My Secret With CEO

My Secret With CEO
124


“Hubby … apa yang terjadi di si--”


Lila yang dari kamar hanya bisa syok menatap dapur kecil itu kini sudah jadi kapal pecah dengan tepuk di mana-mana. Lalu pakaian Melvin juga sudah penuh tepung begitu juga dengan dua pelayan bersama suami nya itu.


Lila menepuk kening nya, “Oh My God.” Ucap Lila.


“Sayang … kamu tunggu di sana saja. Tidak perlu ke sini. Tunggu di sana saja. sarapan akan segera siap.” Ucap Melvin.


Lila menggeleng dan mendekati suami nya itu, “Hati-hati sayang nanti kamu jatuh.” Ucap Melvin.


“Mami!” sapa Lila saat menyadari panggilan video yang tersambung.


“Nak … kau baik-baik saja?” tanya mami Elea tersenyum bahagia saat menatap wajah menantu nya itu yang bisa dia lihat sudah membaik.


“Aku baik-baik saja Mih. Tapi kini aku pusing melihat dapur di sini yang sangat berantakan.” Ucap Lila.


Mami Elea pun terkekeh, “Itu karena dia yang bersikeras ingin membuatkanmu pizza telur nak padahal sebelum nya dia tidak pernah memasak.” Ucap mami Elea.


Lila yang mendengar ucapan ibu mertua nya itu pun segera menatap sang suami, “Jangan dengar apa yang mami ucapkan.” Ucap Melvin.


“Dear … lebih baik kau duduk di sana dan bicara lah dengan mami. Ini sebentar lagi selesai.” Sambung Melvin.


Lila pun menurut setelah memastikan bahwa suami nya itu memang sudah di step terakhir. Dia tidak menyangka bahwa suami nya itu akan memasak sendiri pizza telur untuk nya. Dia pikir akan meminta bantuan dari pelayan tapi dengan resep mami Elea. Jika dia tahu akan seperti ini lebih baik dia tidak meminta hal itu.


“Nak … tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Sekali-kali seorang suami memasakkan untuk kita istri mereka itu tidak masalah sama sekali. Lagi pula kamu tidak memaksa nya bukan.” Ucap mami Elea saat bisa melihat raut wajah bersalah dari menantu nya itu.


“Tapi tetap saja mih. Dia yang tidak pernah menyentuh dapur hanya karena ingin membuatkan pizza untukku dia rela memasak padahal itu bukan keahlian nya.” ucap Lila menatap mami Elea di layar ponsel suami nya itu.


“Ck … itu tidak masalah sayang. Sudah jangan pikirkan hal itu lagi. Sekarang katakan kepada mami bagaimana pengobatanmu?” tanya mami Elea mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin Lila kepikiran hal yang seharus nya tidak di pikirkan.


“Pengobatanku? kemarin aku belum melakukan pengobatan Mih. Nanti hari ini kami akan melanjutkan pengobatan. Mami tidak perlu khawatirkan apapun. Aku baik-baik saja.” Jawab Lila tersenyum.


Hanya itu saja yang akan dia katakan. Dia tidak perlu menceritakan apa yang sudah terjadi di sini. Dia tidak ingin mertua nya itu khawatir apalagi jika sampai kedua buah hati nya sampai tahu.


“Syukur lah jika memang begitu. Mami senang mendengar nya nak.” ucap mami Elea.


“Mih … anak-anak di mana?” tanya Lila.


“Mereka ada di sekolah nak. Kemarin mereka mengatakan bahwa mereka akan ikut lomba karena lomba yang di buat oleh Melvin di tunda. Jadi mereka akan ikut lomba yang lain. Mereka sudah mengatakan akan menghubungi kalian nanti tapi seperti nya mereka belum menghubungi kalian untuk memberitahukan hal itu. Mami harap kamu jangan mengatakan bahwa mami sudah jadi ember bocor.” Ucap mami Elea.


Lila yang mendengar itu pun tersenyum, “Gak akan mih. Terima kasih sudah mengatakan hal ini kepada Lila. Ohiya … terima kasih juga sudah menjaga mereka dengan baik mih.” Ucap Lila.


“Hey … tidak perlu meminta maaf sayang. Kami senang bisa menjaga mereka. Kami bisa dekat dengan cucu kami.” ucap mami Elea tersenyum.


“Sarapan sudah siap!” ucap Melvin yang membawa piring ke meja makan.


Lila pun tersenyum melihat suami nya yang terlihat sangat lucu dengan celemek warna pink nya.


“Nak … kalian sarapan lah dulu. Mami akan menutup sambungan telepon nya.” Ucap mami Elea menyadari bahwa putra dan menantu nya itu butuh waktu untuk makan.


Lila dan Melvin pun mengangguk. Tidak lama kemudian sambungan telepon pun segera terputus.


“Ayo sayang di coba. Semua saja sesuai dengan seleramu.” Ucap Melvin menghidangkan satu piring pizza telur itu ke hadapan istri nya.


Lila pun memandangi makanan hasil buatan suami nya itu. Dari segi tampilan nya sih sudah terlihat cantik dan enak tapi tidak tahu bagaimana rasa nya.


“Aku akan mencoba nya.” ucap Lila.


Melvin pun mengangguk lalu dia mengatupkan kedua tangan nya hingga Lila yang melihat itu pun terkekeh, “Hubby … kenapa begitu? Kenapa coba sampai mengatupkan kedua tangan seperti itu?” ucap Lila.


“Aku baru sekali membuat nya. Jika ada yang sala--” ucapan Melvin terhenti saat Lila menyuapkan sepotong pizza itu ke mulut nya.


“Sayang … bagaimana rasa nya?” tanya Melvin takut saat melihat ekspresi yang di tunjukkan istri nya itu.


Lila pun terkekeh melihat suami nya yang tegang, “Ini lezat kok suamiku. Sudah bisa di katakan mirip dengan buatan mami kok. Hanya sedikit asin saja.” ucap Lila.


Melvin yang mendengar itu pun segera mengambil sepotong pizza itu dan mencicipi nya, “Dear … ini bukan sedikit asin tapi keasinan. Sudah jangan di makan.” Ucap Melvin.


“Tidak apa-apa by. Ini masih bisa di makan kok. Kita tidak boleh membuang makanan. Ini tidak asin kok. Ada cinta suamiku di dalam nya saat membuat nya jadi tidak masalah sama sekali. Ini enak kok.” ucap Lila kembali memasukkan sepotong pizza itu ke mulut nya.


“Sayang … jangan memaksa untuk memakan nya jika memang tidak bisa. Ayo lah kita ganti saja. Aku akan pesankan sarapan untukmu.” Ucap Melvin.


Lila menggeleng, “Ini bisa di makan kok by. Tidak perlu memesan makanan apapun. Tapi bisa kah bawakan sisa kue yang kemarin.” Ucap Lila.


Melvin pun mengangguk dan segera meminta pelayan untuk membawakan kue yang kemarin. Lila pun sarapan dengan pizza telur buatan suami nya itu terus dengan kue yang di beli kemarin.


Melvin yang melihat istri nya menghabiskan makanan itu pun merasa bersalah karena dia terlihat seperti suami yang tidak bisa memenuhi kebutuhan makan istri nya. Lila hanya makan pizza telur yang asin terus dengan kue sisa kemarin. Suami macam apa dia.


“Hubby … ayo pesankan makanan lain untukku. Aku masih lapar.” Ucap Lila dengan wajah penuh senyum nya.


Melvin pun mengangguk dan segera memesan menu sarapan yang layak untuk istri nya itu. Lila yang melihat itu pun tersenyum. Dia sengaja melakukan itu karena dia tahu Melvin pasti merasa bersalah karena sudah membuat nya sarapan makanan seperti itu padahal tidak masalah sedikit pun untuk nya hal itu.


“Tunggu sebentar ya sayang. Maaf sudah membuatmu sarapan dengan makanan seperti ini. Aku akan belajar membuatkan pizza seperti itu lagi untukmu.” Ucap Melvin.


“Baiklah. Aku menantikan hal itu. Tapi ini tidak bisa di katakan buruk juga by. Ini hanya sedikit asin saja, untuk hal lain nya lezat kok mirip buatan mami.” ucap Lila.


“Tetap saja itu gagal sayang dan kau memakan nya.” ucap Melvin.


“Suamiku sudah membuat nya dengan penuh cinta jadi aku harus menghabiskan nya.” ucap Lila.


Melvin yang mendengar itu pun tersenyum dan menghela nafas nya, “Terima kasih ya sayang kamu sudah menghargai makanan buatanku untuk pertama kali nya.” ucap Melvin.


Lila pun mengangguk, “Untuk itu lah aku merasa special karena suamiku ini rela memasak untuk pertama kali hanya karena ingin membuatkanku makanan. Lain kali aku akan memasakkan sesuatu untukmu by. Aku sudah jadi istrimu selama sebulan lebih ini tapi aku belum pernah memasak untukmu sama sekali.” Ucap Lila.


“Aku tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali sayang.” ucap Melvin.


“Tapi tetap saja aku ingin memasak untukmu juga by.” Ucap Lila.


Melvin pun tersenyum dan mengangguk. Dia merasa Lila sudah menerima nya secara utuh. Dia akan menantikan masakan istri nya itu yah walaupun memasak bukan syarat utama untuk jadi istri nya. Dia menikahi Lila bukan untuk menjadikan istri nya itu pembantu tapi ingin meratukan istri nya.


Dia mencintai Lila dengan segala yang ada pada diri nya. Istri nya itu terlalu istimewa karena dia mendapatkan nya setelah melewati berbagai macam upaya yang bisa di katakan sangat sulit.


“By … apa kakak sudah sarapan?” tanya Lila.


“Sudah dong dek.” bukan Melvin yang menjawab tapi Luke yang tiba-tiba masuk dan menjawab pertanyaan adik nya itu.


Lila pun tersenyum menatap kakak nya itu, “Kak ikutlah sarapan lagi bersama kami.” pinta Lila.


“Ehh kakak sudah sarapan dek.” tolak Luke.


“Tidak ada penolakan kak.” Ucap Lila.


Luke pun akhirnya menurut karena dia tahu adik nya itu suka memaksa seperti Melvin. Mereka memang pasangan yang serasi. Memiliki sifat yang mirip.


Tidak lama pesanan Melvin datang dan ketiga orang itu pun menikmati sarapan itu dengan senang dan bahagia sambil bercerita ini dan itu.