
Melvin yang menyadari bahwa Lila sedang dalam keadaan canggung bukan nya mundur dan menjaga jarak di antara mereka melainkan dia menambah mengikis jarak antara dia dan Lila. Jujur saja dia suka saat mereka dalam jarak dekat seperti ini. Dia bisa merasakan bau tubuh Lila yang menurut sangat menggoda. Pantas saja dulu dia tidak bisa menahan hasrat nya itu untuk tidak menyentuh Lila. Sekarang dalam keadaan sadar pun dia tergoda hanya dengan mencium bau tubuh Lila. Apalagi enam tahun lalu di mana kedua nya berada di bawah pengaruh alkohol.
“Mau kemana?” ulang Melvin saat menyadari bahwa Lila sedang menahan sesuatu. Lalu Lila juga tidak bisa menjawab dan menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini.
“Apa kau canggung?” tanya Melvin lagi padahal tanpa di tanya pun dia merasakan bahwa Lila canggung.
“Tuan, bisa kah bantu saya ke kamar mandi? Saya ingin buang air.” Uca Lila lirih menahan rasa malu yang menjalar ke wajah nya. Lebih baik begitu dari pada dia akan kebelet buang air di sini.
Melvin yang mendengar itu pun tanpa basa basi langsung menggendong Lila ke kamar mandi dan dia meletakkan nya di kamar mandi dengan perlahan, “Apa mau saya tunggu?” tawar Melvin mencoba peruntungan. Siapa tahu aja kan Lila khilaf dan mengizinkan nya.
Lila yang mendengar itu menggeleng, “Tidak perlu. Saya bisa sendiri. Terima kasih.” Ujar Lila.
Melvin pun tersenyum lalu dia segera keluar dari kamar mandi karena tidak ingin Lila menahan rasa ingin buang air nya itu lebih lama lagi yang nanti nya akan berakibat fatal. Memang terlihat sepele tapi kita tidak tau bahwa hal sepele itu bisa menyebabkan sesuatu yang besar nanti jika tidak di cegah sedini mungkin.
Melvin menunggu Lila dari luar kamar mandi. Dia senang bisa membantu Lila dalam aktivitas nya itu. Kedekatan mereka membawa hawa yang menggembirakan untuk nya. Dia ingin selalu seperti ini.
Sekitar lima belas menit kemudian, Lila membuka pintu kamar mandi itu dengan perlahan. Melvin pun segera menggendong Lila kembali ke ranjang, “Terima kasih tuan.” Ujar Lila.
“Tidak perlu mengucapkan terima kasih. Kamu adalah tanggung jawab saya. Kamu juga harus terbiasa dengan kedekatan kita. Tidak perlu canggung. Kau harus membiasakan dirimu mulai saat ini. Tiga hari lagi kita akan menikah secara agama dan juga Negara. Kedekatan seperti ini akan selalu terjadi. Saya harap kau tidak akan keberatan untuk itu.” ujar Melvin lalu menyelimuti Lila.
“Ohiya, tidak perlu berpikiran terlalu jauh. Kedekatan kita tidak akan melampaui batas. Semua tergantung keputusanmu. Saya tidak akan memaksa. Yang utama untuk saya saat ini adalah kita menikah dan kau selalu ada di samping saya untuk selama nya. Kesembuhanmu akan jadi prioritas utama. Kau tidak perlu pikirkan bagaimana hubungan kita setelah menikah nanti dalam tanda kutip hubungan ****. Hal itu saya tidak akan memaksa apapun. Jika hal terkait kesembuhanmu maka mau tak mau kau memang harus melakukan nya. Karena saya akan memaksa untuk hal itu.” sambung Melvin serius.
Lila yang mendengar itu pun tersenyum lalu dia mengangguk saja. Sejujur nya memang saat Melvin menyinggung terkait membiasakan kedekatan di antara mereka. Pikiran nya sudah berkelana sangat jauh. Tidak tertinggal juga tentu saja hubungan batin antara pasangan suami istri pada umum nya itu ada di pikiran nya. Tapi kini dia sangat bersyukur atas ucapan Melvin yang seharus nya bisa dia percaya. Semoga saja Melvin tidak akan berkhianat atas perkataan nya itu.
“Tuan!” panggil Lila.
Melvin pun segera menatap Lila karena dia sedang fokus menata yang ada di meja di dalam ruangan itu.
“Ada apa? Apa kau butuh sesuatu? Katakan saja.” ucap Melvin.
“Bisa kah panggilkan kakak saya tuan?” tanya Lila pelan.
“Luke?” tanya Melvin memastikan. Lila pun mengangguk sangat yakin.
Melvin pun mengangguk lalu tersenyum. Dia mengusap kepala Lila, “Baiklah, aku akan panggilkan Luke. Tapi ada syarat nya.” ucap Melvin tersenyum.
“Syarat? Syarat apa tuan?” tanya Lila dengan nada lirih takut syarat nya adalah hal yang tidak bisa dia lakukan.
“Tenang saja tidak perlu takut begitu. Saya tidak akan mengajukan syarat yang tidak bisa kau lakukan. Ini sangat mudah kok. Syarat nya yaitu bisa kah kau jangan panggil saya tuan? Panggil dengan sebutan lain.” Ucap Melvin mengutarakan syarat nya. Syarat yang sebenar nya adalah sebuah keinginan. Dia tidak ingin Lila memanggil nya tuan tapi tentu saja dia juga tidak bisa memaksa Lila untuk melakukan hal itu. Jadi setidak nya memanfaatkan hal ini bisa dia lakukan.
“Terus saya harus panggil dengan apa?” tanya Lila balik.
“Apa saja. Terserah dirimu. Tapi jangan tuan. Saya bukan majikanmu dan kamu juga bukan bawahan saya. Kamu itu istri saya dan juga mommy Alex dan Alexa.” Ucap Melvin menegaskan.
Lila yang mendengar ucapan Melvin pun terdiam sambil memikirkan panggilan apa yang cocok untuk Melvin, “Saya butuh waktu untuk memikirkan nya. Tolong beri saya waktu.” ucap Lila.
Melvin pun mengangguk, “Baiklah. Saya tunggu sampai hari di mana kita menikah. Setelah itu jangan ada panggilan tuan lagi? Bagaimana?” tanya Melvin meminta persetujuan dari Lila.
Lila pun mengangguk setuju, “Baiklah, karena kau sudah setuju. Saya akan panggilkan kakakmu itu. Tunggu sebentar.” Ucap Melvin segera menuju pintu keluar tapi begitu hendak membuka pintu dia menghentikan langkah nya lalu berbalik dan kembali mendekati Lila lalu tanpa aba-aba dia segera melabuhkan kecupan hangat di kening Lila.
“Saya sudah mengambil bayaran nya.” ucap Melvin tersenyum. Baru lah setelah itu dia benar-benar keluar dari ruangan Lila dan menuju ruangan Luke. Melvin tentu saja berjalan menuju ruangan Luke dengan wajah sumringah nya.
Lain hal nya dengan Melvin, Lila justru lagi-lagi terpaku dengan apa yang di lakukan Melvin itu. Memang bukan kecupan di bibir seperti beberapa saat lalu tapi tetap saja sebuah kecupan yang di berikan Melvin itu membuat nya lagi-lagi kaget. Seperti nya dia memang harus membiasakan hal itu seperti apa yang di katakan Melvin.
***
Tidak lama Luke segera masuk ke ruangan perawatan Lila itu dengan senyum menghias bibir nya menatap sang adik. Luke mendekati Lila lalu dia mengecek nadi adik nya itu.
“Jangan bicara hal seperti itu dek. Kakak yakin kau pasti akan sembuh.” Ucap Luke lembut dan untuk pertama kali nya dia memposisikan diri nya sebagai seorang kakak. Walaupun agak canggung untuk nya tapi dia harus membiasakan diri. Bukan kah memang hal yang wajar jika canggung karena selama ini dia menganggap Lila itu nona nya dan juga orang yang sudah menolong nya tapi dalam sekejab status di antara berubah menjadi sepasang adik dan kakak.
Lila yang mendengar ucapan Luke yang memanggil nya dengan sebutan adik itu pun terharu dan segera memeluk Luka, “Kakak!” panggil nya menangis di bahu Luke. Akhirnya dia bisa menumpahkan perasaan nya itu.
Luke pun membalas pelukan adik nya itu, “Tidak perlu khawatir. Tuan Melvin pasti akan mengusahakan yang terbaik untukmu. Kakak juga akan mendapatkan nya untukmu. Jika ada racun pasti ada penawar nya bukan maka kakak akan mendapatkan nya untukmu. Yang terpenting kamu tidak akan menyerah lagi.” Ucap Luke memeluk adik nya itu.
Lila pun mengangguk dalam pelukan kakak nya itu. Akhirnya, kini dia sedikit memiliki harapan hidup setelah beberapa waktu belakangan ini hanya mencoba ikhlas menerima takdir nya yang bisa sewaktu-waktu pergi karena racun di tubuh nya itu. Seperti nya dukungan keluarga memang sedikit membuat nya memiliki harapan hidup.
Luke melepas pelukan nya dan mengusap air mata di pipi Lila dengan lembut, “Jangan menangis lagi. Tidak perlu sedih. Kau harus bahagia. Bukan kah kau akan menikah tiga hari lagi dengan tuan Melvin. Maka kau harus cantik. Jangan buat wajahmu kusut dengan kesedihan. Pernikahan ini harus jadi yang terbaik bukan.” Ucap Luke.
“Apa yang sudah ku lakukan ini benar kak? Menikah dengan tuan Melvin apa itu keputusan yang benar?” untuk pertama kali nya dalam hidup nya sejak kematian mommy nya, Lila meminta pendapat orang lain untuk mengambil keputusan dalam hidup nya.
“Apa kau meragukan tuan Melvin?” tanya Luke balik.
Lila menggeleng, “Aku tidak meragukan nya kak. Hanya saja aku merasa tidak pantas untuk nya. Dia adalah laki-laki normal dan sehat. Dia bisa menikah dengan wanita yang sehat dan juga sepadan dengan nya. Tidak seperti aku yang sakit, sudah lumpuh dan dalam tubuhku ada racun yang tidak di ketahui jenis nya. Dia pantas mendapat yang lebih baik.” ucap Lila mengungkapkan kekhawatiran nya.
“Kenapa harus takut seperti itu dek? Kakak yakin tuan Melvin menerimamu apa ada nya. Dia tidak akan menuntut kesempurnaan darimu. Kau tidak perlu merasa minder seperti itu. Jujur saja jika kita mungkin tidak memiliki hubungan darah dan di ciptakan sebagai orang asing. Kakak mungkin akan jatuh cinta padamu juga. Kau itu sempurna dek. Hanya sedang mendapat ujian saja.” ucap Luke menenangkan Lila.
Jujur saja dia juga berpikiran sama seperti Lila beberapa saat lalu. Tapi kemudian kini tidak lagi setelah melihat bagaimana Melvin dan keluarga nya memperlakukan Lila. Dia merasa sangat senang karena seperti nya Lila mendapatkan keluarga yang baik untuk nya. Tidak ada keraguan lagi di hati nya untuk menyerahkan adik yang baru dia ketahui itu kepada Melvin dan keluarga nya.
Lila yang mendengar penuturan Luke pun tersenyum dan menimbulkan pertanyaan di benak nya, “Jika memang begitu kenapa kakak tidak jatuh cinta padamu selama ini? Bukan kah sebelum ini kita adalah orang asing?” tanya Lila.
Luke yang mendengar itu pun terkekeh, “Kakak juga heran akan hal itu dek. Entah kenapa kakak tidak memiliki perasaan apapun kepadamu sebagai seorang pria dan wanita. Kakak menganggapmu sebagai nona dan penolong yang pantas di hormati. Tidak ada terbersit dalam pikiran kakak rasa cinta sebagai seorang pria kepada wanita jika memandangmu. Seolah-olah memang sudah ada tembok yang membatasi itu. Tembok yang mencoba mengatakan bahwa kita memilik darah yang sama yang tidak boleh saling jatuh cinta. Baru kakak sadari saat ini ternyata takdir memang sudah di atur untuk kita.” Ujar Luke.
Lila yang mendengar itu pun tersenyum dan mengangguk, “Kak, setelah aku menikah nanti. Aku juga ingin melihatmu menikah.” Ucap Lila.
Luke menggeleng, “Tidak. Kamu saja dulu yang menikah. Kakak belum berpikiran ke sana. Masih banyak yang harus kakak lakukan. Kakak bahkan belum sempat mengunjungi makam mommy dan daddy. Jadi tidak. Kakak ingin memastikan kebahagiaanmu dulu.” Ucap Luke menolak.
“Tetap saja kak. Kau harus menikah. Aku memang akan menikah tiga hari lagi tapi aku sudah punya dua anak yang lucu dan menggemaskan. Aku juga ingin memeluk dan menggendong keponakanku. Dan itu hanya bisa kau wujudkan kak sebagai satu-satu nya saudara yang ku miliki.” Ucap Lila.
“Kakak akan mewujudkan nya nanti. Tidak sekarang. Ohiya, jika kau memang ingin memeluk keponakanmu itu maka itu arti nya kau harus bersemangat untuk sembuh. Kakak janji jika kau sembuh nanti maka kakak akan menikah.” Ucap Luke.
Lila yang mendengar itu pun tersenyum, “Janji?” tanya Lila.
“Janji.” jawab Luke mengangguk.
“Baiklah. Aku akan melakukan pengobatan apapun.” Ucap Lila. Luke yang mendengar itu pun senang.
Untuk saat ini memang yang jadi fokus nya adalah kesembuhan Lila. Dia tidak ingin memikirkan diri nya dulu. Sebagai seorang kakak dia akan memastikan kebahagiaan adik nya dulu sebelum kebahagiaan nya.
***
Keesokkan pagi nya, kini Melvin begitu bangun langsung di panggil oleh dokter yang menangani Lila dan Luke untuk menemui nya. Melvin yang memang tidur di ruangan perawatan Lila pun tersenyum dan melambuhkan kecupan lembut di kening Lila yang masih terlelap itu sebelum dia pergi menuju ruangan dokter.
“Apa ada kabar baik dokter?” tanya Melvin to the point begitu tiba di ruangan dokter.
Dokter itu pun mengangguk, “Setelah kami menganalisa darah nona Lila dan tuan Luke di laboratorium dapat kami simpulkan bahwa mereka memiliki DNA yang unik.” Jelas dokter itu.
“Saya tidak mengerti dokter. Bisa jelaskan secara spesifik lagi atau yang bisa saya pahami.” Ucap Melvin.
“Begini tuan Melvin ini juga baru prediksi kami. Kemungkinan besar darah tuan Luke akan bisa jadi obat untuk nona Lila. Sebelum nya kita ketahui bahwa tuan Luke pernah mendapat donor darah dari nona Lila. Darah nona Lila yang saat itu kemungkinan besar belum tercemar racun apapun. Darah nona Lila itu bergabung dengan darah tuan Luke dan membuah satu DNA baru yang seperti nya menjadi DNA yang kuat. Tapi ini baru prediksi kami saja setelah melihat DNA kedua nya. Untuk memastikan nya lagi kami harus mengambil darah mereka lagi.” Ujar dokter itu.
Melvin yang mendengar itu pun mengangguk mengerti, “Baiklah dokter saya sedikit paham. Tapi jika memang ini akan bisa jadi penawar nya maka lakukan saya yang terbaik. Saya juga akan mendatangkan dokter terbaik ke sini.” Ucap Melvin. Dokter itu pun hanya mengangguk menyetujui.