
"Ceritakan pada tante kejadiannya nak!" Pinta Gisella setelah gadis itu tenang dan tak lagi menangis, namun wajahnya tak bisa berbohong kalau dia sangat sedih.
"Namaku Ratih kak! Aku dan ke 5 temanku di tugaskan untuk membuat makalah dengan mencari bahan-bahan alami yang ada di desa ini!" Kata anak itu yang kini kita tahu bernama Ratih. Lalu setelahnya Ratih menceritakan semuanya dari awal hingga sampai di saat itu semua terjadi.
Ratih datang bersama ke 5 orang temannya. Diantaranya ada 3 siswa cowok dan 3 siswi cewek yang datang ke sana. Awalnya semua berjalan mudah dan tak ada satu pun penghalang. Nama 3 cewek diantaranya adalah Ratih, Dinda dan Gladis. Sedangkan 3 cowoknya adalah Bayu, Dirga dan Bisma.
Mereka tinggal di satu kontrakan yang sama dengan 2 kamar. Memiliki 2 kamar mandi, dapur, ruang makan , ruang tidur. Cukup luas untuk mereka tempati. Karena mereka sebenarnya hanya akan berada di sana selama 3 minggu saja.
Ratih sebenarnya sudah merasakan ada yang janggal di tempat itu. Namun dirinya berusaha untuk tidak membuat masalah dengan mengatakan hal yang tak dapat i percaya dengan akal para teman-temannya.
2 hari setelah mereka berada di sana , semuanya berjalam lancar. Mereka membagi kelompok. Dengan Ratin bersama dengan Bayu, lalu Dinda bersama dengan Dirga, dan yang terakhir Gladis dengan Bisma. Hari itu mereka memutuskan untuk berpencar dengan kelompok yang sudah mereka bagi, dengan tujuan supaya nantinya mereka segera menyelesaikan semuanya.
Sampai di suatu malam tepatnya saat semua tengah tertidur. Mereka tak tahu apa yang tengah terjadi pada para sahabatnya itu. Ratih yang selalu diam dan tak pernah mengatakan rasa curiganya pada apa yang ada di tempatnya menginap pun memutuskan untuk tidak memberitahukan apapun mengenai apa yang dia rasakan.
Pov Ratih
Hari itu aku dan Bayu pergi ke sumber lahan perkebunan di desa itu. Sedangkan Dinda dan Dirga pergi ke sebuah lahan yang baru saja akan di tanami beberapa tanaman obat. Dan yang terakhir adalah Gladis dan Bisma, mereka aku beri tugas untuk mencari sumber mata air yang ada di desa itu. Aku juga tidak tahu mereka pergi ke mana. Tapi yang pasti sore hari setelah kita semua sudah selesai dan berkumpul di dalam kontrakan yang kami sewa. Aku tidak melihat adanya Gladis dan Bisma. Mereka berdua entah berada di mana saat itu. Bahkan kami menunggu sampai hari sudah menjadi gelap.
"Ayo kita minta tolong warga untuk membantu mencari mereka!!" Kataku menyarankan , aku sudah tidak kuat lagi menunggu. Mereka itu membuatku cemas, hingga aku tak tahu lagi harus mengatakan apa.
Sedangkan Dinda hanya duduk terpaku dan termenung, mengingat dirinya yang telah kerasukan kemarin. Aku merinding jika mengingatnya. Dinda adalah orang yang paling positif dan paling penakut. Dia di rasuki oleh satu sosok yang menyuruh kami untuk berhati-hati dan segera pergi. Bahkan gaya bicaranya seperti seorang sesepuh. Namun aku tak ambil pusing dengan hal itu ,para teman-temanku juga tak telalu menganggapnya serius. Hingga akhirnya hanya aku saja yang percaya akan apa yang di katakan oleh Dinda.
Saat aku sedang sibuk berbincang bersama sembari menunggu kedatangan Gladis dan Bisma. Aku tersentak saat tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Dan saat aku membukanya, ternyata itu adalah Gladis dan Bisma yang datang dengan wajah datar mereka. Entah apa yang telah terjadi, saat aku bertanya pada mereka. Mereka hanya diam dan langsung masuk ke kamar mereka.
"Mereka pada kenapa sih?!" Tanya Bayu penasaran.
Aku mendengus mendengar pertanyaan itu, "Lo lihat sendiri kan? Gue tadi tanya aja sama sekali nggak di jawab!!" Kesal ku hari itu.
Dinda mendatangi aku yang masih kesal saat itu, "Ratih, besok kita pulang ya! Gue takut di sini! Gue nggak mau di sini!!" Ku lihat Dinda sangat ketakutan setelah kejadian yang menimpanya saat itu. Padahal sebelumnya dia belum pernah mengalami apa yang di maksud oleh orang-orang sebagai kerasukan.
Setelah itu kami semua tidur di kamar kami, suasana tampak aneh malam hari itu. Namun aku putuskan untuk tetap berpikir positif. Biasanya kami selalu berbincang dulu sebelum tidur. Tapi entah kenapa suasana malam itu terlihat sangat aneh dari biasanya.
Pukul 01.00 aku terbangun namun tak mendapati Dinda di samping tempat aku tidur. Ku lihat Gladis masih terlelap di sampingku. Namun aku sangat bingung dan khawatir di mana Gladis pergi. Lalu aku putuskan untuk mencari Dinda di dapur. Akan tetapi aku tidak menemukan dia, di mana pun aku juga tidak menemukannya. Lalu aku putuskan untuk membangunkan Gladis dan memberi tahu dia kalau Dinda telah hilang. Namun siapa sangka hal tak terduga terjadi.
"Gladis bangun, Dinda nggak ada nih! Ayo kita cari dia!!" Ajakku pada Gladis, dia masih tidur dengan posisi miring menghadap ke tembok. Aku memang berada di pintu saat itu dan hanya memanggil Dinda dari pintu tanpa menyentuh tubuhnya. Tapi ada yang aneh dengan Dinda, dia sama sekali tidak bergerak saat aku memanggilnya.
"Gladis, bangun!! Ayo kita cari Dinda!!" Ajakku lagi yang perlahan mendekat ke ranjang dan mengguncangkan tubuh Gladis. Aku mengernyitkan dahiku bingung karena melihat Gladis sama sekali tidak merespon panggilanku. Lalu aku memutuskan untuk menariknya agar terlentang, namun betapa terkejutnya aku ketika melihat kondisinya yang mengenaskan. Matanya berubah menjadi hitam dan dia terlihat seperti orang yang sedang kehabisan nafas.
Deg,,
"Aaaaa!!!" Teriakku ketika melihat kondisi Gladis yang sangat mengenaskan itu. Teriakanku bahkan membangunkan Dirga dan juga Bayu yang ada di kamar sebelah. Mereka langsung berlari menuju ke arah kamar yang aku tempati itu.
"Ratih, ada apa sih? Kenapa lo teriak kayak gitu?!" Kata Bayu yang berada di ambang pintu bersama dengan Dirga.
"Iya ada apaan sih? Ini masih pagi banget!" Kata Dirga menimpali. Aku langsung menangis dan menatap mereka, membiarkan mereka melihat kondisi Gladis yang tampaknya seperti orang yang sedang sekarat.
Deg,,,
Mereka langsung terkejut, lalu setelahnya langsung memanggil para warga sekitar. Aku sendiri masih berada di kamar menemani Gladis, berharap dia akan sadar dan kembali seperti semula. Namun setelah itu aku menyadari kalau aku belum memberi tahu mereka tentang Dinda yang menghilang entah ke mana.
Setelah beberapa saat kemudian para warga telah datang bersama dengan kepala desa yang ada di sana. Mereka meletakkan Gladis di sebuah kursi panjang yang sengaja di letakkan di tengah-tengah kontrakan, lebih tepatnya di depan pintu. Tujuannya supaya jiwa Gladis yang pergi entah ke mana itu langsung kembali ke raganya, karena tampaknya saat ini jiwa Gladis sedang tidak berada di tubuhnya.
Aku menangis di dekat Gladis yang matanya masih berwarna hitam itu. Bahkan tubuhnya menjadi kaku sekali. Aku memberi tahu mereka semua kalau Dinda menghilang. Tapi ternyata aku juga baru menyadari kalau Bisma juga tidak ada di sana. Dia juga hilang, aku merasa frustasi melihat Gladis yang seperti itu di tambah kedua temanku yang hilang entah berada di mana saat ini. Air mataku sudah membanjiri wajahku berharap mereka semua akan baik-baik aja.
Lalu setelah aku menunggu kabar hingga hari menjelang siang, tak ada tanda-tanda di temukan nya kedua temanku yang hilang entah kemana. Masih dalam pencarian warga sekitar. Katanya ada juga yang hendak pergi ke rumah seorang sesepuh di desa sebelah, tapi aku tidak perduli dengan itu. Yang aku pikirkan saat ini adalah keselamatan kedua temanku yang hilang dan juga 1 temanku yang sedang sekarat ini.
Sampai siang hari tiba, ada seorang tante cantik dan suaminya datang lalu menepuk bahuku. Dia mengajakku masuk ke dalam kamar, aku tau tujuannya pasti untuk menanyakan tentang cerita dari semuanya itu. Lalu aku memutuskan untuk menceritakannya.