
"Aku masih mencintaimu" ujar Melia.
"AKU TIDAK PERDULI!!!" bentak Kim Kai pada melia sembari mencengkeram kuat tangan Melia.
"Pergilah ke neraka bersama pria yang sudah menyentuhmu!!" ucap Leon.
"Leon kau sudah salah paham!" ujar Melia yang berusaha menutupi kesalahannya di masalalu.
"Aku tidak perduli dengan kesalahpahaman atau entah apalah itu! Aku sudah sangat muak melihat wajahmu!! Sekarang kau datang dan menyerang markas ku tanpa alasan!!" ujar Leon yang sudah sangat geram dengan Melia.
"Aku tidak rela kau menikah dengan wanita itu, Leon!!!" ucap Melia.
Tanpa mereka berdua sadari, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua yang sedang berdebat. Seseorang itu melihat keduanya dengan sangat detail bahkan sampai menatap wanita itu dengan penuh amarah.
Dor,,,,,
Satu tembakan yang dilepaskan oleh seseorang tersebut berhasil mengenai tangan Melia.
"Akhhhh" Rintih Melia kesakitan karena tangannya terkena tembakan.
Mengetahui adanya tembakan, Leon langsung menoleh ke sumber tembakan tadi berasal dan Melia juga menoleh meskipun masih meringis menahan sakit di tangannya.
"Jeni?!" ucap Kai terkejut, ketika melihat Jeni yang mendekat ke arah mereka berdua.
"Itu hukuman untuk kamu karena tangan kotor mu itu sudah berani menyentuh pipi suamiku!!!!" ucap Jeni pada Melia dengan nada sinis nya.
Jeni lalu berjalan ke arah Leon dan memeluknya dengan tujuan membuat Melia semakin panas.
"Dasar j*lang!" ucap Melia menghina Jeni di depan Kai.
"Apa kau bilang? masak ******* teriak j*lang sih? nggak malu tuh sama muka? Ups, j*lang kan emang nggak punya malu?!" ucap Jeni mengejek Melia karena sudah berani menghina dirinya.
Melia yang sudah sangat geram dengan apa yang dilakukan Jeni padanya, dirinya hendak menampar Jeni.
Dor,,,,,,
Belum sempat Melia menampar Jeni, dirinya terkena satu tembakan lagi yang berhasil diluncurkan oleh Kim Kai.
"Akh" Rintih Melia yang setelahnya langsung terduduk karena tidak kuasa menahan sakit kalau dirinya berdiri.
"Tanganmu yang kotor itu, tidak pantas menampar pipi istriku ini, bahkan menyentuhnya saja tidak pantas bagimu!!!" ucap Leon tegas.
"Akhhh sssttttt,,," Melia merintih kesakitan.
"Sayang tolong ijinkan aku untuk menghabisinya!" pinta Jeni dengan wajah imutnya pada Leon.
"Au akan serahkan dia padamu sayang, apapun yaang kamu minta pasti akan aku berikan, apalagi hanya ******* yang tak tahu diri seperti dia?!" ucap Leon.
"Terima kasih sayang" jawab Jeni yang merasa senang karena mendapatkan ijin dari Leon. Jeni yang merasa senang akhirnya mencium bibir Leon sekilas.
Ciuman itu membuat Melia terbakar api amarah karena merasa sangat kesal dengan apa yang dilakukan Jeni pada Leon.
"Jangan keterlaluan!" ujar Melia yang kesal.
"Hey, dia suamiku, aku bebas melakukan apa saja padanya, dan juga sebaliknya! Bukankah begitu sayang?!" ucap Jeni yang terlihat sedang memanas-manasi Melia.
"Tentu saja sayang!" jawab Leon yang setelahnya mencium kening Jeni.
"KALIAN AKAN MATI!!" Teriak Melia pada keduanya.
"Semua orang juga nantinya kan mati bodoh!! Tapi setidaknya kematian kamu sudah di depan mata!" ucap Jenie dengan menaikkan satu alisnya.
Dor,,,,,
Satu tembakan berhasil di luncurkan lagi dan tepat mengenai tangan Melia yang satunya.
Dor,,,Dor,,,Dor,,,Dor,,,,Dor,,,,Dor,,,,
"Sayang, sebaiknya kita kembali ke mansion, yang lainnya pasti sudah menunggu kita?!" ucap Leon memberi tahu Jeni. Jeni hanya mengangguki ucapan dari Leon.
Setelah itu Leon dan juga Jeni keluar dari ruang eksekusi itu.
"Mafioso!!" panggil Kai pada mafioso miliknya.
"Iya bos?!" jawab salah satu mafioso milik Kai.
"Bereskan seluruh mayat yang berserakan di depan dan juga yang ada di dalam tadi! Aku mau besok semua sudah harus bersih! Termasuk dengan darah yang ada di setiap dinding markas ini?!" perintah Kim Kai pada seluruh mafioso miliknya itu.
"Baik bos" jawab seluruh mafioso yang mendengar perintah dari Leon.
Kemudian setelah memberi perintah pada seluruh mafioso miliknya, Leon dan juga Jeni segera kembali ke mansion untuk membersihkan diri dan juga beristirahat.
Sesampainya di mansion, terlihat semua orang menunggu kedatangan Jeni dan Leon di ruang tamu.
Mereka semua khawatir akan terjadi sesuatu pada Jeni dan Leon, jadi mereka memilih untuk menunggu Kai dan Jenie pulang.
"Jen, apa kau baik-baik saja?" tanya Gisella yang sudah sangat khawatir akan kondisi keduanya.
"Iya, aku baik-baik saja, Sel! Lagi pula suamiku tidak akan mungkin membiarkan aku terluka, apa kalian lupa?!" ucap Jeni yang mencoba mengingatkan teman-temannya kalau suaminya adalah King mafia, tidak akan ada satu orang pun yang akan bisa menyakitinya.
"Kalau begitu, kalian beristirahatlah!" suruh Gisella padaa Jeni dan Leon.
"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja" Ujar Lisa menimpali.
"Aku tidak akan pernah terluka selam suamiku selalu ada di dekatku!" ujar Jeni yang setelahnya tersenyum pada Leon, suaminya itu. Dan Leon membalas senyuman manis Jeni.
Setelah semuanya sudah selesai dan baik-baik saja, mereka semua masuk ke dalam kamar dan memutuskan untuk tidur.
Di hari berikutnya, mereka semua sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan yang akan diadakan oleh Chan dan juga Alex nantinya.
Gisella sendiri masih tidak menyangka kalau dirinya akan menikah dengan orang yang dia cintai.
Singkat cerita,,,,,,,,
Sampai akhirnya tibalah hari pernikahan Chan dan Gisella, begitu juga dengan Alex dan Lisa.
Di acara pernikahan itu semua orang juga ikut merasakan kebahagiaan yang dialami oleh kedua pasangan yanng menikah d hari itu.
Kedua orang tua Gisella juga datang ke acara pernikahan putri tunggal mereka.
"Sayang, kamu sudah siap kan?!" tanya Fara yang tidak lain adalah Mama dari Gisella.
"Akku sangat gugup, Ma!" ucap Gisella yang benar merasa sangat gugup dengan acara pernikahan dirinya dengan Chan nanti.
"Gugup itu hak yang wajar, nak!" Ujar Papa Gisella yang berusaha membuat putri tunggalnya itu tidak gugup lagi.
"Iya, Papa kamu benar, dulu Mama juga gugup saat akan menikah dengan Papa kamu!" ucap Fara sembari mengingat masa mudanya dulu dengan Daniel, Papa Gisella.
"Hiash, jangan bahas masalalu itu!" ucap Daniel yang malu jika diingatkan masalalu nya saat masih muda dulu.
"Memangnya kenapa? apa kau malu?" ujar Fara yang tak henti-hentinya menggoda Daniel.
"O ho! Sudahlah!!" Jawab Daniel dengan memasang wajah malasnya.
"Pffffff, Papa sama Mama kenapa sih?!" ujar Gisella yang menahan tawa melihat kedua orang tuanya yang sedang berdebat mengenai masalalu mereka.
"Lihatlah itu! anakmu sampai menertawakan kita!" ujar Daniel.
"Dia cuma menertawakan kamu, Pa! bukan aku" ujar Fara yang setelahnya juga ikut tertawa bersama dengan Gisella.
"Haish, sudah-sudah!" ujar Gisella yang mencoba menghentikan tawanya.