. Aku tidak akan mengajak dan mengatakan itu pada gadis lain karena aku sudah mengucapkan nya padamu. Aku juga tidak berniat memiliki istri banyak. Cukup satu saja sehidup semati.” Ucap Delon kali ini dengan raut wajah serius.


“Ayolah Delon. Jangan bicara ngawur begitu. Aku jadi takut. Jangan sampai karena kau yang terkurung pada tempat sunyi seperti ini hingga membuatmu kesepian dan mengatakan hal aneh begitu. Mana ada yang mengajak seorang gadis menikah dengan raut wajah datar seperti itu. Lagi pula kalau pun kau serius aku juga tidak bersedia menikah denganmu. Dasar!” ucap Yola.


“Kenapa kau menolakku La? Apa karena kau bersahabat dengan Lila hingga kau pun ikut-ikutan menolakku? Atau kau sudah memiliki seseorang yang kau cintai juga?” tanya Delon kini dengan nada lemah tidak seperti tadi yang dengan nada menggebu.


Yola yang mendengar ucapan Delon pun segera menghentikan makan nya. Dia menyudahi makan siang nya itu walaupun masih ada setengah makanan yang masih tersisa.


“Aku bukan Lila, Delon. Aku tidak memiliki idola. Tapi bayangkan saja bagaimana mungkin kita menikah. Kita selama ini adalah teman. Lalu kita juga dekat lagi setelah Lila tiba. Bukan kah saat Lila menghilang kita pun tidak memiliki hubungan satu sama lain. Lalu kau juga baru saja patah hati karena Lila dan kini kau mengajakku menikah. Apa kau pikir itu tidak terlihat seperti lelucon?” ucap Yola.


“Apa cintaku ini adalah lelucon untuk kalian? Apa aku tidak berhak di cintai dan memiliki seseorang yang ku cintai?” tanya Delon menatap Yola lekat.


Yola yang mendengar itu pun segera berdiri lalu dia menggeleng, “Ingat tidak ada yang mengatakan bahwa cintamu itu lelucon. Aku pun tidak menganggap cintamu lelucon. Hanya saja pikirkan lah dulu perasaanmu dengan baik. Jika memang kau benar dan sudah yakin dengan apa yang kau katakan padaku hari ini maka datang lah di hari lain kepadaku.” Ucap Yola lalu segera mengambil tas nya dan pergi meninggalkan Delon di sana yang terpaku dengan ucapan nya.