
“Mom!”
Alex dan Alexa segera mendekati Lila dan Lila pun menatap kedua anak nya itu dengan tersenyum dan segera merentangkan tangan nya.
Alex dan Alexa pun segera memeluk mommy mereka itu erat, “Kami rindu padamu mom.” Ucap kedua nya bersamaan.
“Mommy juga rindu pada kalian nak. Maafkan mommy yang beberapa hari ini menghilang dari kalian.” ucap Lila memeluk kedua buah hati nya itu.
“Mom, apa sakit?” tanya Alex menunjuk kaki Lila.
Lila menggeleng, “Gak sakit sama sekali kok. Mommy gak ngerasain apapun.” Jawab Lila.
Perkataan itu bukan menenangkan perasaan Melvin justru membuat nya khawatir akan kemungkinan yang akan terjadi nanti. Lila menyadari tatapan Melvin yang berubah begitu mendengar jawaban nya itu. Dia menatap balutan di kaki nya itu yang memang mati rasa. Seperti nya dia sudah bisa menduga bagaimana keadaan nya saat ini. Dia menerima semua nya yang terpenting dendam nya sudah sedikit terbalaskan. Untuk saat ini yang dia khawatirkan hanya Luke saja.
Dia tidak khawatir akan kehidupan nya di masa depan karena tidak mungkin juga dia bisa bertahan lebih lama lagi karena racun itu sudah menyebar di seluruh tubuh nya. Keinginan nya saat ini yaitu bagaimana cara nya meninggalkan orang-orang yang dia kasihi dalam keadaan tersenyum bahagia.
“Lila!” panggil mami Elea mendekati Lila.
Lila pun melepaskan pelukan nya dari kedua anak nya itu dan menatap ibu dari laki-laki yang menjadi idola nya.
“Iya nyonya!” sahut Lila.
Mami Elea langsung memeluk Lila erat, “Jangan memanggil saya seperti itu Lila. Kamu adalah menantuku.” ujar mami Elea.
Lila pun hanya tersenyum saja dalam pelukan mami Elea itu, “Terima kasih atas kebaikan anda nyonya tapi saya tidak menganggap pernikahan ini ada. Kami tidak pernah menikah dan saya juga tidak ingat pernah mengucapkan janji pernikahan dengan seorang pria.” Ucap Lila tersenyum.
“Aku akan menikahimu. Kita akan ke altar dan menikah di depan pendeta.” Ucap Melvin dengan suara sedikit keras.
Lila hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Melvin itu, “Maaf tuan, saya tidak bisa.” Ucap Lila.
“Mom!” ucap Alexa menyentuh tangan Lila.
Lila pun tersenyum lalu menatap putri nya itu yang dia tahu sedang membujuk nya, “Maafkan mommy nak. Mommy tidak bisa dan itu ada alasan nya.” Ucap Lila lembut.
“Apa alasan nya? Aku ingin tahu.” Ucap Melvin mendekati Lila.
Lila pun kembali tersenyum dan menatap Melvin kembali, “Anda tidak berhak tahu apa alasan nya tuan Melvin. Anda akan rugi menikahi gadis seperti saya. Saya tidak pantas untuk anda.” Ucap Lila.
“Kata siapa begitu? Kau selalu saja mengambil keputusanmu sendiri Lila. Tidak bisa kah mendengar pendapat orang lain?” ucap Melvin sedikit kesal.
“Daddy … jangan memaksa mommy. Dia baru saja sadar. Mommy pasti punya alasan nya sendiri.” Ucap Alex.
Melvin yang mendengar itu pun menghela nafas panjang nya, “Ahh baik lah. Maafkan aku. Lila, kau istirahat lah dulu. Baru kita bicara.” Ucap Melvin menenangkan diri nya.
“Aku ingin melihat Luke!” ucap Lila.
“Tapi aku ingin melihat nya. Aku ingin tahu semua nya. Tidak bisa kah kau mewujudkan keinginan itu tuan Melvin. Aku ingin melihat nya walaupun dari luar saja. Aku tidak bisa tenang jika belum memastikan sendiri kondisi nya sekarang.” Ucap Lila memohon.
Melvin pun mengacak rambut nya frustasi melihat tatapan memohon yang sama yang dia lihat saat Lila memohon untuk menyelamatkan Luke. Dia sungguh penasaran dengan apa hubungan antara Lila dan Luke itu. Jujur saja dia cemburu.
“Baiklah, kau boleh menemui nya tapi dengan syarat kau makan lah dulu. Habiskan makananmu itu.” ucap Melvin menunjuk makanan yang baru saja di antar oleh perawat.
Lila pun mengangguk, “Nyonya, bisa ambilkan makanan itu.” tunjuk Lila.
Mami Elea pun segera mengambil nya dan mendekatkan nya kepada Lila. Lila segera makan dengan lahap dan menghabiskan makanan nya itu dengan lahap. Hingga membuat Melvin semakin menggeram karena cemburu.
“Apa hubungan nya dengan Luke, Lila? Kenapa kau sangat mengkhawatirkan nya. Kau bahkan lebih mengkhawatirkan nya dari pada kondisimu sendiri. Kau bahkan menanyakan kondisi nya tapi tidak dengan kondisimu itu. Aku sangat ingin tahu apa hubungan kalian.” batin Melvin.
Lila hanya menghabiskan makanan nya itu selama 10 menit saja, “Sudah selesai tuan. Apa saya bisa segera menemui nya?” izin Lila setelah menghabiskan minuman nya itu.
“Tunggu sebentar saya minta kursi roda dulu.” Ucap Melvin.
Lila pun diam saja dan menunggu saja hingga Delon dan Yola masuk ke ruangan perawatan Lila itu. Yola terpaku di tempat nya saat melihat Lila yang tersenyum ke arah nya. Yola meneteskan air mata nya melihat sahabat nya itu yang kini berada di hadapan nya setelah hampir enam tahun terpisah.
Lila merentangkan tangan nya dan tersenyum, “La, apa kau tidak ingin memelukku? Tidak merindukanku?” tanya Lila.
Yola pun segera mendekati Lila dan memeluk sahabat nya itu, “Kau dari mana saja Lila? Kenapa kau menghilang selama ini? Kemana kau pergi?” tanya Yola memeluk erat Lila.
Lila tersenyum mendengar pertanyaan sahabat nya itu. Lalu setelah pelukan mereka terlepas Lila menghapus air mata di pipi Yola, “Jangan menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis? Apa ada yang menindasmu lagi?” tanya Lila dengan tatapan menyelidik dan melirik ke arah Melvin sinis.
Yola menggeleng, “Tidak ada yang menindasku. Tuan Melvin sangat baik memperlakukanku. Dia memberiku pekerjaan yang baik. Aku menyukai nya. Justru kau yang perlu di khawatirkan.” Ucap Yola.
“Aku baik-baik saja La. Tidak perlu khawatir. Bukan kah aku kembali dalam keadaan baik-baik saja.” ucap Lila tersenyum.
Yola pun menatap Lila dan menatap ke arah kaki nya, “Kakimu!” ucap Yola.
Lila menggeleng, “Tidak masalah. Aku baik-baik saja.”ujar Lila.
“Kau selalu saja begitu Lila. Kau tidak pernah berubah. Selalu mengutamakan orang lain dulu dari pada keadaanmu sendiri. Selalu saja tidak suka melihat orang lain menangis. Selalu saja mengusap air mata orang lain tapi kau sendiri siapa yang mengusap air matamu itu ketika menangis. Tidak ada bukan. Sekali-kali pikirkan dirimu juga La. Jangan hanya orang lain yang kau pikirkan. Dirimu juga penting.” ujar Yola.
Lila yang mendengar itu pun tersenyum, “Apa masih ada lagi?” tanya Lila.
Yola menggeleng lalu kembali memeluk Lila, “Aku merindukanmu. Kamu harus menjelaskan dan menceritakan semua nya padaku. Kemana saja kau selama ini.” ujar Yola.
Lila pun mengangguk, “Baiklah. Tentu saja aku akan cerita padamu, La.” Ucap Lila lalu beralih menatap Delon.
“Delon, kau tidak ingin memberiku pelukan?” tanya Lila menatap sahabat nya itu.