Kamar 126

Kamar 126
Mama, aku akan menunggumu,


Singkat cerita,,,,


Sesampainya mereka di mansion. Gisella masih belum juga sadarkan diri, di saat itu juga Chan juga sudah memberitahu kedua orang tua Gisella mengenai kabar buruk itu. Orang tua Gisella juga merasakan kesedihan saat mengetahuinya, dan sayangnya orang tua Gisella tidak bisa langsung datang untuk menemui dirinya, karena masih ada banyak pekerjaan yang tidak bisa mereka tinggalkan.


Di dalam mimpi Gisella dirinya bertemu dengan seorang anak yang umurnya berkisar 1 tahun, akan tetapi Gisella merasa aneh karena anak itu sudah mahir dalam berbicara. Terlihat anak itu berdiri tepat di depan Gisella dan menetap Gisella dengan tatapan sendunya.


"Mama!!" ucap anak itu pertama kali dari mulutnya.


Deg,,,,


"Anak ku?" mata Gisella berkaca-kaca melihat apa itu yang ada di depannya, yang dia yakini bahwa anak itu adalah anaknya.


"Mama, Aku akan menunggumu di pintu surga nanti!!" kalimat yang keluar dari mulut anak kecil itu.


Gisella yang sudah mulai menitihkan air matanya, hendak memeluk anak kecil itu. Akan tetapi saat Gisella akan memeluk anak itu, tiba-tiba saja muncul satu sosok tepat di belakang anak kecil itu. Ya, sosok itu yang tak lain adalah mama Chan yang telah tiada. Mama Chan berlangsung menggendong anak kecil itu.


"Mama?!" ucap Gisella dengan heran, "Berikan anak itu padaku, Ma! Aku ingin sekali menggendongnya!" minta Gisella pada Mama Chan yang sedang menggendong anak kecil itu.


"Gisella, Mama akan menjaganya anak ini! Kamu harus tetap menjalani kehidupan kamu dengan damai nanti! Kamu tidak perlu lagi mengawatirkan anak ini ya! dia akan aman bersama dengan mama!" ucap Mama Chan memberitahu Gisella untuk tidak terlalu khawatir.


"Aku akan bersama nenek, Ma!" ucapan anak kecil itu sembari tersenyum manis ke arah Gisella.


Gisella sendiri terkejut mendengar pernyataan dari anak kecil itu,


"Tidak, tunggu Ma! Biarkan aku memeluknya sebentar saja!" Gisella memohon pada Mama Chan.


Akan tetapi tiba-tiba saja anak itu dan juga Mama Chan hilang seketika dari hadapan Gisella.


"MAMA!!!!" teriak Gisella saat dia terbangun dari pingsannya.


"Gisella, Sayang kamu kenapa?" kata Chan yang sedang khawatir udah juga bingung, akan Gisella yang tiba-tiba saja berteriak menyebut mama.


"Chan, mama! Aku tadi bertemu dengan Mama kamu! Dia tadi bersama dengan calon anak kita! Chan, aku mohon kembalikan anak kita!" Gisella kembali menangis karena mengingat kalau dirinya sudah kehilangan calon anak pertamanya.


Tidak ada cara lain lagi yang bisa dilakukan Chan, kecuali memeluk Gisella dalam pelukannya dan berusaha menenangkannya. Gisella yang terus menangis membuat dan tindakan pencegahannya tersayat sedikit demi sedikit. Karena pada dasarnya Chan tidak pernah melihat Gisella sesedih dan sehisteris itu.


"Sayang, mungkin ini sudah menjadi takdir calon anak kita! Kita harus bisa mengikhlaskan kepergiannya! Sekarang, Dia pasti sudah dijaga baik oleh Mama di sana!" ucap Chan pada Gisella yang ada di pelukannya dan masih terus menangis.


Gisella tak henti-hentinya menangis, bahkan sampai air matanya tak mampu untuk keluar lagi. Gisella pun akhirnya tertidur di pelukan Chan, karena kelelahan menangis. setelah itu Chan menidurkan Gisella di ranjang. Sesekali Chan mengusap lembut Gisella dan berkata,,,


"Sayang, aku sendiri sebenarnya masih belum percaya kalau ada kita akan pergi secepat ini! Tapi aku tahu kalau ini sudah menjadi suratan takdir untuk anak kita!" ucapkan sambil menatap lekat-lekat wajah istrinya itu, lalu kemudian mengecup bibir Gisella sekilas.


Tak lama setelah itu, pintu kamar Chan dan Gisella di ketuk. Nadia yang datang untuk menyuruh Chan makan malam bersama. Namun Chan menolak ajakan Nadia dan untuk menemani istrinya. Nadia pun juga mengatakan kalau dirinya akan mengantarkan makanan ke kamar mereka untuk makan mereka nanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di meja makan,,,,


Setelah makan malam, Nadia memutuskan untuk membawakan makanan kamar Chan dan juga Gisella. Namun ternyata bukan hanya Nadia saja yang datang ke kamar mereka, tapi Lisa dan juga Jeni juga ikut dengan membawakan beberapa cemilan.


"Chan kalau semisalnya kamu sama Gisella butuh apa-apa kamu tinggal panggil kita aja ya!" kata Jenie beritahu Chan.


"Terima kasih ya atas bantuan kalian!"


"Kamu gak suka sama kita Chan kita semua ini keluarga!" kata Nadia.


Chan pun tersenyum lalu mengangguk ke arah mereka bertiga. Setelah itu mereka ketika memutuskan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing. Chan yang sudah tidak memiliki nafsu makan apel akhirnya memilih tidur di samping Gisella dengan memeluk hanya Gisella.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, terlihat Gisella yang duduk di tepi kolam renang. Dirinya memandangi kolam renang dan juga halaman yang terbentang begitu luas. Gisella pernah memimpikan dan seorang anak kecil yang akan berlarian ke sana kemari di halaman luas itu. Akan tetapi harapan itu seakan pupus, ketika dirinya mengingat kalau janin yang ada di dalam keduanya telah tiada.


Sesekali Gisella menitihkan air matanya mengingat itu, sampai kemudian Chan datang dengan membawa sepiring sarapan untuk di Gisella karena dari tadi malam Gisella belum makan sedikit pun.


"Sayang!" Panggil Chan, namun Gisella yang mendengarnya memilih untuk tidak menoleh karena masih mengingat akan calon anaknya.


"Kamu makan ya! Dari kemarin kamu belum makan! Nanti kalau kamu sakit gimana?!" kata Chan yang perlahan duduk di dekat Gisella.


Gisella yang mendengar ucapan dari Chan pun menghela nafas, dengan pandangan yang masih menatap ke halaman yang membentang luas di hadapannya.


"Chan, Apa kamu pernah memikirkan, kalau saat anak kita lahir nanti dia pasti akan bermain di halaman yang begitu luas ini!" kata Gisella sambil memandang halaman luas itu.


Chan pun yang tadinya hendak menyendok sesuap nasi langsung menoleh kearah Gisella.


"Sayang, aku juga sebenarnya memiliki pemikiran yang sama seperti kamu!" jawab Chan.


"Kenapa anak kita meninggalkan kita? Apa dia tidak menginginkan hidup bersama dengan kita? Bahkan dia belum sempat melihat dunia!" Ucap Gisella.


Chan pun menaruh sepiring nasi tadi di tepi kolam renang, lalu Chan menghadapkan Gisella pada dirinya dan kemudian memegang pundak istrinya.


"Sayang aku tahu ini berat buat kamu! Aku sendiri juga merasa kehilangan! Tapi kita harus berusaha untuk mengikhlaskan kepergian calon anak kita! Dia pasti sedih melihat kamu yang terus-terusan seperti ini!" kata Chan mencoba membuat Gisella supaya tidak terus-terusan terpuruk atas kepergian calon anak mereka.


"Tapi Chan, aku yang salah! kalau saja saat itu aku menurut apa kata kamu! kita pasti tidak akan kehilangan calon anak kita!" ucap Gisella yang menyesal.


"Sayang, mungkin ini sudah menjadi takdir dari calon anak kita! Kalau saja kamu tidak datang untuk menolong Nathan dan juga Alex, mungkin mereka yang nantinya akan tiada! kita ambil hikmahnya saja ya sayang! kita harus dapat kepada calon anak kita, Karena dia sudah menolong para pamannya yang sedang dalam masa sulit!" kata Chan sembari tersenyum ke arah Gisella. Dan akhirnya Gisella pun membalas senyuman Chan. Hal itu membuat hati Chan merasa lega karena istrinya bisa tersenyum kembali.


"Nah gitu dong senyum kamu jadi makin cantik kalau senyum kayak gitu!" ucap Chan menggoda istrinya.


"Chan kamu apaan sih!" jawab Gisella yang tersipu malu mendengar ucapan Chan.


Setelah itu Chan pun menyuruh bisa makan dengan menyuapi Gisella.