
"Kapan kamu akan ke kampus?!" Tanya Gisella.
"Mungkin waktu dekat ma, Mark ingin menunggu Dila sembuh dulu dan mungkin 1 minggu lagi ma Mark akan masuk ke universitas yang sama dengan saudara yang lain!!" Ucap Mark memberi tahukan rencana yang sudah dia pikirkan matang-matang.
Rencana kuliah yang berkedok ingin perlahan mengalihkan rasa cemburunya ketika melihat Dila bersama dengan Axel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, setelah mereka sarapan. Mereka semua mengunjungi kamar Dila untuk menjenguk Dila. Tampak Alfian yang duduk di dekat Dila saat itu, sedangkan yang lainnya memilih untuk berdiri. Karena mereka nantinya juga tidak akan lama, sebab mereka juga harus berangkat ke sekolah dan kampus.
"Dil, cepetan sembuh kenapa sih?! Gue susah nih nggak ada lo!" Kata Alisya yang baru sehari saja gundah gulana karena tak adanya Dila di kelas.
"Kalau gue udah sehat gue sekolah kok, lagian gue pengen sekolah, tapi mama nggak ngebolehin gue!" Kata Dila yang hanya bisa pasrah dengan keputusan yang di buat oleh mamanya itu.
"Halah, bilang aja kalau nggak ada Dila nanti lo nggak bisa nyontek sama gibah kan?!" Kata Bria menggoda Alisya sambil memanyunkan bibirnya.
"Apaan sih lo, Jaem! Lo juga gitu kan?!" Kata Alisya membela diri dari tuduhan Brian. Padahal aslinya memang begitu, kalau mereka memang susah tidak ada Dila di sana.
"Sudahlah, biar Dila istirahat, kita berangkat!" Kata Alfin.
Hanya Mark saja yang tidak ada di sana, karena Mark tadi di suruh untuk menyiapkan makanan untuk Dila dan juga obat untuk Dila nanti.
Beberapa saat kemudian, saat mereka semua hendak beranjak dari kamar Dila untuk berangkat ke sekolah dan kampus mereka masing-masing.
"Kalian semua baru berangkat?!" Suara Mark di ambang pintu membuat semua pandangan teralihkan padanya. Mereka tahu kalau Mark akan menjaga penjaga Dila selama 24 jam penuh.
"Iya kak, kita mau berangkat sekarang, takut nantinya malah telat lagi ke kampus!" Kata Jungkook yang hendak beranjak pergi.
"Baiklah, kalian berhati-hatilah!" Kata Mark yang masih berdiri di ambang pintu, lalu setelahnya, berjalan perlahan menuju ranjang Dila. Hal itu juga langsung mendapatkan respon dari adik-adik untuknya, mereka juga satu persatu keluar dari kamar Dila.
Dan yang menjadi nomor terakhir untuk keluar ialah Axel. Saat Axel hendak keluar, dirinya sempat berpapasan dengan Mark yang belum sampai di dekat ranjang Dila.
Kini mereka berdiri sejajar dengan pandangan arah mata yang berbeda. Lalu setelahnya Axel tampak menepuk pundak Mark. Kemudian perlahan menoleh.
"Kak Mark, jaga Dila baik-baik!" Kata Axel pada Mark dan di sambut baik oleh Mark.
Sebenarnya Mark sangat bingung dengan tingkah Axel. Biasanya dia akan menjadi yang paling heboh, dan bahkan tidak akan membiarkan siapapun mendekati Dila. Tapi entah kenapa dia kali ini malah berubah, Axel seakan bungkam semenjak Dila sakit. Wajahnya juga terlihat murung.
Mark hanya menjawab ucapan Axel dengan tersenyum lalu mengangguk. Seakan mengatakan dengan senang hati.
Setelah semua anak-anak keluar dari sana, kini hanya ada Mark yang berjalan mendekat ke arah Dila. Dengan membawa nampan berisi makanan dan juga obat milik Dila.
"Dil, kamu makan habis itu minum obat ya!" Ucap Mark sambil mulai menyuapkan satu suapan hingga suapan terakhir.
"Rasanya aku ingin sakit terus aja deh!" Kata Dila dengan polosnya.
"Hey jangan mengatakan hal seperti itu, itu tidak baik Dila! Lagi pula kenapa kamu malah mau kayak gitu?!" Tanya Mark penasaran dengan tujuan Dila mengatakan hal seperti itu.
"Semua orang di mansion ini perhatian sama aku, bahkan aku makan aja selalu di suapin sama kak Mark!" Kata Dila dengan mata sayu nya.
"Hey bukan hanya saat kamu sakit saja ,semua orang perhatian kok satu sama lain! Lagian kalau kamu mau kak Mark suapin kan tinggal bilang aja!" Ucap Mark dengan entengnya, lalu seketika dia terkekeh dengan ucapannya.
"Sungguh? Kalau begitu, kak Mark harus suapin aku tiap hari!" Pinta Dila.
Mark menghela nafasnya, "Terserah kamu saja Dila!" Mencubit pelan hidung Dila karena merasa gemas.
Setelah selesai makan dan minum obat, seperti biasa Mark di suruh untuk menemani Dila sampai dia terlelap. Namun belum sempat menutup mata,,,,
Ceklekk,,,,
Suara pintu di buka oleh seseorang, membuat Dila dan Mark langsung menoleh ke arah pintu.
"Papa!" Pekik Dila dengan mata berbinar melihat papanya telah kembali dari luar negeri.
Chan tampak khawatir lalu berjalan ke arah Dila dan Mark, "Sayang, katakan sama papa! Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa kamu bisa sampai sakit begini hm?!" Chan langsung mencecar Dila dengan berbagai pertanyaan, karena dia merasa anaknya yang tangguh itu tidak pernah sakit. Dan baru kali ini dia sakit.
"Dila udah baikan kok pa!" Kata Dila berusaha membuat papa Chan tidak khawatir.
Bukan hanya papa Chan saja yang masuk ke dalam kamar Dila. Akan tetapi Ayah Nathan, Papi Sehun dan juga Papa Byun juga datang ke sana untuk menengok Dila. Pasalnya mereka bahkan baru saja kembali, dan belum sempat mendudukkan dirinya di kursi.
"Dila, katakan sama papa, apa Axel yang membuat kamu sakit?!" Tanya Papa Byun yang memang mengetahui dari Mama Sindy kalau Dila sakit setelah pergi bersama dengan Axel.
Dila mengernyitkan dahinya bingung,. "Maksud papa Byun? Dila cuma demam biasa kok pa! Dan semua juga bukan karena Axel! Jadi Dila mohon berhenti nyalahin Haechan ya!" Kata Dila yang malah merasa bersalah karena Axel di salahkan atas sakitnya dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian, Kondisi Dila sudah mulai membaik. Dan diam-diam Alfian juga sudah mencari informasi tentang rumah yang akan di jual itu. Mungkin dalam waktu dekat, Mark dan Alfian akan mendatangi rumah itu untuk mengecek dan pura-pura menjadi pembeli.
"Kak, sekarang? Atau kapan? Gue udah penasaran banget sama sosok itu!" Kata Alfian yang kini dirinya ada di kamar Mark. Hanya berdua karena mereka tidak ingin ada yang tahu tentang rencana mereka itu.
"Ganti baju lo! Kita ke sana sekarang!" Kata Mark memberi tahu dan menyuruh Mark.
"Kita hanya berdua atau-" ucap Alfian terpotong.
"Gue ikut!" Kata Alfin yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, dan langsung membuat Alfian dan Mark menoleh ke sumber suara.
"Alfin?!" Kata Mark.
"Kak Alfin?!" Ucap Alfian yang bersamaan dengan Mark.
"Lo mau ikut kita? Sejak kapan lo jadi orang yang mau berhubungan dengan makhluk tak kasat mata?!" Tanya Mark penuh selidik.
"Gue sih nggak mau berhubungan sama mereka, cuma gue bosen aja di mansion jadi gue ikut kalian aja!" Kata Alfin menjawab sejujurnya, "Oh iya, gue nggak bakal ikut campur kok, kalian lakuin aja apa yang kalian mau, gue cuma ikutan doang!" Lanjut Alfin lagi.
Mark dan Alfian saling pandang, mereka masih tak percaya Alfin akan ikut bersama dengan mereka. Sampai akhirnya mereka setuju kalau Alfin ikut bersama dengan mereka.
Setelah selesai bersiap mereka menuju ke bagasi luas milik keluarga Suho. Yang isinya ada beratus-ratus mobil. Dengan banyak model keluaran terbaru. Mereka memilih salah satu diantara mobil itu.
Alfin yang menyetir, sedangkan Alfian duduk di jok belakang dan Mark duduk di samping Alfin.
"Woy, kalian bertiga mau ke mana?!" Tanya Jeno.
"Kita mau jalani misi seperti biasa!" Jawab Mark memberi tahu.
"Wah kayaknya sekali-sekali gue ikut lo enak kali ya!" Ucap Lucas yang malah ingin ikut dengan mereka.
Kemudian pada akhirnya, Victor dan juga Lucas ikut untuk misi yang akan di lakukan oleh Mark dan juga Alfian.
Sesampainya di rumah itu, suasana tampak sepi. Sebelumnya Mark sudah menghubungi pemiliknya untuk bertemu di hari itu juga, dengan alasan ingin melihat-lihat rumah itu untuk membelinya. Padahal kenyataannya mereka hanya ingin menyelidiki apa yang ada di rumah itu saja.
"Kok sepi sih?!" Tanya Jeno yang masih duduk di jok belakang bersama dengan Alfian dan Lucas.
"Ya sepi lah, orang yang punya belum datang!" Kata Alfian menjawab Jeno.
Selang beberapa saat datanglah seseorang yang di yakini sebagai pemilik rumah itu. Beliau tampak membuka gerbang dengan kunci di tangannya.
"Maaf, apa anda yang ingin melihat-lihat rumah ini?!" Tanya seorang pria paruh baya, mungkin umurnya berkisar 45 tahun.
"Iya pak, saya yang ingin melihat interior dari rumah ini!" Kata Mark yang duduk di jok depan.
Lalu kemudian mereka di persilahkan masuk, bersamaan dengan mobil yang mereka naiki. Itu karena memang jarak dari gerbang sampai rumah itu lumayan jauh, karena terdapat halaman yang luas.
Setelah sampai di pelataran rumah itu. Mereka semua turun dari mobil. Bulu kuduk Alfin, Lucas dan Jeno seketika merinding. Mereka memang tak bisa melihat makhluk tak kasat mata. Akan tetapi sangat jelas mereka tak bisa di dekati oleh mereka makhluk tak kasat mata, karena kalung yang mereka pakai.
"Ini tempat kayaknya emang bener angker deh, kak!" Bisik Jeno pada Lucas tanpa di dengar oleh yang lainnya.
"Kayaknya lo memang bener! Nggak salah si Alfian sama Mark milih tempat ini buat di jadiin misi mereka!" Jawab Lucas dengan lirih sehingga hanya Victor yang mendengarnya.
Menyadari Victor dan Lukas saling berbisik, Mark segera menyuruh mereka untuk diam. Supaya pemilik rumah itu tidak curiga pada mereka.
Pria paruh baya itu memperkenalkan diri pada anak-anak itu, "Perkenalkan, nama saya Satyo, pemilik rumah ini!" Sambil mengulurkan tangan tanda perkenalan.
"Nama saya Mark, yang akan membeli rumah ini, dan ini semua saudara saya!" Jawab Mark juga memperkenalkan diri sembari menyambut uluran tangan dari pak Satyo itu.
"Begini pak, setelah saya lihat tanda di jual di depan! Sebenarnya saya tertarik dengan eksterior dari rumah ini! Tapi saya belum mengetahui interior rumah ini, namun jika boleh saya ingin melihat-lihat dulu! Nanti jika saya benar-benar berminat, saya akan membelinya secara cash!" Kata Mark dengan senyumannya..
"Baik, saya mengerti tuan, bagaimana kalau tuan segera masuk, bukankah tuan juga berminat untuk masuk?!" Tanya pria paruh baya itu pada Mark.
"Oh iya pak, saya akan masuk ke dalam bersama mereka juga, apa bapak tidak keberatan?!" Tanya Mark di akhir ucapannya.
Mereka semua pun langsung masuk ke dalam rumah itu dengan di pandu oleh pak Satyo langsung.
"Cukup bagus, boleh saya tahu asal mula di bangun tempat ini?!" Tanya Mark mencoba berhati-hati supaya tak menyinggung pak Satyo.
"Ini sebenarnya rumah istri saya, tapi karena dia sudah meninggal, jadi rumah ini akan saya jual sebagai permintaan terakhir darinya!" Kata Pak Satyo menjelaskan.
"Sepertinya ada yang aneh, kenapa hantu itu sama sekali tidak muncul?!" Batin Mark.
"Maaf pak, apa di belakang tadi ada kolam renang? Boleh saya ke sana untuk melihat-lihat?!" Kata Alfian membuyarkan lamunan Mark.
"Oh tentu saja boleh, silahkan!" Pak Satyo mempersilahkan Alfian untuk mengunjungi kolam renang yang ada di belakang rumah itu. Dengan tujuan lain untuk mencari tahu keberadaan sosok yang selalu dia lihat itu. Karena Alfian juga tahu apa yang menjadi pikiran Mark. Sosok itu bahkan sama sekali tidak menampakkan diri sama sekali setelah kedatangan mereka. Maka dari itu Alfian akan mencarinya. Dengan alasan untuk melihat-lihat tempat dan semua ruangan yang ada di sana.
Alfian saat itu di ikuti oleh Alfin dan juga Lucas. Sedangkan Jeno menemani Mark untuk berbincang dengan pak Satyo mengenai rumah itu.
Di ruang tamu, yang lebih banyak memakai nuansa modern itu tampak baik-baik saja. Namun saat Mark mencoba masuk ke dimensi sebelum rumah itu di jual, Mark justru menemukan sebuah penglihatan.
Semenjak Mark memperdalam pengetahuan mengenai makhluk tak kasat mata. Mark perlahan bisa memasuki dimensi, di mana dia bisa melihat kejadian sebelumnya, meskipun tidak semuanya. Itu berkat buku rahasia milik Gisella dulu, yang di berikan kepada Mark.
Flashback on,,,
"Jadilah anak yang baik untuk ibu kamu, dia menginginkan anak pria untuk di jadikan sebagai tentara!" Suara yang tiba-tiba terdengar di telinga Mark. Tanpa tau siapa pemilik suara itu.
Seorang gadis kecil itu hanya bisa menangis karena di tuntut untuk menjadi seorang pria di rumah itu. Karena kedua orang tuanya menginginkan seorang anak laki-laki.
Plakk,,,,
"Kenapa kau menuliskan nama ini? Ini bukan nama kamu!! Nama kamu adalah Albert bukan Angel!!!" Bentak seorang wanita paruh baya pada putrinya. Sedangkan sang anak yang mendapat perlakuan buruk itu pun hanya bisa menangis. Dirinya takut akan apa yang nantinya akan terjadi padanya nanti.
Tiba-tiba datang seorang pria paruh baya yang wajahnya tak asing, dan membawa sebuah alat pencukur rambut. Anak gadis itu kelihatan sangat ketakutan.
"Aaaaaarrrrhhh" Teriak gadis itu ketika rambutnya di cukur habis. Dia menangis mendapatkan perlakuan itu.
Plakkk,,,
Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipinya yang putih. Terlihat merah akibat tangan sang papa yang menamparnya.
"Berhenti menangis!!! Kau bukanlah anak gadis yang cengeng!!" Bentak papanya dengan penuh penekanan.
Gadis itu hanya bisa pasrah menerima nasibnya yang sangat kelam.
Flashback off,,
"Kak Mark!" Panggil Victor ketika melihat Mark menutup matanya dan tak kunjung membukanya.
Mark sontak saja terkejut dan kembali dari dimensi lain itu. Lalu seketika dia membuka matanya.
"Ada apa kak!?" Tanya Victor khawatir.
Bukannya menjawab, Mark justru langsung menatap pada pak Satyo yang wajahnya kelihatan datar.
"Pak, boleh saya bertanya?!" Ucap Mark memulai obrolan.
"Iya nak silahkan, tanyakan saja apa yang ingin di tanyakan!" Ucap pak Satyo mempersilahkan Mark untuk bertanya.
"Albert itu siapa pak?!" Tanya Mark.
Deg,,,,,