
Lila menangatakan itu dengan nada santai nya sambil menatap kedua pria kesayangan nya itu.
Melvin dan Luke hanya menghela nafas mereka.
"Kami hanya heran saja kau ternyata masih memiliki kekuasaan itu." ucap Melvin.
Lila tersenyum mendengar ucapan suami nya, "Aku bukan masih punya kekuasaan itu hanya saja pengawasan kalian padaku menjadi kurang waspada hingga aku bisa melakukan pengecekan kesehatan secara diam-diam. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi bukan pengawasan kalian yang berkurang hanya saja keberuntungan masih berpihak padaku. Jadi bukan kah faktor hoki dan lucky itu sangat berpengaruh dalam kehidupan kita." ucap Lila lalu mengambil camilan di hadapan nya karena jujur saja perut nya kini merasa sangat lapar. Kalori dalam tubuh nya sudah di pakai saat melakukan aktivitas bersama sang suami.
Melvin yang melihat Lila mengambil camilan pun mengerti bahwa istri nya itu saat ini tengah kelaparan. Melvin segera mengirim pesan kepada kepala pelayan untuk mempercepat makanan karena dia tidak ingin menjadi suami yang tidak bertanggung jawab dengan membiarkan istri nya itu kelaparan padahal dia lah penyebab istri nya kelaparan.
"Hm, tidak perlu heran atau pun terkejut dengan apa yang aku lakukan. Bukan kah aku memang sudah terbiasa melakukan hal seperti itu. Saat ini kita fokus saja kepada masalah saat ini. Aku ingin dengar keputusan kalian. Apa kalian akan membiarkan kita pulang bersama atau seperti apa. Tapi besar harapanku agar kita pulang bersama karena kita berangkat ke sini di hari yang sama walaupun berbeda pesawat. Selain itu juga aku sudah sembuh dan ingin segera bertemu dengan anak-anak. Aku merindukan si kembar." Ucap Lila masih menikmati camilan di sana.
Luke dan Melvin kembali saling menatap satu sama lain, "Jika dari kakak terserah kalian saja. Kakak akan bicarakan lahi dengan asisten kakak jika memang harus menunda kepulangan kita. Lagi pula kesehatanmu lebih penting dari apapun." ucap Luke.
Lila pun mengangguk mendengar ucapan kakak nya itu dan kini beralih menatap sang suami yang belum memberikan pendapat nya, "Bagaimana denganmu by?" tanya Lila.
Melvin pun menarik nafas panjang dan menatap lekat sang istri, "Aku bukan meragukan hasil tes kesehatan yang sudah kau lakukan. Aku percaya bahwa itu benar dan aku sangat senang mengetahui hal ini. Mengetahui bahwa racun dalam tubuhmu sudah menjadi netral dan membuat usaha kita berhasil. Aku sangat percaya padamu. Tapi aku ingin memastikan nya sekali lagi. Aku ingin lebih yakin dan percaya lagi bahwa kau sudah baik-baik saja. Aku harap kau mengerti maksudku sayang." ucap Melvin.
Lila yang mendengar itu tersenyum dan mengagguk, "Aku tahu apa yang kau takutkan by. Tapi tenang saja aku pun percaya padamu sama seperti kau yang mempercayai ku. Aku tidak masalah untuk melakukan pengecekkan kembali agar semua nya bisa lebih jelas dan lebih yakin lagi." Balas Lila.
Melvin pun tersenyum lalu menggenggam tangan Lila erat. Melvin bukan tidak percaya dengan hasil test di hadapan nya. Sama seperti yang dia katakan maka itu juga yang dia pikirkan. Hanya saja dia khawatir apa yang sudah mereka lakukan hari ini berdampak pada kesehatan Lila. Dia hanya ingin memastikan kesehatan Lila sekali lagi.
Selain itu dia juga akan menanyakan beberapa hal pada dokter. Tentu saja dia juga akan menanyakan hal yang sudah terjadi pada nya dengan istri nya hari ini. Itu seperti nya menjadi pertanyaan utama karena itu demi kelangsungan rumah tangga nya dan pusat ketegangan tubuh nya. Dia tidak mungkin bisa menahan nya lagi jika hal itu sudah menjadi candu nya. Seperti nya jika semua nya di nyatakan aman maka dia akan sering meminta nya. Bukan kah hal itu yang akan jadi pikiran setiap pria dewasa. Apalagi dia yang memiliki istri cantik seperti Lila terus di tambah dengan diri nya yang baru merasakan surga dunia itu. Mana mungkin akan tahan lama-lama tidak mengulangi nya lagi.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan hubby. Kau tidak perlu takut dengan hal itu. Aku baik-baik saja." Bisik Lila di telinga suami nya.
Melvin yang mendapat bisikkan istri nya itu pun tersenyum.
"Makanan sudah siap tuan, nona." ucap salah satu pelayan datang memberitahu.
Melvin dan Lila pun mengangguk sebagai balasan atas ucapan pelayan itu.
Lila dan Luke pun mengangguk setuju, "Kak, kau ikut lah makan bersama kami." ucap Lila.
Luke mengangguk dan mereka bertiga pun segera menuju meja makan dan menikmati makanan di sana dengan tenang.
***
Sementara di sisi Deo, kini dia sedang ada di club. Club yang sama menjadi tempat bersejarah bagi Lila dan Melvin.
Kini Deo sedang menikmati minuman di sana untuk meregangkan pikiran nya yang sudah hampir sebulan ini hanya berteman kan tumpukan dokumen di meja yang hingga kini tidak habis-habis dan justru semakin bertambah saja.
"Tuan, seperti nya anda butuh teman. Apa saya bisa di sini menemani anda." Tawar seorang wanita mendekati Deo.
Deo tidak memedulikan wanita itu karena tujuan nya datang ke sini hanya untuk melepaskan kepenatan kerja nya dengan menikmati alkohol bukan hal lain. Walaupun harus dia akui bahwa dia juga bukan lah pria yang baik yang tidak pernah berbuat bejat tapi dia selalu melakukan itu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Tapi itu dulu sebelum kejadian menimpa Melvin. Entah kenapa apa yang terjadi pada atasan nya itu membuat nya menyadari sesuatu bahwa apa yang dia lakukan suatu kesalahan.
Wanita yang menggoda Deo pun akhir nya pergi karena merasa di abaikan oleh Deo setelah beberapa usaha yang dia lakukan. Wanita itu memilih mencari mangsa lain saja yang bisa dengan mudah dia jerat.
Setelah lima menit kemudian tiba-tiba ada yang datang ke sisi Deo. Seorang wanita dengan pakaian hitam nya. Semua hitam hingga hanya wajah wanita itu saja yang terlihat terang di tengah lampu club yang temaram.
"Satu gelas anggur seperti biasa." ucap wanita itu kepada bartender yang bertugas.
Deo melirik sekilas gadis di samping nya itu lalu kembali menikmati minuman di gelas nya.
Gadis itu sendiri pun tidak menganggu Deo dan hanya fokus dengan minuman nya sendiri. Setelah dia menghabiskan segelas anggur yang dia pesan. Gadis itu pun segera pergi setelah membayar.
Apa yang di lakukan gadis itu tidak luput dari pengamatan Deo hingga dia tidak bisa menahan rasa penasaran nya.
"Siapa gadis itu?"