Kamar 126

Kamar 126
Masalalu Klara 1


"Kenapa lo diem Axel ? Lo bahkan udah janji bakal jaga gue! Tapi kenapa? Saat gue sakit, lo malah nggak ada di samping gue!! Kenapa lo malah berubah ke gue? Apa salah gue sama lo Axel?!" Ujar Dila sesegukkan menahan sesak di dadanya akibat mengatakan hal itu pada Axel.


Axel masih tak bergeming, air maya juga sudah membasahi pipinya, berusaha menutupinya dari Dila. Merasa percuma dengan apa yang dia lakukan, Dila perlahan melepas tangannya yang sempat menghalangi langkah Axel tadi.


"Baiklah, kalau lo masih mau diam, nggak apa-apa kalau lo mau ninggalin gue! Pergilah gue nggak akan hala-" terpotong.


Grepp,,


Tanpa aba-aba Axel langsung memeluk tubuh Dila. Dirinya sudah lama ingin memeluk Dila dan dekat lagi dengan gadis yang dia sayangi itu. Kini dia tak memikirkan lagi apa yang di katakan oleh papanya untuk menjauh dari Dila setidaknya 1 bulan. Nyatanya memang Axel tidak sanggup untuk melakukan itu.


Axel menitihkan air matanya sembari memeluk tubuh Dila, "Maafin gue Dil, maafin gue!" Ucap Axel yang merasa sangat bersalah pada Dila.


Dila yang mendengar itu air matanya semakin tak sanggup lagi dia tahan. Dia menangis bahagia sebab Axel nya telah kembali padanya. Dengan membalas pelukan Axel, Dila tampak hanyut dalam pelukan itu.


Mereka saling mendekap seperti tak ingin terpisahkan satu sama lain. Ingin rasanya mereka meluapkan semua yang telah terjadi di antara mereka. Namun semua terhalang karena keegoisan Axel yang malah memilih menuruti papa Byun untuk menjauhi Dila beberapa waktu.


Setelah berpelukan lama, mereka melepaskan pelukan itu, "Jangan menangis lagi ya, maafin gue!" Ucap Axel sembari menghapus air mata Dila menggunakan kedua ibu jari miliknya.


Dila mengangguk lalu melakukan hal yang sama dengan mengusap air mata Axel menggunakan kedua ibu jarinya juga, "Lo juga jangan nangis Axel! Gue bahagia banget karena lo udah balik lagi seperti semula ke gue!" Ucap Dila dengan nafas lega.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di saat yang sama, tepatnya di kampus. Mark dan para saudaranya kini sedang berada di kantin untuk menghabiskan waktu istirahat mereka.


"Kak, lo yakin nggak mau tolongin dia?!" Tanya Alfin yang melihat Mark seperti menghindari sesuatu ,ketika teman Viola berjalan melewatinya.


Mark menelan ludahnya, "Gue lagi males aja, lagian kayaknya ini berat!" Kata Mark memberi tahu.


"Haish, gue pengen tahu, apa tujuan makhluk halus itu mengikutinya lagi. Kenapa makhluk galus itu mengikutinya? Apa nggak ada pekerjaan lain selain itu?!" Kata Lucas yang malah penasaran dengan gadis yang di maksudkan oleh mereka.


"Dendam!! Arwah ini dipenuhi oleh kabut hitam, yang menandakan besarnya dendam pada dirinya!" Ucap Mark memberitahu para saudaranya tentang hal itu. Memang dilihat dengan mata batin yang di miliki oleh Mark, sosok yang selalu mengikuti teman dari Viola itu di selimuti oleh kabut dendam pada tubuhnya.


"Wah wah, gue malah jadi penasaran dendam apa yang membuatnya malah selalu mengikuti gadis itu,! Dia tampaknya pendiam!" Lucas malah semakin penasaran.


Tiba-tiba ada yang menyahut ucapan mereka, "Namanya Windy, dia dari keluarga tuan Bram!" Ucap Zaki yang menyahut setelah dia datang dari memesan late di kantin itu.


Alfin yang mendengarnya tampak mengernyitkan dahinya, "Tahu dari mana lo?!" Tanya Jaehyun penasaran dengan Zaki yang mengetahui akan siapa perempuan yang sedang mereka bicarakan itu.


"Jelas gue tahu, dulu dia suka sama gue ,dia bahkan mengungkapkannya secara terang-terangan ke gue, bukankah itu menjijikan?! Gue memutuskan untuk mencari tahu asal-usul keluarganya! Tapi gue nggak terlalu jauh untuk mencari tahu, dan hanya dapat informasi kalau dia adalah anak dari tuan Bram!" Jelas Zaki panjang lebar pada seluruh saudaranya yang ada di sana.


Mark pun melirik sosok itu dari kejauhan. Mark juga berpikir kalau umur sosok itu pasti tidak jauh berbeda dengan mamanya. Tatapan mata dari sosok arwah yang mengikuti Windy itu sangat dalam. Memang terlihat sangat mengerikan karena aura dendam menyelimuti tubuhnya itu, akan tetapi wajah sosok itu tampak dingin dengan sorot mata yang tajam hingga tampak akan menusuk jantung siapapun yang menatapnya.


Sosok itu menoleh ke arah Mark, bahkan dia tampak sedikit terkejut karena Mark bisa melihat dirinya.Lalu kemudian tampaknya Mark langsung mengalihkan pandangan matanya supaya tidak ada kontak langsung dengan sosok itu.


Namun seketika sosok itu melesat ke arah Mark. Mark yang melihat itu tersentak, namun tetap berusaha bersikap biasa saja di depan para saudaranya, "Gue mau ke toilet sebentar, kalian tunggu di sini dulu!!" Kata Mark yang mulai tak nyaman karena terus di dekati oleh sosok itu.


Mark yang mengatakan ingin ke toilet itu pun, ternyata hanyalah siasat saja. Mark ingin menjauhkan sosok itu dari para saudaranya, dia tidak ingin sosok jahat itu mengusik para adik-adiknya itu.


"Katakan apa yang kau mau?!" Ucap Mark ketika dirinya sudah berada di tempat yang sepi. Sosok itu awalnya enggan untuk membuka mulutnya. Akan tetapi dirinya melesat secepat kilat menuju ke arah Mark berada. Mark yang sudah tahu akan terjadi hal seperti itu hanya siap siaga saja.


"Apa kau yakin ingin membantuku?!" Tanya sosok itu dengan seringai tajamnya menatap Mark. Mark sebisa mungkin tidak akan menatap sosok yang di sinyalir sebagai arwah jahat itu.


Namun seketika hawa yang tadinya mencekam itu tiba-tiba saja berubah drastis. Seperti ada sebuah kepiluan yang terjadi di sana. Mark sangat yakin kalau itu ulah sosok yang kini tengah ada di depannya itu.


"Kenapa dia melakukan ini padaku? Apa salahku? Kenapa dia tega mengkhianati ku? Bahkan dia tidak pernah mencari keberadaan ku selama ini!!" Ucap sosok itu yang tadinya menyeringai tajam, menjadi sebuah kepiluan hanya dengan keluhan yang dia ucapkan tadi.


Mark yang mendengarnya malah merasa penasaran dan ingin tahu lebih lanjut mengenai sosok itu, "Katakan apa yang bisa aku lakukan untukmu? Selagi itu masih bisa aku terima, aku akan membantumu menyelesaikan urusan duniamu!" ucap Mark mencoba berkomunikasi lebih lanjut dengan sosok itu.


Hingga akhirnya sosok itu menceritakan kejadian masalalu yang menimpa dirinya hingga bisa menjadi arwah penasaran seperti sekarang ini.


Flashback on,,,,


20 tahun yang lalu, hiduplah 2 pasangan yang sangat bahagia. Mereka sudah menikah lebih dari 4 tahun. Akan tetapi mereka belum di karuniai seorang anak dari pernikahan mereka. Namun itu tidak membuat hubungan keduanya yang harmonis itu menjadi masa yang kelam. Sampai suatu saat ketika Klara, itulah nama dari sosok yang ada di depan Mark saat itu. Klara adalah istri dari tuan Bram yang sangat dia cintai.


Namun siapa yang menyangka bahwa tuan Bram justru malah melakukan hubungan terlarang dengan seorang wanita yang sangat terobsesi dengannya. Wanita itu bernama Ana.


Nyonya Klara mengira suaminya itu mengkhianatinya karena dia sudah tidak mencintai dirinya. Tapi siapa yang mengetahui? Ternyata tuan Bram di jebak oleh nyonya Ana ketika dirinya sedang tidak sadarkan diri waktu itu.


Nyonya Ana yang sangat terobsesi dengan tuan Bram akhirnya memutuskan membawanya ke sebuah hotel. Dan pagi harinya dirinya mengatakan kalau malam itu Tuan Bram telah berbuat hal yang seharusnya tidak dia lakukan. Hingga akhirnya Tuan Bram tidak memiliki pilihan lain lagi selain menikahi wanita itu secara siri. Dengan alasan tidak menjadi seorang pria yang bertanggung jawab.


Perbuatannya tidak di ketahui oleh istri pertama, nyonya Klara. Setiap hari yang di ketahui nyonya Klara, kalau suaminya selalu lembur dan jarang pulang. Karena memang sangat banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.


Padahal itu sebuah hanyalah akting saja. Pada kenyataannya tuan Bram selalu di ancam oleh nyonya Ana kalau dirinya akan mengatakan semuanya pada Klara kalau dirinya adalah istri kedua dari taun Bram. Bram tidak punya pilihan lain lagi selain menuruti apa yang menjadi permintaan istri keduanya tersebut. Istri kedua itu seakan tidak pernah mengijinkan kalau tuan Bram pulang ke rumah utamanya. Di mana ada Ana di sana.


"Apa kau akan pulang malam ini?!" Tanya Nyonya Ana yang masih bersandar pada dipan ranjang ,tubuhnya yang polos hanya tertutupi oleh selimut saja. Ya, kalian pasti tahu apa yang baru saja mereka lakukan.


Dengan memakai kembali pakaiannya, Tuan Bram berkata, "Tentu saja aku akan kembali, istriku sudah menungguku di rumah! Dia pasti sedang mencemaskan aku sekarang!!" Ucap Tuan Bram dingin. Karena sebenarnya dia selalu muak dengan sikap Ana yang selalu meminta agar dirinya tidak kembali ke rumah utama di mana ada Ana di sana.


Akan tetapi Bram selalu saja tidak bisa menolak dengan apa yang di katakan oleh Ana. Dirinya selalu di ancam akan mengatakan pada Klara tentang hubungannya dan juga tentang bayi yang kini dia kandung.


Dengan geram dan meremas sprei dirinya tak tahan akan sikap dingin dari suaminya itu, "Kalau kau pulang, jangan salahkan aku jika aku akan mengatakan semua rahasia ini!! Aku muak menutupinya lagi dari istri pertama kamu!! Aku dan bayiku juga butuh pengakuan!!" Ucap Ana dengan geram pada Bram.


Bram bahkan tidak menggubrisnya dan tetap stay cool sembari mengenakan sepatu miliknya.


"Tidak, kau tidak boleh kembali ke rumah Klara!! Kau hanya milikku Bram!! Tidak ada yang boleh merebut mu dari sisiku, termasuk istri pertama kamu itu! Akan ku buat dia menderita, dan kau tidak akan bisa lagi melihat dia di dunia ini!! Aku juga sudah tidak sabar lagi menunggu waktu itu tiba! Dengan menjadikan dia sebagai salah satu koleksi milikku!!" Batin Ana bermonolog.


"Jangan sakiti atau lakukan apapun pada istri pertama ku! Atau aku tidak akan pernah memaafkan kamu!" Ancam tuan Bram pada Ana.


Ana sendiri yang tak terima akan ancaman dari suaminya itu. Memutuskan untuk mendial sebuah nomor yang tak lain adalah nomor ponsel Klara, "Silahkan pergi, jika kau ingin aku mengatakan kebenarannya! Dan aku tidak akan segan-segan membuatmu jauh dari calon anakmu!!" Ana mengancam balik tuan Bram, dengan mengatakan akan mengatakan kebenaran hubungannya dengan Ana dan juga calon anak yang Ana kandung. Tidak dapat di pungkiri, memang Bram menginginkan seorang bayi yang bahkan sampai sekarang Klara belum bisa memberikan keturunan pada dirinya.


Dengan kesal, tuan Bram langsung menyambar ponsel milik Ana dan langsung membuangnya ke sembarang arah.


Brakk,,,


Ana sempat terkejut, namun dirinya tetap berusaha menunjukkan ekspresi biasa saja. Hingga akhirnya mau tidak mau, tuan Bram akan bermalam lagi di rumah istri keduanya itu.


Hingga pagi hari tiba, Ana terbangun dari tidurnya dan sudah di buat kesal oleh sang suami yang bahkan bekerja tanpa pamit padanya. Selalu saja begitu, hingga pada hari itu Ana sudah benar-benar muak dan tak tahan lagi dengan apa yang selama ini ingin dia lakukan.


Ini adalah kesempatan untuknya membawa Klara dan melakukan apa yang selama ini ingin dia rencanakan, "Kau berani meninggalkan aku lagi di saat pagi seperti ini bahkan kau berkerja tanpa membangunkan ku!! Lihat saja aku akan membuatmu lupa dengan yang namanya Klara!! Akan ku buat kau hanya memiliki diriku saja Bram!!" Ucap Ana dengan kesal lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain, tepatnya di rumah Ana. Dirinya bahkan tidak pernah curiga kalau suaminya kini telah menduakan nya. Dirinya terlalu mempercayai suaminya itu. Cinta membuatnya percaya kalau suaminya tidak akan pernah mengkhianati cintanya. Bahkan setiap kali dia ingin mencurigai suaminya yang jarang sekali pulang, dia berusaha menepisnya. Walaupun pada kenyataannya suaminya itu lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan istri keduanya.


Hari itu Klara tampak menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, namun entah kenapa dia malah tidak tahan dengan bau bumbu-bumbu dapur. Dirinya bahkan heran dengan apa yang terjadi padanya, kepalanya yang pusing dan perutnya yang mual. Membuatnya harus segera memeriksakan keadaannya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit,,,


"Apa yang bisa saya bantu nyonya?!" Tanya seorang dokter.


"Kepala saya pusing, dan saya sangat mual kalau mencium bumbu dapur dok, padahal sebelumnya saya tidak pernah seperti ini!" Ucap Klara dengan raut wajah khawatir. Takut kalau dirinya mengidap penyakit yang sangat mematikan atau bahkan membahayakan nyawanya.


Dokter itu tampak tersenyum dan berkata, "Sebentar nyonya, saya akan panggilkan rekan saya untuk memeriksa anda!" ucap Dokter sembari mendial nomor telepon dan tampak menghubunginya.


"Dokter Sari, bisa anda ke ruangan saya sekarang juga!" Kata dokter itu yang di dengar oleh Klara.


"Kenapa harus memanggil dokter lain dok? Apa penyakit saya parah?!" Tanya Klara yang mulai kalut, dirinya sangat takut dengan apa yang nantinya akan terjadi padanya.


"Ini berbeda kasus nyonya, rekan saya yang paling mengerti dengan keluhan yang ada katakan tadi!" Ucap dokter itu dengan senyum manis di wajahnya. Tak butuh waktu lama, dokter Sari yang di hubungi tadi langsung datang ke ruangan itu dan langsung memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan Klara.


"Nyonya, kapan waktu terakhir ada mengalami menstruasi?!" Tanya dokter sari.


Sejenak Klara berpikir, dan menyadari kalau dia sudah telat datang bulan selama 1 bulan lamanya, "Mungkin 1 bulan yang lalu dok!" Ucap Klara enteng.


Dokter Sari nampak tersenyum, "Selamat ya nyonya, anda positif hamil! Usia kandungan anda di perkirakan sudah 4 minggu lamanya!" Ucap Dokter Sari yang membuat Klara tersentak kaget. Dia seakan tak percaya mendengarnya. Bahkan dia tidak menyangka kalau dirinya akan bisa hamil.


"Apa ini serius dok? Apa dokter tidak bercanda dengan ini?!" Tanya Klara dengan mata yang berbinar.