My Secret With CEO

My Secret With CEO
69


“Ada apa?”


Yola segera menoleh menatap Delon yang menahan nya, “Kita gak usah masuk. Kita pulang saja. Temani aku minum di club.” Ucap Delon lalu langsung menarik Yola itu bahkan sebelum Yola sempat menjawab setuju atau tidak.


“Ish … lepasin Delon. Aku juga belum menjawab setuju. Kamu sudah main tarik-tarik saja. Kenapa sih kau. Aku masih merindukan Lila. Aku masih ingin bersama nya.” Ucap Yola kesal dan segera melepaskan pegangan tangan Delon itu dari lengan nya.


Delon pun menatap Yola dengan tatapan memohon, “Aku mohon Yola temani aku minum.” Ucap Delon.


Yola pun yang menatap Delon memohon jadi kasihan sendiri, “Huh, baiklah. Tapi aku tidak ikut minum. Hanya menemani saja.” ucap Yola.


Delon pun mengangguk lalu dia kembali segera menggandeng Yola pergi meninggalkan rumah sakit itu.


***


Di sisi Lila, kini dia kembali di baringkan Melvin di ranjang, “Terima kasih!” ucap Lila.


“Tidak perlu mengucapkan terima kasih. Kita itu suami istri.” Ucap Melvin.


Lila pun tidak berdebat dan lebih memilih memenjamkan mata nya. Pikiran nya pusing memikirkan Luke. Melvin pun segera menyelimuti Lila lalu setelah itu papi Emran memberi kode kepada Melvin untuk bicara di luar berdua.


Melvin pun segera mengangguk, “Aku ikut dad!” ucap Alex berdiri begitu Melvin hendak keluar menyusul papi Emran yang sudah lebih dulu keluar. Melvin menitipkan untuk menjaga Lila kepada mami nya.


Melvin segera keluar dengan menggandeng sang putra. Papi Emran berada di ruangan nya yang ternyata memang rumah sakit ini milik nya. Melvin pun segera menuju ruangan papi nya berada dan mereka mengetuk di sana.


“Pih, mau membicarakan apa sehingga harus mengajakku ke sini?” tanya Melvin segera duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Papi Emran pun menjawab pertanyaan sang putra justru kini menatap cucu nya, “Kenapa papi justru menatap putraku?” tanya Melvin.


“Karena dia yang akan menjelaskan semua nya.” Ucap papi Emran.


Melvin yang mendengar ucapan papi nya pun kini beralih menatap sang putra, “Ada apa boy? Apa yang ingin kau katakan?” tanya Melvin.


“Apa daddy tidak penasaran siapa itu uncle Luke hingga membuat mommy sangat bersedih seperti itu?” Alex bukan nya langsung menjawab pertanyaan daddy nya itu justru dia balik bertanya.


Melvin yang mendapat pertanyaan putra nya itu pun terdiam beberapa saat lalu kemudian mengangguk, “Iya daddy penasaran nak. Apa kamu tahu?” tanya Melvin lagi.


Alex menggeleng, “Sedikit saja. Tadi aku dan kakek sudah sedikit mencari tahu identitas uncle Luke itu tapi seperti nya mommy menyembunyikan nya. Aku sulit memecahkan kode nya. Hanya saja dugaan mommy memang terikat hubungan dengan uncle Luke. Mommy itu tidak pernah mengkhawatirkan orang lain seperti itu. Lalu di identitas nya yang Alex dapat tadi bahwa mommy pernah mendonorkan darah nya kepada uncle Luke 7 tahun lalu.” Ucap Alex.


“Jadi apa hubungan nya itu?” tanya Melvin.


“Apa daddy belum bisa memikirkan hubungan seperti apa yang mereka miliki?” tanya Alex balik.


Melvin pun terdiam lalu seketika dia terkejut dengan praduga yang muncul dalam otak nya itu.


“Apa iya begitu?” tanya Melvin.


Alex pun mengangguk, “Tapi ini hanya dugaan saja.” ucap Alex lagi.


“Jadi apa kau sudah tahu nak apa yang akan kau lakukan sekarang untuk memastikan nya?” tanya papi Emran.


Melvin pun segera menatap sang papi lalu kemudian mengangguk.


“Aku sudah tahu pih! Akan aku lakukan secepat nya.” Ucap Melvin.


***


Keesokkan hari nya, akhirnya kini Melvin sudah tahu kondisi Lila dari dokter. Secara keseluruhan, jujur saja dia dia tidak menyangka hal itu terjadi pada Lila.


Melvin sambil menggenggam hasil diagnosa Lila itu kini menelpon Deo untuk memastikan bahwa ibu dan kakak tiri Lila tidak kabur. Mereka harus menerima hukuman nya sebelum nanti di serahkan ke pihak yang berwajib. Kini dia yang jadi dendam sendiri.


Begitu Melvin masuk ke ruangan perawatan Lila itu dia pun menatap Lila yang masih terlelap. Perlahan-lahan air mata nya menetes di pipi nya itu, “Ada apa nak?” tanya mami Elea yang melihat putra nya itu menangis.


Melvin pun menatap mami nya itu dan segera mendekati mami nya dan memeluk nya, “Mih, dia lumpuh. Tapi itu tidak masalah. Dia tidak lumpuh total. Bisa sembuh jika di obati. Tapi--”


“Tapi apa?” tanya mami Elea penasaran.


Flash back on


Kini Melvin di panggil oleh dokter ke ruangan nya saat dokter yang menangani Lila itu selesai dinas malam nya. Melvin pun segera menuju ruangan dokter dengan perasaan deg-degan karena dokter mengatakan bahwa hasil lab milik Lila sudah keluar. Semua pemeriksaan nya sudah ada. Sebentar lagi dia akan tahu diagnosa penyakit Lila.


Melvin mengetuk dan begitu di persilahkan masuk dia pun masuk. Melvin tetap menjaga sopan santun nya itu walaupun dia ada putra pemilik rumah sakit.


“Silahkan duduk tuan Melvin.” Ucap dokter itu mempersilahkan Melvin untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Melvin pun segera duduk di sofa itu begitu juga dokter yang duduk di hadapan Melvin dengan kertas di tangan nya hingga membuat Melvin deg-degan.


“Tuan … apa yang mungkin akan saya katakan nanti pasti akan sedikit menyakitan. Tapi memang itu lah kebenaran nya. Saya sendiri pun kaget dengan hasil lab nya. Untuk itu kita akan memastikan nya lagi.” Ucap dokter itu.


“Katakan saja semua nya dokter. Jangan ada yang di tutupi.” Ucap Melvin.


Dokter itu pun mengangguk, “Nona Lila mengalami kelumpuhan di kaki kanan nya itu seperti yang sudah saya prediksi kan sebelum nya tapi itu tidak parah. Bisa sembuh jika dia rutin menjalani terapi nya. Mungkin dalam waktu kurang dari enam bulan bisa sembuh dan berjalan normal seperti sedia kala.” Ucap dokter itu menjelaskan lalu kemudian dia menghela nafas nya.


“Apa ada yang lain lagi dokter? Apa ada penyakit lain yang dia derita?” tanya Melvin menyadari ekspresi berbeda dari dokter.


“Ini juga mengagetkan untuk saya tapi memang laporan ini sudah ada di tangan dan sudah di lakukan. Jadi wajib untuk saya mengatakan nya kepada anda. Tapi sekali lagi kita akan memastikan nya kembali jika memang ada sedikit keraguan.” Ucap dokter itu.


“Ada apa dokter? Katakan saja.” ucap Melvin tidak sabar. Percaya lah saat ini tubuh nya tegang setengah mati. Dia sangat takut akan kenyataan yang akan dia dengar nanti. Dia takut tidak bisa menerima nya nanti.


“Nona Lila di racuni tuan. Racun itu sudah mengalir dalam darah nya.” Ucap dokter itu akhirnya.


“Apa?”