
Axel hanya mengangguk dan tak mampu mengucapkan kata untuk menyetujui ucapan mamanya. Bagaimana bisa dirinya mampu mengikhlaskan kepergian Dira yang bahkan secepat itu dan sesadis itu.
Tak butuh waktu lama, Jenazah Dira di masukkan ke dalam mobil dan di bawa menuju ke mansion. Semua orang juga ikut termasuk anak-anak yang harus mengerjakan makalah mereka. Masa bodoh dengan makalah?!
Sebelum pulang, Gisella masih enggan untuk kembali setelah sadar dari pingsannya. Dirinya ingin sekali menghancurkan semua yang membuat anaknya menjadi korban tumbal seperti ini. Amarah Gisella bahkan tidak bisa di bendung lagi. Ini adalah kedua kalinya dia berurusan dengan iblis yang telah merenggut 2 nyawa anaknya.
Kini yang masih berada di vila itu hanya Chan, Gisella, Leon, Mark, Mela dan juga Bayu. Sedangkan yang lainnya sudah kembali ke mansion dengan membawa jenazah Dira.
"Aku harus menghancurkan iblis ini!!!" Ucap Gisella dengan geram.
Leon menyuruh mafioso nya untuk membakar rumah tua tadi dan juga vila yang mereka tempati itu. Kini posisi mereka berada di luar vila lebih tepatnya di samping mobil. Mafioso itu langsung membakar rumah tua beserta vilanya.
"Mark, bantu kakak untuk menemukan arwah Dira dan membawanya ke tempat seharusnya dia berada!" Ucap Gisella meminta tolong pada Mark.
"Dengan senang hati kak!" Jawab Mark sambil mengangguk.
"Tapi kak, sebelum itu kakak harus menyelamatkan Dira dari jeratan iblis yang menjadikannya tumbal itu!" Kata Mela menyela pembicaraan sekaligus membuat Gisella mengernyitkan dahinya.
"Maksud kamu apa?!" Tanya Gisella yang tidak paham.
"Apa yang di katakan Mela benar kak! Dira masih terjerat di sana, hanya raganya saja yang mereka bawa ke mansion kakak, tapi tidak dengan arwahnya! Selamanya Dira akan berada di bawah jeratan iblis kalau kakak tidak menyelamatkan nya!" Ucap Bayu menjelaskan panjang lebar pada Velia.
Gisella terdiam sejenak lalu berpikir dengan mata tajamnya menatap tanah dengan nafas yang menggebu-gebu.
"Kenapa kamu mendapatkan cobaan berat seperti ini nak? Kamu tidak salah apa-apa! Tapi kenapa kamu bisa jadi korban seperti ini nak? Mama tidak akan membiarkan kamu tersiksa di alam kamu! Mama kaan menyelamatkan Dira dari jeratan itu, meski nyawa mama taruhannya!" Batin Gisella.
"Kita mulai sekarang!" Ucap Gisella menyuruh mereka untuk segera memulai astral projection.
"Tapi kita tidak memiliki teman tak kasat mata kak! Bagaimana kita bisa melakukannya?!" Tanya Mark yang teringat kalau tidak memiliki teman makhluk tak kasat mata.
"Kita harus yakin, tanpa adanya makhluk tak kasat mata di dekat kita! Kita pasti bisa menjemput Dira!" Kata Gisella dengan penuh keyakinannya.
"Sayang, jangan bahayakan diri kamu sendiri!" Tampak Chan tak setuju dengan apa yang di katakan oleh istrinya mengenai keselamatannya sendiri.
Gisella menatap Chan dengan sedikit tajam karena tak menyangka kalau ucapannya akan tidak di setujui olehnya, "Chan ini demi Dira! Demi anak kita! Harusnya kamu dukung apa yang menjadi keputusan aku! Aku bahkan rela mati demi anak kita Chan!" Gisella sedikit kesal dengan ucapan dari Chan.
"Gisella tenanglah! Jangan katakan hal seperti itu! Atau kau akan menyakiti hati anak-anak kamu yang masih hidup! Ingatlah kalau kita juga memiliki Alfian, Dila dan juga Alfin! Kamu tidak boleh egois seperti ini?! Mereka juga membutuhkan kamu!!" Ujar Chan menjelaskan pada istrinya.
Mendengar apa yang di katakan oleh Chan tadi, hati Gisella sedikit luluh. Perlahan dia meredakan emosinya mengingat masih ada 3 anak yang harus dia jaga hatinya. Dan bahkan mereka masih membutuhkan Gisella untuk mereka. Gisella langsung memeluk hangat Chan, "Maafkan aku, Chan!" Kata Gisella sedikit menyesal karena sudah berlebihan.
"Lakukan sebisa kamu, sayang! Jangan terlalu memaksakan diri! Ingatlah ada aku sama anak-anak yang akan menunggu kamu di sini! Jangan bahayakan nyawa kamu sendiri!!" Chan membalas pelukan dari Gisella lalu mengecup kening Gisella dengan lembut.
Tak butuh waktu lama, mereka pun masuk ke dalam mobil yang kebetulan sangat luas untuk bisa melakukan astral projection. Bagaimana tidak?
Hanya Gisella dan juga Mark yang akan pergi melalukan astral projection. Dengan Mela dan Bayu yang akan menjaga portalnya.
Setibanya mereka di alam gaib,,
"Mark, aku rasa Dira ada di sini!" Kata Gisella yang yakin kalau tempat yang mereka pijaki adalah tempat Dira berada.
"Mama!" Terdengar suara lirih memanggil mama pada Gisella. Ya tentu saja itu Dira. Dirinya dengan kondisi lehernya yang terikat rantai dan badan yang penuh akan luka lebam.
Dira bahkan di perlakukan seperti binatang oleh iblis itu. Terlihat Dira yang berjalan merangkak dengan rantai yang di pegang oleh iblis itu. Sampai terlihat seperti seekor anjing yang diikat oleh majikannya.
Gisella dan juga Mark membelalakkan matanya ketika melihat kondisi Dira yang sangat menyedihkan.
"Dira!" Ucap Gisella dan Mark secara bersamaan.
"Lepaskan anakku!!" Kata Gisella dengan penuh penekanan dan wajah yang penuh akan amarah.
"Apa yang akan kau lakukan saat aku melepaskan dia? Apa kau akan menggantinya dengan nyawamu?!" Iblis itu berkata dengan senyum seringainya yang mengerikan melihat Gisella dan Mark memijaki tempatnya.
"Aku membawakan kamu air suci, lepaskan anakku atau kau akan aku musnahkan dengan air suci ini!" Ucap Gisella mengancam iblis itu. Namun iblis itu tidak terlihat ketakutan sama sekali, dia justru tertawa dengan suaranya yang menggelegar dan memekakkan telinga.
"Tidak semudah itu! Aku bahkan mendapatkan peliharaanku ini karena dia di jadikan tumbal untuk menyembahku!! Jadi harus ada gantinya jika kau ingin mengambilnya dariku!" Iblis itu tampak tersenyum miring sambil mengusap kepala Dira dengan tangan yang berkuku tajam, setajam pisau.
"Aku tidak peduli!!!" Gisella semakin di buat kesal dengan apa yang di katakan oleh iblis itu untuk mengancamnya.
"Mama, pergilah! Dira akan baik-baik saja!" Suara Dira yang lirih membuat hati siapapun bergetar ketika mendengarnya. Seluruh tubuh yang lebam dan banyak darah pun membuat siapapun yang melihatnya merasa ngilu dan miris.
"Tidak nak, mama akan menyelamatkan kamu!" Ucap Gisella dengan mata yang memerah menahan amarah sekaligus air mata yang siap jatuh kapan saja. Bagaimana tidak?
Anaknya di perlakukan seperti itu di depan matanya sendiri, hati ibu mana yang tega melihatnya.
Gisella tampak menoleh ke arah Mark seperti memberikan sebuah kode, bahkan Mark langsung mengerti dengan kode yang di berikan oleh Gisella padanya.
Gisella langsung melepaskan kalung air suci miliknya dan melemparkannya pada iblis itu.
"Akhhhhhh, panas!!" Iblis itu seperti cacing kepanasan yang menggeliat, akibat air suci yang di lemparkan oleh Gisella padanya.
Langsung saja Mark dan Gisella berlari ke arah Dira untuk menyelamatkan Dira dari iblis itu. Namun belum sempat menyentuh tubuh Dira. Gisella sudah lebih dulu di sambar oleh iblis itu hingga dirinya terpental.
"Mama!" Ucap Dira terkejut melihat mamanya yang terpental dan membentur sebuah dinding.
"Kakak!!" Kata Mark sambil membelalakkan matanya.