
Melvin segera mengikuti dokter keluar meninggalkan Lila yang di jaga oleh kedua buah hati nya dan juga mami nya. Papi Emran sendiri mengikuti putra nya dan dokter Andi.
“Mommy, bangun lah.” Ucap Alex sambil menggenggam tangan Lila erat.
“Boy, mommymu pasti akan bangun. Kau jangan khawatir. Dokter mengatakan bahwa mommymu baik-baik saja, bukan? Jangan khawatir.” Ucap mami Elea menenangkan cucu laki-laki nya itu. Walaupun dia sendiri menyimpan kekhawatiran nya. Kekhawatiran akan kondisi menantu nya itu.
Alex pun mengangguk dan mencium punggung tangan Lila, “Mom, aku tidak ingin apapun lagi. Adik? Cukup bagiku Alexa. Aku tidak ingin kau sakit lagi. Aku mohon mom bangun lah. Aku tidak suka kau terbaring seperti ini.” batin Alex menatap Lila.
Lila yang seperti mendengar perkataan putra nya itu menggerakkan tangan nya dan perlahan mata nya terbuka. Lila melihat sekeliling dan setelah beberapa saat akhirnya dia sadar akan yang terjadi pada nya. Dia ingat kejadian sebelum nya.
“Mih, aku--”
Mami Elea menggeleng lalu mengusap kening Lila itu penuh kasih, “Kau pingsan nak. Sudah, jangan bangun dulu. Dokter baru saja memeriksamu. Kau juga baru saja minum obat dari dokter James.” Jelas mami Elea saat Lila berusaha untuk bangkit.
“Mommy!” panggil Alexa manja menatap Lila.
Lila pun tersenyum menatap putri cantik nya itu yang sejak tadi memandangi nya. Setelah itu dia mengalihkan tatapan ke arah putra nya yang masih menggenggam tangan nya.
“Mommy, baik-baik saja, boy, girl!” ucap Lila lirih karena jujur saja dia merasa lemah. Tulang nya entah kenapa rasa nya tidak memiliki kekuatan untuk sekedar bergerak.
“Mommy, jangan lelah dan jangan pingsan lagi. Tidak perlu datang ke sekolah untuk melihat kami. Kami bisa menjaga diri kami sendiri. Tapi mommy tidak boleh sakit.” Ucap Alex berkaca-kaca.
Lila yang mendengar ucapan putra nya itu yang di sertai air mata di pipi nya berusaha bangun. Mami Elea pun segera membantu Lila bangun. Setelah nya Lila segera memeluk Alex.
“Hey, mommy baik-baik saja boy. Jangan menangis. Mommy menyayangimu.” Ucap Lila.
“Mommy!” manja Alexa yang segera bergabung memeluk Lila dan Alex.
Dia tidak tahu apa yang membuat kakak nya itu menangis. Tapi dia tahu jika kakak nya sudah menangis itu berarti ada yang membuat kakak nya itu sedih dan pasti ada hubungan nya dengan mommy mereka. Semoga saja itu bukan hal buruk.
Sepuluh menit kemudian, Melvin kembali dan tersenyum menatap Lila yang sudah sadar dan bersandar di ranjang dengan di temani oleh kedua buah hati nya.
“Melihat pemandangan ini aku sudah senang, Tuhan. Tolong jangan ambil kesenanganku ini.” batin Melvin.
Melvin segera mendekati Lila dan mendekatkan telapak tangan nya di dahi istri nya itu mengecek suhu tubuh Lila.
Lila sendiri tersenyum melihat apa yang di lakukan suami nya itu.
“Aku baik-baik saja, by. Tidak perlu berlebihan seperti itu. Ada mami dan anak-anak. Malu!” ucap Lila lirih.
Cup
Melvin bukan nya mendengarkan apa yang di katakan istri nya itu justru dia memberikan kecupan di kening Lila hingga Lila pun hanya bisa tegang dengan apa yang di lakukan suami nya.
“Mereka mengerti sayang.” ucap Melvin.
“Iya, mom. Kami mengerti. Kami tahu daddy sangat menyayangi mommy. Apa yang di lakukan daddy itu adalah bentuh sayang nya kepada mommy.” Celetuk Alexa.
Lila dan Melvin pun tersenyum mendengar ucapan putri mereka itu, “Kau sangat pintar sayang. Kau juga boy.” Ucap Melvin memuji kedua buah hati nya itu.
Alex bukan nya menanggapi ucapan Melvin, “Daddy, aku ingin bicara dengan daddy.” Ucap Alex datar lalu dia segera turun dari ranjang hingga Lila dan Melvin hanya bisa saling memandang satu sama lain dengan ekspresi bingung.
Melvin menatap mami Elea yang hanya bisa menggeleng karena tidak mengerti dengan cucu nya yang dingin itu. Terlihat serius dan lebih dewasa dari Alexa. Memang kedua cucu nya itu terlihat lebih dewasa dari umur mereka hanya saja cucu laki-laki nya itu lebih dewasa lagi dari cucu perempuan nya.
“Pergi lah. Putra kita ingin membicarakan hal penting denganmu. Dia itu keras kepala sepertiku. Semua sikap nya adalah sikapku. Dia tidak suka menunda apapun. Jika dia punya keinginan maka akan dia realisasikan.” Ucap Lila pada Melvin.
Melvin pun mengangguk paham, “Mih, girl, aku titip Lila.” ucap Melvin kepada mami Elea dan sang putri. Ketiga wanita kesayangan nya.
Melvin segera keluar dan mencari di mana putra nya yang ternyata menunggu nya di balkon yang ada di kamar putra nya itu.
“Boy!” ucap Melvin lirih dan segera bergabung dengan putra nya yang menatap ke arah kediaman Lila tepat di samping kediaman mereka itu. Kediaman yang sama yang menjadi tempat persembunyian Lila saat itu.
Tidak ada jawaban dari sang putra membuat Melvin menatap putra nya yang masih menatap kediaman Lila. Melvin menghela napas nya saat sadar bahwa putra nya itu sangat dewasa. Dia tidak terlihat seperti anak usia lima tahun. Putra nya itu seperti seorang pemimpin saja. Melvin sendiri bergidik ngeri saat menyadari hal itu. Semua sifat dan sikap putra nya itu mengikuti Lila. Sama persis. Hanya wajah putra nya itu yang sama persis diri nya tapi sikap nya Lila semua.
“Apa bisa daddy tidak tidur sekamar dengan mommy?” ucap Alex tiba-tiba.
Melvin yang tadi nya melamun memikirkan sikap misterius putra nya kaget mendengar apa yang di katakan putra nya itu. Sungguh, dia tidak menyangka akan mendengarkan pertanyaan seperti itu dari putra nya itu.
Melvin menarik napas panjang nya dan memposisikan diri nya bukan sebagai ayah dari Alex tapi lawan bicara sebagai sesama pria karena dia menduga pembicaraan mereka kali ini bukan lah pembicaraan seorang ayah dan putra nya.
“Kenapa daddy harus melakukan itu, boy? Daddy dan mommy adalah pasangan. Daddy tahu kau pasti paham dengan apa maksud daddy.” Ucap Melvin lembut.
Alex yang tadi nya menatap bangunan beralih menatap sang daddy dengan tatapan nanar nya.
Deg
Melvin yang melihat itu segera mendekati putra nya dan memeluk putra nya itu.
Putra nya itu menangis dan itu adalah kali pertama putra nya itu menunjukkan air mata di hadapan nya selama beberapa bulan ini. Selama ini putra nya itu selalu menunjukkan sisi mandiri nya yang dingin dan tegas. Tak dia sangka bahwa putra nya menyimpan kesedihan nya sendiri hingga kini menangis di hadapan nya.
Beberapa saat kedua laki-laki beda generasi itu berpelukan hingga Alex melerai pelukan Melvin dan menghapus air mata di pipi nya.
“Aku sayang mommy, dad!” ucap Alex menatap Melvin yang saat ini sejajar dengan nya karena Melvin berlutut.
“Daddy juga menyayangi mommy kalian, boy. Daddy mencintai mommy.” Ucap Melvin.
“Aku tahu. Karena hal itu lah kenapa aku berani meminta ini pada daddy. Bisa kah daddy dan mommy tidak tinggal bersama atas nama cinta?” tanya Alex.
Melvin terdiam mendengar ucapan putra nya yang di ulang untuk kedua kali nya masih dengan pertanyaan yang sama. Dia mulai menduga dan percaya lah perasaan tidak tenang saat ini. Pikiran nya mulai tertuju pada sesuatu yang juga mengganggu pikiran nya. Tapi dia ingin memastikan sendiri apa yang di maksud putra nya itu. Putra nya yang misterius tapi sangat jenius.
“Katakan pada daddy kenapa daddy harus melakukan itu?” tanya Melvin balik mengulang pertanyaan nya.
“Aku tahu tanpa aku katakan pun daddy pasti mengerti alasan nya. Aku tahu aku egois meminta hal ini pada daddy. Tapi hanya itu yang bisa aku pikirkan. Aku tidak ingin memisahkan daddy dan mommy hanya saja aku khawatir. Dulu aku lah yang paling berharap mommy dan daddy bisa bersama tapi kini maafkan aku harus mengajukan permintaan seperti ini dad. Aku harap daddy mengabulkan apa yang ku minta.” Ucap Alex.
Melvin yang mendengar itu menarik napas panjang nya. Kini dia paham apa yang di maksud putra nya. Dugaan nya menjadi kenyataan. Putra nya itu tahu keadaan Lila. Entah dari mana putra nya itu mengetahui nya tapi harus dia akui putra nya itu sangat hebat. Perpaduan antara diri nya dan Lila memang sangat hebat. Benih yang dia tabor dalam kesalahan itu justru menciptakan hal hebat.
“Tapi daddy ingin mendengarkan alasan nya secara langsung darimu, boy. Daddy tidak suka menduga-duga. Bukan kah kau pun sama? Kita adalah ayah dan anak. Kita sama. Copyan.” Ucap Melvin.
Alex menatap sang daddy dengan tatapan sendu nya, “Aku tahu mommy sakit dad. Racun itu memang sudah melebur dalam tubuh nya hingga menjadi netral. Tapi dampak racun itu ada dan merusak organ mommy, termasuk rahim nya.” ucap Alex menjeda ucapan nya.
“Aku tidak ingin adik lagi, dad. Aku bukan membenci seorang adik hanya saja jika hanya demi seorang adik harus mengorbankan mommy, aku pun tak menginginkan nya. Alexa, cukup bagiku. Aku memang berdosa dengan permintaanku pada daddy karena mengingat mommy dan daddy adalah pasangan. Tapi aku khawatir.” Lanjut Alex dengan suara bergetar.
Melvin yang mendengar itu kembali memeluk putra nya. Putra kecil nya itu sangat dewasa dan bahkan memikirkan apa yang menjadi masalah orang dewasa. Kenapa dia lupa memiliki putra yang sangat peka dan sangat menyayangi mommy nya.
“Daddy mengerti apa yang kau khawatirkan, boy. Daddy pun menginginkan hal yang sama. Kau dan Alexa cukup untuk daddy.” Ucap Melvin.
Alex yang mendengar ucapan Melvin melerai pelukan, “Aku harap daddy menepati nya. Jika sampai mommy hamil, aku yang akan jadi orang pertama yang memusuhimu, dad.” Ancam nya.
Melvin pun tidak marah akan apa yang di ucapkan putra nya itu karena dia tahu putra nya itu hanya khawatir. Mengkhawatirkan Lila.
“Daddy menjanjikan itu padamu, boy.” Ucap Melvin.
“Baiklah, aku percaya pada daddy. Aku harap daddy menepati hal itu.” ucap Alex.
“Apa itu berarti daddy tidak harus tinggal terpisah dengan mommy?” tanya Melvin hati-hati.
Alex mengangguk, “Hum, aku mengizinkan nya. Tapi ingat daddy--”
Melvin mengangguk, “Daddy akan ingat itu boy. Percaya lah. Daddy lebih menyayangi mommy kalian dari apapun.” Ucap Melvin.
Alex pun mengangguk percaya, “Maaf sudah mengajukan permintaan seperti itu padamu dad. Maaf juga atas perkataan kasarku yang mungkin saja menyakiti daddy atau terkesan tidak sopan.” Ucap Alex menunduk.
Bagaimana pun dia sadar beberapa perkataan nya itu menyinggung daddy nya. Dan Lila selalu mengajarkan kepada kedua buah hati nya itu untuk bersikap sopan pada orang yang lebih tua, apalagi itu jika kedua orang tua kita. Didikan Lila selalu dia ingat di manapun berada. Selalu menjadi alarm jika dia melakukan kesalahan.
“Tidak masalah boy. Daddy maafkan. Daddy tahu kau hanya khawatir saja pada mommymu. Daddy memaklumi hal itu. Tapi lain kali jangan melakukan nya lagi, boy. Daddy takut melihatmu dengan ekspresi dingin seperti itu.” ucap Melvin tersenyum bermaksud bercanda walaupun apa yang di katakan itu adalah kebenaran nya.
“Aku adalah copyan daddy dan mommy. Tentu saja dingin. Bukan kah kalian juga begitu?” balas Alex santai.
Melvin pun hanya bisa diam karena tidak tahu menjawab apa. Ucapan putra nya itu benar-benar membuat nya tidak bisa berkata-kata.
“Sudah lah, ayo kita keluar dad. Mommy pasti khawatir dan penasaran dengan apa yang kita bicarakan. Tapi aku yakin ini adalah rahasia. Daddy tidak mengatakan apapun pada mommy. Mommy itu keras kepala.” Ucap Alex segera berlalu meninggalkan Melvin.
“Kau juga sama boy. Keras kepala.” Balas Melvin lirih.
“Hm, aku tahu dad. Aku adalah copyan kalian. Ingat itu.” timpal Alex.
Melvin yang mendengar balasan putra nya hanya bisa mendesis karena tidak menyangka memiliki putra sehebat dan sejenius itu. Sangat kritis.
Melvin segera menyusul sang putra dan kedua pria beda umur itu berjalan beriringan menuju kamar di mana Lila berada.
Begitu mereka masuk, Lila sedang menikmati buah dengan di suami Alexa.
“Apa kakak dan daddy sudah selesai bicara? Kalian lama bicara nya? Emang bicara apa?” tanya Alexa menoleh lalu kembali menyuapi Lila.
Lila dan mami Elea sendiri menatap Melvin dan Alex dengan tatapan penasaran, “Daddy dan kakakmu ini hanya bicara hal sepele saja kok. Kakakmu meminta di temani mengerjakan PR nya.” jawab Melvin asal lalu segera duduk di ranjang.
Alexa yang mendengar ucapan Melvin mengerutkan kening nya bingung sambil mengingat-ngingat, “PR? Apa kita punya PR, kak? Seingatku PR kita baru di kumpulkan dan tadi guru di sekolah tidak memberikan tugas?” ucap Alexa menatap Melvin dan Alex bergantian.
Melvin yang mendengar ucapan putri nya seketika terdiam dan menyesal telah membuat alasan seperti itu. Dia lupa bahwa putri nya itu juga berpikiran kritis.
Melvin menatap sang putra seolah meminta bantuan. Tapi Alex hanya mengangkat kedua bahu nya seolah mengatakan “Daddy yang membuat alasan itu jadi tanggung sendiri akibat nya. Aku tidak ikut campur.”
Alex sendiri memilih mendekati Lila dan mengambil piring buah dari tangan adik nya. Bergantian menyuapi sang mommy membiarkan sang daddy pusing sendiri menjawab pertanyaan adik nya.