
Di sisi Melvin, kini dia sudah tiba di Negara Y. Pesawat pribadi keluarganya itu baru saja mendarat setelah beberapa jam mengudara.
“Tuan, apa kita langsung ke desa S?” tanya Deo.
Melvin pun mengangguk, “Kita harus ke sana secepatnya. Kita harus memastikannya sendiri.” Jawab Melvin.
Deo pun mengangguk, “Baik tuan. Ohiya tuan pergilah lebih dulu sudah ada mobil yang menunggu di luar.” Ucap Deo karena Deo masih mengurus urusan pesawat pribadi milik Melvin itu.
Melvin pun mengangguk dan dia pun segera keluar bandara itu dan menunggu Deo di luar. Sekitar lima belas menit saja Deo keluar dengan berlari mendekati mobil di mana tuannya itu berada.
“Tuan!” ucap Deo terengah-engah.
Melvin pun segera menoleh dan mengangkat keningnya bingung menatap asistennya itu, “Ada apa?” tanya Melvin.
“Tuan, sepertinya kita harus mengubah rencana kita.” Ucap Deo mulai tenang.
“Kenapa?” tanya Melvin.
“Karena nona Lila dan anak-anak anda itu sudah tidak ada di Negara ini.” jawab Deo.
Melvin yang mendengar ucapan asistennya itu pun kaget, “Apa maksudmu?” tanya Melvin dengan suara yang sudah naik satu oktaf.
“Itu benar tuan. Nona Lila sudah pergi dari Negara ini pagi tadi. Dia pergi dengan anak-anak anda ke Negara N.” ucap Deo.
Melvin yang ingin marah kini semakin terkejut dengan ucapan asistennya itu, “Negara apa Deo? Ulangi lagi. Dia ke mana?” tanya Melvin.
Deo mengangguk dan tersenyum, “Negara N tuan. Dia kesana.” Ucap Deo.
“Kau tidak berbohong kan Deo? Kau mendengar ini dari mana?” tanya Melvin tidak percaya. Tapi percayalah jauh di lubuk hatinya saat ini sedang berbahagia karena gadis yang dia cari sudah kembali ke Negara asalnya.
Deo pun segera menjelaskan sampai bagaimana dia tahu bahwa Lila telah kembali ke Negara N dengan dua anak bersamanya.
“Kalau memang begitu kita harus kembali Deo. Aku akan menemukannya. Tapi aku tetap ingin memastikannya sekali lagi. Aku tidak ingin tertipu lagi.” Ucap Melvin setelah mendengar penjelasan asistennya itu.
Deo pun menganguk lalu Melvin pun segera mengecek jadwal penerbangan hari ini dan benar saja tepat pukul 09.00 tadi pagi. Nama Greyila El Bara terpampang jelas di saja beserta nama kedua anaknya Alexander Eliot A. dan Alexandria Elaina A.
“Deo, nama mereka sangat bagus. Lila memberi mereka nama yang bagus. Kita harus segera kembali Deo. Aku akan segera menemui mereka. Ohiya perintahkan orang untuk mencari mereka.” ucap Melvin.
“Sudah tuan. Saya sudah melaksanakan itu. Saya sudah meminta mereka untuk mencari tahu.” Ucap Deo.
Melvin pun menepuk bangga bahu asistennya itu, “Terima kasih Deo selalu ada untukku.” Ucap Melvin tersenyum. Senyuman yang tidak mengandung keterpaksaan sama sekali. Melvin dan Deo pun segera berbalik ke Negara N dengan pesawat pribadi itu.
***
Di sisi Lila kini dia menatap kedua buah hatinya yang sedang tertidur itu. Lila tersenyum melihat hal itu. Lalu setelah itu Lila pun segera mengambil ponselnya dan menuju balkon hotel itu dan menelpon seseorang.
“Halo, apa kabarmu Delon?” ucap Lila.
“Lila ahh maksudku nona Lila. Kau ada di mana sekarang? Kenapa baru menghubungiku dan menghilang selama ini.” ucap Delon dari seberang. Terdengar suaranya bergetar menahan tangis.
Lila yang menyadari itu tersenyum, “Delon, apa kau menangis. Hey, jangan menangis. Aku baik-baik saja. Aku sekarang ada di Negara ini. Aku sudah kembali dan baru saja tiba di sini.” Ucap Lila.
“Aku akan menemuimu nona.” Ucap Delon.
“Apa kau tidak ingin bertanya aku ada di mana sekarang?” tanya Lila tersenyum.
“Aku menunggumu Delon.” Ucap Lila. Lalu sambungan telepon di antara mereka pun terputus.
Setelah itu Lila menelpon seseorang lagi, “Halo, paman? Apa kabarmu?” tanya Lila.
“Lila? Kau kah itu nak? Di mana dirimu sekarang nak?” tanya pengacara Jay dari seberang.
“Paman aku baik-baik saja. Aku akan di Negara N sekarang. Aku akan menemuimu nanti untuk warisanku yang sudah kau serahkan pada seseorang.” Ucap Lila.
“Nak, paman hanya--”
“Aku tahu paman. Tapi tetap saja aku harus menemuimu untuk masalah ini. Kita bicarakan nanti saja. Aku harus menemui tamuku dulu.” Ucap Lila. Lalu sambungan telepon di antara mereka pun terputus.
Setelah itu Lila melihat layar ponselnya, “Aku akan menunggu sampai kau menelponku idolaku.” Ucap Lila tersenyum.
Setelah itu dia keluar karena Delon mengirim pesan sudah berada di depan. Lila pun segera keluar tapi dia tetap memastikan bahwa anak-anaknya itu tertidur.
“Wah, ternyata kehebatanmu itu masih lumayan Delon. Bisa menemukanku secepat ini.” Puji Lila.
“Apa kabarmu Delon?” ulang Lila karena Delon tadi tidak menjawab pertanyaannya itu.
Delon menatap Lila dengan tatapan terharu, “Aku baik-baik saja nona. Kau yang jahat pergi tanpa memberitahuku. Apa aku tidak penting untukmu?” ucap Delon.
“Hey, kau itu penting untukku Delo. Kau sudah membantuku untuk menghapus rekaman CCTV itu. Aku sangat berhutang padamu. Makanya untuk itu aku pergi tanpa memberitahumu karena aku tahu kau akan mengupayakan perlindungan untukku. Aku ingin mencoba kemampuanku sendiri dengan lari dari kalian semua.” Ucap Lila tersenyum.
Delon pun hanya diam saja, “Kau membuatku khawatir nona. Jangan lakukan itu lagi. Ohiya kau pergi ke mana selama ini? Kenapa baru kembali?” tanya Delon.
“Hey, Delon apa kau akan mewancaraiku seperti kau reporter saja. Ini pertemuan kita pertama kali setelah aku kembali. Jadi setidaknya traktir aku minum dan makan. Bukan mengajukan banyak pertanyaan seperti itu di depan hotel begini.” Ucap Lila.
Delon pun tersenyum, “Ahh maaf nona. Ayo kita ke restoran di depan.” Ucap Delon.
Lila pun menurut saja dan kini mereka sudah berada di restoran dan memesan minuman untuk mereka.
“Aku pergi ke Negara Y Delon. Aku pergi ke tempat di mana mommy dan daddy berbulan madu.” Ujar Lila.
“Kenapa tidak ada catatan apapun mengenai penerbanganmu nona?” tanya Delon.
Lila pun tersenyum, “Itu adalah rahasiaku Delon. Cukup kau tahu saja kemana aku pergi dan kini aku kembali dengan baik-baik saja.” ucap Lila.
“Ohiya, Delon apa kau mengawasi perusahaanku dengan baik?” tanya Lila.
“Itu selalu aku lakukan nona. Walaupun ayah memberikan kepercayaan kepada idolamu itu tapi aku tetap mengawasinya.” Jawab Delon.
Lila pun tersenyum, “Terima kasih Delon. Aku sangat berterima kasih untuk itu.” ucap Lila.
“Kau tidak perlu berterima kasih nona. Ini sudah kewajibanku.” Ucap Delon.
Lila pun mengangguk, “Aku sangat bangga denganmu Delon. Carilah pasangan hidupmu. Kau sudah cukup umur untuk menikah.” Ucap Lila.
“Aku tidak ingin menikah nona dan jika pun menikah aku hanya akan menikahi satu orang saja.” ucap Delon menatap Lila.
“Siapa?”