Kamar 126

Kamar 126
Kabar gembira


"Kak, apa kau tahu! Kak Alfin bahkan terlihat buruk sekali saat menjaga kamu, dua menolak makan dan mandi dan tetap terus menjaga kamu di sini!!" Ucap Alfian dengan polosnya yang malah membuat Windy tersentak dan menelan ludahnya dengan susah payah. Mengingat dirinya yang tak pernah merasakan di perhatikan sampai segitunya.


"Astaga, apa sampai segitunya Alfin menjaga aku? Apa yang Alfin lakukan? Dia bahkan tak memikirkan kondisinya sendiri!" Batin Windy.


Tak lama setelahnya, dokter pun datang bersama dengan Alfin dan langsung memeriksa keadaan Windy.


Malam itu juga Mark, Victor dan Lucas langsung menuju rumah sakit, untuk menjenguk Windy dan mengajak Alfian pulang. Karena besok Alfian harus sekolah, sebagai gantinya Mark yang akan menemani Alfin di rumah sakit.


Mark dan Lucas sebelumnya telah merencanakan untuk mengantarkan nek Wina ke tempat peristirahatan terakhir suaminya besok.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, tepatnya di kediaman mansion besar Nathan. Tepatnya di kamar Dila, dirinya merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Badannya juga terlihat demam.


"Astaga, kenapa badan gue bisa sakit semua sih?" Tanya Dila sambil berusaha bangkit dari posisi tidurnya. Dila berusaha mengingat kejadian apa yang membuatnya bisa sakit seperti itu, bahkan Dila memegang keningnya yang panas, "Haish, panas lagi!" Kata Dila perlahan mulai ingat, dia tersentak ketika ingat apa yang tadi malam terjadi.


"Astaga, tidak!! Ini tidak mungkin! Tidak mungkin kalau gue sakit gara-gara di cium sama Axel tadi malam kan? Nggak-nggak ini nggak bisa di biarin!" Kata Dila gelisah, "Kalau semua orang di mansion ini tahu gue sakit gara-gara itu, bisa-bisa gue di jauhi lagi sama Axel! Mereka juga pasti bakal nyalahin Axel!" Kata Dila bingung, seketika saja dia mendapat ide, "Iya, gue harus nutupin ini dari semua orang yang ada di mansion! Mereka nggak boleh tahu kalau gue sakit!" Lanjut Dila yang setelahnya beranjak menuju kamar mandi.


Dila bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, dia melihat ke cermin. Wajahnya yang putih mulus itu bahkan tampak berbeda, lebih pucat dari pada biasanya. Bahkan sangat terlihat kalau dia pasti sedang sakit, "Haish, kenapa pakai acara kelihatan segala sih?" Kata Dila sembari mendengus kesal. Lalu kemudian dirinya memutuskan untuk memakai bedak tipis-tipis dan juga memakai liptint supaya tidak terlihat pucat lagi.


"Nah kalau gini kan gue nggak kelihatan sakit!" Kata Dila, tiba-tiba saja kepala Dila terasa sakit. Dia memegangi kepalanya dengan kuat mencoba menahan rasa sakit itu, "Kenapa kepala gue sakit banget!!" Kata Dila sembari meringis menahan sakit di kepalanya.


Tiba-tiba,,,


Tok tok tok,,,,


"Dila! Lo udah siap belum? Lo udah bangun kan? Semuanya yang ada di bawah udah nungguin lo, Dil!" Sebuah suara di balik pintu membuat Dila harus menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya, entah itu karena apa.


"Iya, ini gue mau turun!" Jawab Dila dari balik pintu, Dila tahu kalau itu adalah suara Alisya yang memanggilnya untuk segera bergegas turun ke meja makan dan sarapan bersama.


"Kalau gitu, gue tunggu lo di meja makan!" Kata Alisya lalu setelahnya dia berjalan duluan menuju meja makan. Sedangkan Dila tak menjawab, dia masih memegang kepalanya dengan kuat mencoba menahan rasa sakit di kepalanya.


Dila pun akhirnya turun ke meja makan, dia harus menahan rasa sakit itu di depan seluruh keluarganya.


"Sebelum kita mulai sarapannya, ayah mau kasih tahu kalian semua, kalau besok mungkin mama Gisella sama papa Chan akan pulang!" Kata Ayah Nathan memberi tahu. Dia mendapatkan info dari Chan, sebuah pesan singkat yang sengaja Chan kirim pada Nathan malam itu.


Setelah percakapan untuk memberi tahu semua orang yang ada di mansion itu


"Syukurlah kalau mereka akan pulang!" Kata Alfian senang mendengar kabar kalau kedua orang tuanya akan segera pulang dari pulau Jawa.


Di sisi Dila dirinya hanya terdiam dan tersenyum mendengar berita itu, Mark dan Alfin tak ada di sana, mereka masih berada di rumah sakit untuk menunggu Windy. Sedangkan Lucas pulang, karena di minta oleh Mommy Jeni. Sekaligus untuk membawakan pakaian dan juga makanan ke rumah sakit nanti.


Hari itu semua berangkat ke sekolah di antar oleh Lucas , yang nantinya akan pergi ke rumah sakit. Di dalam mobil Dila memegangi ponselnya sembari berpikir,"Apa aku kasih tahu kak Mark aja ya? Ah , tidak-tidak! Aku nggak mau kalau sampai dia khawatir dan malah sakit hati kalau tahu aku di cium sama Axel!" Batin Dila.


Axel yang ada di dekat Dila pun mengernyit heran. Dila yang biasanya manja itu bahkan tak mengucap apapun saat berada di mobil. Axel penasaran dengan apa yang sedang Dila pikirkan.


Ada apa sama kamu Dila? Kenapa kau begitu murung?" Batin Axel yang tak berani bertanya, karena banyak saudara yang lain di dalam mobil itu selain dirinya.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di depan gerbang sekolah. Mereka langsung turun dan berpamitan pada Lucas yang mengantarkan mereka.


Lucas pun melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Dila berjalan beriringan bersama dengan Axel, "Dila, kamu kenapa? Kenapa dari tadi diam aja?!" Tanya Axel penasaran.


Dila tersentak karena dia tadi melamun, Dila menoleh ke arah Axel, "Ah, aku nggak apa-apa kok! Oh iya aku ke toilet dulu ya bentar!" Kata Dila yang langsung berlari menuju ke toilet. Axel yang melihatnya tampak heran akan tingkah Dila yang tak seperti biasanya.


Axel menatap Dila yanng setengah berlari menuju ke toilet, "Sebenarnya ada apa sama lo sih Dil? Nggak kayak biasanya! Bukankah lo itu setengah Dira, tapi kenapa lo malah kayak menjauh dari gue?!" Tanya Axel di dalam batinnya. Axel pun langsung berjalan menuju kelasnya dan menunggu Dila di kelas.


Sedangkan di sisi Dila, dirinya tengah berada di depan wastafel yang ada di toilet, "Kak Mark ,Dila kangen! Pengen banget ketemu sama kamu kak!" Kata Dila sambil menatap dirinya dari pantulan cermin. Dila kemudian memutuskan untuk mengirim pesan pada Mark yang isinya.


"Kak, apa kakak tidak akan pulang lagi hari ini? Dila kangen sama kakak! Kakak pulang ya nanti!" Sebuah pesan itu langsung di kirimkan pada Mark.


Di seberang sana , Mark menerima pesan dari Dila hanya tersenyum lalu membalasnya.


"Kakak akan pulang hari ini Dila! Tapi setelah misi kakak selesai, tunggu kakak pulang ya! Jaga diri kamu baik-baik oke!" Balas pesan Mark pada Dila.


Dila yang menerima pesan itu tersenyum dan bersemangat lagi, namun saat hendak keluar dari toilet dirinya kembali merasakan rasa sakit di kepalanya. Dila memegang kepalanya yang seperti mau pecah itu, "Ssssttt kenapa sakit banget sih?" Keluh Dila masih memegang kepalanya, "Nggak, gue harus bisa tahan ini! Gue nggak mau bikin semua orang khawatir sama gue!!" Kata Dila mencoba menahan rasa sakitnya lagi. Lalu kemudian dirinya langsung menuju kelas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain, tepatnya di rumah sakit. Mark tengah berbincang dengan nek Wina sembari menunggu Lucas datang, "Nek, saya sudah menemukan informasi tentang kakek!" Ucap Mark memberi tahu.


"Benarkah itu cu?" Tanya nenek dengan antusias dan matanya yang berbinar menatap Mark, "Dia ada dimana cu?" Tanya Nenek penasaran.


Mark hanya mengangguk lalu menjawab, "Nenek akan tahu nanti! Tapi yang jelas nenek harus persiapkan diri nenek! Karena sebentar lagi nenek akan bertemu dengan kakek!" Kata Mark memberi tahu yang membuat nek Wina merasa sangat senang, karena sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan kakek.


Tak berapa lama kemudian, Lucas telah datang dengan membawa pakaian milik Alfin dan Mark juga membawakan sarapan untuk mereka. Mereka semua sarapan bersama setelah membersihkan diri.


"Win, gimana kondisi lo?" Tanya Lucas sembari menunggu Alfin yang sedang mandi.


"Ya beginilah, gue pengen cepat-cepat balik!" Kata Windy. Sebenarnya Windy masih belum di beri tahu mengenai ruang rahasia milik mamanya itu yang telah menyimpan mayat dari sang neneknya. Mark sengaja menyuruh semua untuk tutup mulut, dan akan memberi tahu Windy setelah dia sembuh total nanti.


Tak berapa lama kemudian mereka telah selesai mandi dan sarapan. Mark dan Lucas pamit pada Alfin dan Windy, mereka akan mengantarkan nek Wina pada makam kakek, namun tentu saja nek Wina tidak tahu kalau mereka akan pergi ke sebuah makam.