Kamar 126

Kamar 126
Bertemu di alam mimpi


"Baiklah kalau begitu, gue akan merahasiakan ini dari siapapun, tapi kita masih bisa bertemu kan?!" Tanya ku pada Dira.


Ku lihat Dira tersenyum karena mendengar jawabanku yang akan merahasiakan ini dari semua orang yang ada di mansion. Lalu kemudian Dira memberi tahuku, "Dila, lo bahkan bisa ketemu sama gue melalui alam mimpi ini! Tapi ada satu syarat yang harus di lakukan Dil! Dan itu adalah apa yang berhubungan sama gue!" Kata Dira yang membuat aku senang, karena akhirnya aku jadi bisa bertemu dengan Dira walaupun hanya di alam mimpi.


"Sungguh? Apa syaratnya?!" Tanyaku antusias karena merasa penasaran.


Sebelum Dira menjawab dia berjalan dan aku langsung mengikutinya, Axel  itu memiliki hubungan? Kita juga dapat terhubung Dila!" Kata Dira yang membuat aku bingung, aku tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Dira tadi.


"Maksudnya apa Dila? Gue nggak tahu! Ya, memang gue tahu lo berhubungan dengan Axel dulu! Tapi apa maksudnya kalian saling terhubung?!" Tanyaku penasaran akan kebingungan yang melanda pikiranku.


Dira berbalik dan menatapku yang ada di belakangnya ,"Kalau lo di cium oleh Axel, tidur lo nanti akan bertemu sama gue di alam mimpi ini! Begitu pun sebaliknya!" Kata Dira yang membuatku membulatkan mata tak percaya.


"Lo bercanda Dil? Mana mungkin bisa kayak gitu! Lo ada-ada aja sih!" Jawabku, tapi sepertinya Dira tidak suka dengan jawabanku yang seperti tidak percaya padanya, ya memang sih kenyataannya aku tidak percaya padanya mengenai hal ini.


"Hehe iya-iya sorry, gue percaya kok sama lo! Jangan ngambek kenapa sih? Lo serem kalau ngambek!" Kataku menvoba mengembalikan suasana supaa Dira tidak marah padaku.


Tapi apa-apaan? Benarkah apa yang di katakan oleh Dira barusan? Benarkah jika Axel menciumku ataupun sebaliknya, gue akan bertemu dengan Dira?


Ahh, ini sungguh membuat kepalaku pusing seperti mau pecah saja! Sungguh menyebalkan. Tapi ya karena aku tidak bisa melihat Dira sedih jadi aku putuskan untuk percaya padanya mengenai hal ini. Supaya dia senang.


Aku dan Dira berjalan menyusuri indahnya taman yang kami pijaki, angin sepoi-sepoi membuat bunga-bunga bergerak. Bahkan harum dari bunga itu membuat aku menjadi candu, ingin sekali aku memetiknya tapi aku urungkan niatku. Bukankah jika di alam mimpi ini sama saja dengan sebuah ilusi? Benarkah ini ilusi saja?


Ya tentu saja, tapi aku bahagia bisa bertemu dengan saudara kembarku. Meskipun hanya di alam mimpi yang hanya berkedok sebuah ilusi.


"Dira, bukannya itu air kolam susu yang pernah kau tunjukkan sama gue dulu?!" Tanyaku pada Dira sambil menunjuk air kolam itu.


"Lo masih bisa melihatnya?" Tanya Dira yang membuat dahi ku mengernyit heran akan jawaban yang diucapkannya.


"Kenapa lo kayak kaget gitu? Emangnya kenapa gue nggak bisa lihat tuh kolam air mancur susu?" Tanyaku penasaran.


Dira sekali lagi menoleh kepadaku, tapi tatapan matanya kembali ke arah kolam air susu itu, "Tidak, bukan begitu maksud gue! Lo nggak ingat kalau lo pernah minum air itu?!" Tanya Dira mengingatkan aku akan pertama kali datang ke sana dan bertemu dengan Dira setelah sekian lama, aku mengingat kalau aku pernah meminumnya waktu pertama kali aku ke sana.


"Oh iya gue ingat!" Kataku yang teringat.


"Nah itu dia, biasanya kalau ada yang datang dan meminum air susu dari kolam itu dia tidak akan bisa melihatnya lagi!" Kata Dira yang terlihat heran kalau aku bisa melihat air kolam susu itu ada di tempat itu lagi.


"Memangnya lo tahu dari mana? Wah wah kayaknya lo banyak belajar ya di sini? Siapa guru yang ngajarin lo?!" Kataku bercanda pada Dira.


"Yee, lo kata gue sekolah? Sekolah hantu gitu? Semua manusia yang sudah mati maka dirinya juga akan langsung bisa beradaptasi dan mengetahui berbagai macam hal!" Kata Dira menjelaskan. Aku salut, dunia mimpi ini sungguh menyenangkan, sungguh aku tidak ingin pergi dari tempat ini terutama ada Dira yang selalu ada di sini, jadi bikin makin betah aja.


"Dila, bagaimana kabar Axel? Dia baik-baik aja kan? Gue iri sama lo karena bisa menikmati masa-masa indah cinta lo! Gue harap Axel bisa sama lo ya Dil!" Kata Dira.


Deg,,,,


Seketika hatiku bergetar mendengar Dira mengucapkan permohonan seperti itu. Dadaku terasa sesak, aku merasa kasihan pada Dira. Apalagi aku tahu kalau nantinya aku tidak akan bisa mengabulkan apa yang menjadi keinginan Dira. Karena hatiku sudah menjadi milik Mark. Akan tetapi aku akan sebisa mungkin membuat Dira senang dengan caraku sendiri.


Di dunia mimpi ini semua seperti nyata, dengan aku sendiri yang menjadi pemeran utama. Tapi bagaimana dengan hatiku yang terluka, karena tak bisa mewujudkan cinta ,dari saudara kembar yang sangat aku cinta ini. Seketika hatiku bimbang, aku tak tahu harus menjawab apa ucapan Dira tadi. Bibirku tak mampu berucap, lidahku kelu. Bahkan keringat mulai membasahi dahi ku. Semua lamunanku terbuyar kan oleh ucapan Dira yang mengagetkan aku.


"Dila lo kenapa? Lo sakit? Haish, ini alam mimpi lo, dan ini tempat gue! Kenapa bisa kayak gini? Apa yang lo pikirkan?" Kata Dira dengan mencerca berbagai pertanyaan padaku.


Aku tersentak dan malah gugup untuk menjawabnya, aku bahkan ragu pada hatiku sendiri saat ini, "Eh, ah itu Dir! Gue mau bilang kalau gue pengen duduk di sana! Kayaknya tempatnya bagus deh!" Ajakku dengan berjalan mendahului Dira berjalan menuju ke arah kursi taman. Namun belum jauh aku melangkah, aku menghentikan langkahku karena ucapan Dira.


"Dila, apa lo nggak cinta sama Axel? Lo mau kan jaga dia buat gue?!" Kata Dira yang membuat pikiranku kalut, hatiku sakit. Nafasku sesak tak bisa berkata-kata lagi. Aku tak sanggup berbalik dan menoleh ke arah Dira untuk menjawab ucapannya itu.


"Dila kenapa? Apa lo nggak memiliki perasaan pada Axel? Gue akan pergi dengan tenang kalau lo bisa jaga hati Axel buat gue!" Kata Dira lagi yang masih tak bergeming dari tempatnya. Sedangkan aku masih membelakanginya. Aku bingung harus menjawabnya bagaimana, ingin rasanya aku kembali ke dunia dan menghilang dari dunia mimpi supaya aku tidak perlu menjawab pertanyaan dari Dira itu. Tapi aku rasa itu tidak mungkin, bukankah nanti aku akan terbangun dengan sendirinya dari tidurku?


Aku pun tak punya pilihan lain lagi, "Gue mencintai Axel Dir, gue nggak akan ngecewain dia! Lo tenang aja gue bakal jaga hati Axel!" Jawabku dengan suara bergetar tanpa menoleh ke belakang untuk melihat Dira.


Aku menitihkan air mataku saat mengucapkannya, aku sungguh teringat akan ucapan manis kak Mark padaku. Ya, kita telah sepakat untuk saling menjaga hati satu sama lain. Tapi apa ini? Aku menyakiti hati kak Mark? Meskipun kak Mark tidak tahu, tapi aku yakin dia pasti merasakan sakitnya. Ya Tuhan bagaimana ini?


Aku mengusap air mataku dan menarik nafas dalam. Aku berbalik menatap ke arah belakang untuk melihat Dira, namun aku terkejut saat tak mendapati siapapun di belakangku. Ya benar, Dira menghilang dari sana. Aku tak tahu dia ada di mana, bahkan dia tak mengatakan apapun padaku kalau dia akan pergi, bagaimana ini?


"Dira, lo ada di mana?!" Panggilku tanpa beranjak dari tempat awal aku berdiri.


Aku meneguk air yang ada di kolam itu, hingga akhirnya aku mendengar samar-samar suara seseorang. Aku tak tahu suara siapa itu ,tapi aku berharap itu adalah suara Dira.


Akan tetapi aku bingung harus bagaimana lagi menghadapi ini, sepertinya aku tidak akan bisa menemukan Dira. Hingga aku mendengar suara lagi, suara itu semakin terdengar hingga perlahan aku menoleh ke belakang dan terkejut setengah mati melihat ada sosok menyeramkan berdiri tepat di belakangku.


"Tidak!!!" Ucapku terbangun dari mimpi itu. Aku mengusap wajahku dengan kasar dan mencoba meminum air putih yang terletak di nakas. Aku menenggaknya hingga tandas.


"Astaga cuma mimpi! Menakutkan sekali!!" Kataku sambil berusaha menetralkan rasa takutku. Ya kalian tahu sendiri bukan aku ini bukan tipe orang yang penakut. Aku terkejut melihat itu tadi.


Hingga aku sadar kalau tadi Axel tidur di kamarku, tapi ku lihat di sofa dia tidak ada di sana. , "Axel kemana? Bukannya tadi dia tidur di sana?!" Kataku sembari menatap sofa yang kosong, "Mungkin dia udah balik ke kamarnya lagi!" Ucapku asal menebak yang telah di lakukan oleh Axel. Lalu kemudian aku putuskan untuk melanjutkan tidurku. Karena ku lihat jam masih menunjukkan pukul 01.00 dini hari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebelum itu ketika Dila sedang bergulat dengan mimpinya, Axel terbangun dan melihat Dila yang sedang tertidur pulas. Lalu kemudian Axel memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dia akan tidur di kamarnya nanti.


Sesampainya di kamar Axel, dia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.


Pov Axel


Setelah ku lihat Dila tertidur dengan pulas, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku sendiri. Tentunya karena aku tidak bisa tidur di sana karena tadi aku sempat mencium pipi Dila untuk yang kedua kalinya. Itu semua aku lakukan karena reflek dan itu juga terjadi begitu saja, aku tak kuat menahan rasa gemasku saat melihat dia yang tengah berada di ranjang dan tersenyum di depan mataku. Apalagi melihat dia mengerucutkan bibirnya tadi ku sungguh tak tahan ingin sekali menciumnya. Tapi aku sebisa mungkin harus menahannya karena bagaimana pun aku masih tahu dengan batasan ku.


Setelah berbaring di ranjang aku yang mengantuk pun akhirnya memutuskan untuk tidur.


Di sebuah taman yang sangat indah, burung-burung berkicauan di dahan pohon dan banyaknya bunga membuat kupu-kupu pun menghisap sari-sari bunga. Aku berjalan di sebuah jalanan setapak mengarah entah kemana.


"Tempat apa ini? Kenapa gue bisa ada di sini? Apa ini dunia mimpi? Sungguh indah!" Kataku sambil mengamati keindahan alam sekitar taman yang aku pijaki. Sampai sebuah suara mengagetkan aku, suara yang tak asing di telingaku saat ini.


"Axel!" Panggilnya.


Deg,,,


Aku berbalik menatap ke belakang, dan aku terkejut melihat adanya Dila di belakangku dengan tersenyum indah. Aku tak tahu kenapa bisa ada Dila di sini. Ah, aku lupa kalau ini hanyalah dunia mimpi bukan. Astaga, bahkan aku sampai memimpikan Dila? Oh aku memang sudah gila!


"Dila!" Ucapku sembari tersenyum ke arahnya.


Lalu ku lihat senyum Dila sedikit memudar membuat aku mengernyit heran. Sebelum aku bertanya, dirinya sudah lebih dulu berkata,,,


"Aku bukan Dila! Aku Dira Axel!" Katanya yang membuatku membelalakkan mata karena terkejut.


Deg,,,


"Apa? Benarkah?" Tanyaku dengan suara yang bergetar, karena sungguh baru kali ini aku bisa bertemu dengan Dira di alam mimpiku. Padahal semenjak Dira meninggal dunia, aku sama sekali tidak pernah melihatnya walau hanya dalam mimpi sekali pun. Padahal aku sering memikirkan Dira, tapi itu sama sekali tidak membuat aku memimpikan Dira. Tapi kali ini, aku benar-benar bertemu dengannya. Itu sungguh membuat mulutku bungkam dan lidahku terasa kelu.


"Dira?!" Kataku memanggilnya sembari menelan kasar saliva ku.


Ku lihat Dira tersenyum saat aku menyebut namanya, lalu kemudian dia berjalan mendekat ke arahku. Entahlah, rasanya aku tidak tahu. Kenapa aku yang memang mencintai Dira itu bisa langsung menitihkan air mataku saat melihatnya. Bahkan aku sama sekali tidak mengingat Dila yang telah berhasil mengambil alih posisi Dila di hatiku.


Kini kami berdiri saling berhadapan menatap satu sama lain. Aku melihat binar mata Dira yang memang sama persis milik Dira saat dirinya masih hidup. Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan Dira lagi, kami berdua saling melempar senyum melepas kerinduan yang tak tahu entah kapan akan bisa terbayarkan.


Dira perlahan menyentuh pipiku\, dan dia mendekatkan wajahnya padaku. Aku langsung menutup matanya karena tahu akan adegan selanjutnya yang terjadi. Dira menciumku dan entah kenapa aku malah ikut terbuai olehnya\, dan langsung membalas lum*t*n dari bibir lembut Dira. Ini sungguh pertama kalinya bagiku\, aku tidak menyangka akan seperti ini rasanya berciuman untuk pertama kalinya. Ini membuatku terlena dan tak ingin terbangun dari mimpi indah ini.


Tak berapa lama aku dan Dira melepaskan pangukan dan kembali mata kami saling beradu. Tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya. Aku memeluk Dira ,pelukannya sudah lama aku rindukan.


"Axel, aku merindukan kamu!" Kata Dira yang masih berada di pelukanku saat itu.


"Aku juga sangat merindukan kamu Dir! Aku rindu di saat kita bersama dulu! Bisakah kau kembali?!" Kataku yang masih mendekap tubuh Dira dengan hangat, bahkan aku enggan untuk melepaskan pelukan Dira.


"Axel! Kau tak perlu khawatir, aku masih ada untuk kamu! Aku selalu ada di samping kamu!" Ucap Dira yang membuatku bingung, lalu setelahnya aku melepaskan pelukan dan menatap kedua mata Dira mengharapkan sebuah keseriusan tentang apa yang di ucapkan oleh Dira barusan.


Dira pun tersenyum ke arahku,,,