Kamar 126

Kamar 126
Menjalankan misi


"Pegang tanganku kak!" Kata Dira mengingatkan. Dan Mark hanya menjawabnya dengan anggukan, seketika tubuh Mark tak terlihat seiring Mark memegang tangan Dila, namun suaranya bisa terdengar oleh papa Chan dan tak akan bisa di dengar oleh iblis itu.


"Kau datang ke sini sayang?!"


Sebuah suara tiba-tiba menggema dan mengagetkan Chan.


"Wendy? Apa itu kau?" Tanya Chan sembari menarik nafas dalam dan menghelanya, "Wendy, bisa aku bertemu denganmu?!" Tanya Chan dengan suara lembutnya.


"Ternyata kau merindukanku sayang?!" Tanya Wendy yang muncul di belakang Chan dengan wajah cantiknya yang tak berbeda dengan dulu saat bertemu dengan Chan pertama kali. Chan yang sebenarnya merasa jijik dan tak ingin lagi berhubungan dengan sosok iblis ini pun, terpaksa harus mengikuti rencana dari Dira, anaknya yang telah meninggal.


Chan berbalik, "Wendy, kenapa kau mengusik keluargaku? Apa salahku padamu?!" Tanya Chan dengan nada lembut.


Wendy tersenyum , namun senyumannya itu sulit di artikan. Mark yang ada di sana juga bersama dengan Dira yang melihat itu merasa ingin sekali membuat iblis itu hancur menjadi abu.


"Kau lupa dengan dia yang telah mengambil dirimu dariku? Aku yang lebih dulu mengenalmu! Aku yang lebih dulu kau cintai!!" Ucap Wendy dengan masih tak menyadari kalau dirinya bukanlah manusia.


"Tapi itu karena alam kita berbeda! Kau dan aku yang tak sama! Kita tidak akan pernah bisa bersatu! Seharusnya kau merelakan aku Wen!" Ucap Chan memberi pengertian.


"Cih, kita bahkan bisa bersama selamanya! Kekal abadi di alam ku ini! Tapi kau menolak ku!" Ucap Wendy yang mengingat kejadian kala itu.


"Apa yang kau inginkan sekarang? Jika kau menginginkan aku! Maka aku menginginkan satu syarat!" Ucap Chan dengan penuh lesu.


"Benarkah apa yang kau ucapkan itu? Apa syaratnya?!" Tanya Wendy, memang benar tujuan utama Wendy hanyalah Chan. Itu karena dia ternyata tak bisa menyempurnakan kekuatannya dengan lelaki mana pun karena dia sudah lebih dulu mencintai dan melakukan hal intim bersama dengan Chan.


"Ijinkan aku bertemu dengan istri dan anak ku Axel untuk yang terakhir kalinya!!" Kata Chan dengan nada memohon. Membuat Wendy malah tertawa, "Hahaha, hanya itu? Baiklah!" Kata Wendy dengan menunjukkan keberadaan Gisella di dalam sebuah jeruji besi dengan rantai yang mengingat di lehernya. Begitu juga dengan Axel yang berada di jeruji besi itu juga dan dengan rantai yang mengikat di lehernya.


Chan yang melihat itu terkejut bukan main, dirinya melihat adanya istrinya di sana dan juga Axel dengan kondisi yang sangat menyedihkan.


"Ikuti aku!!" Ajak Wendy dengan menarik tangan Chan menjauh dari tempat itu, Wendy membuat sebuah ilustrasi yang sering Dila kunjungi.


Wendy mengajaknya duduk di sebuah kursi taman, dengan menyenderkan kepalanya pada pundak Chan. Dirinya sudah tak ingin apa-apa lagi selain bersama dengan Chan. Bagi Wendy, Chan adalah orang yang sangat Windy butuhkan. Apalagi mengetahui Chan dengan senang hati datang ke tempatnya kala itu. Walau pun Wendy awalnya berpikir kalau Chan akan melakukan penyelamatan terhadap Gisella dan Axel, dia sekarang tak memikirkan itu karena baginya Chan tidak akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri setelah berada dalam genggaman Wendy.


Chan sebenarnya jijik namun sebisa mungkin dia akan membuat Wendy larut dalam apa yang dia lakukan. Semua Chan lakukan demi keselamatan Gisella dan juga Haechan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi Mark dan juga Dila, mereka berdua yang melihat Gisella dan Axel pun langsung melancarkan misi penyelamatan.


"Bagaimana cara membuka jeruji besi ini? Bahkan air anggrek hitam tak mampu membuatnya terbuka?!" Kata Mark sudah mau putus asa. Gisella sebenarnya mendengar ucapan itu, namun tubuhnya masih terlalu lemas dan memilih diam.


Mark kemudian melepaskan jeratan Gisella dan juga Axel. Kini mereka telah di papah oleh Dila dan Mark menuju astral projection. Tentunya hanya dengan satu tangan saja, karena tangan Mark dan Dira yang lain di gunakan untuk saling berpegangan dan untuk berjaga-jaga kalau iblis itu nanti mengetahui keberadaannya.


"Bagaimana dengan papa?" Tanya Mark yang di dengar oleh Gisella sebelum mereka sampai pada astral projection.


"Apa? Chan ada di sini?!" Tanya Gisella dengan membelalakkan matanya.


Mark dan Dira hanya saling pandang saja mengingat kalau dirinya memang melakukan itu semua berkat papa Chan yang menjebak iblis itu.


"Ini berbahaya, Dira terima kasih karena kamu sudah hadir di sini untuk kami! Selamatkan Axel dan juga kakak kamu Mark! Mama akan menyelamatkan papa Chan!!" Pinta Gisella.


"Tidak ma! Itu sangat berbahaya! Biarkan Dira saja!" Kata Dira menyangkal.


"Mama tidak akan membiarkan kamu menjadi terjerat oleh iblis itu! Mama akan memusnahkannya!" Kata Gisella. Memang setelah keluar dari jeruji besi tadi, Gisella dan juga Axel langsung memakai kalung dari bambu kuning.


"Kalian tenang saja! Mama akan menggunakan ini untuk membawa papa kalian kembali! Ingatlah ini Mark. Jika nanti saat mama dan papa bangun dan tidak saling berpelukan tolong bunuh kami! Karena mungkin itu bukanlah jiwa kita yang asli! Tapi saat nanti mama sama papa berpelukan itu tandanya kami kembali dengan selamat!" Ucap Gisella yang membuat Mark tersentak. Tentu saja, bagaimana mungkin membunuh kedua orang tuanya begitu saja?


Itu sangat sulit untuk di lakukan.


"Tapi ma-" ujar Mark terpotong.


"Lakukan saja!" Kata Gisella, lalu mengambil satu kalung lagi di tangan Mark, tentunya itu nanti akan di berikan kepada Chan.


Mark hanya bisa pasrah dengan keputusan yang di ambil oleh mamanya itu. Dia tak tahu lagi harus melarang mamanya dengan cara apa lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk membawa Axel yang masih terkulai lemas menuju portal astral projection.


"Berhati-hatilah ma! Kita semua menunggu mama dan papa kembali!!" Kata Mark sebelum dia berjalan menuju portal bersama Axel dan Dira. Gisella hanya menjawabnya dengan tersenyum mengangguk.


Gisella kemudian mencari Chan dengan membawa kalung yang dia ambil dari Mark tadi. Berkeliling menjadi Chan, namun dia tak kunjung menemukan keberadaan suaminya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi Mark, Dira dan juga Axel kini mereka ada di depan portal. Dira menatap manik mata Axel, membuatnya tersadar dan sedikit merasa lebih baik.


"Dira?" Lirih Axel.


"Axel, aku mohon! Kenang saja aku di masalalu kamu! Aku yakin kamu bisa menemukan pengganti diriku di dunia kamu! Tolong jangan mengharapkan aku kembali! Karena alam kita sudah berbeda Axel! Aku mohon jangan siksa dirimu dengan kepergian ku! Ikhlaskan aku sesuai hati kamu! Jangan sampai kamu terpengaruh iblis lagi!" Kata Dira panjang lebar untuk mengingatkan Axel.