
Bryan menatap mereka sekilas yang hendak keluar dari kelas , lalu kemudian berbalik menengok ke arah Alisya dan Victor, "Itu si Haechan mau nganterin Dila balik, katanya sih Dila sakit!" Kata Bryan memberi tahu mereka berdua.
"Perasaan dari tadi Dila nggak apa-apa deh! Apa kita kasih tahu orang di mansion aja?!" Tanya Victor dengan memberikan sebuah saran.
"Nggak usah, kan mereka nanti juga balik ke mansion!" Jawab Bryan menyarankan.
Alisya dan Victor pun saling pandang sekilas lalu kembali melanjutkan tugas yang telah di berikan oleh guru.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain Axel dan Dila kini telah menaiki taksi yang sudah mereka pesan tadi. Tentunya dengan Dila yang sudah menentukan tempatnya.
"Kita ke hotel VV pak!" Kata Dila memberi tahu supir yang menyetir taksi.
Axel hanya diam saja mendengar apa yang di minta oleh Dila yang meminta supir mengantar mereka ke sebuah hotel. Bahkan Dila langsung memeluk lengan Axel dan menyandarkan kepalanya pada pundak Axel. Membuat sang empunya merasakan nyaman dalam hatinya. Bahkan Axel kini menganggap Dila yang ada di sampingnya itu sebagai Dira.
Tak buruh waktu lama, mereka pun telah sampai di hotel VV. Dila langsung memesan sebuah kamar dengan Axel yang hanya bisa menurut saja dengan apa yang akan di lakukan oleh Dila.
Setelah memesan kamar, mereka langsung masuk ke dalam kamar itu, Dila menarik tangan Axel untuk mendekat ke arahnya yang tengah berdiri, "Axel kemari lah, dengarkan ini! Aku adalah Dira, kita bisa hidup bersama lagi! Apa kau mau kita hidup bersama lagi?" Tanya Dila di depan Axel.
Axel menelan ludahnya, "Apa benar ini kau Dira?" Tanya Axel yang langsung di jawab anggukan oleh Dila.
"Jika memang ini benar kamu!" Ucap Axel lagi sembari menggenggam kedua tangan Dila yang ada di depannya, " Aku ingin mengatakan kalau aku sangat menyayangi kamu Dira! Beri tahu aku cara agar kita bisa bersama lagi seperti dulu! Ku mohon kembali dan kita hidup bahagia berdua!!" Pinta Axel lagi, Dila tersenyum lalu mengusap pipi Axel dengan satu jarinya.
"Ada satu cara supaya kita bisa bersama lagi seperti dulu!" Ujar Dila yang menggantung ucapannya, membuat Axel semakin penasaran di buatnya.
"Katakan Dira! Aku akan melakukan apapun untuk bisa bersama dengan kamu!!" Ucap Axel yang sudah tak sabar ingin bersama dengan Dira lagi.
"Cium lah keningku dengan ketulusan cinta kamu Axel! Dengan begitu kita akan bisa bersama selamanya!" Kata Dila akhirnya memberi tahu. Namun yang ada di mata Axel tentu saja itu adalah Dira bukanlah Dila.
Kening Axel mengernyit heran mendengarnya, dia berpikir apakah semudah itu melakukan nya?
"Apakah hanya itu syaratnya? Itu terlalu mudah bukan!" Tanya Axel, wajah Dila tersenyum manis ke arah Axel membuat jantung Axel berdegup dengan kencang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di saat yang bersamaan, Gisella dan juga Chan telah sampai di mansion utama. Tentu saja kedatangannya itu di sambut oleh semua penghuni mansion, kecuali anak-anak yang masih dengan kegiatan sekolah dan kuliah mereka.
"Selamat datang Gisella, Chan!" Ucap Jeni yang menyambut kedatangan mereka.
"Haish, kamu kayak sama siapa aja sih!" Kata Gisella. Dirinya masuk dengan memegang koper kecil , awalnya memang Chan yang membawanya, namun Gisella ingin membawa barang miliknya sendiri. Dan tentu saja dengan tanaman bambu kuning yang masih berada di bagasi mobil, lalu yang telah menjadi liontin telah ada di koper milik Gisella itu.
"Oh iya anak-anak gimana?" Tanya Gisella mengalihkan pembicaraan.
Nadia mendengus mendengar pertanyaan dari Gisella, "Asal kamu tahu aja ya! Mereka itu nggak berhenti nanyain kamu sama Chan tahu nggak! Setiap selesai makan bersama di meja makan, mereka selalu nanyain kalian kapan pulang!" Menghela nafas di sela ucapannya, "Ya, kalian tahu sendiri kan kita nggak bisa jawab itu, apalagi kalian juga matiin ponsel, jadi mereka malah khawatirkan kalian berdua yang tanpa kabar!" Kata Nadia setelahnya.
"Ya maafin kita ya, kita juga sibuk banget di sana! Banyak kejadian yang tak terduga yang harus aku selesaikan, jadinya ya aku terpaksa menunda waktu pulang kita!" Kata Gisella menjelaskan. Semuanya sudah paham dengan apa yang di maksud oleh Gisella.
"Lebih baik kalian istirahat dulu, kalian pasti capek kan?!" Kata Nathan menyuruh Chan dan Gisella untuk beristirahat terlebih dahulu, karena mereka pasti lelah sudah menempuh perjalanan jauh.
"Tapi aku masih harus melakukan sesuatu!" Ucap Gisella yang membantah dan ingin segera menanam tanaman bambu kuning, lalu ingin segera memberi tahu Mark dan juga Alfian mengenai ceritanya yang telah dia alami di pulau Jawa kemarin. Apalagi dengan cerita para remaja kota yang mengalami hal tragis itu.
Chan menghela nafasnya, "Sudahlah Gisella! Nanti sore saja! Lagi pula ini masih siang! Kita semua nanti akan bantu kamu! Sekalian nunggu anak-anak pulang juga!" Kata Chan memberi tahu Gisella supaya tidak terlalu terburu-buru dalam melakukan sesuatu.
Gisella menghela nafas pasrah dengan apa yang menjadi keputusan suaminya, dia akhirnya menuruti suaminya itu untuk tidak terlalu terburu-buru dalam melakukan sesuatu, "Iya baiklah, kalau begitu kita istirahat dulu saja!" Kata Gisella yang di angguki oleh Chan.
"Iya silahkan!" Ucap Nathan yang mewakili mereka semua.
Lalu kemudian Gisella memasuki lift dan menuju ke kamarnya. Namun saat hendak masuk ke dalam kamarnya, Gisella merasakan sesuatu yang tak biasa, dia meminta ijin pada Chan untuk menuju ke lantai 3 tepatnya kamar dari anak gadisnya.
"Chan, aku ke kamar Dila dulu ya bentar!" Kata Gisella pada Chan.
Chan mengernyitkan dahinya, "Kenapa? Bukannya Dila masih berada di sekolah?" Tanya Chan dengan heran pada istrinya.
"Cuma sebentar saja Chan!" Pinta Gisella dengan mata berbinar nya. Chan akhirnya menyerah dan mengalah dengan Gisella yang telah memohon dengan mata berbinar seperti itu, "Ya baiklah, cepatlah ke sini oke!" Kata Chan dan Gisella tersenyum menanggapinya.
Gisella lalu kemudian memberikan kopernya pada Chan dan berjalan menuju ke kamar Dila. Namun saat hendak menuju ke kamar Dila Gisella kembali merasakan hawa yang tak biasa. Dengan langkah cepat Gisella tak menaiki lift melainkan menaiki tangga. Saat hendak masuk, ternyata pintu kamar Dila terkunci. Hal itu membuat Gisella khawatir, karena tak biasanya anak gadisnya itu sekolah dan mengunci pintu kamarnya.
"Chan!!!!" Panggil Gisella dari lantai 3. Namun ternyata semua penghuni mansion mendengarnya yang membuat semua langsung berhambur ke lantai 1 tepatnya di ruang tengah.
"Ada apa?" Tanya Nathan pada yang lain.
"Chan!!!" Panggil Gisella lagi.
Chan yang berada di lantai 2 pun langsung berlari menaiki tangga dan menuju ke lantai 3. Semua orang yang berada di lantai 1 yang melihat Chan berlari menaiki tangga menuju ke lantai 3 pun langsung mengikuti dengan menaiki lift.
"Gisella ada apa?!" Tanya Chan khawatir saat mendengar teriakan istrinya.
"Chan kenapa pintu kamar Dila di kunci?!" Tanya Gisella dengan wajah khawatirnya. Chan langsung menghela nafas lega mendengar apa yang telah di katakan oleh istrinya itu.
"Astaga Gisella hanya itu?!" Ucap Chan.
"Ada apa?! Kenapa berteriak??" Tanya Natahn.
"Iya ada apa?" Tanya Leon.
Gisella dan Chan langsung menoleh ke arah mereka ,Chan lalu memberi tahu mereka kalau Gisella yang berteriak tadi hanya karena pintu kamarnya di kunci.
"Astaga, Gisella kamu bikin semua orang panik aja tahu nggak!" Ujar Nadia sembari mengusap dadanya merasa lega.
Gisella masih dengan wajah khawatirnya, "Tapi ini nggak biasanya kalau Dila suka mengunci pintu kamar kayak gini?!" Kata Gisella.
"Ya sudah lebih baik kita buka saja pintu kamarnya pakai kunci cadangan!" Kata Byun menyarankan.
"Iya Byun benar, lebih baik pakai kunci cadangan saja untuk membukanya, dari pada kamu khawatir sama Dila! Lagian Dila kan juga berangkat ke sekolah!" Kata Nathan memberi tahu Gisella supaya tidak merasa khawatir.
Mereka pun akhirnya membuka pintu kamar Dila, Gisella langsung masuk begitu saja ke dalam. Entah kenapa dirinya memiliki firasat buruk mengenai Dila saat ini.
Tiba-tiba saja saat Gisella masuk dirinya seakan langsung di arahkan pada ranjang Dila. Dan tanpa di sangka Gisella menemukan kalung milik Dila yang tertinggal di bawah bantal, iya itu adalah kaling air suci.
"Kenapa kalung Dila tidak di pakai?" Tanya Gisella sembari menunjukkan kalung itu pada para orang tua yang lain.
"Gisella, mungkin Dila hanya memakai kalung bunga anggrek hitam saja, dan meninggalkan kalung air suci itu di sini!!" Kata Chan . Namun tentunya Gisella masih saja merasa gelisah, apalagi ketika dirinya tahu kalau ternyata kalung milik Dila tertinggal di kamarnya.
"Kalau begitu, cepat hubungi Dila dan suruh dia pulang!!" Kata Gisella, semua orang saling pandang dan merasa heran dengan tingkah Gisella yang di rasa terlalu berlebihan.
Chan pun mendekat ke arah Gisella, "Kamu tenang saja! Dila pasti sebentar lagi akan pulang!" Kata Chan mencoba membuat istrinya tenang.
Gisella menatap Chan dengan tatapan sendunya, "Chan ku mohon cepat hubungi Dila dan pastikan kalau dia berada di sekolah sekarang!" Kata Gisella memohon pada Chan.