
"Syutttt!!" Gisella mengarahkan jari terlunjuk nya pada Chan mengarahkannya untuk diam, "Sudah bertahun-tahun lamanya Chan! Jangan sembunyikan ini lagi!! Menangis lah jika kamu ingin menangis, jangan kamu pendam Chan!! Kamu juga manusia Chan, kamu juga boleh meneteskan air mata! Menangis dan luapkan semuanya sayang!" Lanjut Gisella panjang lebar.
Perlahan Chan tak dapat membendung air matanya lagi di depan Gisella. Dirinya meneteskan air mata sembari menatap ke arah Gisella berada saat itu.
"Menangis lah jika itu bisa membuat hatimu tenang! Kita harus bisa merasakan susah dan senang bersama Chan!" Ucap Gisella.
Chan langsung memeluk Gisella dan menangis dalam pelukannya. Di hari itu Chan meluapkan semua kesedihan yang selama ini dia pendam sendiri dan tak mau membuat Gisella bertambah sedih. Kehilangan 2 pelita hati mereka bukanlah hal yang mudah di lakukan untuk Gisella dan juga Chan. Selama ini Chan tidak pernah bersedih di depan Gisella mata Gisella. Itu semata-mata dia lakukan supaya Gisella selalu tegar dengan melihat Chan yang selalu tegar juga untuknya.
Namun siapa sangka Gisella selama ini juga mengetahui apa yang di rasakan oleh Chan. Chan yang selalu memikul sendiri rasa sakit atas kesedihan Gisella selama ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Singkat cerita, malam harinya mereka tengah melakukan makan malam bersama di mansion besar milik mereka.
Perlahan mereka yang tadinya larut dalam kesedihan, kini mereka berusaha untuk tegar karena tidak ingin membuat satu sama lain merasa sedih atas apa yang baru saja menimpa mereka.
"Semuanya, mama minta perhatian kalian sebentar!" Ucap Gisella setelah terjadi keheningan di meja makan. Bahkan hanya terdengar dentingan sendok yang menyentuh piring yang mereka gunakan untuk makan.
"Ada apa ma?" Tanya Alfian yang mewakili seluruh anak-anak juga para orang tua.
"Mama minta sama kalian semua untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan ini, supaya Dira juga bahagia di atas sana!" Pinta Gisella.
"Papa juga ingin kalian lebih fokus lagi pada sekolah dan juga kuliah kalian! Buat saudara kalian bangga di alam sana!!" Ucap Chan melanjutkan ucapan Gisella.
"Apa yang di katakan papa Chan dan mama Gisella benar!! Kalian harus bisa menjadi lebih baik lagi, dan saling menjaga satu sama lain!" Ucap Nathan selaku yang paling tertua diantara mereka semua yang ada di sana.
Semua anak-anak tampak tersenyum dan mengangguk perlahan. Mereka seakan langsung mengerti dengan apa yang di katakan dan juga yang di minta oleh orang tua mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian, mereka perlahan melupakan kesedihan mereka dan menjadikannya masalalu untuk di kenang di masa depan kelak. Mereka akan senantiasa mengenang Dira dan juga saudara tertua mereka yang belum sempat terlahir ke dunia.
Mereka mulai menjalani aktivitas mereka masing-masing. Dan menjalani hidup menjadi orang-orang yang lebih baik lagi.
Akan tetapi mungkin berbeda dengan Axel. Axel masih belum bisa sepenuhnya melupakan kesedihannya terhadap meninggalnya Dira. Kini bahkan dirinya yang dulu periang, menjadi sosok yang dingin dan tak banyak bicara. Hanya pada keluarga saja dia sedikit hangat. Dia juga berbeda dengan keluarganya sendiri.
Di hari itu tepatnya setelah 2 minggu kepergian Dira. Nathan memutuskan untuk meliburkan sekolah selama 1 minggu. Hal itu sengaja dia lakukan supaya mereka bisa lebih dekat lagi dengan para keluarga mereka. Bahkan di hari pertama mereka libur sekolah. Mereka melakukan barbeque di halaman mansion yang sangat luas.
Pov Alfin
Siang itu sebelum acara barbeque di mulai. Seperti biasa Alfin menemui kekasihnya, Saviana. Di telaga yang ada di dekat kampus mereka bertemu.
Saviana sendiri sebenarnya takut menjalani hubungan dengan Alfin. Dirinya takut kalau sampai akan membuat Jaehyun kecewa karena tidak bisa memilikinya di dunia nyata ini. Namun Saviana juga tidak bisa menolak kesungguhan hati Alfin yang memang benar-benar sangat mencintai Saviana.
"Aku ngajakin kamu ketemu karena aku mau ngomong sama kamu!" Kata Alfin sambil menggenggam tangan Saviana yang ada di dekatnya.
"Kamu mau ngomong apa?" Tanya Saviana yang sudah penasaran akan apa yang nantinya dikatakan oleh Alfin padanya.
"Sebenarnya aku mau ngajakin kamu buat ikut acara pesta barbeque di mansion aku, nanti malam!"
Deg,,,
"Maaf aku nggak bisa!" Saviana melepaskan tangannya yang semula di genggam erat oleh Alfin. Sontak membuat Alfin merasa heran akan sikap Saviana.
"Tapi kenapa? Apa kamu tidak benar-benar mencintaiku?!" Tanya Alfin.
"Maksud aku bukan begitu, ak-aku hanya belum siap kalau harus bertemu dengan seluruh keluarga kamu! Ak-aku masih trauma dengan pertemuan keluarga besar!" Ucap Saviana sedikit gugup karena tidak tahu lagi harus menolak ajakan Alfin dengan cara apa.
Namun kenyataannya memang benar, Saviana memiliki trauma mendalam terhadap pertemuan keluarga besar di kehidupannya dulu. Bahkan Saviana juga sudah pernah mengatakan pada Alfin kalau dirinya memiliki trauma akan hal itu.
"Iya aku tahu kamu memiliki trauma di masalalu kamu, tapi mau sampai kapan kamu terus menolak untuk bertemu dengan keluarga aku, Sav?!" Tanya Alfin yang mulai terpancing emosi.
Saviana tampak berdiri dari duduknya dan berkata, "Maafkan aku Alfin, tapi aku benar-benar tidak bisa! Maaf karena aku menolak!" Kata Saviana yang matanya mulai berkaca-kaca.
Melihat kekasihnya yang matanya berkaca-kaca, hati Alfin tidak tega melihatnya. Dan langsung berdiri dari posisi duduknya. Alfin menangkup wajah Saviana dan juga mengusap air matanya yang perlahan membasahi pipinya.
"Sayang, jangan menangis karena ini! Aku sama sekali tidak bermaksud ingin membuatmu menangis! Maafkan aku!" Ucap Alfin dengan ketulusan hatinya sembari menatap lekat mata Saviana.
Saviana perlahan tersenyum dan menyentuh tangan Alfin yang ada di pipinya, "Tidak apa-apa, aku mengerti apa yang kamu rasakan! Maafkan aku!" Kata Saviana. Alfin langsung memeluk hangat Saviana, begitu juga sebaliknya, Saviana juga membalas pelukan dari Alfin.
Di sela pelukannya"Alfin, maafkan aku karena belum sanggup untuk mengatakan kebenaran ini kepadamu!! Aku tidak memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkan semuanya!! Aku takut kalau kamu kecewa dan tidak mau menemui aku lagi!! Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kamu tahu kebenaran tentang semua ini!!" Batin Saviana yang perlahan menitihkan air mata dalam pelukan Alfin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, acara barbeque keluarga besar itu pun di mulai. Mereka tampak di sibukkan dengan daging mereka masing-masing. Tak lupa mereka bahkan bersenda gurau bersama. Kebahagiaan terlihat diantara mereka yang kini ikut andil melakukan barbeque di halaman mansion.
Terlihat Gisella memanggil Chan untuk datang ke sisinya duduk.
"Chan kemari lah, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu!" Panggil Gisella yang meminta Chan untuk duduk di dekatnya. Chan yang di panggil pun langsung menuju ke arah Gisella berada.
"Ada apa sayang?" Tanya Chan sambil duduk di dekat Gisella.