Kamar 126

Kamar 126
Kabar Duka


"Win, gimana kondisi lo?" Tanya Lucas sembari menunggu Alfin yang sedang mandi.


"Ya beginilah, gue pengen cepat-cepat balik!" Kata Windy. Sebenarnya Windy masih belum di beri tahu mengenai ruang rahasia milik mamanya itu yang telah menyimpan mayat dari sang neneknya. Mark sengaja menyuruh semua untuk tutup mulut, dan akan memberi tahu Windy setelah dia sembuh total nanti.


Tak berapa lama kemudian mereka telah selesai mandi dan sarapan. Mark dan Lucas pamit pada Alfin dan Windy, mereka akan mengantarkan nek Wina pada makam kakek, namun tentu saja nek Wina tidak tahu kalau mereka akan pergi ke sebuah makam.


Mereka pun segera menuju mobil dengan nek Wina kini duduk di jok belakang, sedangkan Lucas dan Mark duduk di jok depan.


Nek Wina terlihat senang sekali karena dia akan bertemu dengan suaminya yang lama sudah tidak ia temui. Nek Wina melihat ke luar jendela, dia sepertinya sudah tidak sabar lagi karena hendak bertemu dengan suaminya. Mark yang melihat itu merasa terharu, dia juga tak bisa membayangkan ketika hendak mempertemukan nek Wina dengan suaminya.


"Nek, sudah berapa lama kakek berangkat?" Tanya Mark memecah keheningan yang terjadi di mobil itu.


Nek Wina mencoba mengingatnya, namun dia tak terlalu ingat mengenai berapa lama tepatnya, "Mungkin sudah berpuluh-puluh tahun cu!" Kata Nek Wina menjawab pertanyaan dari Mark.


Lucas yang sedang menyetir pun juga ingin tahu mengenai nek Wina lebih lanjut, "Apa nenek sangat mencintai kakek?!" Tanya Lucas.


"Sangat-sangat mencintainya nak! Bahkan dulu dia rela meninggalkan keluarganya demi bisa bersama dengan nenek!" Jawab nek Wina yang membuat mereka berdua diam tak berani bertanya lagi. Mereka sebenarnya merasa penasaran dengan cerita detail tentang nek Wina. Namun entah kenapa setelah nek Wina mengatakan itu tadi, membuat keduanya merasa iba dan tak mau lagi mengingatkan nenek Wina mengenai masalalu nya, mereka takut kalau nantinya sampai nek Wina tahu tentang kebenaran suaminya yang telah tiada.


1 jam kemudian, mereka telah sampai di desa Sahara. Nek Wina tampak mengernyitkan dahinya, membuat Mark penasaran dengan apa yang ada dalam pikiran nek Wina saat itu.


"Nek? Nenek kenapa?" Tanya Mark penasaran.


Nek Wina langsung berusaha menutupi dirinya, "Oh nenek tidak apa-apa cu!" Jawa nek Wina.


Sampailah mereka di tempat pemakaman, yang membuat nek Wina mengernyitkan dahinya lagi. Jujur saja dia pasti sudah terpikirkan kalau suaminya pasti telah tiada, mengingat mereka berhenti di sebuah pemakaman. Lalu kemudian, Mark bertanya pada penjaga makam, nek Wina hanya diam tak bertanya apapun, dan penjaga makam pun mengantarkan mereka ke sebuah batu nisan.


"Ini tempatnya!" Kata penjaga makam sembari menunjukkan satu nisan yang bertuliskan 'Cahyo' yang di yakini sebagai nama dari suami nenek.


Mark dan Lucas langsung menatap nenek yang wajahnya terlihat sedih, nenek mendekati nisan itu dan mengusapnya. Nek Wina tak sanggup menahan air matanya, karena selama berpuluh-puluh tahun dia juga masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau suaminya masih hidup, kini harapan itu telah pupus. Makam yang ada di dekatnya itu membuat harapan nek Wina pupus dan tak tahu lagi harus berkata apa lagi, mengetahui pujaan hatinya telah meninggal dunia. Bahkan di batu nisan itu bertuliskan kalau kakek Cahyo telah meninggal 5 tahun yang lalu.


Nek Wina terus menangis di dekat batu nisan suaminya itu, dia ingin mengulang waktu dan ingin bersama dengan suaminya. Mark dan Lucas yang melihat itu juga ikut sedih, karena mereka tahu kalau nek Wina sangat mencintai suaminya.


"Kenapa kamu pergi lebih dulu sebelum menemui aku? Bahkan sudah 5 tahun kamu sudah pergi lebih dulu, menghadap pada sang pencipta!" Kata nek Wina sembari terisak di dalam tangisnya.


Sosok kakek tiba-tiba muncul tepat di dekat makam miliknya, beliau menatap nek Wina dengan sendu dengan rasa penyesalan yang masih tersimpan di hatinya. Mark bertanya-tanya kenapa sosok kakek tak langsung menghilang? Padahal kematiannya telah terungkap dan di ketahui oleh istrinya!


Hingga akhirnya Mark menyadari sesuatu, kalau ada satu nisan yang baru saja di buat sama persis seperti milik kakek Cahyo. Letaknya juga tepat di sebelah kakek Cahyo berada, terlihat tulisan di sana mengatakan kalau pemilik nisan itu telah meninggal 5 bulan yang lalu. Mark yang penasaran pun langsung bertanya pada penjaga makam.


"Maaf pak, kalau boleh tahu kenapa batu nisan di sebelah kakek Cahyo ini sama persis seperti milik kakek Cahyo?" Tanya Mark pada penjaga makam.


Menjaga makam menoleh ke arah Mark bersamaan dengan kakek Cahyo yang menoleh ke arah batu nisan di sampingnya.


"Ini makam istrinya!" Kata penjaga makam.


Deg,,,,,


Hal itu sontak saja membuat Mark dan Lucas terkejut bukan main. Bagaimana maksudnya? Mereka bahkan sempat berpikir apakah nek Wina telah meninggal? Tapi kenapa seluruh saudaranya yang tak bisa melihat makhluk tak kasat mata bisa melihatnya?


Mark juga sempat berpikir kalau nek Wina sudah meninggal lantas kenapa nama di batu nisan itu tak sama dengan nama nek Wina. Hal itu sungguh aneh, Nek Wina perlahan menghentikan tangisnya. Membuat Lucas dan Mark terkejut. Nek Wina perlahan berbalik menatap penjaga makam.


Nek Wina perlahan berdiri dengan kakinya yang sudah sangat renta, "Apa? Siapa yang kau katakan istrinya? Aku adalah istrinya?!! Dan aku masih hidup!!!" Kata nek Wina dengan mengharapkan jawaban dari penjaga makam mengenai hal itu.


Mark dan Lucas menghela nafas lega setelah mendengar ucapan dari nek Wina kalau beliau masih hidup, dan itu tentu saja membuat pikiran Mark dan Lucas yang awalnya tak menentu membuat mereka bisa berpikir lagi. Tapi seketika mereka juga menyadari, kenapa bisa penjaga makam mengatakan kalau nisan yang ada di dekat kakek Cahyo itu adalah istrinya? Apa maksudnya ini?


Penjaga makam pun menjawabnya, "Tapi memang benar kalau makam ini adalah milik kakek Cahyo dan istrinya!" Jawabnya dengan santai. Karena memang setahu penjaga makam seperti itu. Mark pun melepas kalungnya dan membiarkan kakek Cahyo menggunakan tubuhnya untuk berkomunikasi dengan nek Wina.


Kakek Cahyo pun langsung masuk ke dalam raga Mark, "Wina!" Panggilnya lirih dengan menatap sendu nenek Wina. Nenek Wina menoleh ke arah Mark, entah kenapa dirinya langsung mengambil kesimpulan kalau yang memanggilnya itu adalah Cahyo, suaminya.


"Maafkan aku! Aku memang salah! Maaf karena telah menyakiti dirimu! Maaf karena aku sudah meninggalkan kamu! Maaf karena aku telah mengkhianati cinta kita!!" Kata kakek Cahyo menunduk sedih sembari terus mengucapkan kata maaf pada nek Wina.


Nek Wina menggeleng, dia mendekat ke arah Mark dan memeluknya. Nek Wina kini sudah mengambil kesimpulan kalau suaminya memang telah mengkhianati dirinya. Melihat batu nisan yang sama dengan milik suaminya itu, dirinya seakan tak bisa marah, dia bingung harus marah kepada siapa sekarang. Nek Wina memeluk raga Mark yang sedang di rasuki oleh kakek Cahyo. Dirinya tak menyangka semua ini akan terjadi padanya, penantian panjang yang selama ini beliau lalui namun hanya sia-sia pada akhirnya.


"Kamu jahat! Tapi rasa cintaku lebih besar daripada rasa kekecewaan ku padamu! Kita harus pergi bersama! Kau telah menungguku meski di alam yang berbeda!" Kata nek Wina masih memeluk raga Mark.


Perlahan Nek Wina menatap Lucas dengan mata sembabnya, "Cu sampaikan rasa terima kasihku kepada saudaramu yang telah membantuku bertemu dengan suamiku, dan aku rasa aku harus pergi bersama dengannya juga!" Kata nek Wina.


Deg,,,,


Lucas terdiam membisu mendengar ucapan dari nek Wina yang tiba-tiba mengatakan seperti itu. Nek Wina sendiri lalu kembali memeluk raga Mark yang masih di rasuki oleh kakek Cahyo itu.


Dan tiba-tiba saja nek Wina ambruk bersamaan dengan keluarnya sosok kakek Cahyo dari tubuh Mark. Penjaga makam dan juga Lucas yang melihatnya langsung menolong Mark dan nek Wina.


Mark langsung sadar dengan di bantu oleh Lucas, sedangkan penjaga makam memeriksa denyut nadi dari nek Wina. Dan ternyata nek Wina telah meninggal dunia. Mark dan Lucas yang mengetahui itu sempat syok, kenapa bisa seperti ini?


"Beliau sudah meninggal!" Kata penjaga makam memberi tahu setelah memeriksa denyut nadi dari nek Wina.


"Apa?" Ucap Mark terkejut dan langsung mendekati nek Wina bersama dengan Lucas.


"Nek bangun nek! Kenapa nenek pergi dalam keadaan seperti ini?!" Ujar Mark sembari menatap tubuh Nek Wina yang telah meninggal itu.


"Aku akan pergi dengan damai cu!" Kata sosok yang tiba-tiba berdiri di samping jasad nek Wina. Mark yang mendengar itu langsung menoleh, dirinya mendapati nek Wina yang telah berdiri bersama dengan kakek Cahyo.


Air mata Mark menetes melihatnya, bahkan nek Wina meninggal dengan mengetahui sebuah kenyataan pahit ,"Terima kasih karena sudah mempertemukan aku dengan suamiku cu!" Aku akan pergi sekarang! Bersama dengan suamiku" kata nek Wina lagi sembari tersenyum penuh arti. Namun itu membuat Mark seperti histeris melihat kepergian nek Wina yang tiba-tiba itu.


Perlahan sosok nek Wina dan kakek Cahyo menghilang dari pandangan Mark, hal itu tentu saja hanya Mark yang dapat melihatnya. Mark kemudian menyuruh penjaga makam untuk mempersiapkan semuanya dan memakamkan nek Wina di samping nisan kakek Cahyo.


Setelah semuanya selesai, Mark kembali ke rumah sakit dengan perasaan yang berkecamuk di hatinya. Dia ternyata tahu mengenai semuanya tentang kakek Cahyo. Ya, memang saat kakek Cahyo masuk ke dalam tubuhnya tadi, membuat Mark bisa melihat semua yang terjadi di kehidupan kakek Cahyo setelah meninggalkan nek Wina.


"Kak, kenapa lo diam aja sih?" Tanya Lucas yang sedang menyetir, dirinya melihat kak Mark yang dari tadi hanya terdiam melamun menatap keluar jendela.


"Gue akan kasih tahu lo nanti saat sampai di rumah sakit" jawab Mark lalu setelahnya mengusap wajahnya dan menghembuskan nafas kasar.


1 jam perjalanan mereka lalui hingga mereka sampai di rumah sakit, Mark langsung menuju kamar mandi untuk kembali membasuh wajahnya. Sedangkan Alfin dan Windy yang melihat kedatangan mereka tampak heran.


"Loh? Cepat banget? Nek Wina ke mana?" Tanya Alfin yang tak melihat nek Wina bersama dengan mereka.


Lucas menatap datar ke sembarang arah dan menjawab, "Nek Wina sudah meninggal beberapa jam yang lalu! Dia juga langsung di makamkan!" Kata Lucas tanpa menatap ke arah Alfin dan Windy.


Alfin dan Windy yang mengetahui itu tersentak kaget, "Apa? Kenapa bisa? Lo jangan bercanda deh! Baru beberapa jam lo pergi! Bisa-bisanya lo ngomong gitu!" Kata Alfin tak percaya.


"Iya, Lucas jangan main-main dong!" Kata Windy yang sama tak percayanya.


Lucas menarik nafas dan menghelanya dengan kasar, "Terserah kalian mau percaya apa nggak! Gue sendiri sebenarnya juga nggak mau percaya ini! Tapi ini memang benar terjadi dan gue melihatnya dengan mata kepala gue sendiri!" Kata Lucas dengan suara lemas nya. Membuat Windy dan Alfin bergetar dan perlahan mulai percaya dengan apa yang di katakan oleh Lucas, karena Lucas juga tak mungkin berbicara omong kosong seperti itu.


Lalu kemudian tak berapa lama kemudian Mark keluar, tentu Windy dan Alfin ingin mendengarkan langsung cerita dari kak Mark. Dan ingin memastikan apa yang di ucapkan oleh Lucas tadi adalah kebenaran?!


***


Pov Author : Halo guys, jangan lupa untuk selalu dukung karya author ya!


Tinggalkan jejak kalian saat membaca ya guys, supaya author lebih semangat lagi buat up, author sayang kalian semua. Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung karya ini sampai sejauh ini, see you❤️❤️