Kamar 126

Kamar 126
Gantung diri


"Gisella, kamu harus makan! Kasihan calon bayi kamu kalau kamu nggak makan nanti! Setidaknya isilah perut kamu!" Ucap Nadia mengingatkan.


"Iya, Sel! Yang di katakan Nadia benar!" Ucap Jeni menimpali ucapan Nadia tadi.


"Baiklah aku akan makan!" Kata Gisella setelah menghela nafas panjang.


Namun saat Gisella makan, makanan itu langsung keluar lagi hanya dalam hitungan detik saja.


"Oh, iya Sel! Gimana?" Tanya Lisa.


"Gimana apanya?"


"Soal anak kecil itu!" Tanya Lisa lagi tentang anak kecil yang sering muncul di tepi kolam renang.


"Nggak tahu juga, tapi dia masih sering datang ke sana!" Jawab Gisella memberi tahu Lisa.


"Tapi anehnya, kenapa dia bisa masuk ke area mansion? padahal kamu kan udah memagari mansion ini!" Tanya Nathan heran.


"Ya itu yang aku heran kan dan membingung kan!" Jawab Gisella.


"Apa sudah tidak berfungsi lagi?" Tanya Nathan tiba-tiba.


"Apanya?" Tanya Leon balik pada Nathan karena tidak mengerti yang di maksudkan oleh Nathan.


"Ya yang buat memagari mansion ini lah!" Ucap Nathan.


"Emangnya bisa nggak berfungsi?" Tanya Nathan yang memang tidak tahu.


"Mantra juga kadang bisa pudar dan tidak berfungsi dengan sendirinya! Akan tetapi efek dari air suci dan juga air dari anggrek hitam itu tidak mungkin hilang!" Jelas Gisella memberi tahu semuanya.


"Apa mungkin masih harus di pagari lagi?" Tanya Chan dengan memanyunkan bibirnya.


"Itu tidak perlu! Kita hanya harus mencari tahu tentang anak kecil itu dan apa yang dia mau!" Ucap Gisella menyarankan tentang apa yang ada di pikirannya.


Saat mereka tengah membicarakan itu, tiba-tiba saja ponsel milik Leon berdering. Hal itu sontak langsung membuat mereka semua menatap ke arah Leon.


"Sayang, siapa yang telepon?" Tanya Jeni, istri Leon.


"Ini dari Tao!" Ucap Leon memberi tahu.


"Kalau gitu angkat aja!" Suruh Jeni pada suaminya, agar segera mengangkat telepon dari Tao.


Leon mengangkat telepon dari Tao.


"Halo, Tao! ada apa? APA!!! Kenapa bisa begitu?" Ucap Leon menjawab telepon dari Tao itu. Terlihat raut wajah Leon seperti sedang berada dalam masalah.


"Sayang, ada apa?" Tanya Jeni penasaran, dan Leon hanya menoleh ke arah Jeni sekilas tanpa menjawabnya, dan Leon masih tersambung dengan telepon dari Tao tadi.


"Iya baiklah, kita semua akan segera ke sana!" jawab Leon dari telepon itu, dan setelahnya dia mematikan teleponnya.


Semua orang bingung dengan apa yang Leon bicarakan dengan Tao di dalam telepon, karena dari nada bicara Leon membuat mereka semua merasa khawatir.


"Ada apa sayang?" Tanya Jeni setelahnya.


"Kai, ada apa?" Tanya Nathan juga.


"Iya, kenapa lo kelihatan kayak khawatir gitu?" Tanya Chan yang juga tak kalah penasaran.


"Tao!" Ucap Leon sedikit ragu.


"Dia gantung diri!" Jawab Leon.


Deg,,,,


Ucapan Leon sontak membuat semua orang terperanjat kaget karena tidak percaya dengan itu.


"Apa? Itu tidak mungkin!" Ucap Gisella yang masih meragukan perkataan Leon tadi.


"Bagaimana bisa?" Tanya Chan menimpali ucapan Gisella.


"Juga juga nggak tahu! Sebaiknya kita segera ke sana untuk memastikannya sendiri!" Ucap Leon sedikit lemas karena dirinya sendiri sebenarnya tidak percaya kalai Tao bunuh diri dengan cara, gantung diri.


"Kalau gitu, kita pakai pesawat pribadi aja biar cepat sampai! Kebetulan pesawat pribadi gue baru selesai di cat!" Ucap Nathan menyarankan agar mereka naik pesawat pribadi miliknya.


"Kalau gitu, ayo kita segera bersiap untuk pergi ke Jepang!" Ucap Nathan yang setelahnya langsung bersiap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di hari itu juga mereka menuju Jepang dengan menaiki pesawat pribadi milik Nathan. Dan tak butuh waktu lama, hanya beberapa jam saja mereka sudah sampai di mansion mereka, yang ada di Jepang.


Sesampainya di sana, mereka segera melihat kondisi Tao. Terlihat Tao masih menggantung di salah satu kamar yang dia tempati di mansion itu.


"Astaga!!!" Ucap Gisella sambil menutup mulutnya melihat Tao yang masih menggantung di kamar itu.


Air mata mengalir deras dari pelupuk mata para wanita yang ada di sana. Tidak hanya itu, tetes air mata juga jatuh dari pelupuk mata Chan, Nathan, Leon dan juga Alex saat melihat Tao yang masih tergantung di kamar itu.


Mereka semua sama sekali tidak menyangka, kalau Tao akan melakukan hal senekat itu. Karena yang mereka tahu, Tao tidak pernah berpikir akan melakukan hal senekat itu dan hal bodoh yang dapat menghilangkan nyawanya sendiri.


"Kalian!!!!" Ucap Gisella marah pada mafioso yang berjaga di sana.


"Kenapa kalian hanya diam saja? Kenapa tidak menurunkannya? Apa kalian tidak berpikir, bisa saja dia masih hidup kalau kalian semua segera menurunkannya?" Ucap Gisella lagi menyalahkan seluruh mafioso yang ada di sana.


Emosi Gisella memuncak saat memarahi semua mafioso yang ada di sana, dirinya menjadi lebih sensitif dan sering terbawa emosi karena bawaan hamilnya.


"Maafkan kami, Nona! Bukannya kami semua tidak mau menurunkan Tuan Tao!" Ucap salah satu mafioso.


"Kami awalnya datang ke sini untuk menyuruh Tuan Tao makan, karena sudah 2 hari ini Tuan Tao tidak keluar dari kamar dan tidak makan juga! Dia sakit! Dan saat kami panggil dia tidak menyahut, sampai akhirnya kami memutuskan untuk mendobrak pintu ini!! Jujur kami semua juga terkejut saat tahu Tuan Tao tergantung di sana!" Ucap salah satu mafioso yang lain.


"Kenapa kalian tidak menurunkannya???!! JAWAB!!!!" Bentak Leon pada mafioso miliknya itu, karena dianggap tidak berguna dalam melakukan tugas.


"Maaf bos, tapi kami tidak bisa! Saat kami semua mau mendekatinya dan menurunkannya , kami semua malah terpental bos! Seperti ada dinding yang menghalangi!" Jelas mafioso yang sudah mencoba dan mengalaminya sendiri saat hendak menurunkan Tao.


Pernyataan dari mafioso milik Leon itu, cukup membuat semuanya terkejut sekaligus merasa bingung.


"Kenapa itu bisa terjadi?" Tanya Gisella bingung.


"Biar gue cek!" Ucap Alex yang perlahan mendekati Tao, untuk menunjukkan kalau ucapan mafioso milik Leon itu salah.


"Sayang, hati-hati!" Kata Lisa mengingatkan suaminya.


Alex perlahan mendekati Tao yang masih tergantung di atas, namun ternyata tidak ada reaksi apapun, Alex masih baik-baik saja. Dan untuk memutuskan apakah ucapan mafioso itu benar atau tidak, Alex langsung menyuruh mafioso itu untuk mencoba mendekat lagi.


Alex menyuruh 4 mafioso untuk mendekat dan menurunkan jasad Tao yang masih menggantung. Akan tetapi saat 4 mafioso itu di utus untuk menurunkannya, bahkan belum sempat mereka menyentuh Tao, mereka langsung terpental dan membentur tembok dengan keras.


Semua yang melihat itu terkejut seolah tak percaya, namun nyatanya terjadi.