
Kini Lila baru saja terbangun dari tidur nya setelah tidur hampir lima jam. Setelah dokter memeriksa nya tadi bersama Luke dia pun tertidur dan baru bangun saat pukul delapan malam. Begitu Lila terbangun dari tidur nya di sana ada Alex dan Alexa yang berada di sisi ranjang nya itu menatap nya dengan penuh kekhawatiran.
Lila pun menyesuaikan retina nya itu dengan cahaya yang masuk dan menatap sekeliling nya. Di sana juga ada Luke dan Melvin yang memandang nya dengan penuh kekhawatiran juga. Kini dia beralih melihat jam dinding dan dia pun mengerti mengapa semua orang menatap nya dengan raut wajah khawatir.
“Kak, berapa lama aku tertidur?” tanya Lila memandangi Luke.
Luke pun menatap adik nya itu. Yah, adik nya karena dua jam lalu test DNA sudah keluar dan mengatakan bahwa memiliki ikatan darah. Sudah di pastikan bahwa mereka adalah saudara sekandung.
Luke mendekati adik nya itu dan untuk pertama kali nya dia membawa adik nya itu ke dalam pelukan nya, “Kami khawatir. Detak jantungmu sempat hilang tadi dan kau tertidur hampir lima jam.” Ujar Luke melepas pelukan nya itu dan menatap lekat adik nya itu.
Lila yang mendengar itu bukan nya kaget tapi hanya tersenyum saja. Dia memandangi kedua anak nya itu yang memandangi nya lekat. Lila pun merentangkan tangan nya. Alex dan Alexa pun segera memeluk nya, “Mommy, jangan pergi!” ucap kedua nya bersamaan dengan air mata yang sudah menetes di pipi mereka.
Lila yang mendengar ucapan anak nya itu pun tersenyum lalu memeluk erat kedua buah hati nya yang dia lahirkan dengan taruhan nyawa itu, “Mommy gak apa-apa nak. Mommy baik-baik saja. Kalian tenang lah mommy tidak akan pergi meninggalkan kalian. Mana mungkin mommy tega ninggalin kalian.” Ucap Lila lalu melepas pelukan nya dan mengecup kening kedua buah hati nya itu.
Tiba-tiba Lila terkaget dengan apa yang di lakukan oleh putra nya. Alex membawa tangan mommy nya itu lalu dia letakkan di kepala nya, “Berjanji lah mom kau akan mengikuti proses penyembuhanmu dengan baik. Kau tidak akan menyerah begitu saja dengan racun di tubuhmu. Berjanji lah mom.” Ucap Alex dengan air mata menetes di pipi nya. Dia sangat menyayangi mommy nya itu lebih dari apapun.
Lila yang mendengar permintaan putra nya itu pun terharu dengan rasa sayang putra nya yang seperti nya sangat dalam pada nya, “Mom!” panggil Alex dalam.
Lila pun tersenyum lalu dengan perlahan mengangguk, “Baiklah. Mommy janji akan sembuh dan akan menjalani semua pengobatan untuk kalian.” Ucap Lila menatap dua buah hati nya itu penuh cinta.
Alex yang mendengar itu pun tersenyum dan kembali memeluk Lila, “Mom, jika bisa juga menikah lah dengan daddy. Dia mencintaimu mom. Dia ingin kau menjadi istri nya. Kenapa harus menyiksa diri jika ada kesempatan untuk meraih bahagia. Bukan kah yang kau ajarkan pada kami. Lalu kenapa kau sendiri yang mengingkari ajaranmu.” Bisik Alex.
Lila yang mendengar bisikkan putra nya itu pun tersenyum lalu melirik Melvin yang masih menatap nya dari jauh. Tidak berani mendekat ke arah nya.
“Jika memang begitu katakan pada daddy kalian. Apa dia bersedia memiliki istri penyakitan seperti mommy.” Balas Lila tersenyum.
Alex pun melepas pelukan nya dan menatap Lila lekat. Setelah itu dia menatap daddy nya dan berjalan mendekati daddy nya itu.
Melvin yang melihat sang putra datang kepada nya pun tersenyum dan menerima uluran tangan sang putra, “Daddy, apa kau bersedia menikahi mommy yang sakit?” tanya Alex menatap lekat Melvin.
Melvin yang mendengar pertanyaan putra nya itu pun kaget. Dia melirik Lila sekilas tapi Lila hanya tersenyum saja.
“Daddy jawab!” ucap Alex lagi.
Melvin pun segera tersadar dan memandangi putra nya itu kembali, “Kenapa bertanya begitu boy. Daddy tentu saja bersedia menikahi mommy kalian dalam keadaan apapun. Bukan kah dia memang sudah jadi istri daddy walaupun hanya dalam hukum Negara.” Ucap Melvin balik.
“Jika memang begitu nikahi lah mommy secepat nya dad.” Ucap Alex lagi setelah mendengar jawaban memuaskan daddy nya itu.
Melvin yang mendengar itu pun kembali menatap Lila. Dia bertanya-tanya kenapa Lila hanya diam saja dengan apa yang di ucapkan putra nya itu.
“Lila!” panggil Melvin.
***
Kini di ruangan itu pun hanya ada Melvin dan Lila saja. Luke sudah membawa kedua keponakan nya itu keluar dari ruangan Lila. Dia membawa kedua keponakan nya itu ke dalam ruangan perawatan nya. Luke dan Alex serta Alexa memberikan waktu untuk Melvin dan Lila bicara.
“La!” panggil Melvin lagi menatap Lila yang menunduk.
Lila pun menengadahkan kepala nya itu dan menatap Melvin dengan senyum, “Apa permintaan Alex itu adalah keinginanmu. Apa kau sungguh mau menerimaku sebagai suamimu?” tanya Melvin. Percaya lah dia tidak ingin mengajukan pertanyaan itu. Dia sudah sangat senang dengan apa yang di minta oleh putra nya itu. Dia juga berharap bahwa Lila juga menerima nya sebagai suami.
“Bagiku permintaan Alex dan Alexa adalah hal mutlak yang ku lakukan. Dia memintaku untuk menerima daddy mereka. Lalu kenapa aku tidak menuruti permintaan putraku itu. Setidak nya itu yang bisa aku lakukan sebelum aku pe--”
Cup
Ucapan Lila terhenti karena tiba-tiba saja ada bibir kenyal yang menyentuh bibir nya itu. Lila terpaku karena tidak menyangka Melvin akan melakukan hal itu kepada nya.
“Jangan katakan hal itu. Bukan kah putra kita sudah mengatakan kau harus mengikuti pengobatan. Aku yakin kita akan menemukan obat penawar untuk racun dalam tubuhmu itu. Aku mohon jangan katakan itu lagi. Aku tidak akan rela saat kau mengatakan hal yang seperti itu lagi. Aku akan menemukan obat nya lagi. Jika kau mengatakan hal seperti itu lagi aku akan melakukan hal yang seperti barusan ku lakukan untuk menghentikanmu membicarakan nya.” Ucap Melvin tegas.
Lila pun masih saja diam dan bibir nya terasa kelu dengan kecupan lima detik itu. Memang hanya sebuah kecupan singkat tapi membuat hati nya terasa hangat akan hal itu. Sentuhan yang hanya sekali saja dia dapatkan yaitu saat malam itu dia melepas kehormatan nya bersama laki-laki di hadapan nya itu. Kini sentuhan kecupan singkat itu di saat dia dalam keadaan sadar itu meninggalkan efek getar di hati nya dan membuat pikirna nya seketika linglung tidak bisa berpikir dengan baik. Otak nya seketika ngelek.
Sementara Melvin memandangi wajah Lila yang sedang bengong itu dengan tersenyum. Dia menikmati wajah wanita di hadapan nya itu dengan senang. Percaya lah Lila terlihat sangat cantik saat sedang bengong seperti itu. Percaya lah juga bahwa kecupan lima detik yang dia lakukan itu juga meninggalkan efek untuk nya juga.
Sama seperti Lila bahwa hanya Melvin saja laki-laki yang pernah berbagi peluh dan sentuhan bersama nya maka hal itu juga terjadi pada Melvin yang hanya menyentuh Lila dalam hidup nya ini. Tentu saja kecupan itu meninggalkan efek getar juga dalam hati nya. Apalagi di saat dia dengan kesadaran penuh melakukan hal itu.
“Apa yang anda lakukan tuan?” tanya Lila setelah sadar dari lamunan nya itu dan memandangi Melvin lekat.
“Apa yang sudah ku lakukan?” tanya Melvin balik.
Melvin pun tersenyum dan dia pun memberanikan diri menangkup wajah Lila dengan tangan nya dan membuat Lila memandang nya, “Kita akan menikah tiga hari lagi. Aku akan membawamu ke altar dengan di dampingi oleh kedua buah hati kita itu. Jangan pikirkan apapun. Ini adalah keputusanku. Kamu hanya perlu menurut saja. Tidak ada penolakan sedikit pun.” Ucap Melvin.
Lila pun hanya diam saja mendengarkan ucapan Melvin itu. Percaya lah semua perkataan yang keluar dari bibir Melvin itu menghipnotis nya hingga dia pun hanya bisa diam dan menurut saja.
“Aku mohon percaya lah padaku sekali saja. Aku janji tidak akan mengecewakanmu.” Sambung Melvin.
“Kamu bersedia kan menjadi istriku? Kita akan merawat anak kita dengan baik. Kita akan memberikan kasih sayang untuk mereka bersama-sama.” Ucap Melvin lagi saat Lila yang hanya diam saja.
Lila pun hanya diam saja dan tersenyum, “Aku anggap kau tersenyum itu adalah sebuah persetujuan.” Ucap Melvin.
“Tuan Melvin, bagaimana keadaan kakakku?” tanya Lila.
“Dia baik-baik saja. Dia akan segera sembuh. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kau pikirkan saja dulu dirimu karena sama seperti dirimu yang mengkhawatirkan nya. Dia juga sama mengkhawatirkanmu. Apalagi setelah memastikan hubungan di antara kalian.” Ucap Melvin.
Lila yang mendengar ucapan Melvin pun kini langsung terkoneksi dengan baik. Otak nya seperti kembali berfungsi dengan baik, “Apa hasil test DNA sudah keluar?” tanya Lila.
Melvin bukan menjawab tapi langsung meraih hasil test DNA itu di meja yang ada di sana, “Apa mau aku bacakan?” tawar Melvin.
“Biar aku saja.” Jawab Lila.
Melvin pun mengangguk dan segera memberikan hasil dokumen itu kepada Lila. Lila segera membuka nya dan membaca nya. Dia tersenyum melihat hasil nya yang memang sesuai dengan apa yang dia tahu.
“Terima kasih sudah menolong kakakku waktu itu. Jika tidak segera di bawa ke rumah sakit, mungkin saja aku akan kehilangan satu-satu nya keluarga yang ku miliki.” Ucap Lila tulus.
“Kamu tidak sendiri. Kami adalah keluargamu. Ada Alex dan Alexa juga. Aku, papi dan mami yang akan jadi keluargamu. Kau jangan menganggap kami orang asing.” Ucap Melvin tidak suka dengan apa yang di katakan Lila. Tentu saja dia tidak ingin Lila itu menganggap nya orang asing.
“Maaf!” ucap Lila menunduk.
Melvin yang melihat itu pun menggeleng, “Aku tidak menyalahkanmu. Kau tidak perlu meminta maaf seperti itu. Aku hanya tidak ingin jika kau merasa sendiri tidak memiliki keluarga padahal ada kami di sini bersamamu. Memang tuan Calvin dan nyonya Dhara sudah pergi tapi mereka tentu saja senang bukan melihat putri mereka setegar ini. Mereka pasti bangga memiliki putri sepertimu yang tidak lemah dan sangat tangguh. Bahkan sampai membuatku merasa kalah.” Ucap Melvin.
“Tuan Melvin aku ingin bertanya serius padamu?” tanya Lila memandang Melvin lekat. Dia memandangi idola nya itu dalam jarak terdekat. Jujur saja hal itu menimbulkan efek tersendiri di hati nya.
Melvin yang melihat ekspresi serius yang di tunjukkan Lila pun akhir nya memposisikan diri nya sebagai pendengar yang baik. Dia tahu bahwa Lila akan membicarakan hal yang memang benar-benar serius.
“Katakan saja apapun yang ingin kau tanyakan. Aku akan menjawab nya untukmu. Kau tidak perlu sungkan mau menanyakan apapun.” Ucap Melvin juga serius.
“Apa anda sudah menemukan surat yang saya tinggalkan enam tahun lalu?” tanya Lila hati-hati. Jujur saja dia sangat ingin tahu hal itu. Itu adalah salah satu alasan nya ingin pergi ke apartemen nya. Mengecek sendiri surat yang dia tinggalkan itu apa masih utuh atau tidak.
Melvin yan mendengar itu pun tersenyum. Dia meraih ponsel nya dari saku nya dan membuka nya, “Apa surat ini?” tanya Melvin menunjukkan foto sebuah kertas di sana.
Lila pun melihat nya lalu kemudian dia mengangguk, “Yah, aku baru menemukan nya beberapa hari lalu. Dengan surat itu lah aku bisa tahu bahwa kau pergi ke mana. Tapi ternyata kita tidak bertemu karena saling melewati di bandara.” Ucap Melvin.
“Kenapa anda tidak menemukan nya sejak dulu tuan? Bukan kah apartemen itu sudah anda jaga sejak awal.” Ucap Lila.
Melvin pun mengangguk, “Kau benar. Aku memang mengambil alih apartemenmu itu sejak awal. Tapi kenapa aku tidak menemukan suratmu. Aku yang tidak teliti mencari nya dan setiap aku masuk ke kamarmu di apartemenmu itu. Aku mengantuk dan hanya ingin tidur saja di sana.” Jawab Melvin.
Lila pun mengangguk mengerti. Kini dia sudah menemukan jawaban atas pertanyaan di pikiran nya itu, “Apa lagi yang ingin kau tanyakan?” tanya Melvin saat Lila kembali diam.
Lila tersenyum lalu menggeleng, “Sudah tidak ada lagi. Cukup!” ucap Lila.
“Apa hanya itu hal serius yang ingin kau tanyakan?” tanya Melvin lagi memastikan. Lila pun mengangguk menjawab pertanyaan Melvin itu.
“Kau yakin hanya itu saja?” tanya Melvin masih tidak menyangka hanya itu saja yang ingin di tanyakan Lila.
Lila kembali mengangguk, “Emang apa lagi yang harus saya tanyakan tuan. Saya tidak punya pertanyaan apapun lagi.” Ucap Lila.
Melvin pun yang mendengar itu menarik nafas panjang, “Baiklah … jika memang tidak ada yang ingin kau tanyakan. Aku sendiri yang akan bertanya jika kau tidak ingin bertanya.” Ucap Melvin.
Lila pun hanya mengangkat alis nya saja tanda dia menunggu pertanyaan yang akan di ajukan oleh Melvin, “Inisial A dalam nama belakang Alex dan Alexa itu memiliki arti apa?” tanya Melvin.
Lila pun tersenyum mendengar pertanyaan yang di ajukan Melvin. Ternyata Melvin juga penasaran dengan hal itu. Ternyata dia memperhatikan nama yang dia berikan pada kedua buah hati nya itu.
“Apa anda sungguh ingin tahu hal itu?”