
"Apa maksud mereka? Rahasia apa yang mereka simpan di masalalu? Dan kenapa harus ada rahasia?" Batin Adam di depan ruang rawat Gisella.
Ceklekk,,,,
Suara handle pintu yang di buka oleh Adam pun sontak membuat mereka terkejut saat melihat anak itu masuk ke dalam ruang rawat Gisella. Mereka yang ada di sana takut kalau sampai Adam mendengar apa yang mereka bicarakan tadi.
"Adam, ada apa nak?" Tanya Nathan selaku Ayah kandungnya.
"Eh anak bunda ke sini, ada apa sayang?" Tanya Nadia pada anak pertamanya itu.
"Adam mau kasih tahu kalian semua kalau Alfian udah sadar!" Ucap Adam yang membuat mereka tersenyum lega dan bersyukur.
"Alfian sudah sadar? Kamu serius nak?" Tanya Gisella antusias mendengar kabar kalau anak bungsunya telah sadar.
Adam menjawabnya dengan anggukan dan senyum di wajahnya. Pria dewasa itu tertegun saat kembali mengingat percakapan para orang tuanya saat membahas rahasia masalalu.
Setelah itu mereka semua memutuskan untuk pergi ke ruang rawat Alfian sekaligus menengok dan memastikan kalau Alfian memang sudah benar-benar pulih.
"Nak, syukurlah kamu sudah sadar! Mama sangat mengkhawatirkan kamu!" Ucap Gisella yang terlihat khawatir akan anaknya yang terbaring di ranjang itu.
"Maafkan Alfian ya semuanya, karena sudah membuat kalian semua khawatir sama Alfian!" Ucap Alfian dengan senyum tipisnya, terlihat sedikit penyesalan di matanya karena sudah membuat seluruh anggota keluarga mengkhawatirkan dirinya.
"Kalau begitu kalian semua kembalilah ke mansion! Biar aku dan Chan yang ada di sini untuk menemani Alfian!" Kata Gisella.
"Tapi aku juga mau di sini nemenin adek ma!" Rengek Dila pada Gisella.
"Eh, lo lupa kalau kita di suruh bikin makalah?" Ujar Bryan mengingatkan.
"Haish, bikinnya pas nanti kalau Alfian udah pulang aja! Alfian lebih penting dari pada makalah itu!" Sangkal Dila.
"Yee, nanti kalau nggak naik kelas aja bingung!" Bryan berdecak sambil memutar bola mata malasnya.
"Ngapain harus bingung? Guru aja sampai takut sama kita, bahkan sekolah itu juga milik Ayah!" Jawab Renald dengan entengnya.
"Astaga, polosnya bocah satu ini!" Kata Adam dengan lirih.
Mereka pun saling bersenda gurau sebelum kembali ke mansion, meskipun ada sedikit kejanggalan di hati Gisella tentang apa yang sudah di lakukan oleh Alfian. Di dalam hati Gisella, dirinya merasakan kekhawatiran akan Alfian yang sudah mulai berani membantah ucapan Gisella dulu. Dengan melakukan hal-hal yang di larang oleh Gisella.
Singkat cerita
3 hari kemudian, Alfian sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Dan ini adalah saatnya Gisella menanyakan apa yang selama 3 hari ini dia pendam.
Terlihat wanita itu masuk ke dalam kamar anak bungsunya, Alfian yang saat itu sedang tiduran di ranjangnya pun menoleh saat melihat mamanya masuk dan menutup pintu.
"Alfian!" Panggil Gisella sembari berjalan mendekat ke arah Alfiann.
"Mama!" Ucap Alfian saat melihat mamanya datang menghampirinya.
"Kenapa tiba-tiba perasaan gue nggak enak! Ada apa? Apa kedatangan mama buat marahin gue?" Batin Alfian bertanya-tanya akan apa yang akan dilakukan mamanya di dalam kamarnya.
"Ada apa ma?" Tanya Alfian yang sudah penasaran.
"Ngomong apa ya ma?" Tanya Alfian pura-pura tidak tahu. Padahal sebenarnya Alfian sudah tahu apa yang akan di katakan oleh mamanya.
"Mama ingin kamu jujur sama mama!" Mata Gisella menatap dalam mata anak bungsunya itu, "Apa benar kamu membantu mereka? Makhluk tak kasat mata? Jangan coba berbohong! Karena mama tahu tentang itu!" Kata Gisella yang seakan tidak ingin menerima kata tidak dari mulut Alfian.
"Maksud mama apa?" Tanya Alfian sedikit kikuk pada ucapannya.
"Alfian, mama nggak suka kamu melakukan hal seperti ini! Ini akan sangat membahayakan nyawa kamu sendiri nak!" Ketus Gisella pada anaknya.
"Ma, bukankah kita di beri penglihatan yang spesial ini untuk membantu mereka? Ini sudah menjadi takdir Alfian yang dianugerahi dengan penglihatan ini ma! Alfian cuma ingin menggunakannya dengan sebaik mungkin! Alfian hanya ingin membantu mereka ma nggak lebih!" Ucap Alfian menjelaskan panjang lebar pada mamanya.
"Alfian, mereka itu bukanlah manusia!!! Apa kamu sadar kalau apa yang kamu lakukan itu membahayakan nyawa kamu sendiri? Mama nggak sanggup kalau melihat kamu terluka karena mereka para makhluk tak kasat mata!" Kata Gisella mencoba membujuk anaknya supaya tidak membantu makhluk tak kasat mata lagi.
"Tapi ma, untuk apa aku memiliki penglihatan ini? Kalau nggak di gunakan dengan baik?" Tanya Alfian menyangkal.
"Kamu hanya boleh melihat dan berkomunikasi dengan mereka, tapi kamu tidak boleh terlibat apapun urusan dunia mereka!" Ujar Gisella memberi peringatan pada anaknya itu.
"Tapi ma, Alfian cuma mau- " Terpotong.
"ALFIAN CUKUP!!!" Bentak Gisella sambil berdiri dari duduknya.
"Sejak kapan kamu menjadi berani untuk membantah mama?" Kesal Gisella karena yang dia dapat hanyalah bantahan dari Alfian.
Alfian langsung terdiam dan menunduk ketika Gisella sudah benar-benar marah, dirinya bahkan tidak pernah melihat Gisella semarah itu padanya.
Perlahan Gisella berjalan mendekat ke arah jendela yang sudah tertutup itu, dan melihat ke luar jendela yang kini hanya ada sinar redup dari lampu halaman yang menandakan kalau hari sudah mulai gelap.
"Mama akan memberi tahu kamu sebuah rahasia besar!" Ujar Gisella sambil menatap ke luar jendela, dan itu langsung membuat Alfian yang awalnya menunduk menjadi menoleh ke arah Gisella berada.
Perlahan Gisella menceritakan kejadian yang pernah terjadi di masalalu Gisella dulu.
"Mama sebenarnya juga sama seperti kamu nak, bahkan kamu menuruni penglihatan ini dari mama! Mama juga bisa melihat mereka yang tak kasat mata, dulu mama juga sering membantu mereka, bahkan mama sampai rela membahayakan nyawa mama sendiri!" Ucap Gisella yang masih menatap keluar jendela, lalu perlahan dia menunduk, "Tapi mama berhenti melakukan itu karena mama sudah kehilangan calon anak mama!" Lanjutnya lagi.
Deg,,,,,
Hal itu membuat Alfian langsung terperanjat kaget saat mendengar pernyataan dari mamanya.
"Apa ma? Maksud mama apa? Apa Alfian masih memiliki saudara kandung yang lain?" Tanya Alfian setelah mendengar pernyataan tentang masalalu Gisella.
Tak ada yang mendengar percakapan mereka di dalam sana, karena memang kamar Alfian kedap suara dan juga tadi saat Gisella masuk, dirinya mengunci pintu kamar Alfian, supaya nanti tidak ada yang masuk ke dalam kamar Alfian.
Mendengar pertanyaan dari Alfian tadi, Gisella menoleh ke arah Alfian dengan tatapan sendu lalu kembali menatap ke arah jendela.
Bukannya menjawab, Gisella malah lebih memilih menceritakannya dari awal.
"Setelah mama menikah dulu, mama hamil anak pertama, usia kandungan mama bahkan belum sampai 3 bulan! Saat itu mama melakukan astral projection! Saat itu mama melawan iblis, dan mama tidak menyadari ketika mama kembali, mama sudah kehilangan janin mama! Mama tidak tahu kalau akan berakhir sefatal itu!" Gisella mulai menitihkan air matanya, mengingat kejadian kelam di masalalu.
"Mama sangat terpukul akan kehilangan calon anak mama saat itu, lalu saat itu juga mama memutuskan untuk tidak melakukan hal-hal bodoh seperti itu lagi!! Mama menyesal! Sangat menyesal!" Linangan air mata Gisella membanjiri seluruh pipinya. Alfian yang merasa bersalah pun beranjak dari ranjangnya lalu perlahan berjalan mendekati mamanya.
"Maafkan Alfian, Ma! Alfian sama sekali tidak memiliki niat untuk membuka luka lama mama! Alfian hanya melakukan apa yang seharusnya di lakukan dengan memiliki penglihatan ini, Ma!" Ucap Alfian yang berdiri di belakang Gisella dengan menunduk.