Kamar 126

Kamar 126
Museum manekin


Mark menoleh ke arah Alfian, "Tidak semudah itu Alfian! Gue yakin kalau kita langsung mengatakannya, tuan Bram itu tidak akan percaya pada kita! Dia pasti mengira kalau kita itu hanya membual saja!" Jelas Mark yang tak setuju dengan saran yang tadi di berikan oleh Alfian.


"Gue setuju sama kak Lucas, lebih baik kita selidiki dulu mengenai ini! Dan kita akan tangkap basah Ana itu saat kita sudah benar-benar memiliki rencana yang matang!" Ucap Alfin setuju dengan pendapat dari Mark.


Selang beberapa saat kemudian, sesampainya mereka di museum itu. Sebelum turun dari mobil, kembali Mark mengingatkan mereka lagi untuk tetap menjaga kesopanan dan tak berbuat hal nekat yang nantinya akan merugikan diri sendiri.


Mereka pun turun dari mobil dan melihat sebuah gedung museum pameran manekin. Yang di miliki oleh Ana. Museum itu sebenarnya sudah terkenal hingga di beberapa negara, akan tetapi karena para anak-anak tidak begitu memperhatikan berita yang tersebar luas. Jadi mereka tidak banyak tahu mengenai museum pameran manekin itu.


"Kok gue ngerasa museum ini nggak asing ya? Apa ini salah satu museum yang sahamnya juga dari Ayah Nathan?!" Tanya Victor yang merasa tak asing dengan museum itu.


Mereka pun menoleh ke arah Victor karena tak yakin dengan apa yang di katakan oleh Victor. Kalau memang benar museum itu sebagian besar sahamnya dari Ayah Nathan. Bukankah berarti Ayah Nathan juga akan terkena dampak dengan kecurangan itu?


Ah tidak mungkin, Ayah Nathan pasti tak begitu memperdulikan kalau kehilangan tempat itu dengan saham yang dia tanam di sana.


"Sebaiknya kita tanya Ayah Nathan aja!" Ucap Lucas menyarankan. Lalu semuanya setuju dan Alfin lah yang memutuskan untuk menelpon Ayah Nathan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Halo Alfin? Ada apa nak? Tumben kamu nelpon Ayah?! Apa ada masalah?!" Ucap Ayah Nathan di seberang telepon, yang langsung mencerca pertanyaan pada Nathan. Padahal Alfin bahkan belum mengatakan apapun.


"Halo Ayah, Alfin nggak apa-apa kok! Cuma mau tanya aja soal museum yang terletak di pusat kota! Apa benar Ayah melakukan tanam saham di museum manekin ini?!" Tanya Alfin sekaligus memberi tahu Ayah Nathan kalau dirinya baik-baik saja.


Di seberang telepon, Ayah Nathan tak terlihat curiga dengan pertanyaan yang di ucapkan oleh Alfin. Bahkan Ayah Nathan hanya menganggapnya seperti pertanyaan biasa ,"Iya nak kamu benar, Ayah memang melakukan tanam saham di sana juga! Tapi itu Ayah lakukan karena suami dari pemilik museum itu menemui Ayah dan meminta kerja sama dengan Ayah yang akan di untungkan dalam setiap pameran yang di adakan di sana!" Jelas Ayah Nathan panjang lebar.


Alfin mengangguk, lalu menjawab, "Oh begitu ya yah, ya sudah kalau begitu! Alfin hanya ingin menanyakan itu saja! Maaf mengganggu waktu Ayah!" Ucap Alfin di telepon itu.


"Iya baiklah, kalau ada apa-apa segera hubungi Ayah!" Perintah Ayah Nathan yang memang mengkhawatirkan para anak-anak. Takut kalau nantinya terjadi sesuatu pada salah satu dari mereka.


Setelah itu telepon di matikan oleh Alfin karena memang dia yang awalnya menelpon Ayah Nathan terlebih dahulu tadi.


"Gimana?!" Tanya Mark setelah Alfin mematikan teleponnya tadi.


Alfin mengangguk, "Iya benar, ini adalah salah satu tempat yang di jadikan Ayah Nathan untuk menanam sahamnya, tapi itu karena suami pemilik museum ini sendiri yang meminta kerja sama dengan Ayah!" Jelas Alfin pada semua saudaranya yang ada di sana saat itu.


''Kalau begitu, lebih baik kita masuk saja! Gue pengen tahu apa sebenarnya yang menjadi tujuan pemilik museum ini menjadikan manusia sebagai bahan untuk membuat manekin!" Ajak Mark sembari merasa geram dengan apa yang telah di lakukan pada pemilik museum pameran manekin itu.


Kemudian mereka berlima pun langsung masuk ke dalam museum pameran manekin itu. Tak ada yang curiga dengan kedatangan mereka. Karena memang hari itu adalah weekend, jadi para security membiarkan semua orang masuk ke dalam museum.


Ada beberapa tempat, dan juga ruangan di museum itu dengan karya manekin yang berbeda-beda. Bukan hanya manekin saja, akan tetapi masih ada banyak lagi yang ada di sana, seperti lukisan, patung kecil-kecil hingga barang-barang yang sengaja di jual untuk menjadi sebuah souvernir.


Alfian yang tak tahu pun tiba-tiba saja hidungnya mengeluarkan darah seperti biasa, hal itu berhasil membuat para saudaranya panik. Namun tak panik yang berlebihan, karena mereka juga sudah pernah melihat Alfian seperti itu sebelumnya.


"Lo mimisan lagi?!" Ucap Victor yang melihat Alfian kembali mimisan, padahal Alfian tak merasakan apapun dan di juga tidak tahu kalau dirinya mimisan.


Alfian mengambil sebuah tisu di dalam tas yang memang sengaja dia bawa untuk berjaga-jaga saja. Hanya karena nanti takutnya Alfian mimisan seperti sekarang ini. Nantinya pasti tisu itu akan berguna bagi Alfian ketika itu benar terjadi padanya.


"Haish, kenapa selalu aja begini!" Ucap Alfian sembari menghela nafasnya karena merasa jengah selalu mimisan setiap kali melihat atau merasakan aura yang berbenturan dengan dirinya karena tak ingin berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata.


"Renjun, lo harus bisa kontrol itu oke! Jangan Alfian lo pingsan gara-gara nggak kuat sama aira negatif di sini!" Ucap Mark mengingatkan adik bungsunya itu.


Mereka yang mulai masuk dan menyusuri tempat-tempat adanya manekin pun mulai merasakan hawa mencekam, padahal hari masih siang. Mark melihat adanya arwah gentayangan, yang tak lain dari patung-patung manekin itu. Setiap arwah selalu berada di dekat manekin miliknya masing-masing. Semua sosok yang di lihat Mark tampak menatap Mark dengan mata nanar nya. Seakan ingin meminta bantuan pada Mark. Akan tetapi Mark saat itu tidak membuka komunikasi dengan mereka. Dirinya takut akan mengalami sesuatu yang tidak di inginkan seperti kerasukan. Ya meski mereka tidak pernah di rasuki oleh makhluk tak kasat mata. Namun tidak menutup kemungkinan di saat mereka ada di sana bisa saja di rasuki, karena banyaknya arwah yang ingin berkomunikasi dengan Mark dan juga Alfian.


Lucas yang memasukkan satu tangannya ke celana pun menatap sekeliling, "Kak Mark, di sini ada banyak sekali manekin! Apa mereka semua?!" Tanya Lucas dengan memberi kode, seakan mengatakan apakah semua terbuat dari manusia asli.


Mark mengangguk, "Ya, semua yang ada sini terbuat dari bahan utama yang udah gie kasih tahu ke kalian!!" Jawab Mark memberi tahu.


"Sebanyak ini?!!" Tanya Alfin memastikan doa tidak menyangka kalau akan ada banyak manekin yang terbuat dari tubuh manusia. Dia sungguh sangat ingin marah dengan manusia bi*dap yang sudah tega melakukan hal keji seperti itu.


"Setiap manekin yang kalian lihat, ada sosok arwah di setiap manekin nya!" Ucap Mark memberi tahu dengan tanpa menoleh ke arah mereka.


Sampai akhirnya datang seorang wanita berusia sekitar 30 tahunan mendekat ke arah mereka. Dari tampilannya dirinya terlihat seperti seorang asisten pribadi atau manager di museum itu.


"Permisi tuan muda sekalian, apa ada yang bisa saya bantu?!" Tanya seorang asisten yang ternyata di pekerjakan khusus oleh Ayah Nathan. Ya, Ayah Nathan sengaja menempatkan salah satu orang kepercayaannya di sana, alih-alih untuk menjadi penyelidik kalau terjadi sesuatu di sana. Namun ternyata asisten itu juga tidak tahu kebenaran bahwa dia bekerja di sana selalu di kelilingi makhluk tak kasat mata. Dalam artian dirinya tidak tahu kalau manekin-manekin itu terbuat dari bahan utama tubuh manusia asli.


"Ya benar, oh iya apa kau yang di pekerjakan di sini oleh Ayah Nathan?!" Tanya Lucas. Karena memang ternyata di setiap perusahaan atau bahkan hasil tanam saham di beberapa perusahaan kecil juga, Ayah Nathan selalu mempekerjakan orang suruhannya untuk bekerja juga di sana. Itu karena Ayah Nathan selalu ingin memantau kondisi di sana hingga tak ada yang akan melakukan kecurangan atas saham yang dia berikan.


"Iya benar, nama saya Anisa! Asisten yang di tugaskan untuk bekerja di sini!! Kalau begitu ada yang bisa saya bantu tuan?!" Tanyanya lagi dengan ramah.


"Aku ingin sekali bertemu dengan pemilik museum ini! Tolong bilang padanya, kalau kami berlima ingin bertemu secara pribadi dengannya!" Ucap Alfin yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan pemilik museum manekin itu yang tak lain dan tak bukan adalah Ana.


"Baik tuan, apa kalian ingin menunggu di sini atau langsung ke ruangannya?" Tanya wanita itu yang tak lain adalah asisten Anisa.


Sebelum ada yang menjawab , Kembali Alfin langsung melontarkan sebuah ucapan, "Suruh saja dia ke sini! Kita tidak mau ke ruangannya!" Ucap Alfin yang tak sudi untuk masuk ke ruangan wanita gila itu. Yang tak lain wanita berkedok iblis.


"Baik tunggu sebentar, saya akan memanggilkan beliau!" Jawab asisten Anisa sopan lalu undur diri untuk memanggil pemilik museum manekin itu di tengah berada di ruangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah ruangan yang tampak elegan dengan cat berwarna ungu, seorang wanita seksi yang umurnya bahkan setara dengan mama Gisella. Memakai dress selutut dan lengan yang terbuka, membuat siapapun tergoda menatapnya. Ya, dia adalah Ana. Pemilik sekaligus pendiri museum manekin itu. Tak banyak orang tahu mengenai dirinya karena dulu dia selalu menyembunyikan wajahnya dari publik. Bahkan sampai sekarang tak ada yang tahu kalau mahakarya yang mereka miliki saat ini adalah hasil dari manusia yang telah di siksa dan di jadikan untuk bahan utama pembuatan manekin.


Tok tok tok,,,


Suara ketukan pintu dari luar membuat Ana menoleh dan langsung menyuruhnya untuk masuk, "Masuk!!" Ucapnya dingin.


Asisten Anisa langsung membuka pintunya dan masuk ke dalam ruangan pribadi milik Ana. Dia berjalan cepat untuk menemui pemilik museum tersebut.


"Ada apa? Kenapa jalanmu seperti orang yang di kejar oleh hantu?!" Tanya Ana tanpa menoleh ke arah Anisa. Dia malah sibuk melihat ponselnya.


"Maaf nyonya, ada anak-anak dari keluarga besar tuan Nathan datang! Mereka ingin bertemu dengan anda!" Ucap Anisa dengan sedikit menunduk sembari memberi tahu.


Mendengar itu Ana langsung membulatkan matanya dan meletakkan ponselnya di meja, "Apa? Anak-anak tuan Nathan datang?" Ucapnya sembari berdiri dari duduknya, "Suruh mereka ke sini, dan pastikan kau menjamu mereka dengan baik!" Ucap Ana menyuruh Anisa.


"Tapi nyonya, mereka tidak ingin menemui anda di sini! Mereka meminta anda yang ke sana untuk menemui mereka" ucap Anisa memberi tahu.


Sembari merapikan pakaiannya dan make up nya lagi, Ana berkata ,"Kalau begitu aku akan segera ke sana! Hubungi Bram dan katakan ada tamu penting yang datang ke tempatku!" Ucap Ana menyuruh Anisa untuk menghubungi Bram menggunakan ponselnya, karena Ana akan sibuk merias dirinya dan menyuruh Ana untuk menelpon Bram saat itu juga.


Sembari bercermin, "Aku akan membuat salah satu dari putra keluarga besar itu menjadi menantuku, dengan begitu aset kekayaanku akan semakin bertambah! Bahkan tidak akan pernah ada habisnya!" Batin Ana dengan tersenyum smirk


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain tampak kelima anak itu sedang melihat-lihat manekin. Sampai akhirnya Mark menemukan salah satu manekin yang dia cari, tampak mengenaskan hanya dengan memakai sebuah pakaian dalam. Orang berpikir kalau itu adalah suatu mahakarya yang memang sengaja di buat vulgar bagi para penikmat seni. Bahkan ternyata keberadaan manekin itu sedikit di sembunyikan dari para orang-orang, karena bagi yang ingin melihatnya harus menggunakan kartu khusus.


Namun bukankah mereka semua adalah tamu-tamu yang terhormat bagi Ana?


Tentu saja tanpa harus memakai kartu khusus mereka pasti akan di perbolehkan masuk di mana saja mereka mau.


Mark sampai menitihkan air matanya dan tak mampu melihat. Dia yang tahu pertama kali hanya menatapnya sekilas, dan yakin kalai itu adalah Klara. Melihat adanya itu dia langsung menunduk tak tega.


Alfian lalu mendekati kakaknya itu, dan menyadari kalau manekin di depan kakaknya itu adalah salah satu manekin yang memang dia cari dan arwahnya akan dia bantu.


Sama seperti Mark tadi, Alfian hanya sekilas menatapnya. Karena memang benar-benar vulgar dan Alfian yang masih di bawah umur tentu tahu kalau itu tidak layak di lihat dengan mata telanjangnya.


"Kak, apa manekin ini yang akan lo tolong?!" Tanya Alfian dengan menepuk pelan pundak Mark.


"Iya, dia yang akan gue tolong! Dan gue akan membebaskan para arwah gentayangan yang ada di sini! Gue nggak mau lagi ada korban selanjutnya!!" Ucap Mark dengan penuh keyakinan dan itu memancing, Lucas, Victor dan Alfin untuk mendekat. Sama halnya dengan Mark dan Alfian. Mereka hanya menatapnya sekilas untuk menghargai tubuh manusia yang terpampang nyata itu.


"Apa yang harus kita lakukan?!" Tanya Victor pada Mark.


"Kita harus membuat Ana mengakui.ini semua!" Ucap Mark dengan percaya diri.


Alfian menyela, "Tapi itu akan sulit kak, di mana pun orang yang telah bersalah tidak akan pernah mau mengakui kesalahannya dengan lapang dada, apalagi dia adalah seorang wanita tidak berhati nurani!!" Ucap Alfian yang tak percaya kalau Ana akan mengakui kesalahannya.


"Kalau begitu kita harus buat dia mengakuinya, entah itu cara halus atau bara kasar sekali pun!!!" Ucap Lucas dengan penuh penekanan. Bagaimana pun juga meski dia seorang king mafia. Dia tidak akan membunuh sembarang orang yang tak bersalah. Dia hanya akan membunuh siapapun yang pantas untuk di bunuh.


Selang beberapa menit kemudian Ana menuju ke tempat kelima anak itu berada. Dan ternyata Mark dan juga para saudaranya itu terlihat di loby. Karena mereka ingin berbincang sembari berjalan ke arah beberapa manekin itu.