
“Tuan, tenang saja. Saya pastikan dia tidak akan menggugurkan kandungannya itu.”
Melvin dan Deo segera menatap dokter Ana begitu mendengar kalimat yang di ucapkan oleh dokter Ana itu, “Apa dia yang mengatakannya sendiri dokter?” tanya Melvin.
Dokter Ana mengangguk, “Dia gadis yang kuat. Saya tahu dia adalah sosok yang kuat. Saat saya memberitahukan kehamilannya dia memang menangis tapi kemudian dia bertanya kepada saya. Harus dia apakan anak yang ada dalam kandungannya itu? Haruskah dia gugurkan atau tidak. Saya saat itu mengatakan bahwa dia gadis yang baik yang pastinya tidak akan melakukan tindak kejahatan pada bayinya sendiri. Dia menangis saat itu dan mengelus perut ratanya. Dia mengatakan dia tidak akan menggugurkan kandungannya. Tapi dia tidak bisa tetap tinggal di sini. Dia pergi tanpa mengatakan kemana dia pergi.” ucap dokter Ana.
“Tapi satu hal yang saya baru mengerti dari ucapannya waktu itu. Dia meminta saya untuk menyembunyikan kandungannya dari siapa pun nanti yang bertanya tentang dirinya. Sepertinya dia sudah bisa menduga akan ada hari ini. Ayah calon bayinya datang mencarinya. Lalu dia juga mengatakan bahwa dia ayah dari bayinya bukan lah laki-laki brengsek. Ayah dari bayinya adalah idolanya. Dia mengatakan tidak membenci ayah dari bayinya. Jujur saja saat itu saya mengatakan anda brengsek tidak bertanggung jawab dan siapa sangka saya justru mendapat jawaban seperti itu darinya. Dia membela anda.” Sambung dokter Ana.
Melvin yang mendengar itu perasaannya semakin sakit, “Tapi hal yang dia lakukan saat ini dokter membuat saya menderita. Dia tidak menuntut tanggung jawab dari saya tapi dia pergi menghilang dari jangkauan saya. Saya tidak bisa menemukannya. Kekuasaan yang saya miliki tidak berarti apa-apa saat ini. Dia berhasil lari.” Ucap Melvin pedih.
“Saya baru tahu seminggu lalu bahwa gadis itu adalah dirinya. Gadis yang saya tiduri karena mabuk. Kami sama-sama mabuk. Tapi baru juga saya tahu siapa gadis yang saya tiduri dia justru menghilang lagi dengan membawa sebagian dari diri saya di dalam tubuhnya. Mungkin dia akan menjaga anak itu dengan baik. Tapi saya sebagai ayah bayi itu pasti akan sangat merasa bersalah. Bukankah begitu. Bukankah seorang anak harus lahir dan di gendong oleh ayahnya saat pertama kali lahir. Tapi sepertinya anak itu tidak akan merasakannya dan saya pun tidak akan punya kesempatan untuk menggendong bayi itu.” sambung Melvin. Dokter Ana pun diam karena jujur saja baru kali ini dia menemui kasus seperti ini.
“Anda sakit apa tuan?” tanya dokter Ana.
“Sindrom couvade. Yah, Lila tidak menghukum saya tapi sepertinya anak saya sendiri lah yang menghukum ayahnya ini. Dia membuat ayahnya ini yang mengalami mual muntah yang parah. Tapi tidak masalah. Setidaknya hal ini bisa membuat saya sedikit tenang dan membuat saya tidak merasa bersalah. Saya juga bersyukur bukan Lila yang mengalami hal ini. Kita tidak tahu di mana dia berada dan bagaimana dia bertahan hidup. Setidaknya jika dia tidak mengalami morning sickness dia bisa menjaga dirinya dengan baik.” ucap Melvin.
“Sudah minum obat pereda mual?” tanya dokter Ana.
“Tidak mempan dokter. Ini adalah hukuman yang di berikan anak saya dokter. Biarkan saja. Saya menikmatinya.” Ucap Melvin.
“Saya harap anda segera menemukannya tuan.” Ucap dokter Ana kasihan.