Kamar 126

Kamar 126
Sahabat Daniel


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di sisi Gisella,,,,


Gisella, Lisa dan juga Nadia akhirnya sampai di raga mereka dan masuk ke raga mereka masing-masing.


Lisa dan Nadia sudah berhasil sadar terlebih dahulu. Nathan dan Alex yang menjaga mereka langsung memeluk hangat pasangan mereka masing-masing, karena mereka sudah kembali dengan selamat.


"Kalian berdua sudah kembali! Tapi kenapa sampai sekarang Gisella tidak kunjung sadar?" Tanya Chan yang kembali merasa khawatir karena Gisella tidak kunjung sadar dari komanya.


Ucapan Chan sontak membuat seluruh mata tertuju ke arahnya dan melihat Gisella yang masih terbaring lemah di atas ranjangnya.


"Itu tidak mungkin! Aku dan Nadia sudah berhasil membawa Gisella bersama dengan kami!!" Ucap Lisa yang yakin kalau dirinya sudah membawa Gisella kembali bersama dengan Nadia.


"Iya, Lisa benar! Tidak mungkin kalau Gisella tidak masuk ke dalam tubuhnya sendiri!!" Ucap Nadia.


Saat itu Papa Gisella juga sudah menutup astral projection yang dia buka tadi.


"Gisella, bangun sayang!" Ucap Chan yang ada di sebelah kiri ranjang Gisella.


"Bangunlah, nak! Semuanya ada di sini untuk menunggu kamu sadar!" Ucap Mama Gisella yang berada di sebelah kanan ranjang milik Gisella.


Tiba-tiba,,,,,


Gisella langsung terbangun dan menarik nafas panjang, seperti orang yang habis menyelam tanpa menggunakan tabung oksigen. Hal itu sontak membuat semua orang yang ada di sana merasa terkejut sekaligus senang, karena mereka melihat Gisella yang telah kembali sadar.


"Anak mama akhirnya sadar!" Ucap Mama Gisella yang langsung memeluk hangat anaknya itu.


Semua orang yang berada di sana menangis bahagia, karena Gisella mereka telah kembali.


"Syukurlah, nak! Kamu sudah kembali!" Ucap papa Gisella.


Gisella tersenyum ke arah papanya lalu menoleh ke arah Chan.


"Chan!" Panggil Gisella dengan tatapan penuh haru melihat orang yang dia cintai kini berada di sampingnya.


Mata Chan dan juga Gisella saling beradu dan berkaca-kaca, sampai akhirnya mereka berdua memeluk hangat satu sama lain.


Sore harinya, mereka semua sengaja membiarkan Gisella dan juga Chan untuk berbicara empat mata.


"Chan!" Panggil Gisella.


"Aku pikir aku tidak akan bisa bertemu dengan dirimu lagi!" Ucap Gisella setelah memanggil Chan.


"Gisella, aku mohon maafkan aku! Aku sudah membuat dirimu khawatir! Aku sendiri juga tidak tahu kenapa diriku bisa terpengaruh olehnya lagi!" Ucap Chan menjelaskan pada Gisella tentang apa yang dia alami.


"Yang aku tahu, Kris memang sengaja memukul kamu, dia mengambil kalung anggrek hitam yang telah aku berikan padamu dan dia membuang kalung itu?! Sampai akhirnya Wendy bisa mendekati kamu, Chan" ujar Gisella menjelaskan rincian kejadian saat Chan di kamar mandi.


Chan menghela nafasnya lalu berkata,,,,


"Mungkin aku yang kurang berhati-hati!" Ucap Chan.


"Sudahlah tidak perlu di bahas lagi! Yang terpenting sekarang kamu sudah baik-baik saja!" Ucap Gisella yang tersenyum manis ke arah Chan, begitu juga dengan Chan yang membalas senyuman manis Gisella.


"Oh iya, Chan! Bagaimana bisa Lisa dan juga Jiso melakukan astral projection?" Tanya Gisella yang penasaran karen Jiso dan Lisa hanya diam saat di tanya mengenai hal itu.


"Hah? Papa? Di mana papa? Aku ingin berbicara dengannya!!" Ujar Gisella yang ingin bertemu dengan Papanya.


"Baiklah , kamu tunggu di sini! Aku akan memanggilnya!" Ucap Chan yang setelahnya berdiri dari duduknya dan menuju pintu.


"Oh iya, Chan! Biarkan juga yang lain masuk ke sini!" Pinta Gisella pada Chan yang sudah berada di ambang pintu.


"Iya, kamu tunggu sebentar ya!" Ucap Chan.


Semua orang yang sedang duduk di depan ruang rawat Gisella itu, di suruh masuk oleh Chan. Dan kini semuanya sudah masuk ke dalam ruang rawat Gisella.


"Papa!" Panggil Gisella dan hanya di jawab senyuman dari wajah papanya yang menatap dirinya.


Gisella yang hendak beranjak dari ranjangnya, langsung di halangi oleh Daniel, papanya.


"Hey, tidak perlu beranjak dari ranjang mu! Papa sudah ada di sini!" Ucap Papa Gisella.


"Pa, Gisella mau ngucapin terima kasih sama papa, karena papa udah menyelamatkan nyawa Gisella!" Ucap Gisella yang berterima kasih pada Papanya dan langsung memeluk hangat papanya itu, Daniel sendiri juga membalas pelukan hangat dari anaknya yang baru sadar dari komanya.


"Kamu adalah anak papa satu-satunya, papa nggak akan membiarkan terjadi sesuatu pada dirimu apalagi sampai dirimu terluka, nak!" Ucap Daniel dengan nada layaknya seorang papa bagi Gisella.


"Om, apakah kita semua boleh tahu! Kenapa bisa om sama seperti Gisella?" Tanya Suho yang menyela pembicaraan Daniel dengan Gisella, karena dia sudah sangat penasaran dengan hal itu.


"Om akan menceritakannya pada kalian semua! Sebenarnya, Om sudah lama menyembunyikan semua ini dan tentang astral projection yang om lakukan!" Ucap Danie mengawali ceritanya.


"Iya, sebelumnya Gisella juga tidak pernah tahu kalau Papa sebenarnya bisa melakukan astral projection!" Ucap Gisella yang juga tak pernah menyangka kalau Papanya juga bisa melakukan astral projection.


"Dulu, papa pernah melakukannya, bahkan sering! Akan tetapi, ada suatu hal yang membuat papa trauma, dan memilih untuk tidak melakukannya lagi!" Ujar Daniel memberi tahu semuanya yang ada di ruang itu.


"Kalau boleh tahu, memangnya om melakukan astral projection untuk apa?" Tanya Chan yang semakin penasaran dengan cerita dari Papa Gisella.


Flashback on,,,


Dulu saat Daniel belum menikah dengan Fara yang tak lain adalah mama dari Gisella. Daniel sering melakukan astral projection dan membantu mereka yang tak kasat mata untuk menyelesaikan urusan mereka di dunia yang belum terselesaikan.


Akan tetapi semakin sering Daniel melakukannya dan membantu mereka, Daniel menyadari kau mereka semua tidak benar-benar baik.


Dulu ada iblis yang menyamar menjadi sosok yang meminta tolong pada Daniel untuk menyelesaikan urusan dunianya.


"Apa om melakukannya sendiri?" Tanya Nadia yang tak kalah penasarannya.


Papa Gisella lalu menghela nafas panjang supaya dirinya kuat untuk mengingat masalalu yang kelam.


"Jangan kamu teruskan! Jika semua ini membuatmu mengingat masalalu kmu yang itu?!" Ujar Fara menyarankan Daniel untuk tidak memaksakan diri untuk menceritakan segalanya kepada mereka yang ada di sana.


Daniel menatap Fara dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Daniel kemudian melanjutkan ceritanya lagi.


Dulu Papa Gisella memiliki seorang sahabat bernama Rendy mereka berdua juga memiliki kelebihan yang sama yaitu bisa melihat makhluk tak kasat mata. Daniel dan juga Rendy sendiri memiliki sahabat yang tak kasat mata, dia bernama Luhan.


Mereka bertiga berteman baik, namun tidak di sangka ternyata Luhan bersekutu dengan iblis, tujuannya mendekati Daniel dan juga Rendy hanyalah untuk mengambil jiwa mereka dan memberikannya pada iblis itu.