My Secret With CEO

My Secret With CEO
167


"Jadi kenapa mami harus menghukum putri mami sementara putra mami saja mami maafkan."


Mami Elea mengucapkan itu dengan senyuman tulus di wajah nya. Dia sangat menyayangi Lila, menantu nya yang sudah dia anggap sebagai putri.


Mami Elea melepas pelukan nya tapi sedetik berikut nya kecupan hangat mendarat di kening Lila.


Lila yang mendapatkan kasih sayang seperti itu dari sang ibu mertua menangis. Air mata nya tak bisa dia tahan lagi hingga jatuh di pipi nya yang segera di ucap oleh Melvin yang berasa dekat dengan istri dan mami nya itu.


Melvin menggeleng seolah mengisyaratkan kepada sang istri untuk tidak menangis. Sungguh, dia tidak rela air mata istri nya itu jatuh. Dia ingin membuat tawa di wajah istri nya bukan air mata.


Lila tersenyum melihat apa yang di lakukan oleh suami nya. Perlakuan lembut yang dia dapat dari sang suami dan kedua mertua nya itu membuat nya merasa sangat bersalah karena sudah melakukan kesalahan sebelum nya dengan mengambil keputusan pergi hanya demi ego dan harga diri nya. Padahal seharus nya dia bisa mendapatkan kebahagiaan itu lebih cepat tapi dia memilih jalan yang berliku hingga menemukan bahagia. Seperti nya takdir Tuhan memang yang terbaik. Namun tetap saja penyesalan itu dan hadir ketika dia mendapatkan perlakuan seperti ini.


"Jangan menangis, nak. Kami menyayangi." Ucap papi Emran mendekati sang menantu dan istri nya.


Mami Elea tersenyum mendengar ucapan sang suami lalu dia memberikan kesempatan untuk suami nya itu bicara dengan Lila, menantu mereka. Satu-satu nya menantu yang mereka punya karena mereka juga yang memang hanya memiliki satu putra saja


Papi Emran menggeleng seraya meminta Lila untuk diam saja jangan berkata lagi. Karena tidak ada yang perlu di maafkan. Apa yang sudah terjadi di masalalu biar lah itu menjadi sebuah pengalaman saja. Tidak perlu di bawa ke masa kini jika itu hanya membawa kesedihan.


Walaupun harus di akui bahwa dia kalah dengan menantu nya it terkait menemukan seseorang padahal diri nya di kenal sebagai penemu tercepat karena memiliki asisten handal di sisi nya. Tapi nyata nya kuasa yang dia miliki pun tak bisa menemukan sang menantu.


"Jangan meminta maaf lagi nak. Kau tidak boleh mengatakan hal itu. Kau adalah putri kami. Mommy dari kedua cucu jenius kami. Mungkin memang benar selama lima tahun ini mereka jauh dari pengawasan kami tapi kau melindungi mereka dengan sebaik mungkin. Bahkan mungkin perlindungan yang kami berikan pada mereka tidak akan pernah bisa mengalahkan perlindungan yang kau berikan--" ucap papi Emran terputus.


"Jangan katakan itu, pih. Papi dan mami sudah menjaga mereka dengan baik. Kalian sudah memberikan perlindungan yang baik untuk mereka. Jangan katakan bahwa aku lebih baik dari kalian dalam hal melindungi mereka karena fakta nya aku pernah melakukan kesalahan. Mementingkan ego dan harga diriku dari pada status mereka di masa yang akan datang. Kalian justru menyelamatkan status mereka yang terlahir di luar ikatan pernikahan." Tutur Lila.


"Sayang!" Panggil Melvin sedih.


Jujur saja dia tidak ingin Lila sedih dan menyalahkan diri nya sendiri atas apa yang pernah terjadi di masalalu. Karena pada kenyataan nya dia juga turut andil dalam kejadian itu. Bahkan sebenar nya dia lah sumber penyebab nya dan Lila hanya lah korban nya yang harus menanggung akibat nya.