My Secret With CEO

My Secret With CEO
32


Kembali ke sisi Melvin, saat ini dia sudah tiba di kediaman utama dengan Deo. Melvin segera mencari di mana kedua orang tuanya itu berada yang ternyata berada di ruang keluarga sedang menikmati camilan dan minuman bersama. Mereka sedang quality time bersama.


“Mami, papi, aku ingin bicara. Ini penting. Menyangkut masa depanku.” Ucap Melvin.


Papi Emran dan mami Elea yang mendengar ucapan putra mereka itu pun saling memandang satu sama lain dengan bingung, “Apa maksudnya itu?” tanya mami Elea.


Melvin tidak menjawab pertanyaan maminya itu tapi segera memberikan ponselnya, “Baca mih.” Ucap Melvin kepada maminya.


Mami Elea pun menerimanya dan segera membacanya bersama papi Emran dan seketika mereka memandang Melvin, “Baca terus mih. Baru bertanya.” Ucap Melvin.


“Apa itu berarti mereka tahu siapa kau? Mereka tau kau daddy mereka?” tanya mami Elea.


Melvin mengangguk, “Hum, sepertinya begitu. Lila memberi tahu kepada mereka.” jawab Melvin.


“Lalu apa yang akan kau lakukan? Kita tidak bisa melacak mereka. Sepertinya mereka mewarisi gen di tubuh Lila hingga bisa dengan mudah menyembunyikan diri tanpa bisa di akses sama sekali.” Ucap papi Emran.


“Apa itu berarti Lila tidak membutuhkan bantuan orang lain saat dia bersembunyi tapi dia sendiri yang melakukannya?” tanya mami Elea.


“Awalnya papi juga berpikir demikian bahwa Lila di bantu oleh seseorang tapi setelah dia mengirimkan pesan lima tahun lalu saat itu papi sadar bahwa dia memiliki kemampuan itu sendiri karena Melvin sudah pergi kepada Jay dan Jay tidak tahu sama sekali. Maka di pastikan bahwa Lila menyembunyikan dirinya dengan kemampuannya sendiri dan kini sepertinya gen itu di warisi oleh kedua cucu kita.” Ucap papi Emran.


“Melvin juga berpikir demikian pih. Tapi bukan itu yang jadi prioritas sekarang. Lila dan anak-anakku salah paham terkait statusku yang sudah menikah. Mereka pikir aku menikah dengan orang lain padahal papi sendiri yang mendaftarkan pernikahanku dengan Lila sebagai istriku. Jadi sekarang aku minta solusi dari mami dan papi. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?” ucap Melvin menatap kedua orang tuanya.


Mami Elea pun menatap suaminya itu, “Sepertinya apa yang papi lakukan waktu itu kini menimbulkan masalah saat ini. Papi pikir dengan mendaftarkan kalian sebagai pasangan bisa membuat anak yang di lahirkan Lila tidak lahir di luar nikah. Tapi kini hal itu justru menjadi boomerang untuk kita.” Ucap papi Emran bingung.


“Lalu harus bagaimana sekarang?” tanya mami Elea.


“Boleh saya bicara tuan, nyonya?” izin Deo.


“Silahkan.” Jawab papi Emran.


“Menurut saya percuma kita menarik pendaftaran pernikahan itu karena itu tidak akan menyelesaikan masalah. Apa yang tuan besar lakukan saat itu memang sudah benar untuk mengatasi masalah saat itu. Kita semua berpikir bahwa akan menemukan nona Lila saat dia belum melahirkan tapi itu tidak terjadi. Jadi masalah ini yang timbul dia salah paham. Tapi sekali lagi kita tidak bisa mundur. Untuk saat ini kita hanya bisa melakukan hal yang bisa membuatnya datang.” ucap Deo.


“Menurutmu apa yang bisa membuatnya datang?” tanya Melvin kepada asistennya itu.


“Perusahaan. Sudah lama kita tidak mencoba menggoyahkan perusahaan. Kita buat perusahaannya goyah. Jika dia memang mengawasi perusahaannya dari jauh maka saya yakin dia pasti akan datang untuk perusahaannya.” Ucap Deo.


Melvin menggeleng, “Aku tidak setuju hal itu. Aku yang sudah mengawasi perusahaan itu. Aku tidak akan melakukan hal itu untuk memancingnya datang. Aku akan menunggu saja. Aku merasa dia akan datang.” ucap Melvin.


“Tapi nak apa yang di katakan Deo itu sepertinya bisa kita lakukan. Selama ini kita belum mencoba melakukannya. Jadi coba saja dulu.” Ucap mami Elea.


Melvin kembali menggeleng, “Sudah cukup aku jadi pengecut mih. Aku tidak ingin menambah daftar lagi. Aku akan menunggunya saja. Dia pasti akan datang.” ucap Melvin.


“Tapi--”


***


“Lusa.”


Nenek Saraswati dan kakek Parker yang mendengar ucapan Lila itu kini saling memandang, “Kenapa secepat itu nak? Kenapa tidak merayakan ulang tahun mereka dulu di sini?” tanya nenek Saraswati sedih.


“Nek, jangan sedih dong. Aku juga tidak ingin melakukan ini hanya saja mereka ingin ulang tahun mereka kali ini bisa di rayakan bersama daddy mereka. Aku sebagai mommy mereka ingin mewujudkan hal itu. Ulang tahun mereka masih lima hari lagi.” Ucap Lila.


“Sudahlah nak. Jika memang itu sudah jadi keputusanmu maka mari lakukan itu. Kau harus mewujudkan permintaan mereka.” ucap kakek Parker.


“Terima kasih kek, nek.” Ucap Lila.


***


Keesokkan paginya, kini kedua anaknya itu sedang sarapan.


“Nak, gak usah bawa buku kalian. Kita hari ini akan mengajukan pindah dari sekolah itu. Mommy tidak ingin kalian di hina lagi.” Ucap Lila.


“Terus kita akan pindah ke mana mom?” tanya Alexa.


“Jangan banyak tanya dek. Kita harus yakin pada keputusan mommy. Dia pasti akan mencarikan sekolah terbaik untuk kita.” Ucap Alex.


Lila pun tersenyum, “Iya mommy akan mencarikan sekolah terbaik untuk kalian. Ohiya selain itu juga sebelum kita mencari sekolah baru yang kalian inginkan. Kita liburan dulu. Mommy tidak pernah mengajak kalian berlibur dan kalian hanya mengurung diri di ruang eksperimen kalian itu. Jadi lusa kita liburan.” Ucap Lila.


“Beneran mom? Kita liburan kemana?” tanya Alex.


“Hmm, itu rahasia. Ini kejutan. Anggap saja hadiah ulang tahun untuk kalian dari mommy karena mommy tidak bisa mewujudkan permintaan kalian.” ucap Lila.


“Mommy, jangan ngomong begitu. Kami tidak mau mommy sedih. Kita akan liburan di mana pun yang mommy inginkan. Kami pasti ikut dan menyukainya.” ucap Alex di angguki oleh Alexa.


Selepas sarapan, Lila dan kedua buah hatinya itu segera menuju sekolah dan seperti yang sudah dia katakan dia segera meminta surat pindah dari sekolah itu. Sekitar satu jam mereka di sana lalu setelah pulang dari sekolah Lila membawa kedua anaknya itu ke restoran ayam crispy langganan si kembar itu.


Setelah itu Lila mengacak kedua anaknya itu jalan-jalan sebentar mengelilingi kota barulah setelah lelah mereka pulang dan mulai berkemas.


“Bawa barang yang menurut kalian penting.” ucap Lila kepada kedua buah hatinya itu.


Alex dan Alexa pun mengangguk dan segera berkemas dengan koper mereka masing-masing.


Sementara Lila dia juga berkemas untuk pakaiannya dan juga semua barang yang tidak boleh dia tinggal. Lila juga tidak lupa membeli tiket pesawat untuk mereka besok.


Lila memegang bingkai foto di mejanya itu, “Aku akan pulang mom, dad. Aku harap kalian setuju dengan apa yang ku lakukan ini.” ucap Lila mengecup foto orang tuanya itu lalu menyimpannya ke dalam koper.