
“Terima kasih by.” Ucap Lila saat dia sudah menghabiskan dua ice cream dan satu buah kue tar rasa Matca.
Melvin pun hanya mengangguk saja dan tersenyum mendengar ucapan istri nya itu, “By … kau makan nya juga. Dari tadi hanya melihatku saja.” ucap Lila saat dia meraih satu buah ice cream lagi.
“Tidak perlu. Melihatmu makan saja aku sudah kenyang sayang.” ucap Melvin.
Lila yang mendengar itu pun tersenyum lalu tiba-tiba muncullah satu ide dalam otak nya itu. Dia segera mendekati suami nya. “By ayo coba lah. Enak tahu.” Ucap Lila menyodorkan ice cream di tangan nya itu ke mulut suami nya.
“Tidak sayang. Kamu makan lah.” Tolak Melvin.
“Ouh apa hubby jijik karena ini sudah ada--”
Melvin yang mendengar ucapan istri nya itu pun segera menggigit ice cream di tangan istri nya, “Tidak ada yang seperti itu sayang. Aku tidak pernah jijik denganmu.” Ucap Melvin.
Lila pun tersenyum mendengar itu, “Jika begitu ayo habiskan.” Ucap Lila.
Melvin pun mengangguk dan menerima suapan es cream dari tangan istri nya itu. Dia memakan nya walaupun sebenar nya rasa manis dalam ice cream itu tak begitu dia sukai. Tapi semua terasa nikmat selama istri nya itu yang memberikan nya. Apa sih yang gak jika cinta.
“Sudah cukup. Aku sudah kenyang.” Ucap Lila.
Melvin pun tersenyum lalu segera meminta pelayan untuk merapikan ice cream yang masih tersisa begitu juga dengan sisa kue tar karena memang Melvin tidak hanya membeli satu.
“Apa tidak kembung?” tanya Melvin.
Lila menggeleng, “Untuk apa kembung? Tenang saja aku hanya kekenyangan. Lagi pula aku sudah terbiasa makan makanan yang seperti itu.” ucap Lila tersenyum.
Melvin pun mengangguk, “Dear, aku mau--”
Lila menggeleng, “Tidak perlu di lanjutkan mau mengatakan apa. Aku tidak ingin mendengar nya maupun membahas nya lagi. Aku memang kecewa padamu By. Tapi aku juga tahu ini kau tidak sepenuh nya salah dalam hal ini. sama seperti aku yang bisa memaafkan kakak yang juga sama-sama menyembunyikan hal ini dariku. Maka aku pun sudah memaafkanmu. Aku juga tidak mungkin tidak memaafkan suamiku. Hanya saja jangan di ulangi lagi ya by. Mau apapun itu nanti, mau hal buruk atau pun hal baik. Atau juga hal yang membuat aku marah dan kesal, kau harus mengatakan nya padaku. Kita akan mencarikan solusi nya sama-sama. Hanya saja jangan mencoba menyembunyikan nya dariku. Aku tidak menyukai hal itu.” ucap Lila panjang.
Melvin pun mengangguk, “Baiklah sayang. Aku janji tidak akan mengulangi nya lagi. Aku akan membicarakan apapun denganmu nanti.” Ucap Melvin.
Lila pun menarik nafas panjang dan menatap suami nya itu, “By … kau tidak merasa terpaksa bukan dengan hal ini? Kau tidak merasa bahwa aku mendominasimu bukan?” tanya Lila.
“Jawab jujur.” Sambung Lila.
Melvin tersenyum lalu menggeleng, “Tidak kok. Aku tahu aku memang salah dan kau pantas marah untuk hal itu.” ucap Melvin.
“Maaf by. Aku memang suka memimpin. Aku yakin tanpa sengaja pasti aku sedikit mendominasimu. Aku janji akan menghilangkan hal itu.” ucap Lila.
Lila pun tersenyum, “Hubby .. sini mendekat lah dan peluk aku.” Pinta Lila merentangkan tangan nya.
Melvin pun tidak membuang waktu dan segera mendekati istri nya itu dan memeluk Lila erat. Jujur saja dia juga ingin memeluk istri nya itu sejak tadi tapi dia lebih mementingkan kenyamanan Lila yang mau di peluk kakak nya dulu. Dia paham dan mengerti bahwa istri nya itu mengkhawatirkan kakak nya.
“Aku tahu tadi hubby mungkin ingin memelukku dan mungkin saja sedikit cemburu karena aku hanya memeluk kakak saja sejak tadi.” Ucap Lila dalam pelukan suami nya itu.
Melvin pun hanya tersenyum dan mengakui bahwa istri nya itu sangat peka pada perasaan nya, “Hum, apa yang kamu katakan itu benar sayang. Tapi aku juga mengerti kau lebih membutuhkan kakakmu di banding aku.” Ucap Melvin.
“Aku butuh kalian berdua kok. Hubby harus menemaniku untuk melanjutkan pengobatan ini dan aku mohon tolong pastikan bahwa kakak akan baik-baik saja. Aku mengkhawatirkan nya.” ucap Lila.
Melvin melepas pelukan nya dan menatap manik mata istri nya itu, “Kita akan melakukan nya dengan baik. Tidak akan ada masalah yang terjadi.” Ucap Melvin.
“Hum, aku percaya kepada rencana yang kalian putuskan. Aku akan mengikuti semua nya. Semoga itu yang terbaik.” Ucap Lila.
“Hubby … aku mendengar bahwa kau pernah di pukul papi saat dia mengetahui apa yang terjadi pada kita malam itu. Aku dengar dari Deo bahwa kau hampir kehilangan nyawamu saat itu. Apa itu benar?” tanya Lila yang tiba-tiba saja penasaran dengan apa yang dia dengar itu.
Melvin pun tersenyum lalu bersandar di sofa dengan Lila yang tetap berada di pelukan nya, “Itu masalalu sayang. Tidak perlu di bicarakan.” Ucap Melvin.
“Tapi aku ingin tahu. Deo asistenmu itu hanya memberitahukan sedikit saja dan membuatku penasaran.” Ucap Lila.
“Apa kau sangat ingin tahu?” tanya Melvin.
Lila mengangguk cepat, “Hum, aku sangat ingin tahu by. Ayo ceritakan.” Ucap Lila.
“Saat itu seperti nya seminggu setelah kejadian malam itu. Papi sudah tahu siapa gadis yang ku tiduri karena dia memiliki asisten handal yang lebih kuat dari Deo asisten yang ku miliki sehingga CCTV yang sudah di amankan olehmu bisa om Nugraha terobos.” Jelas Melvin.
“Dia memanggilku ke tempat eksekusi dan dia pun memberikan hukuman untukku. Aku mengakui semua nya di sana dan berjanji akan menemukanmu secepat nya. Papi menyetujui nya tanpa dia menyebutkan siapa dirimu. Dia tidak mengatakan apapun tentang hal itu. Aku di berikan hukuman cambuk kalau tidak salah.” Sambung Melvin.
“Hukuman cambuk?” tanya Lila.
Melvin mengangguk, “Aku ingin melihat nya? Pasti sakit. Maaf sudah membuatmu kesulitan. Aku baru menyadari bahwa yang ku lakukan itu sangat egois.” Ucap Lila.
Melvin menggeleng, “Tidak perlu merasa bersalah sayang. Itu sudah berlalu. Itu bagian dari perjalananku untuk menemukan dirimu. Kau tidak perlu merasa bersalah sama sekali. Aku tidak keberatan karena hal itu. Bukan kah sekarang aku sudah mendapatkanmu dan kau sudah bersamaku saat ini. Bahkan kau memberiku bonus dua anak yang tampan dan cantik lagi jenius. Mereka menuruti otakmu sayang.” ucap Melvin.
“Gak kok. Mereka menuruti otak kita. Mereka adalah anak kita bukan. Jadi sudah seharus nya gen kita yang mereka miliki.” Ucap Lila.
“Yah mereka anak kita.”