Kamar 126

Kamar 126
Penunggu bunga anggrek hitam


"Tapi untuk apa dia ke sana?" Tanya Gisella penasaran.


"Aku juga tidak tahu, tapi kayaknya setelah dari sana, dia tidak membawa apapun dan hanya melihat telaga itu saja!" Ujar Byun memberi tahu Gisella.


"Kayaknya ada yang nggak beres, tidak sembarang orang bisa datang ke telaga itu!" Kata Gisella.


"Lagi pula untuk apa kamu bersikeras ingin mencari bunga anggrek hitam itu?" Tanya Byun penasaran.


"Aku memiliki seorang teman, dan dia sekarang sedang bersama dengan kekasihnya, kamar hotel tempat mereka menginap ada iblis yang menaunginya,,sebagai teman yang baik aku ingin memagari kamar itu supaya mereka tidak di ganggu!" Kata Gisella.


"Tunggu-tunggu! Tadi kamu bilang dia punya kekasih? Maksudnya teman kamu pria? Atau si wanitanya?" Tanya Byun lagi.


"Haish, sudahlah kau tidak akan tahu ayo kita cari bunganya!" Ajak Gisella.


Byun pun mengantarkan Gisella ke telaga merah untuk mengambil bunga anggrek hitam yang dia cari.


Membutuhkan waktu selama berjam-jam lamanya untuk perjalanan ke sana. Sesampainya di telaga itu Gisella turun dari mobil begitu juga dengan Byun.


"Byun tunggu!" Ujar Gisella.


"Ada apa?" Tanya Byun.


"Pakai ini!" Suruh Gisella sembari memberikan sebuah kalung berisikan air suci pada Byun.


Kalung yang di buat Gisella itu memang ada tiga. Satu dipakai oleh Gisella, satunya lagi diberikan pada Chan dan sekarang ada di tangan Suho ,sedangkan yang satunya lagi ada pada Byun.


"Apa ini untukku?" Tanya Byun sembari menerima kalung pemberian Gisella dan langsung memakainya.


"Iya, pakailah! Itu untuk kamu buat jaga-jaga aja, takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan!"


Setelah itu Gisella bersama dengan Byun menuju telaga itu yang terletak sedikit jauh dari mobil, karena tempatnya memang tidak bisa di lalui oleh mobil. Jadi Gisella dan juga Byun terpaksa berjalan kaki untuk menuju ke sana.


Sesampainya di sana , Gisella justru terpukau dengan keindahan yang ada di telaga merah itu.


"Telaga ini sangat indah, bagaimana bisa telaga seindah ini bisa berbahaya?" Tanya Gisella.


"Aku juga tidak tahu!" Kata Byun.


Mata Gisella langsung tertuju pada bunga anggrek hitam yang dicarinya itu. Bunga itu menempel pada sebuah pohon besar yang ada di tepi telaga merah itu.


Gisella yang sudah antusias ingin mengambilnya, namun tiba-tiba saja Byun melarangnya hingga akhirnya Gisella menghentikan langkahnya dan bertanya pada Byun.


"Ada apa?" Tanya Gisella.


"Kamu tidak tahu bukan kalau itu akan berbahaya atau tidak? Jadi jangan langsung ambil tindakan!" Ucap Byun dengan nada khawatir.


"Kamu tenang saja, aku tahu bunga itu ada penunggunya, dan aku juga tidak akan langsung mengambilnya begitu saja! Aku akan bertanya pada penunggunya! Kamu tunggu saja di sini!!" Perintah Gisella.


"Tidak! Aku harus ikut bersama denganmu! Karena ku bertanggung jawab penuh atas dirimu, aku yang sudah membawa kamu sampai sini!" Ujar Byun yang tidak dapat di ganggu gugat lagi.


"Baiklah kalau begitu"


Gisella dan juga Byun pun mendekat ke arah bunga itu berada. Gisella menyuruh Byun untuk memegang tangannya dan melarang Byun untuk melamun, hal itu bertujuan agat sewaktu Gisella berbicara pada penunggu pohon itu tidak ada yang menggangu Byun.


Kemudian Gisella menutup matanya dan bertemu dengan seorang putri cantik yang tak lain adalah penjaga bunga anggrek hitam itu.


Gisella terkejut mendengar perkataan itu dsn berkata,,,,


"Apa kamu penunggu bunga ini?" Tanya Gisella dengan santai.


"Iya, aku adalah penunggu bunga anggrek hitam ini! Dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilnya!! Pergilah!! Sebelum aku mengambil jiwamu!!" Usir putri cantik itu.


"Ada apa denganmu?" Tanya Gisella.


Deg,,,,,,,


"Apa maksud kamu?" Tanya putri itu dengan kebingungan.


"Siapa yang sudah membuatmu jadi begini? Aku akan membantumu jika kau mau memberikanku bunga anggrek hitam ini!" Ujar Gisella.


"Pergi!! Aku tidak butuh bantuan mu!!" Usir nya lagi.


"Kau tidak bisa berbohong padaku!! Raut wajahmu mengatakan kalau kau sebenarnya sangat tersiksa berada di sini!!" Kata Gisella.


"Apa aku minta tolong sama dia saja? Aku pikir dia bisa dipercaya!" Batin putri cantik itu.


"Katakan padaku! Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Gisella.


"Tolong carikan kekasihku dan bawa dia ke sini!" Kata Putri itu yang tak lain bernama Jeni.


"Kekasih? Tapi bagaiman bisa aku membawanya kemari? Aku bahkan tidak tahu siapa kekasihmu dan dimana dia berada?!" Ujar Gisella bingung namun sembari mengingat, Gisella teringat akan Kris yang tak lain adalah pembunuh adik Byun. Byun bilang Kris pernah datang ke telaga merah, dan Gisella berpikir bahwa Kris lah kekasih Jeni.


"Kris? Apa dia bernama Kris?" Tanya Gisella pada Jeni.


Namun dugaan Gisella ternyata salah, pria yang dimaksudkan Jeni bukanlah Kris. Bahkan Jeni tidak tahu siapa itu Kris, karena Jeni tahu tidak ada seorang pun yang berani mendekati telaga merah. Dan hanya ada satu pria sebelum Gisella datang ke sana. Jeni tidak mengetahui namanya namun Jeni tahu kalau pria itu datang dengan tujuan buruk dan mengambil bunga anggrek hitam.


Jeni dan Gisella saling memperkenalkan diri. Lalu Jeni berjalan mendekat ke arah Gisella.


Gisella hanya diam karena tak tahu apa yang akan dilakukan oleh Jeni. Saat Jeni berada di hadapan Gisella , Jeni langsung menyentuh pundak Gisella dan terlihatlah sebuah masalalu dari diri Jeni.


Jeni sendiri adalah seorang gadis yang cantik. Dia anak tunggal dari keluarga kaya raya, namun seluruh keluarganya mati karena di teror oleh hantu yang berhasil mempengaruhi mereka.


Saat itu Jeni ingin melawan hantu itu, namun usahanya hanya sia-sia saja. Sampai akhirnya Jeni datang ke telaga merah dan duduk di samping pohon yang terdapat bunga anggrek hitam.


Jeni juga memiliki seorang kekasih yang sangat doa cintai, namun setelah Jeni datang ke telaga merah, dirinya tidak pernah bisa kembali karena suatu insiden yang menimpanya.


Saat Jeni sedang duduk sendirian di dekat telaga merah itu, yang lebih tepatnya di samping pohon besar yang ada bunga anggrek hitam itu.


Di memohon kepada tuhan agar bisa melawan dan memusnahkan hantu yang telah mempengaruhi dan juga membunuh keluarganya.


Sampai akhirnya dia tidak terlihat dan dia dijanjikan oleh sang dewi penunggu telaga.


Dewi itu menjanjikan akan membalaskan dendam Jeni dengan satu syarat, yaitu menjaga bunga anggrek hitam dari tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


Jeni setuju akan hal itu, lalu dia di buat oleh sang dewi menjadi tidak terlihat dan hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya salah satunya adalah Gisella.


Jadi sebenarnya Jeni itu masih hidup, namun karena dia terikat janji oleh dewi telaga, dia di buat menjadi tidak terlihat oleh sang dewi.