
Beliau yang sebenarnya mendapatkan kekuatan akibat meditasi nya namun sayangnya dia memilih untuk tak bergerak dari meditasi nya selama 10 tahun lamanya. Badannya yang putih bersih di penuhi lumut dan juga mengeras seperti batu karena efek dari cuaca yang silih berganti, di tambah dia tidak makan dan minum sama sekali. Membuatnya meregang nyawa dalam posisi meditasi.
Tak ada yang tahu mengenai cerita itu hanya potongan-potongan cerita saja dan tidak detail seperti yang di dapatkan oleh paman Felix.
Flashback off
Setelah mendengarkan penjelasan dari paman Felix, Gisella dan juga Chan pun pamit untuk beristirahat di kamar mereka. Tentu saja bi Inem membawakan mereka makanan untuk di makan. Karena tadi sibuk mendengarkan cerita dari paman Felix, jadi mereka sampai tidak sempat untuk melakukan sarapan.
Di dalam kamar Gisella dan juga Chan. Gisella tengah duduk dengan bersandar pada dipan ranjang. Sedangkan Chan saat itu baru saja keluar dari kamar mandi. Masih dengan memakai handuk yang melingkar di tubuhnya.
"Gisella, apa kamu tidak lelah? Kenapa tidak istirahat saja?" Tanya Chan sembari mengusap rambutnya dengan handuk kecil. Gisella masih terus melamun tanpa menjawab ucapan dari Chan tadi.
Chan pun mendekat ke arah Gisella tanpa memakai baju dan hanya handuk yang melingkar di pinggangnya. Akan tetapi belum sempat mendekat ke arah Gisella , Chan menghentikan langkahnya karena di tahan oleh ucapan Gisella.
"Tunggu Chan, kamu pakailah baju kamu! Sebentar lagi kita akan makan siang!" Kata Gisella tanpa menoleh ke arah Chan.
"Apa kamu tidak ingin melakukannya sekarang?!" Tanya Chan mencoba menggoda istrinya itu.
"Chan, jangan di sini oke, besok kalau kita kembali ke mansion kita di jawa saja! Aku nggak enak kalau mau melakukannya di sini!!" Kata Gisella, "Sudah cepat pakai bajunya, aku akan membantu bi Inem di dapur dulu!!" Lanjut Gisella. Chan pun menghela nafasnya merasa pasrah karena istrinya menolak untuk di ajak melakukan aktivitas ranjang. Tapi itu tidak membuat Chan marah, dia mewajari itu. Toh tujuannya ke tanah Jawa karena ingin menuruti apa yang menjadi keinginan dari Gisella, untuk mencari tahu mengenai penangkal iblis yang paling kuat, yaitu bambu kuning.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, tepatnya di kediaman keluarga besar Nathan. Mansion mewah nan megah yang di huni oleh banyak keluarga beserta anak-anak mereka. Malam hari tepatnya saat Gisella sedang membantu Ratih dan teman-temannya saat itu.
Di kamar Dila tepatnya, dia tengah mencoba menghubungi mamanya. Namun sudah lebih dari 20 kali dia menelpon, ponsel mamanya itu masih saja tidak aktif.
"Mama kenapa nggak di angkat sih? Nggak tahu apa kalau Dila itu udah kangen banget? Katanya cuma 2 hari di Jawa , tapi kenapa nggak balik-balik sih?!" Ucap Dila menggerutu sambil membanting ponselnya di ranjangnya.
Tiba-tiba angin berhembus dan masuk ke dalam kamar Dila yang pintunya memang terbuka itu, "Nih kenapa mendadak dingin kayak gini?" Ucap Dila lalu menutup jendela kamarnya.
"Dila!" Terdengar suara yang memanggil Dila. Suara yang tak asing di telinga Dila. Sontak saja Dila langsung menoleh mencari sumber suara. Namun tak menemukan siapa-siapa. Akan tetapi terlihat pintu kamar Dila yang tadinya tertutup pun terbuka sedikit.
Dila bernafas dengan lega, "Haish, siapa sih yang iseng ke gue? Si Yeji nih pasti! Dasar kurang kerjaan banget!!" Ucap Dila lalu menuju ke pintu kamarnya untuk menutup pintu. Akan tetapi saat hendak menutup pintu kamarnya, Dila melihat Axel yang melintasi di kamar Dila.
"Dila?" Panggil Axel.
"Kamu belum tidur?" Tanya Axel.
Dila menggeleng, "Aku lagi kesel nih!" Kata Dila sembari mengerucutkan bibirnya. Belum sempat Axel menjawab ucapannya tadi, Dila langsung menarik tangan Axel untuk membawanya masuk ke dalam kamarnya.
"Eh!" Kata Axel yang ketarik oleh Dila.
"Ada apa Dila?!" Tanya Haechan setelah Dila menutup pintu kamarnya.
"Aku lagi kesel banget sama mama, papa juga!!" Kesal Dila dengan mengerucutkan bibirnya gemas. Membuat siapapun merasa gemas dan menciumnya.
Namun Axel segera tersadar dari lamunannya menatap Dila yang kesal itu, "Kenapa sih Dil? Mama Gisella sama papa Chan kan lagi ke Jawa!" Kata Axel berusaha membuat Dila tidak merasa kesal lagi. Axel mengusap rambut Dila dengan lembut membuat Dila tenang.
Dila menghela nafasnya dengan kasar, "Hahh tapi kenapa harus matiin ponsel? Kalau gini kan aku takut kalau sampai terjadi apa-apa sama mereka!" Kata Dila sambil berjalan ke arah ranjang dan duduk di sisi ranjangnya.
Axel yang mendengar itu langsung mendekat ke arah Dila, dia tidak suka Dila memikirkan hal seperti itu mengenai kedua orang tuanya yang sedang berada di Jawa, "Dila, kamu jangan ngomong kayak gitu! Kamu nggak tahu apa kalau ucapan itu adalah doa? Positif thinking aja, Dil! Mungkin mereka lagi sibuk dan nggak bisa di ganggu dulu!!" Kata Axel memperingatkan Dila sekaligus memberi tahu Dila supaya tidak terlalu mengkhawatirkan kedua orang tuanya.
Dila menghela nafasnya lagi, karena memang dia merasa sangat rindu pada mama Gisella dan juga Papa Chan, "Tapi aku kangen banget sama mereka ,Xel!!!" Kata Dila sambil mendengus kesal. Axel yang melihat Dila seperti itu pun menjadi tidak tega dan memeluk Dila untuk menenangkannya. Dila tampaknya juga tidak masalah di peluk oleh Axel, memang mungkin sudah terlalu sering mereka tidur bersama dan juga kedekatan mereka hampir bisa di bilang seperti sepasang kekasih.
"Axel, tolong temani aku tidur malam ini ya!" Pinta Dila, dia tidak mungkin menyuruh Axel keluar dari kamarnya dan meminta Axel untuk memanggilkan Mark untuk menemaninya tidur malam ini di kamarnya. Dila juga tidak bisa beralasan jika ingin keluar dari kamarnya, karena memang Axel biasanya tidak akan pergi dari kamar Dila kalau Dila sendiri yang menyuruhnya masuk ke dalam kamarnya.
"Kalau begitu tidurlah, aku akan tidur di sofa!" Kata Axel sembari tersenyum ke arah Dila. Dila juga membalas senyuman Axel yang tampak manis di lihat itu. Dila mengangguk lalu Axel beranjak dari duduknya untuk menuju ke sofa. Tapi sebelum itu Haechan menyuruh Dila supaya berbaring dan menyelimuti Dila dengan selimut yang ada di sana.
"Tidurlah Dila!" Kata Axel dengan lembut sembari tersenyum dan menyelimuti Dila.
"Makasih ya Axel!" Jawab Dila tersenyum. Axel lalu mengusap kepala Dila dengan lembut, dia tersenyum manis ke arah Dila yang menatapnya dengan selimut yang telah menutupi setengah badannya , lalu kemudian,,,,,
Cup,,,
Deg,,,
Dila langsung membelalakkan matanya merasakan sebuah kecupan dari Axel. Dila terpaku sejenak namun Axel tak tahu kalau Dila saat itu terkejut melihatnya seperti itu hanya tersenyum, Dila sendiri juga membalas senyuman Axel dengan canggung. Namun masih berusaha untuk tetap terlihat tenang di depan Axel.