
"Alfin, kamu mau ke mana nak? Istirahat dulu!" Ucap Alfin yang melihat Alfin hendak mengendarai mobilnya.
"Alfin mau ketemu sama pacar Alfin bentar ma!" Kata Alfin yang terlihat terburu-buru.
Belum sempat Gisella menjawab ucapan dari anaknya itu, Alfin tampak menatap mamanya dan berkata, "Gimana kalau mama ikut Alfin ketemu sama pacar Alfin!" Tawar Alfin pada mamanya.
"Haduh, Alfin kamu gimana sih nak, kalau sekarang ya kasihan sama pacar kamu, dia pasti syok kalau langsung ketemu sama calon mertuanya!! Mending nanti kita ketemu di restoran Ayah Nathan gimana?!" Gisella mencoba menawarkan Alfin tentang rencananya.
"Mama akan datang sendiri?!" Alfin tampak memastikan pada Mamanya, karena bagaimana pun juga Saviana tidak mungkin langsung dipertemukan dengan banyak anggota keluarga dari mereka.
"Iya sayang, tapi mungkin nanti cuma sama adik kamu aja, soalnya papa lagi ada urusan perusahaan yang nggak bisa di tinggal!!" Jelas Gisella.
"Ya udah kalau gitu, nanti kita ketemu jam 11.00 di restoran Ayah Nathan ya ma!! Jaehyun pergi dulu!" Alfin lalu perlahan mengeluarkan mobilnya dari bagasi dan melajukannya.
"Iya, hati-hati nak!" Jawab Gisella sambil melambaikan tangannya ke arah Alfin yang sudah melesat mengendarai mobilnya.
Alfin pun langsung menuju ke tempat di dirinya dan Saviana biasa bertemu. Ya, di mana lagi kalau bukan di telaga yang ada di dekat kampus. Karena memang Saviana sengaja tidak memberi tahu Alfin di mana rumahnya, itu memang karena Saviana tidak memiliki rumah selain di telaga itu, dirinya makhluk tak kasat mata yang gentayangan jadi tidak membutuhkan tempat tinggal semacam rumah.
Dari kejauhan terlihat Saviana dengan setia duduk menunggu Alfin. Perlahan Alfin berjalan mendekat ke arahnya.
"Sayang!" Panggil Alfin dengan suara lembutnya. Dirinya sudah sangat merindukan kekasihnya itu.
"Alfin!" Saviana langsung menoleh ke arah Alfin yang langsung duduk di dekatnya.
"Apa kamu udah lama menungguku?!" Tanya Alfin memastikan kalau pujaan hatinya itu tidak terlalu lama menunggu dirinya di telaga itu.
"Tidak, aku juga baru aja di sini!" Jawab Saviana sambil tersenyum ke arah Alfin.
"Oh iya ,mama aku mau ketemu sama kamu!" Ucap Alfin tiba-tiba yang membuat raut wajah Saviana berubah lesu.
"Tapi- !" Ucap Saviana terpotong.
"Syuttt!" Alfin langsung mengarahkan jari telunjuknya pada mulut Saviana, pertanda bahwa dirinya menyuruh Saviana untuk diam, "Tidak sayang, jangan katakan lagi!! Aku tahu kamu belum siap untuk bertemu dengan seluruh keluarga besar aku, tapi ini berbeda sayang, hanya mama aku yang akan menemui kamu dulu! Apa itu salah?!" Lanjut Alfin menjelaskan pada Saviana tentang tujuannya.
Saviana terdiam dan tak menjawab ucapan Alfin, dirinya mengalihkan pandangan ke arah lain. Air matanya bahkan ingin sekali keluar dari kelopak matanya, namun dia tahan karena tak ingin membuat Alfin kecewa.
"Bagaimana aku mengatakannya sama kamu Alfin? Aku harus beralasan apa kali ini?!" Batin Saviana dalam diam.
Alfin yang melihat Saviana malah terdiam pun akhirnya bertanya, "Sayang, kenapa kamu malah diam?!"
"Eh, enggak kok!" Jawab Saviana sambil mencoba tersenyum pahit ke arah Alfin.
"Jadi gimana?!" Tanya Alfin memastikan. Saviana yang tak tahu lagi harus mengatakan apa, pada akhirnya dengan keraguan di hatinya , dirinya mengangguki ucapan dari Alfin.
Senyum Alfin langsung merekah dan memeluk hangat Saviana karena merasa senang dengan keputusannya. Alfin perlahan melepas pelukannya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku kemeja yang dia pakai.
"Aku mau kamu memakai cincin ini, dan aku akan mengatakan pada mamaku kalau aku akan melamar kamu!" Ujar Alfin sambil memasangkan cincin itu pada jari manis Saviana.
"Alfin, tapi- " ucap Saviana kembali terpotong. Padahal dirinya ingin sekali menolak karena takut kalau sampai Alfin mengetahui kebenarannya, padahal cepat atau lambat nantinya Alfin pasti juga akan mengetahui semuanya.
"Syutttt, aku tidak mau mendengar apa-apa lagi, Saviana!" Jawab Alfin lalu memeluk Saviana lagi dengan hati yang bahagia.
"Ya tuhan bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak bisa melakukan apa-apa sekarang!!" Hati Saviana bingung dirinya tidak ingin Alfin mengetahui kebenaran tentang siapa dirinya sebenarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jauh di sisi Gisella yang nantinya akan di pertemukan dengan calon menantunya. Dirinya merasa tidak sabar dan langsung menemui anak bungsunya yang ternyata ada di ruang game. Entah kenapa bukanya istirahat, anak itu malah bermain game di ruang game yang ada di mansion. Mungkin karena mereka sudah istirahat di pesawat pribadi milik Alex. Karena masing-masing anak dan orang tua memiliki kamar sendiri di pesawat itu. Pesawat yang memang sudah di desain sendiri oleh Sehun untuk keluarga besarnya.
"Alfian!" Panggil Gisella pada anak bungsunya itu yang sedang bermain game.
"Ada apa ma?!" Jawab Alfian sambil menoleh ke arah mamanya dan bahkan langsung menghentikan aktivitasnya bermain game.
"Nanti kamu ikut mama ya!" Ajak Gisella. Namun Mark tiba-tiba mendekat setelah mendengar ada suara mamanya itu.
"Mama!" Panggil Mark.
"Nah, sekalian sama Mark juga kali ya!" Ajak Gisella juga. Mark yang tidak tahu apa-apa pun hanya mengernyitkan dahinya karena bingung.
"Mau kemana ma?!" Tanya Mark.
"Iya nih, Tumben mama cuma ngajak pergi berdua aja! Eh, bertiga!!" Ralat Alfian pada ucapannya.
"Nanti kalian juga akan tahu, Mark kamu bisa nyetir kan?!" Tanya Gisella pada Mark.
"Bisa ma!" Jawab Mark.
"Syukurlah, jadi nanti kita cukup pergi bertiga saja!" Ucap Gisella yang memang tidak ada yang mengerti akan pertemuannya ini, karen Alfin bilang kekasihnya tidak bisa dengan pertemuan keluarga besar.
"Mama bikin penasaran aja deh!" Gumam Alfian pelan.
"Udah kalian siap-siap sana, mama tunggu di mobil ya!" Ucap Gisella yang setelahnya berjalan ke arah mobil.
Alfian dan Mark pun akhirnya bersiap dan menuruti saja apa yang di katakan oleh mamanya. Namun saat Gisella berada di ambang pintu, ada suara gadis yang mengagetkannya.
"Mama!" Panggil Dila pada Gisella yang sudah ada di ambang pintu.
"Eh, Dila sayang!" Gisella menoleh ke arah Dila sambil tersenyum.