
Yola pun mengangguk perlahan, “Di mana keberadaan dia saat ini?” tanya Deo kemudian.
“Lila? Tentu saja dia ada di apartemennya. Jika tidak ada di sana maka dia ada di toko bunga miliknya.” Jawab Yola tergagap karena pandangan tajam dan dingin yang di pancarkan oleh Melvin dan Deo di hadapannya itu. Seolah ingin menguliti dirinya hidup-hidup.
“Jika kami bisa menemukannya di sana. Tidak mungkin kami datang ke sini dan bertanya padamu. Dasar membuang waktu.” ucap Melvin dingin bercampur kesal.
“Tenang bro. Kita tanya baik-baik.” ujar Deo menenangkan tuan mudanya itu.
“Dia menghilang. Dia tidak ada di apartemennya atau pun toko bunga miliknya itu. Kami juga sudah mencarinya di kediamannya dan tidak ada jejak juga di sana. Maka dari itu kami datang kesini berharap kau bisa membantu sedikit. Jadi katakan dengan jujur apa kau tahu di mana dia pergi? Apa dia menghubungimu?” tanya Deo perlahan.
Yola yang mendengar penjelasan dari Deo itu pun hampir terjatuh, “Lila menghilang? Gak mungkin. Dia tidak mungkin pergi jauh tanpa pamit padaku. Aku tiga hari lalu ke apartemennya dan dia baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda sama sekali dia pergi. Gak mungkin kalian pasti bohong. Sahabatku tidak mungkin meninggalkan aku seperti ini. Dia belum membalaskan dendamnya kepada kedua wanita itu. Tidak mungkin. Kalian pasti sudah berbuat sesuatu padanya sehingga dia pergi. Apa yang kalian lakukan pada sahabatku. Aku akan menuntut kalian.” ucap Yola tidak terima.
“Tenang nona. Kami tidak mungkin berbuat sesuatu yang jahat padanya sementara kami juga mencarinya.” Ujar Deo.
“Lalu kenapa kalian mencarinya? Tidak mungkin kan kalian mencarinya tanpa alasan apapun. Ayo katakan kalian apakan sahabatku itu. Lila dia sudah menderita selama ini. Walaupun hidup bergelimang harta dan penuh kemewahan tapi dia selalu saja kesepian. Kalian--”
“Deo, bawa dia. Aku malas mendengarkan ocehannya itu. Tapi aku masih membutuhkan dia untuk melacak keberadaan gadisku.” Ucap Melvin memerintah lalu dia segera keluar.
Sementara Deo tersenyum karena tuan mudanya itu sudah mengatakan kepemilikannya. Itu berarti kemana pun gadis itu pergi akan tuan mudanya dapatkan cepat atau pun lambat. Tidak akan ada yang luput dari pantauan tuannya itu jika tuannya sudah menandai seseorang sebagai miliknya.
“Ayo nona ikut saya.” ujar Deo mengajak Yola.
Yola menggeleng, “Kenapa saya harus ikut kalian? Siapa yang tahu bahwa anda berniat jahat kepada saya. Tidak saya tidak akan ikut anda.” Tolak Yola.
“Saya mohon anda mau ikut secara suka rela atau perlu saya paksa dengan memancing keributan di sini.” Ancam Deo.
Yola yang mendengar itu pun mendengus kesal karena sepertinya dia tidak bisa lagi menolak untuk tidak ikut dengan dua pria itu yang memiliki aura dingin dan misterius yang perlu di waspadai. Dia juga takut jika di ancam seperti itu. Sebesar apapun keberanian yang dia punya jika dia sudah di ancam maka apalah arti semua itu. Semua tidak akan ada gunanya lagi. Lebih baik untuk saat ini dia menurut saja untuk ikut. Lagian dia juga ingin tahu di mana sahabatnya dan apa benar sahabatnya itu menghilang atau hanya akal-akalan mereka saja. Dia harus memastikan kebenarannya.
“Bagaimana? Mau ikut atau tidak?” tanya Deo ulang.
Yola pun mengangguk, “Baiklah saya ikut. Tapi pekerjaan saya--” ucap Yola.
“Biar itu jadi urusan kami. Cepatlah kita pergi sebelum tuan muda marah.” ucap Deo.
Kini mereka sudah di parkiran, “Kenapa lama sekali. Apa kau siput? Memaksa gadis itu saja lama?” protes Melvin karena dia menunggu sampai sepuluh menit di dalam mobil itu.
Deo dan Yola pun hanya diam saja. Mereka tidak membantah dan segera naik ke mobil yang tidak lama segera melaju meninggalkan restoran A itu.
“Deo!” panggil Melvin dari belakang.
Deo yang mengerti kode tuannya itu pun segera merebut ponsel milik Yola dan melemparnya ke belakang kepada Melvin.
“Kembalikan ponsel saya tuan!” ucap Yola.
“Duduk diam di saja jika kau tidak ingin ponsel ini tinggal kerangkanya saja.” ancam Melvin dingin. Nyali Yola pun menjadi ciut seketika. Siapa juga yang berani melawan Melvin. Dia saja menatap mata pria itu tidak berani apalagi jika harus berdebat.
“Ini aku kembalikan ponsel bututmu itu. Ingat kau ada dalam pengawasanku. Kau harus mengatakan jika Lila menghubungimu. Tidak boleh ada yang harus kau sembunyikan dariku.” Ujar Melvin lalu segera melemparkan ponsel Yola itu kepada Yola yang hampir saja tidak bisa dia tangkap.
“Ini memang ponsel butut tuan. Tapi ini banyak kenangannya. Ini adalah hadiah ulang tahunku yang di berikan Lila padaku. Dia membelikan hadiah ini dengan hasil usahanya sendiri di toko bunga. Aku tidak akan menggantinya sampai kapan pun. Ponsel ini adalah kenanganku bersama Lila. Aku yakin walaupun dia menghilang dia pasti baik-baik saja. Aku yakin pada sahabatku itu. Dia memang tidak memberitahuku tapi tidak masalah. Dia memang orang seperti itu. Dia tidak suka membebani orang lain dengan masalahnya.” Ujar Yola memandangi ponselnya itu.
Melvin dan Deo yang mendengar penuturan Yola pun menjadi terdiam dengan menyimpan rasa haru tersendiri di hati mereka masing-masing.
“Tapi kali ini dia menghilang dengan membawa sebagian diriku dalam tubuhnya. Aku harus menemukannya segera. Tidak akan aku biarkan dia pergi terlalu lama dariku.” Batin Melvin menjerit.
“Deo, segera serahkan surat pengunduran gadis ini ke restoran A.” ucap Melvin lalu segera memenjamkan matanya karena jujur saja kepalanya pening karena pola tidurnya yang sudah tidak terjaga lagi.
“Baik tuan.” Jawab Deo.
“Tapi tuan. Jika saya berhenti bekerja di restoran itu maka saya akan makan apa tuan. Saya tidak akan bisa membayar kos. Tidak jangan lakukan itu. Saya janji akan membantu mencari Lila tapi jangan lakukan itu. Saya sangat sulit bisa mendapatkan pekerjaan itu tuan. Saya mohon jangan lakukan itu.” Ucap Yola sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.
“Aku bukan orang jahat seperti itu. Kau akan bekerja di perusahaanku. Biarkan Deo yang mengurusmu. Aku tidak mempercayaimu. Aku sudah mengatakan akan mengawasimu. Jika kau di dekat kami maka aku bisa dengan mudah mengawasimu agar aku bisa menemukannya.” Ucap Melvin tajam.
Yola pun yang tadinya protes akhirnya diam saja karena sudah mendapatkan jaminan atas pekerjaannya. Siapa juga yang akan menolak untuk bekerja di perusahaan terbesar di Negara ini. Hanya orang bodoh yang melewatkan kesempatan ini. Tidak masalah jika dia hanya di jadikan umpan untuk menemukan sahabatnya itu. Setidaknya dia juga bisa tahu di mana sahabatnya berada.
“Lila, aku mohon maafkan aku jika kau membenciku karena yang ku lakukan ini. Aku janji suatu saat nanti aku akan membantumu.” batin Yola.